30 November 2025 Upacara Homa Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)
Pada tanggal 20 November 2025, Rainbow Temple (Caihong Leizangsi/彩虹雷藏寺), Seattle, Amerika Serikat, mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin Upacara Agung Homa Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan (Mahadewi Yaochi Sepuluh Ribu Lengan Buddha dan Mata Tanpa Batas/萬佛手無極眼瑤池金母大天尊). Altar mandala upacara tampak sangat agung dan istimewa, pratima Buddha memancarkan kualitas kebajikan dan wibawa tak terhingga dari para Buddha, dan keempat kelompok siswa penuh dengan sukacita Dharma.
Pujana Kesucian Melampaui Materi
Usai Homa paripurna, terlebih dahulu Dharmaraja Lian Sheng mengumumkan kepada semua, bahwa hari Minggu depan akan diselenggarakan Upacara Homa Bodhisatwa Mahapratisara (Dasuiqiu Pusa/大隨求菩薩), Mantra Hati Istadewata adalah: “Om. Ma Ha Bo La Di. Sa Luo. Suo Ha.” Mudranya adalah Mudra Sutra Prajna. Dharmaraja menekankan, Bodhisatwa Mahapratisara termasyhur sebagai Bodhisatwa yang menanggapi semua permohonan, menganugerahkan pertolongan sesuai dengan harapan para makhluk.
Dharmaraja Lian Sheng mengungkapkan bahwa malam sebelum homa, Istadewata Homa hari ini: Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan secara khusus memberikan petunjuk. Dharmaraja Lian Sheng meminta petunjuk Mahadewi Yaochi mengenai sarana puja yang khusus, Mahadewi Yaochi dengan lugas menjawab: “Jangan gunakan cangkir yang kotor diisi air untuk dipersembahkan kepada-Ku.”
Dharmaraja sempat mengira bahwa maksud dari petunjuk tersebut adalah perhatikan kebersihan wadah persembahan, tetapi usai santap siang keesokan harinya, Dharmaraja memuntahkan semua makanan. Saat itu, Dharmaraja langsung tergugah akan makna terdalam dari petunjuk Mahadewi Yaochi tersebut: Yang dimaksud dengan cangkir yang bersih adalah tubuh sadhaka mesti sepenuhnya bersih, dengan kata lain: “Muntahkan semua kekotoran” dalam tubuh, mencapai tubuh dan batin, eksternal dan internal, semua dalam kondisi bersih, sehingga sadhaka bisa menjadi cangkir bersih untuk persembahan bagi Istadewata. Dharmaraja mengungkapkan, setelah muntah, merasakan sekujur tubuh ringan, tetapi juga tidak bertenaga. Dengan humoris Beliau mengungkapkan: “Muntah tidak apa, sebab sudah lama tidak muntah, belajar bagaimana jika kita memuntahkan semua yang telah kita makan.”
◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab
Gunung Kailash dan Terma Ratna Dharma
Siswa bertanya: Menurut agama Buddha Tibet dan agama Hindu, pusat dunia adalah puncak Kailash di pegunungan Himalaya di Tibet. Dipandang sebagai pusat dunia, merupakan Bodhimanda bagi Cakrasamvara, sekaligus merupakan rumah bagi Syiwa Sang Mahadewa, Dewi Parwati, dan putra-Nya: Ganesha, dan Skanda. Ini diakui oleh tiap agama tersebut.
Siswa memahami, sesungguhnya ini bukan berarti Cakrasamvara, dan keluarga Mahadewa tinggal di atas gunung tersebut, melainkan menyatakan bahwa puncak Kailash merupakan representasi di dunia, merupakan penjelmaan di dunia, yang terhubung dengan Bodhimanda Cakrasamvara dan rumah Mahadewa atau Kailash.
Alam Resi Yaochi kediaman Maha Arya Mahadewi Yaochi di surga barat, penjelmaannya di dunia dan lokasi yang terhubung adalah Gunung Kunlun, sehingga juga dianggap sebagai pusat dunia, merupakan keberadaan yang berdiri di atas bumi dan menopang ke langit.
Meskipun di dunia juga ada pegunungan Kunlun, di sebelah utara dataran tinggi Qinghai-Tibet, di sebelah selatan Xinjiang, tetapi tidak ada catatan yang menyebutkan di mana tepatnya lokasi Alam Resi Yaochi di pegunungan Kunlun, di puncak gunung yang mana.
Akhir-akhir ini, siswa mendengar sebuah pendapat, sesungguhnya Gunung Kunlun bukan menunjuk pada pegunungan Kunlun yang sekarang ditetapkan secara geografis di dunia fan aini, melainkan menunjuk pada puncak Kailash yang berada di pegunungan bersalju di dataran tinggi Qinghai-Tibet, yang disebut juga Gunung Gangdise. Pusat dunia yang merupakan penjelmaan dan terhubung dengan Alam Resi Yaochi adalah puncak Kailash.
Dharmaraja Lian Sheng menggunakan referensi yang ada dalam Wikipedia, puncak Kailash yang tingginya 6638 meter dari permukaan laut, berlokasi di Burang, Tibet, bukan hanya merupakan puncak tertinggi kedua di pegunungan Gangdise, terlebih dijunjung tinggi sebagai pusat dunia oleh agama Buddha Tibet, agama Hindu, Bon, dan Jain. Bentuk puncak ini sangat istimewa, mirip dengan piramida, puncak itu selalu tertutup salju, hingga kini tidak ada siapa pun yang berhasil mencapai puncaknya. Para sadhaka dan peziarah dari Tibet, memiliki tradisi untuk berpradaksina pada gunung suci, danau suci, stupa Buddha dan wihara, di antaranya, ada pradaksina kepada garis luar puncak Kailash, sejauh 54 km.
Dharmaraja Lian Sheng mengungkapkan, banyak orang mengira bahwa Gunung Kunlun Alam Resi Yaochi juga berada di wilayah Gunung Gangdise. Gunung Gangdise merupakan jalan Dharmayatra bagi umat yang tak terhitung banyaknya, untuk melakukan namaskara sembari merapal mantra. Banyak Tetron yang menemukan Ratna Dharma bhavana dan Sadhana Tantra berharga yang dijadikan terma oleh Guru Padmasambhava dan Yeshe Tsogyal di gunung dan danau suci. Beberapa Ratna Dharma tersebut tersembunyi di dalam danau, gua, dan lereng gunung.
Dharmaraja Lian Sheng mengisahkan keajaiban yang tercantum dalam kitab: Tetron melalui daya spiritualnya, pada tanggal, bulan, dan tahun, bahkan waktu yang ditetapkan, mendayung sampan hingga ke tengah danau, dan beberapa saat kemudian akan ada seekor ikan besar yang melompat ke atas sampan, dan di dalam perut ikan tersebut tersembunyi terma Guru Padmasambhava. Lebih lanjut Dharmaraja mengungkapkan bahwa Beliau dapat membabarkan banyak kiat Dharma, juga berkat terma yang disembunyikan oleh Guru Padmasambhava dan Yeshe Tsogyal dalam alam batin Beliau.
Pertanyaan siswa mengenai apakah Gunung Gangdise adalah pusat dunia, Dharmaraja mengonfirmasi kemasyhuran gunung suci tersebut dan tak terhitung banyaknya para Arya yang pernah berziarah ke sana, dan menunjukkan bahwa daya magis gunung tersebut sangat besar, dapat membuka gerbang terma bagi yang memanjatkan permohonan, sehingga para pemohon Dharma dapat memperoleh harta karun Dharma berupa piranti Dharma dan berbagai mestika lainnya.
Dharmaraja Lian Sheng mengungkapkan bahwa malam hari sebelum Upacara Homa Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan, sempat memohon petunjuk Mahadewi Yaochi perihal ketentuan khusus sarana puja. Mahadewi Yaochi menjawab: Gunakan cangkir bersih diisi dengan air bersih sebagai persembahan, ini sudah cukup. Semula Dharmaraja mengira bahwa yang dimaksud adalah benda eksternal wajib bersih, oleh karena itu makan seperti biasa. Namun, di siang hari sebelum upacara, Beliau memuntahkan semua yang tadi dimakan. Dharmaraja seketika menyadari, bahwa yang dimaksud oleh Mahadewi Yaochi sebagai cangkir yang bersih bukan sebuah wadah biasa, melainkan perumpamaan tentang tubuh mesti sepenuhnya bersih, memuntahkan semua kekotoran sampai habis, mencapai kondisi bersih sempurna, inilah cangkir bersih untuk persembahan. Dharmaraja mengungkapkan, Mahadewi Yaochi menggunakan perumpamaan ini untuk membimbing, Beliau tertawa, seandainya Mahadewi Yaochi terlebih dahulu memberi petunjuk untuk berpuasa, bisa jadi Dharmaraja dapat terhindar dari kesengsaraan ini, oleh karena itu, nanti malam wajib makan lebih banyak.
◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 3:
“Ananda, hakikat kesadaran adalah bahwa ia tidak memiliki dasar yang nyata. Munculnya kesadaran sebagai respons terhadap enam kemampuan dan objeknya adalah ilusi. Lihatlah sekeliling sekarang pada para bijak yang berkumpul di sini. Saat Anda melirik dari satu ke yang lain, mata Anda melihat mereka seolah-olah di cermin, yang tidak membedakan. Tetapi kesadaran Anda akan mengidentifikasi masing-masing bijak secara bergantian sebagai Manjusri, Purnamaitrayaniputra, Maudgalyayana, Subhuti, dan Sariputra. Sekarang, apakah kemampuan yang membedakan ini, unsur utama kesadaran ini, muncul dari kemampuan mata Anda? Apakah ia muncul dari objek yang dipersepsikan? Apakah ia muncul dari ruang? Atau apakah ia muncul tiba-tiba, tanpa sebab?”
“Ananda, anggaplah unsur utama kesadaran Anda muncul dari kemampuan mata Anda. Maka, tanpa adanya cahaya, kegelapan, objek, dan ruang, jika keempatnya tidak ada, kemampuan mata Anda tidak akan berfungsi. Jika kemampuan mata Anda tidak berfungsi, apa yang akan menyebabkan unsur kesadaran Anda muncul?”
“Bayangkan kesadaran Anda muncul dari objek yang dipersepsikan, bukan dari indra penglihatan. Dalam hal ini, Anda tidak akan melihat cahaya atau kegelapan, dan jika Anda tidak menyadari cahaya atau kegelapan, Anda juga tidak akan menyadari objek dan ruang. Jika Anda tidak dapat melihat semua itu, bagaimana unsur kesadaran Anda dapat muncul darinya?”
“Bayangkan unsur kesadaran Anda muncul dari ruang, bukan dari objek yang dipersepsikan atau dari indra penglihatan. Tetapi tanpa indra penglihatan, tidak ada yang terlihat yang dapat dipersepsikan, sehingga Anda tidak akan menyadari cahaya, kegelapan, objek yang dipersepsikan, atau ruang. Jika tidak ada objek yang dipersepsikan sebelum indra penglihatan Anda, maka kondisi untuk melihat akan hilang, dan tidak akan ada tempat bagi penglihatan untuk terjadi. Hal yang sama berlaku untuk pendengaran, kesadaran taktil, dan kesadaran kognitif.”
“Tetapi anggaplah kesadaran itu didasarkan pada ruang, bukan pada kemampuan persepsi atau pada objek yang dipersepsikan. Namun, ruang identik dengan ketiadaan. Dan bahkan jika ruang itu sesuatu, ia tidak sama dengan objek yang dipersepsikan secara nyata. Jika ruang tetap menyebabkan kesadaran Anda muncul, bagaimana Anda dapat membedakan apa pun?”
“Anggaplah kesadaran Anda muncul tiba-tiba, tanpa sebab apa pun. Mengapa bulan tidak tiba-tiba bersinar di siang bolong? Anda harus memeriksa pertanyaan ini lebih cermat dan lebih detail. Melihat adalah fungsi dari kemampuan mata Anda. Objek yang dipersepsikan yang muncul di lingkungan Anda memiliki bentuk, sedangkan ruang tidak memiliki bentuk. Manakah dari keduanya yang dapat menjadi penyebab kesadaran? Kesadaran bersifat aktif, sedangkan kemampuan mata bersifat diam, sehingga keduanya tidak dapat bergabung atau digabungkan satu sama lain. Hal yang sama berlaku untuk kesadaran dan kemampuan telinga, kemampuan hidung, kemampuan tubuh, dan kemampuan kognitif. Namun unsur utama kesadaran tidak dapat muncul dengan sendirinya, tanpa sebab.”
“Mengingat bahwa kesadaran unsur utama tidak disebabkan oleh faktor-faktor ini, Anda harus tahu bahwa kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran tubuh, dan kesadaran pikiran Anda yang membedakan tidak berasal dari mana pun; semuanya lengkap dan murni dan tidak muncul dari apa pun. Sifat sejati dari apa yang dapat kita sebut tujuh unsur utama—dua unsur terakhir ini, bersama dengan ruang, bumi, air, api, dan angin—sepenuhnya menyatu satu sama lain. Dalam sifat dasarnya, semuanya berada di dalam Tathagatagarbha dan menyatu dengan Tathagatagarbha, tidak muncul maupun lenyap.”
“Ananda, pikiranmu kasar dan dangkal. Kau belum menyadari bahwa, pada dasarnya, kesadaran matamu, kesadaran telingamu, dan kesadaran pikiranmu yang membedakan dan memilah semuanya melekat pada Tathagatagarbha. Kau harus merenungkan keenam kesadaranmu: apakah semuanya identik satu sama lain, atau berbeda? Apakah semuanya ada, atau kosong? Apakah semuanya tidak identik satu sama lain maupun berbeda? Apakah semuanya tidak ada maupun kosong?”
“Anda sama sekali tidak mengetahui bahwa unsur utama kesadaran melekat dalam Matriks Sang Tathagata dan merupakan pemahaman yang tercerahkan, dan bahwa pencerahan adalah kesadaran sejati. Itulah pencerahan yang menakjubkan dan murni yang meluas ke seluruh Alam Dharma. Ia meliputi seluruh ruang di sepuluh penjuru. Bagaimana mungkin ia terbatas pada satu tempat tertentu? Bahkan, ia menjadi nyata bagi makhluk yang sesuai dengan karmanya. Dalam ketidaktahuan mereka, makhluk biasa secara keliru mengira bahwa kesadaran muncul dari sebab dan kondisi atau bahwa ia muncul dengan sendirinya. Ini adalah perbedaan dan konstruksi yang dibuat oleh pikiran sadar. Itu hanyalah kata-kata, tanpa makna yang sebenarnya.”
Pengulasan Dharmaraja Lian Sheng:
Terlebih dahulu Dharmaraja mengupas kalimat dalam Sutra Hati: “Tiada caksurdhatu, hingga tiada manasadhatu dan vijnanadhatu.” dan kalimat dalam Sutra Surangama: ““Ananda, hakikat kesadaran adalah bahwa ia tidak memiliki dasar yang nyata.”
Menunjukkan bahwa kesadaran sendiri tidak memiliki dasar yang nyata. Sebagai contoh, petunjuk Buddha Sakyamuni kepada Arya Ananda: Sang Buddha meminta Arya Ananda untuk mengamati para Arya yang duduk di sana, mengamati kesadaran penglihatan yang sedang menatap, laksana bayangan pada permukaan cermin, sehingga kesadaran pun menghasilkan pembeda, menunjukkan: Bodhisatwa Manjusri, Purnamaitrayaniputra yang nomor satu dalam Dharmadesana, Maudgalyayana yang nomor satu dalam abhijna, Subhuti yang nomor satu dalam pemahaman akan sunya, dan Sariputra yang nomor satu dalam kebijaksanaan.
Sang Buddha pun menanyai Arya Ananda: “Apakah kemampuan yang membedakan ini, unsur utama kesadaran ini, muncul dari kemampuan mata Anda? Apakah ia muncul dari objek yang dipersepsikan? Apakah ia muncul dari ruang? Atau apakah ia muncul tiba-tiba, tanpa sebab?”
Dharmaraja Lian Sheng mengungkapkan, kesadaran bukan ada berdiri sendiri, mesti bergantung pada enam indra (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) dan enam objek indra (rupa, suara, bebauan, cita rasa, sentuhan, dan dharma) baru bisa muncul. Jika tidak ada cahaya, gelap, atribut rupa, dan ruang, keempat syarat ini, maka kesadaran visual tidak akan bisa berdiri sendiri, demikian juga kesadaran pun tidak akan timbul.
Dharmaraja menyimpulkan: Kesadaran tidak memiliki lokasi yang tetap, tiada besar dan kecil, digolongkan sebagai tujuh elemen utama dengan elemen tanah, air, api, angin, akasa, dan indra, dan dengan enam indra, enam objek indra, keseluruhan merupakan 18 loka. Pada dasarnya, semua itu adalah Tathagatagarbha atau Batin Sejati Terang nan Luhur yang melebur, tiada muncul dan lenyap. Insan di dunia sering keliru menganggapnya sebagai sebab dan kondisi atau ada dengan sendirinya, padahal sesungguhnya merupakan pembedaan oleh kesadaran, tiada makna sejati.
Lebih lanjut, Dharmaraja membahas metode bhavana, menunjukkan bahwa jalan bhavana ada 84000 macam, dan bisa jadi Gerbang Dharma keberhasilan tiap insan adalah berbeda. Dharmaraja mengupas perjalanan bhavana segenap Maha Bodhisatwa dan Arahat Agung dalam Sutra Surangama:
Bodhisatwa Mahastamaprapta: Bab Penembusan Melalui Penekunan Perapalan Nama Buddha, menggunakan perapalan “Namo Amituofo” untuk menyerap enam indra, mencapai pencerahan satu hati.
Candraprabhakumara: Mencapai pencerahan melalui pengamatan air.
Sugandakumara: Mencapai pencerahan melalui menyalakan dupa wangi dan mencium wangi.
Visualisasi Tengkorak Putih: Bervisualisasi tulang diri sendiri, dan pada akhirnya mencapai pencerahan dan keberhasilan bhavana.
Metode pernapasan: Mencapai pencerahan melalui pemusatan perhatian pada napas.
Dharmaraja menekankan, pusat bhavana Tantra adalah merapal mantra, visualisasi, membentuk mudra, untuk kemudian masuk samadhi, sama seperti yang disebutkan dalam Sutra Hati: “Saat menyelami Prajnaparamita nan mendalam.” Sebagai contoh, mudra dari Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan, jika Anda bisa fokus pada mudra ini, bervisualisasi Istadewata, dan menjapa mantra: “Om. Jin Mu Xi Di. Da Mo. Xie.”, dapat mengarahkan aliran Dharma untuk mengabhiseka diri.
Di akhir, Dharmaraja menggunakan Ko’an Zen dan kutipan Sutra untuk mengupas kemungkinan “Pencerahan seketika”, sama seperti Maha Biksu Xu Yun yang mencapai pencerahan karena cangkir teh yang pecah. Dharmaraja mengungkapkan, pencerahan Beliau pribadi saling sesuai dengan jawaban Sariputra dalam Sutra Vimalakirti, setelah pencerahan, merealisasikan Anutpattikadharmaksanti atau Bodhisatwa bumi ke-8, mencapai keberhasilan selamanya tidak mundur lagi.
Dharmaraja mengakhiri Dharmadesana yang sangat menarik dan mendalam, untuk melanjutkan dengan sesi Abhiseka Sadhana Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan bagi segenap siswa yang hadir di lokasi. Upacara pun usai dengan sempurna, di tengah doa khidmat dan sukacita Dharma tiada tara dari segenap siswa.
------------------------
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia
#DharmadesanaDharmarajaLiansheng
#TrueBuddhaSchool
#Wanfoshouwujiyanyaochijinmu
Istadewata Homa Minggu depan #BodhisatwaMahapratisara