Bab 1 Bag 1.2 ; 2.1 ; 3.1

Ulasan Risalah Agung Tahapan Jalan Tantrayana 
Oleh Dharmaraja Lian-sheng Sheng-yen Lu 
15 Juli 1994
 
1.2. Memahami Berbagai Pintu Buddhisme Yang Berbeda Sesuai Tingkatannya ; 2.1 Membedakan Semua Yana Menjadi Tiga  ; 3.1 Bagaimana Membedakan
 
Kita kembali mengulas ‘Risalah Agung Tahapan Jalan Tantrayana’ ( Sngagsrim Chenmo / Mi-zong-dao Ci-di Guang-lun /密宗道次第廣論 ) : Bag 1.2. Memahami Berbagai Pintu Buddhisme Yang Berbeda Sesuai Tingkatannya ; 2.1. Membedakan Semua Yana Menjadi Tiga  ; 3.1 Bagaimana Membedakan.
 
  ‘Memahami Berbagai Pintu Buddhisme Yang Berbeda Sesuai Tingkatannya’, Buddhisme sendiri sebenarnya sangat mendalam dan sangat luas, di dalamnya ada pembedaan.  Ia terbagi menjadi tiga ‘Yana’, biasanya kita menyebutnya : ‘Hinayana’, ‘Mahayana’ dan ‘Tantrayana’. 
 
Tiga Yana ini dibedakan berdasarkan Tiga Dharma-carana. Bagian ini yang terutama adalah membahas mengenai Tri-dharma-carana.
  
Coba Anda baca apa yang ditulis di dalam risalah ini :
 
‘Yang Memiliki Adimukti ( Pemahaman Unggul )  Rendah, membabarkan vairagya-carana ( Usaha Pertapaan Membaskan Diri Dari Nafsu Keinginan )’, ini adalah Hinayana.
 
‘Yang Memiliki Adimukti Agung, membabarkan mengenai bhumi dan paramita-carana. ( Usaha Penyempurnaan Paramita )’ , ini adalah Mahayana.
 
‘Yang Memiliki Adimukti Tertinggi Akan Dharma Mendalam, membabarkan Prakamya-carana ( Usaha Mentransformasikan Nafsu Keinginan )’, ini adalah Tantrayana. 
  
Di sinilah inti dari bagian ini. Tiga Yana adalah Tiga Dharmacarana, yaitu tiga usaha yang berbeda. Dalam penekunan bhavana, sadhaka menekuni tiga jenis metode bhavana yang berbeda, yaitu : ‘Hinayana’, ‘Mahayana’ dan ‘Tantrayana’. 
 
Bila dijabarkan, demikianlah Mahaguru Tsongkapa membaginya :
 
Yang memiliki Prajna Unggul , yang memiliki Prajna Tinggi, yang paling memiliki akar bhavana, hendaknya menekuni Tantrayana.
 
Kemudian, yang membangkitkan tekad maha luas, hendaknya menekuni Mahayana. Berikutnya, Beliau mengatakan bahwa yang memiliki pemahaman unggul tingkat rendah, yaitu yang akar bhavananya sedang-sedang saja, menekuni Hinayana, yaitu usaha untuk menjalani kehidupan pertapaan menghindari nafsu keinginan.
 
Namun, dulu saya pernah mengatakan, tidak boleh mengkritik Hinayana. Dulu Hyang Buddha juga mengharapkan supaya para siswa menekuninya sesuai tingkatan, tidak boleh melompati, demikian pula dalam Tantrayana juga terdapat tahapan, dalam Buddhisme juga ada tahapan, tahapan ini dibagi berdasarkan perbedaan akar pembawaan, oleh karena itu dalam bhavana jangan mengatakan : “Hinayana itu sangat mudah !” Sesungguhnya sangat sukar ! Sangat sulit. Bhavana merupakan perihal utama di semesta ini, juga merupakan perihal yang paling sukar di semesta ini.
  
Seperti pepatah : Yang paling sukar adalah naik ke surga. Ini merupakan tangga batiniah, tidak berwujud, oleh karena itu dikatakan sukar.
  
Kesukaran yang kedua adalah : ‘Sukar mencari nafkah.’ Uang memiliki empat kaki, sedangkan manusia hanya memiliki dua kaki, uang berlari di depan dan Anda mengejar di belakangnya, selamanya tidak terkejar ; Namun, jika Anda berlari di depan dan uang berlari mengejar di belakang Anda, berarti Anda semakin makmur, uang pasti mampu mengejar Anda, sehingga Anda menjadi makmur ! Oleh karena itu dalam mencari nafkah harus membuat uang mengejar Anda, sehingga Anda pasti akan makin makmur ; Sebab jika Anda mengejar uang, selamanya tidak terkejar.
 
Sekarang kita mengulas Tiga Yana yang dibagi berdasarkan Tiga Dharma-carana. Visi yang pertama adalah ‘Vairagya-carana’ , apakah ini ? Yaitu bhavana dari Hinayana, semua tergolong ‘Vairagya-carana’, bhavana untuk menghindari semua nafsu keinginan, ini disebut ‘Vairagya-carana’. 
 
Bagaimana cara menghindari nafsu keinginan ? Sangat sukar ! Dalam hal ini, cukup Hinayana saja, Anda ingin menekuninya, ini sudah sangat sukar ! ‘Tidak makan lewat tengah hari’, setelah tengah hari tidak lagi makan. Makan hanya untuk mempertahankan kehidupan hari ini. Tidak rakus akan wewangian, tidak rakus akan rasa, juga tidak rakus akan rupa. Hanya mengkonsumsi gizi secukupnya untuk bekal kehidupan bhavana, bahkan tidak lagi makan lewat tengah hari. Pakaian yang dikenakan juga harus menggunakan pakaian yang tidak berwarna mencolok. Dulu adalah warna hitam, abu-abu, atau warna-warna yang cenderung tidak mencolok.
 
Jubahnya yang bagaimana ? Harus semacam jubah yang dahulu, yang disebut ‘Pamsu-kula’, yaitu kain-kain yang usang, atau yang sudah tidak diinginkan oleh orang lain, Anda menjahitnya menjadi jubah yang dikenakan oleh sadhaka.
  
Yang dikenakan adalah yang paling usang ! Bagaimana dengan tempat menetap ? Menetap di mana ? Menetap di antara kuburan, atau di bawah pohon, di hutan-hutan.
 
  Kendaraanya adalah langkah penuh kedamaian. Semua mengandalkan sepasang kaki ini, selain itu  kaki tidak melangkahi batas, maksudnya adalah ada batasan wilayahnya yang dapat Anda tempuh ; Di luar wilayah tersebut termasuk pelanggaran sila.
  
Seperti misalnya seorang sadhaka datang memasuki Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, dapat berjalan leluasa di wilayah tembok ini ; Namun tidak boleh keluar dari tembok, sekalipun menghantarkan tamu juga harus berhenti sampai di pintu, kemudian masuk kembali. 
  
Mata Anda tidak boleh melihat warna-warni dunia fana. Tidak ada hiburan seperti karaoke, mtv, ktv. Tidak ada film yang dapat dilihat, tidak ada lagu-lagu populer yang dapat didengarkan, inilah ‘Vairagya-carana.’
 
Ada lagi, sadhaka pria tidak memandang wanita. Bahkan wajah pun tidak boleh dipandang. Tidak memandang wanita, yaitu ada wanita berdiri di situ, Anda tidak melihatnya, Anda tidak boleh melihatnya, bahkan melihat pun tidak boleh, apalagi menyentuhnya, ini adalah ‘Vairagya-carana’, ini dinamakan ‘Mata tidak melekat pada rupa.’
  
Saat sadhaka penekun ‘Vairagya-carana’ berbicara dengan wanita, matanya harus menatap bawah, jaraknya juga harus tiga langkah. Berbicara juga tidak boleh melebihi beberapa kalimat. Anda hanya boleh mengucapkan tiga kalimat, atau beberapa kalimat, cukup mengucapkan intinya saja, demikian sudah cukup. Tidak boleh berbicara dengan cara bibir dekat dengan telinga, terus-terusan berbicara tanpa henti, ini dapat menjadi kalimat asmara.
 
Oleh karena itu, sadhaka pria memandang lantai, sadhaka wanita berdiri di hadapan berbicara denganya, hanya mengucapkan seperlunya saja. Bahkan ngobrol mata hadap mata juga dilarang ! Sebab mata menatap mata juga ada kerepotannya. Anda pasti tahu apa itu ‘Cinta pada pandangan pertama’ ? ‘Pandangan pertama’ adalah mata menatap mata, hanya dalam pandangan pertama sudah habis ! ‘Habis pada pandangan pertama’ adalah ‘Cinta pada pandangan pertama.’
 
‘Pada pandangan kedua jatuh hati, pada pandangan ketiga mencabut nyawa.’ ; Pada pandangan ketiga bukan mencabut nyawa, saya tidak tahu apa yang dicabut. Jadi mata menatap mata menghasilkan masalah ! Berbicara juga tidak boleh terlampau banyak, sebab bicara terlalu banyak akan menghasilkan masalah. Jarak terlalu dekat juga bisa menimbulkan masalah, oleh karena itu harus menjaga jarak.
  
Apa lagi ? Begitu matahari terbenam, sadhaka wanita tidak boleh memasuki wilayah kediaman sadhaka pria, peraturan ini sangat jelas ! Ada aturannya, tidak boleh sekamar, sebab sekamar lebih celaka lagi, bahkan masuk ke wilayah tempat tinggal pun tidak boleh ! Begitu matahari terbenam sudah pasti tidak akan bertemu.
 
Masih ada lagi metode menghindari nafsu keinginan, yaitu tangan tidak boleh menyentuh uang. Mata tidak melihat rupa, tangan tidak menyentuh uang, sebab uang sangat mudah membangkitkan nafsu keinginan ; Oleh karena itu selamanya tangan tidak akan menyentuh uang itu. Demikianlah peraturannya.
 
Oleh karena itu ‘Vairagya-carana’ bukanlah sesuatu yang dapat ditekuni dengan mudah . Jadi Anda lihat, Hinayana, yang dikatakan ditekuni oleh orang pada umumnya, itu semua juga sama-sama harus mentaati sila ! Harus mentaati dengan sangat disiplin, inilah Hinayana. 
 
Mahaguru Tsongkapa telah mengatakan : ‘Yang Memiliki Adimukti ( Pemahaman Unggul )  Rendah, membabarkan vairagya-carana ( Usaha Pertapaan Membaskan Diri Dari Nafsu Keinginan )’, inilah ‘Vairagya-carana’, mata tidak menatap rupa, tangan tidak menyentuh uang, tempat kediaman ada batasannya, menetap di antara pekuburan, mengenakan jubah usang. Bukan pakaian tidur, melainkan pakaian yang sudah sangat usang. Tidak makan selepas tengah hari. ‘Tidur tidak di kasur’ , yaitu tidur dalam posisi duduk, sebab jika Anda tidur dengan berbaring, terlampau nyaman, ini bukan bhavana. Anda tidur dengan posisi duduk, setiap saat mawas diri, tidak terjerumus dalam jebakan mimpi ;  Tidur dengan mempertahankan kesadaran, demikianlah peraturanya. Dengan demikian apakah Anda telah memahami apa itu ‘Vairagya-carana’ ? Yaitu ketaatan pada vinaya, menjalani kehidupan bhavana yang penuh kemurnian.
 
‘Yang Memiliki Adimukti Agung, membabarkan mengenai bhumi dan paramita-carana. ( Usaha Penyempurnaan Paramita )’ , ini adalah Mahayana, yaitu laku Bodhisattva, juga merupakan Enam Paramita. Kita sudah berulang kali membahas mengenai Enam Paramita ini, semuanya sudah jelas, mulai dari Dana-paramita, terus hingga Dhyana dan Prajna, mengamalkan Enam Paramita ini untuk menuntun diri sendiri, memberikan manfaat bagi diri sendiri dan insan lain, menuntun insan lain, inilah Enam Paramita.
 
Makna dari ‘Paramita’ juga telah dibahas, yaitu menyeberangi mencapai tepian. Sebuah bhavana untuk mencapai tepian seberang, sebuah metode untuk mencapai seberang, inilah metode Enam Paramita. Laku Bodhisattva, Mahayana, semua ini harus mempraktekkan Enam Paramita. Coba kalian sebutkan satu kali Enam Paramita ini, siapa yang bisa ? Seharusnya sangat mudah, sebab sudah berulang kali diulas, silahkan angkat tangan. Demikianlah Enam Paramita ini. ( Sad-paramita adalah : Dana, sila, ksanti, virya, dhyana dan Prajna )
 
Kemudian Enam Paramita ditransformasikan menjadi semua metode, yaitu mentransformasikan semua praktek Enam Paramita menjadi berbagai metode terperinci yang dipraktekkan, inilah laku Bodhisattva, inilah Mahayana.
  
 ‘Yang Memiliki Adimukti Tertinggi Akan Dharma Mendalam, membabarkan Prakamya-carana ( Usaha Mentransformasikan Nafsu Keinginan )’, ini sangat sukar ! Apakah yang disebut dengan ‘Prakamya-carana’ ? Semua mengetahui ‘Prakamya-carana’ adalah ‘Guhya-carana’, yaitu Tantrayana, mengapa disebut sebagai ‘Prakamya-carana’ ? Dalam Tantrayana ada empat tahapan : ‘Sadhana Luar’, ‘Sadhana Dalam’, Sadhana Guhya’, dan ‘Sadhana Guhya’ti Guhya’. Sampai tahapan ‘Sadhana Guhya’ inilah yang disebut dengan ‘Prakamya-carana’. Kita juga mengetahui saat saya mengulas ‘Sutra Pencerahan Sempurna’ pernah mengatakan : “Angkasa, tidak tergoyahkan, seantero angkasa tidak tergoyahkan.”
  
Meskipun di angkasa muncul pelangi, pelangi itu adalah sebuah ilusi, bagaimanapun angkasa tetap tidak ternodai ; Dikatakan pula bahwa Buddhata tidak ternodai, Buddhata para insan tidak pernah ternodai. Wujud Anda saat ini hanya sebuah ilusi, sebuah tubuh yang muncul secara ilusi. Anda hanyalah sebuah pelangi di tengah Buddhata,  tidak peduli bagaimanapun bentuk dan warna pelangi ini, saat Anda dapat memahami Makna Kebenaran mendalam, memahami Kebenaran Mendalam dari Buddha Dharma, barulah Anda dapat menjalani ‘Prakamya-carana’. Sebab dalam semua tindakan Anda, Anda telah menjadi murni. Ini disebut ‘Guhya-carana’. Oleh karena itu ‘Prakamya-carana’ adalah ‘Guhya-carana’. Ini adalah makna sejati Buddha Dharma.
 
Saat Anda tiba pada realisasi Pemahaman Mendalam Akan Kebenaran Sejati, tiada lagi perbedaan antara Buddha dan Mara. Dalam samadhi, mara datang juga adalah Buddha, Buddha datang juga adalah mara. Segala perbedaan di dunia ini, berbagai macam wujud, ternyata semua adalah ilusi, ternyata semua telah murni, semuanya adalah terang ; Juga, di dalamnya terdapat Buddhata , Yang Tertinggi, Yang Paling Mendalam. Anda mampu melampaui semua tindakan, dan tindakan yang ditransformasikan menjadi cahaya terang ini disebut ‘Prakamya-carana’ atau ‘Guhya-carana’. Oleh karena itu penekunan Tantrayana adalah yang paling tinggi dan mendalam, seperti yang telah dinyatakan : ‘Yang Memiliki Adimukti Tertinggi Akan Dharma Mendalam, membabarkan Prakamya-carana’, yaitu ‘Guhya-carana’, adalah Tantrayana.
 
Dalam pengulasan ‘Sutra Pencerahan Sempurna’ saat tiba pengulasan Maha-paripurna, juga dikatakan demikian. Semua tindakan adalah murni. Namun di dalamnya ada maknanya sendiri, yaitu dalam setiap tindakan, Buddhata Anda tidak berubah, Anda mampu menguasai diri, mampu leluasa, murni, bertransformasi menjadi terang, ini barulah ‘Prakamya-carana’ yang sejati. Apabila Anda menyatakan ‘Buddhata’ Anda tidak berubah, namun dalam berbagai fenomena, muncul berbagai rupa, Anda tidak mampu mengendalikan diri, tidak mampu leluasa, tiada pengendalian, yang demikian ini tetaplah manusia awam. 
  
Satu-satunya perbedaan antara Buddha dengan manusia awam adalah manusia awam terlena oleh berbagai fenomena ; Sedangkan Buddha telah Tercerahkan akan berbagai fenomena. Segala fenomena tidak mampu menggoyahkan Buddhatanya, ini baru disebut Buddha.
 
Oleh karena itu, apabila Anda dapat memahami ‘Memahami Makna Sejati dengan mendalam’, di antara Buddha dengan awam, yang satu adalah Yang Telah Sadar, sedangkan yang satunya adalah yang masih terlena atau masih bingung.
 
  Oleh karena itu yang mampu mengendalikan diri disebut sebagai Yang Sadar. Sedangkan yang termabukkan bahkan hingga terjerumus, disebut sebagai awam. Perbedaanya hanya demikian. 
 
Apa yang disebut dengan ‘Prakamya-carana’ ? Dengan Buddhata, mengendalikan diri dengan menggunakan berbagai fenomena awam, ditransformasi menjadi cahaya terang, melampaui, inilah ‘Prakamya-carana’. Penjelasan yang baru saya uraikan, apabila bukan orang yang memahami Buddhata, apabila bukan orang yang memahami Tantrayana, ia pasti tidak akan dapat menguraikannya ; Dia tidak akan sanggup mengulasnya. Sebab dia tidak memahami garis pembatas antara Buddha dengan awam. Aktivitas Buddha adalah hal-hal awam, saat itu Buddha, Tathagata, semua aktivitasnya sama dengan awam. Buddha menjalankan aktivitas seperti awam, namun Beliau melampauinya menjadi cahaya terang, menjadi kemurnian, pengendalian diri, ini disebut ‘Prakamya-carana’. 
 
Seperti hari ini, dapat mengulas ‘Prakamya-carana’ yang diungkapkan oleh Mahaguru Tsongkapa, mengulas dengan demikian jelas, di dunia ini sudah sangat jarang ; Kebanyakan begitu melihat ‘Prakamya-carana’, “Ah ! Apa itu Prakamya-carana ?” Ia tidak mengetahuinya.
  
Anda lihat aktivitas Mahaguru tidak berbeda banyak dengan manusia kebanyakan, namun Anda harus mengetahui, Mahaguru sendiri mampu melampauinya, mampu mengendalikan diri, mampu leluasa, mampu mentransformasikannya menjadi terang, inilah Buddha Awam. Di dalam aktivitas awam, menampilkan Buddhata, inilah Buddha Awam, ini adalah ‘Aku’, adalah Sheng-yen Lu.
  
Anda lihat, Guru saya, Acarya Tubten Dhargye, Beliau memberikan gelar Dharma kepada saya, yaitu Tu-deng  Zi-ru (吐登自如), apakah itu Tu-deng ? ‘Tu’ dari kata keluar, ‘Deng’ dari kata menaiki. ‘Zi-ru’ adalah leluasa. Arti dari kata Tu-deng atau Tubten adalah Sakya, dari kata Sakyamuni. Sedangkan ‘Zi-ru’ adalah Sakyamuni Buddha nan leluasa, tak tergoyahkan. Inilah makna dari Tubten Zi-ru. Bagaimana dengan Guru ? Beliau disebut Tubten Dhargye, artinya adalah Sakyamuni Buddha membabarkan Buddha Dharma. Dhargye adalah membabarkan Buddha Dharma, Tubten adalah Sakya. Saya adalah Sakyamuni Buddha leluasa, tak tergoyahkan, intinya ada di sini.
 
‘Prakamya-carana’ adalah aktivitas awam, namun ? ia adalah aktivitas awam yang leluasa dan tak tergoyahkan, yaitu Buddha melakukan aktivitas awam.
  
Hanya kata ‘Prakamya-carana’ ini, rasa Dharma yang terkandung sangat mendalam. Ada orang yang tidak memahaminya, yang memahaminya membabarkan kepada yang tidak memahaminya. Apakah kalian memahaminya atau tidak ?  Saya memahami, Anda belum memahami. Kelak suatu hari Anda akan memahaminya, namun Anda masih belum dapat leluasa, masih belum memahami ! 
 
Ada sebuah film dimana ada tokoh yang setiap hari mengatakan : “Aduh ! Saya sudah memahaminya !” Tiap hari meneriakkan kalimat ini, sebab saat dia telah memahaminya, kejiwaanya telah terganggu. Menjadi seseorang yang paham, di dunia ini, mereka juga masih belum memahami ; Jika belum memahami, bagaimana caranya mengajari ? Diajarkan terus, Anda juga tetap tidak paham. Pada akhirnya kita harus memilih yang memiliki akar keagungan, baru dapat diajarkan padanya, inilah ‘Prakamya-carana’. Sedangkan mereka yang memiliki akar rendah, Anda mengajarkan ini semua kepadanya, Anda akan dimaki-maki olehnya, sebab dia tidak paham ! Saya tidak paham, Anda tidak paham, dibahas bagaimanapun tetap saja tidak paham, sebenarnya paham atau tidak ? Makin lama makin tidak jelas  ! 
 
Bagian ini sangat jelas ! Mengulas mengenai Tiga Yana dan Tiga Dharmacarana. Sejak permulaan, yaitu Hinayana, sampai pada akhirnya Tantrayana, di angkasa muncul pelangi. Aryasasana yang dibabarkan Hyang Buddha, ajaran Hyang Buddha ini adalah untuk merealisasikan angkasa, bukannya mengajak Anda menikmati pelangi. Sebab pelangi dapat berubah, bisa sirna; Sedangkan angkasa selamanya tidak tergoyahkan, apabila Anda memahami angkasa, maka Anda memasuki Buddhata. Anda merealisasi tak tergoyahkan, kemudian Anda menampilkan pelangi. Hari ini mengulas sampai di sini.
 
Om Mani Padme Hum.
 
15 Juli 1994
慶賀真佛宗根本傳承上師八十聖壽 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。