Jambore Nasional 3 Ikatan Muda Mudi Zhenfozong Indonesia (IMZI) 2025 “Dharma Kompas Hidup Pemuda”

Jambore Nasional 3 Ikatan Muda Mudi Zhenfozong Indonesia (IMZI) 2025
“Dharma Kompas Hidup Pemuda”


Oleh Tim Piblikasi Zhenfo Zong Kasogatan

Jambore Nasional ke-3 Ikatan Muda-Mudi Zhenfozong Indonesia (IMZI) tahun 2025 diselenggarakan pada 24–27 Desember 2025 dengan pusat kegiatan di Vihara Vajra Bumi Nusantara, Tangerang, Banten. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta berusia 15–30 tahun yang berasal dari berbagai vihara Zhenfozong dalam naungan Majelis Zhenfo Zong Kasogatan dan Madha Tantri, meliputi wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, hingga Kalimantan Barat. Mengangkat tema “Dharma Kompas Hidup Pemuda”, Jambore Nasional 3 menjadi ruang pembinaan spiritual, penguatan persaudaraan, sekaligus konsolidasi generasi muda agar tetap memiliki arah hidup yang benar di tengah tantangan zaman.

Pembukaan Jambore pada 24 Desember 2025 berlangsung di Vihara Vajra Bumi Nusantara. Dalam sambutannya, Pembimas Buddha Banten, Bapak Sujianto, S.Ag., M.M., menekankan pentingnya konsolidasi generasi muda Buddhis sebagai fondasi keberlanjutan pembinaan umat. Ketua Umum TBS Youth Internasional, Acarya Shi Lianru, turut mengapresiasi pelaksanaan Jambore yang telah memasuki periode ketiga. Panitia juga menegaskan kesinambungan tema Jambore dari tahun ke tahun: Jambore pertama mengusung “Satu Guru Satu Keluarga”, Jambore kedua “Step Up and Shine”, dan Jambore ketiga “Dharma Kompas Hidup Pemuda”, yang menegaskan bahwa semangat melangkah maju dan bersinar perlu dituntun kompas batin agar tidak kehilangan arah atau terjerumus dalam sisi gelap kehidupan.

Rangkaian pembinaan dimulai dengan kelas Dharma di Vihara Vajra Bumi Nusantara bertema “Berkah & Karier: Rahasia Sadhana untuk Generasi ZFZ” yang dibawakan oleh Acarya Shi Lianzu. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bahwa keseimbangan antara usaha nyata dan ketekunan sadhana merupakan bekal penting dalam menata masa depan, baik dalam studi maupun karier. Ditekankan bahwa keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh kerja keras, melainkan juga oleh kejernihan batin, kedisiplinan dalam latihan spiritual, serta penguatan kebajikan yang menopang langkah hidup agar tetap stabil, terarah, dan bermanfaat.

Lebih lanjut, Acarya Shi Lianzu menjelaskan bahwa sadhana bukanlah jalan instan, melainkan proses batin yang berkesinambungan untuk membersihkan sebab-sebab penghambat dalam kehidupan. Melalui praktik dasar seperti Mahanamaskara, seorang sadhaka dilatih menumbuhkan kerendahan hati dan menundukkan ego, karena ego yang kuat kerap menjadi penghalang utama datangnya berkah. Mahapuja diibaratkan sebagai “tabungan kebajikan” yang memperkuat daya dukung spiritual bagi kehidupan duniawi, sehingga usaha lahiriah memiliki fondasi batin yang kokoh. Dalam kerangka ini, sadhana Yidam diposisikan bukan untuk memenuhi keserakahan atau ambisi pribadi, melainkan untuk menopang tanggung jawab hidup dan menumbuhkan niat memberi manfaat bagi banyak makhluk. Dengan demikian, tujuan akhir seorang sadhaka bukan sekadar meraih keberhasilan duniawi, tetapi berhasil dengan batin yang bersih, seimbang, dan membawa kemaslahatan bagi diri sendiri maupun sesama.

Pada hari kedua, peserta Jambore Nasional 3 IMZI melakukan dharmayatra ke Vihara Dharma Hastabrata, Jakarta. Di vihara tersebut, Acarya Shi Lianru membawakan kelas Dharma bertema “Dharma sebagai Kompas Hidup Pemuda” dengan penekanan pada pemahaman ketidakkekalan, yakni bahwa segala hal dalam kehidupan senantiasa berubah dan pada akhirnya akan berlalu. Peserta diarahkan untuk memaknai perubahan sebagai bagian alamiah dari kehidupan, sehingga generasi muda tidak mudah larut dalam kepanikan, keputusasaan, maupun kesedihan yang berkepanjangan ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.

Dalam pemaparannya, Acarya Shi Lianru menegaskan bahwa “segala sesuatu akan berlalu”, baik rasa sakit, masa sulit, maupun masa kejayaan, sehingga perubahan tidak perlu disikapi dengan ketakutan. Ketika kondisi hidup bergeser, batin perlu dilatih agar lentur dan tidak kaku, karena penderitaan sering kali muncul bukan semata-mata akibat perubahan itu sendiri, melainkan karena penolakan terhadap perubahan. Oleh karena itu, latihan sederhana yang ditekankan adalah mindfulness, yaitu mengamati napas, pikiran, dan emosi secara sadar, agar dapat menyadari bahwa semua keadaan bersifat tidak tetap. Dari pemahaman inilah ungkapan “segalanya adalah pengaturan terbaik” dimaknai bukan sebagai sikap pasif, melainkan sebagai cara memetik pelajaran dari setiap peristiwa untuk menumbuhkan kebijaksanaan, keteguhan, dan kedewasaan batin. Sesi Dharma ini diakhiri dengan ucapan selamat tahun baru kepada Mahaguru dan Gurudara, serta kebersamaan makan siang bersama para acarya dan peserta sebagai penguat rasa kekeluargaan.

Kelas Dharma kemudian dilanjutkan di Cetya Pelangi Ksitigarbha, Muara Karang, Jakarta, dengan materi praktis mengenai pembuatan altar bagi sadhaka yang tinggal di kos, kontrakan, atau sedang merantau. Dalam sesi ini, Acarya Shi Lianfei menegaskan bahwa altar bukan sekadar meja tempat meletakkan benda-benda suci, melainkan merupakan manifestasi mandala atau alam suci, sekaligus cerminan kondisi batin sadhaka yang mencakup pikiran, ucapan, dan perbuatan. Oleh karena itu, altar dapat disesuaikan dengan keadaan dan keterbatasan ruang, termasuk dibuat secara sederhana, karena keberadaannya berfungsi sebagai pengingat dan pendorong untuk terus bersadhana secara konsisten.

Lebih lanjut, Acarya Shi Lianfei menyampaikan bahwa sadhana berperan menyuburkan karma baik, mengikis karma buruk, serta mengondisikan datangnya berkah dalam kehidupan. Kekuatan sadhana menolong batin dalam menghadapi buah karma, sehingga persoalan besar dapat dirasakan menjadi lebih ringan, bahkan persoalan kecil dapat terselesaikan tanpa menimbulkan penderitaan berkepanjangan. Dalam realitas kehidupan generasi muda yang padat dengan aktivitas studi dan pekerjaan, keberadaan altar sederhana tetap memungkinkan kontinuitas latihan spiritual, sehingga kompas batin senantiasa menyala dan praktisi tetap terjaga dalam arah hidup yang selaras dengan Dharma

Setelah kembali ke Vihara Vajra Bumi Nusantara, pada malam 25 Desember 2025 pukul 19.00 para peserta mengikuti Upacara Apihoma dengan adhinata Jambala Kuning. Upacara dipimpin oleh Acarya Shi Lianzu, didampingi Acarya Shi Lianfei, Acarya Shi Lianru, Dharmacarya Shi Lianhong, para bhiksu, serta dukungan 27 pandita. Kehadiran umat juga memenuhi dharmasala hingga mencapai lebih kurang 500 orang, sehingga suasana upacara apihom terasa kuat dan khidmat.

Usai Apihoma, Acarya Shi Lianfei memandu hadirin melakukan pradaksina. Dengan khidmat, segenap umat melantunkan nama agung Buddha Amitabha “Namo Amituofo” sambuil konsentrasi pada langkah kaki. Selain mengelilingi objek suci, pradaksina juga praktik meditas jalan dengan objek langkah kaki. Dengan demikian, pradaksina menjadi penutup upacara apihoma.
Hari ketiga Jambore diisi dengan kegiatan study wisata ke Museum Nasional dan BX Sea Jakarta. Di Museum Nasional, peserta diajak menelusuri jejak peradaban Buddhadharma di Nusantara melalui peninggalan-peninggalan sejarah, sehingga muncul kesadaran bahwa Dharma memiliki akar panjang dalam kebudayaan negeri ini. Di BX Sea, peserta melakukan perenungan tentang kehidupan makhluk dan keberagaman bentuk kehidupan, yang mengingatkan pada hukum sebab-akibat (karma) serta siklus kehidupan yang terus berubah. Sepulang dari kegiatan tersebut, malam hari diisi dengan Malam Keakraban (Makrab) melalui api unggun, pentas seni, dan makan bersama, yang semakin menguatkan persaudaraan lintas vihara dan lintas daerah.

Pada hari terakhir, kegiatan ditutup dengan sesi penutupan yang memuat kesan dan pesan peserta. Banyak peserta menyampaikan bahwa tali persaudaraan antargenerasi muda Zhenfozong semakin terasa, serta berharap Jambore terus diselenggarakan sebagai ruang temu, ruang belajar, dan ruang saling menguatkan dalam keyakinan. Pada kesempatan ini juga dilakukan pengukuhan Pandita Dharmaduta Suprayitno yang bertugas di Vihara Vajra Bumi Balaputra, Lampung, oleh Ketua Sangha Zhenfozong Indonesia, Acarya Shi Lianfei, setelah dinyatakan lulus seleksi ujian pandita Zhenfozong periode 8 pada Juli 2025.

Jambore Nasional ke-3 IMZI 2025 menegaskan bahwa Dharma bukan sekadar materi kelas, melainkan kompas batin yang menuntun pemuda untuk melangkah, bersinar, dan tetap berada pada arah yang benar, dengan sadhana sebagai tenaga, persaudaraan sebagai penopang, dan kebijaksanaan sebagai tujuan.

請佛住世長壽佛心咒 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。