20 Juli 2025 Liputan Upacara Homa Mahakala di Rainbow Temple

20 Juli 2025 Liputan Upacara Homa Mahakala di Rainbow Temple

Liputan TBSN Lianhua Yun Shuang (蓮花韻霜)

Pada tanggal 20 Juli 2025, Dharmaraja Lian Sheng hadir di Rainbow Temple untuk memimpin Upacara Homa Mahakala. Setelah upacara manggala, Dharmaraja mengumumkan bahwa pada minggu depan, tanggal 27 Juli pukul 3 sore, akan diselenggarakan Upacara Homa Mahadewi Yaochi. Mahadewi Yaochi adalah Istadewata Mula dari Dharmaraja, segala nidana Zhenfo Zong bermula dari Mahadewi Yaochi, tanpa Mahadewi Yaochi tidak akan ada Zhenfo Zong hari ini.

Mahakala adalah Dharmapala agung yang terkenal dalam Buddhisme Tibet, memiliki banyak wujud emanasi, konon merupakan wujud murka dari Buddha Vairocana atau salah satu dari tiga dewa utama yaitu Syiwa Dewa Mahesvara. Dalam Tantra Timur, Mahakala adalah salah satu dari Tujuh Dewa Rezeki.

Mahakala memiliki wujud yang garang, umumnya terlihat dengan tubuh berwarna biru hitam, melambangkan Dharmakaya yang tidak berubah, memiliki tiga mata yang mewakili kehidupan masa lalu, kehidupan saat ini, dan kehidupan masa mendatang. Mengenakan mahkota lima tengkorak di kepala, melambangkan transformasi lima racun menjadi lima kebijaksanaan.

Enam lengan Mahakala melambangkan Sadparamita, memegang Dharmayudha yang masing-masing memiliki makna: kartika memutuskan kemelekatan, kapala menaklukkan mara, mala tulang memberi manfaat kepada semua makhluk, damaru melambangkan aktivitas karma yang tanpa rintangan, trisula menghancurkan Triloka (Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu), tali kait vajra mengikat pelanggar sila. Mengenakan kulit harimau, kulit gajah, dan ular, melambangkan pemusnahan keserakahan, kesombongan, dan kebencian, di bawah kaki-Nya menerangi kegelapan awidya, api kebijaksanaan di latar belakang melambangkan penghancuran segala kekacauan dan kegelisahan.

Beliau mampu mengundang makhluk halus, melindungi tempat ibadah, dan juga merupakan salah satu Dewa Rezeki. Dharmapala dari Gyalwa Karmapa ke-16 adalah Mahakala. Mahakala memiliki Dharmabala yang tidak terbatas, mampu menaklukkan para mara, melindungi sadhaka, dan merupakan Dharmapala agung yang sangat luar biasa.

Dharmaraja Lian Sheng melontarkan pertanyaan kepada semua: "Barusan saya mengundang Mahakala beserta seluruh pariwara-Nya, jika kalian dengan mata dewa (divyacaksu) melihat sesuatu atau mendapatkan kontak batin, sekarang boleh membagikannya. Kontak batin dari Istadewata ini sangat kuat, pariwara yang datang juga sangat banyak, di antaranya tidak sedikit makhluk suci yang istimewa." Dharmaraja tidak menyebut nama, berharap siapa yang melihat akan membagikannya, umat Sedharma di lokasi pun satu per satu mengangkat tangan untuk berbagi kontak batin.

Upacara Homa kali ini penuh dengan kontak batin dan adhistana, Mahakala beserta para kerabat, para Buddha, Bodhisatwa, Dakini, dan lain-lain bersama-sama hadir di mandala, untuk menyeberangkan, menyucikan, memberikan berkah, aliran Dharma Silsilah mengadhistana makhluk yang tak terhitung jumlahnya. Seluruh rangkaian upacara sangat luar biasa dan agung, sangat menyentuh hati, membuat para siswa sangat berterima kasih atas penerimaan welas asih dan Dharmabali dari Dharmaraja Lian Sheng yang tak terbatas.

Dharmaraja mengatakan barusan ada banyak orang yang mendapatkan kontak batin Mahakala, meskipun tidak semua orang mengungkapkannya, tetapi apa yang disampaikan oleh semuanya sangat akurat. Seperti Xiu Xiu dari Sabah Malaysia, pada kehidupan lampau pernah mengikuti Dharmaraja; Jia En dan Hui En, adalah abdi di kehidupan masa lampau.

Dharmaraja Lian Sheng pernah pergi ke Sabah, Kuching, Sibu, Tawau, Kota Kinabalu, bahkan Brunei, ada banyak orang lama di sana, dalam sekali pandang langsung bisa dikenali. Mahakala memiliki tiga mata, mewakili masa lalu, masa kini, dan masa mendatang, juga membuktikan bahwa samsara yang dibicarakan dalam Buddhadharma benar-benar ada.

Dharmaraja tercekat dan menghapus air mata sambil berkata: "Pertemuan yang berjodoh, adalah reuni dari kehidupan masa lampau." Bisa bertemu lagi di kehidupan ini sungguh sangat langka. Karena mengenali jodoh kehidupan masa lampau, setiap kali bertemu kembali, selalu membuat orang terharu hingga meneteskan air mata.

◎ Interaksi Adalah Kekuatan

Lianhua Man Man (蓮花曼曼) dari Singapura bertanya:

Siswa merasa ragu: Jika setelah mencapai darsanamarga, hukum karma masih ada, mengapa orang yang mencapai pencerahan bisa tidak memiliki nasib dan peruntungan? Jika nasib dan peruntungan sudah tidak ada, apakah orang yang mencapai pencerahan, masih terikat oleh hukum karma?

Memohon Dharmaraja Lian Sheng berwelas asih memberikan petunjuk, terima kasih.

Bahan referensi:
Dalam buku Satu Petunjuk Menembus Alam Pencerahan (悟境一點通) – “Pertanyaan kelima: Apakah pencerahan dan nasib dan peruntungan saling berkaitan?”

Dharmaraja Lian Sheng menjawab:
Hal ini harus dilihat dengan membedakan sudut pandang Dharma duniawi (lokiya) dan Dharma nonduniawi (lokuttara).

Hidup di dunia, secara alami harus menghadapi kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian, ini adalah hukum sebab-akibat, ini adalah nasib dan peruntungan, tidak ada yang bisa menghindarinya. Oleh karena itu Bodhisatwa Samantabhadra pernah berkata: "Hari ini telah berlalu, sisa usia pun ikut berkurang, bagaikan ikan di air yang menyusut, kebahagiaan apa yang ada di sana."

Sutra Surangama menyebutkan, terlepas dari apakah Anda memiliki penyakit mata atau tidak, apa yang dilihat oleh insan awam semuanya adalah ilusi dari satu pikiran, semuanya bukan hakikat kebenaran.

Pohon, bayangan cahaya, bahkan tubuh yang Anda lihat, semuanya adalah wujud ilusi dari perpaduan sebab dan kondisi yang palsu. Hanya saja orang yang sakit mata seolah melihat bunga di udara, yang matanya sehat mengira melihat hal yang nyata, padahal kenyataannya keduanya sama-sama ilusi belaka.

Benar-benar mencapai pencerahan, maka akan memahami apa yang dikatakan dalam Sutra Vajracchedika: "Tiada aku, tiada orang lain, tiada semua makhluk, tiada usia makhluk.", semuanya adalah atribut ilusi belaka. Sutra Surangama juga menunjukkan, terlepas dari apakah itu karma individu atau karma kolektif, bahkan seluruh negara, semuanya adalah wujud palsu, mana ada nasib dan peruntungan serta hukum karma yang bisa dibahas?

Namun juga tidak bisa dikatakan "tidak ada hukum karma", karena tumimbal lahir itu sendiri adalah hukum karma, ini adalah Dharma lokiya. Sedangkan dalam Dharma lokuttara, pada dasarnya segala sesuatu itu suci dan tidak dilahirkan, sehingga tidak ada lagi ikatan dari nasib dan peruntungan.

Yang disebut mencapai pencerahan, sesungguhnya Sutra Mahaprajnaparamita, Sutra Vajracchedika, Sutra Hati dan lain-lain semuanya adalah Sutra untuk mencapai pencerahan. Memasuki keduniawian (lokiya), harus memahami hukum karma dan tumimbal lahir; melampaui keduniawian (lokuttara) segala sesuatunya adalah ilusi. Kita yang hidup di dunia ini, perlu memadukan keduniawian dan melampaui keduniawian, dan dari situ merealisasikan jalan kebenaran sejati.

Seperti Upacara Homa Mahakala hari ini, Dharmaraja di dalam dhyana samadhi juga membabarkan Dharma, memberikan Abhiseka, menjalankan metode, kontak batinnya sangat dalam dan luas; saat membuka mata, juga mengenali siswa yang berjodoh dari kehidupan masa lampau, emosi pun bergejolak di dalam hati, tak kuasa meneteskan air mata. Ini adalah hukum karma, juga merupakan welas asih; meskipun menyadari bahwa segala sesuatunya seperti ilusi, namun tetap bersedia berjalan berdampingan dengan semua makhluk, di masa mendatang, semuanya akan mendapatkan pencapaian.

◎ Pengulasan Sutra Surangama

Materi yang disebutkan barusan, sudah mencakup makna dari bagian ini. Buddha Sakyamuni berkata kepada Ananda:

"Ananda, sekarang Aku akan menjelaskan dua hal ini kepadamu: ilusi penglihatan dari karma individu dan karma kolektif, akan diulas secara jelas bersama-sama."

Buddha mengatakan, seperti semua makhluk yang memunculkan ilusi penglihatan karena karma individu mereka sendiri, ibarat orang yang matanya sakit melihat cahaya bulat muncul di dalam lampu, itu bukanlah hakikat kebenaran, melainkan hanya apa yang dilihat karena penyakit. Pemahaman seperti ini, adalah debu keletihan, bukan diciptakan oleh debu rupa, melainkan karena mata Anda sedang sakit.

Sebagai contoh gunung, sungai, bumi besar, negara dan semua makhluk yang Anda lihat dengan mata jasmani, kelihatannya nyata ada, padahal sebenarnya semuanya adalah ilusi penglihatan yang disebabkan oleh penyakit penglihatan sejak awal mula yang tak terhingga. Gunung, sungai, negara, ras manusia, binatang, jika dilihat dari esensinya, semuanya berubah secara tidak pasti, mana ada sesuatu yang benar-benar nyata. Gunung bisa berubah menjadi laut, laut juga bisa berubah menjadi gunung; makhluk hidup juga berasal dari perubahan, berudu berubah menjadi katak, ulat berubah menjadi kupu-kupu, umat manusia juga hanyalah lahir dari perubahan, semuanya adalah ilusi belaka.

Semua fenomena yang tampaknya ada ini, sebenarnya adalah ilusi dan tidak nyata, semuanya terbentuk dari penyakit penglihatan, ilusi penglihatan menganggapnya sebagai kebenaran, dan bukan kenyataan. Anda berpikir bahwa melihat adalah sungguh melihat, padahal itu hanyalah penglihatan dan kondisi penglihatan, seolah-olah alam yang dilihat berada tepat di depan mata, namun semuanya adalah ilusi. Baik itu yang dimanifestasikan oleh karma individu maupun karma kolektif, semuanya juga merupakan wujud palsu yang termanifestasikan oleh ilusi.

Buddha menyinggung Batin Pencerahan Mula melihat selaput putih mata yang dikondisikan artinya adalah orang buta yang memiliki penyakit mata, semua yang dilihatnya adalah penyakit, Batin Sejati Terang nan Luhur yang sesungguhnya bukanlah apa yang dilihat dari kondisi yang sakit, itu adalah sifat pencerahan yang melekat dalam diri kita sejak awal, yang disebut sebagai melihat, pada kenyataannya kesadaran melihat itu sendiri adalah selaput penyakit, semuanya adalah penglihatan yang berpenyakit, tidak bisa dianggap sebagai kenyataan. Hanya apabila bukan dilihat karena kondisi penyakit, barulah ini merupakan melihat apa yang seutuhnya dilihat yang sesungguhnya, Batin Sejati Terang nan Luhur inilah yang sungguh nyata.

Mengenai apa itu melihat, mendengar, merasa, dan mengetahui? Buddha berkata: "Sekarang Anda dapat melihat Aku, melihat diri sendiri, dan juga sepuluh jenis makhluk di dunia Saha, ini semua adalah penglihatan selaput penyakit. Apa yang dilihat karena mata memiliki penyakit, bukanlah penglihatan yang nyata, Batin Sejati Terang nan Luhur yang sesungguhnya adalah yang tidak berpenyakit.

Arya Ananda, yang disebut bagaikan ilusi penglihatan dari bagian yang sama dari para makhluk tersebut merujuk pada makhluk hidup yang dikarenakan oleh rintangan dari karma kolektif atau karma individu, semua yang dilihatnya adalah ilusi belaka. Terlepas dari apakah itu karma pribadi Anda, ataupun karma kolektif orang banyak. Jika mata semua orang di seluruh negara sedang sakit, maka apa yang mereka lihat, secara alami tergolong sebagai ilusi.

Ada orang yang bahkan melihat dua matahari, dua bulan, ini diakibatkan oleh wujud penyakit. Pada kenyataannya satu matahari saja sudah membuat dunia terasa sangat panas tak tertahankan, jika ada dua matahari, bukankah itu sebuah bencana? Dua bulan, juga merupakan pertanda ketidakberuntungan. Fenomena-fenomena abnormal ini, adalah rintangan karma kolektif dari semua makhluk, yang berasal dari karma buruk dan kondisi buruk yang terakumulasi oleh ilusi penglihatan sejak awal mula yang tak terhingga.

Teks Sutra menyebutkan: "Di Jambudvipa dan Tiga Ribu Benua, digabungkan dengan Empat Samudra", bahkan seluruh dunia yang tiris, di sepuluh penjuru beserta seluruh makhluk di dalamnya, meskipun setiap orang pada dasarnya memiliki Batin Luhur Pencerahan Tanpa Tiris, tetapi karena diri Anda terhalang oleh rintangan karma, maka itu berubah menjadi ilusi.

Oleh karena itu dikatakan: "lahir dari ilusi perpaduan, mati dari ilusi perpaduan", jika bisa meninggalkan seluruh karma dari sebab dan kondisi. Menjauhi segala kondisi dari perpaduan, barulah Anda bisa menyempurnakan Bodhi, tidak lahir dan tidak mati, barulah bisa suci, Batin Sejati Terang nan Luhur Anda barulah akan bermanifestasi.

Ada yang mengatakan, Dharmaraja sebentar tertawa, sebentar menangis, sepertinya memiliki masalah kejiwaan, apakah “crazy people”? Tentu saja tidak. Itu karena Dharmaraja teringat akan alur kisah yang mengharukan di kehidupan masa lampau, tidak bisa menahan diri meneteskan air mata. Terkadang bukan karena masa lalu, melainkan perpisahan hidup dan mati di depan mata, kepergian sanak saudara, atau melihat penderitaan semua makhluk, juga akan meneteskan air mata.

Namun jika memahami bahwa segala sesuatunya adalah ilusi, perasaan terharu tersebut hanyalah kondisi pada saat itu saja, setelah berlalu maka akan memudar. Di dunia Saha, memikirkan kondisi di tengah peperangan seperti Palestina dan Ukraina, serta anak-anak yang kelaparan di Afrika, di dalam hati secara alamiah akan timbul rasa perih. Nasib dan peruntungan semua makhluk di setiap tempat di bumi berbeda-beda, suka dan duka silih berganti, membuat orang terharu dan menghela napas.

Ada orang yang lebih bersikap dingin, namun Dharmaraja mudah tersentuh, sehingga seringkali meneteskan air mata di atas Dharmasana. Di usia delapan puluh tahun masih sangat emosional, adalah karena melihat orang-orang yang berjodoh dari masa lalu, perasaan tak asing dan ikatan tersebut, sulit untuk ditahan. Ketulusan perasaan yang sangat dalam ini, hanya berharap agar semuanya dapat menghargai jodoh pada kehidupan saat ini, serta belajar Buddha dengan sungguh-sungguh.

Di dalam Buddhadharma tersembunyi banyak hakikat kebenaran, mayoritas orang awam tidak memahaminya. Dunia Saha dipenuhi dengan perebutan, mulai dari manusia hingga negara, dari individu hingga ras bangsa, tiada lain hanyalah merebut satu sama lain. Tetapi setelah belajar Buddha Anda akan menyadari: Segalanya adalah ilusi belaka, dan pada akhirnya akan kembali pada sunya. Tidak ada seorang pun yang bisa membawa sebatang jarum pun dari dunia ini. Setelah melihat jelas hal ini, Anda pun bisa melepaskan kemelekatan, menjauhi klesa, membiarkan hati bersinar terang, melangkah menuju ke alam yang lebih tinggi.

Inilah poin penting yang ingin disampaikan oleh Dharmaraja kepada semuanya hari ini.

Setelah mengakhiri Dharmadesana, Dharmaraja dengan welas asih menganugerahkan Abhiseka Mahakala kepada para hadirin di lokasi, upacara pun berakhir dengan manggala.

------------------------------

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB

Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate

Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB

Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw

Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature

Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org

Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng

TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

#Mahakala
Istadewata Homa minggu depan #MahadewiYaochi

持誦長壽佛心咒「嗡。阿媽惹尼。祖溫底耶。梭哈。」 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。