Bersukacita Bersama Buddha: Dharmaraja Lian Sheng dan Gurudara Mengunjungi Seattle Asian Art Museum
Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple / Biksu Shi Lian Yi (釋蓮屹)
Setelah Dharmaraja Lian Sheng baru saja sembuh dari sakit parah, Beliau langsung menjalani kesibukan Dharmabakti, setiap hari melakukan konsultasi, adhisthana, dan pada akhir pekan memimpin pujabakti, homa, serta membabarkan Dharma dan Dharmadesana, hampir tidak ada waktu luang yang benar-benar santai. Agar Buddha Guru dan Gurudara Acarya Lian Xiang dapat sedikit memulihkan kesehatan dan merelaksasikan tubuh serta batin di sela-sela Dharmabakti, Seattle Ling Shen Ching Tze Temple secara khusus mengatur perjalanan setengah hari pada tanggal 30 April 2026, dengan tulus mengundang Buddha Guru dan Gurudara untuk mengunjungi Seattle Asian Art Museum yang terletak di dalam Volunteer Park. Anggota Sangha dari Seattle Ling Shen Ching Tze Temple dan Rainbow Temple beserta anggota Sangha dan umat perumah tangga yang mendengar kabar tersebut juga ikut serta, jumlah total rombongan sekitar tujuh puluh lima orang.
Seattle Asian Art Museum terletak di Volunteer Park yang terkenal di Seattle. Taman ini dirancang oleh firma arsitektur lanskap Olmsted Brothers pada awal abad ke-20, dan merupakan bagian penting dari sistem taman Emerald Necklace di Seattle. Museum ini selesai dibangun pada tahun 1933, merupakan bangunan bergaya Art Deco, dirancang oleh arsitek Carl F. Gould, dengan eksterior batu yang tenang dan elegan yang berpadu indah dengan kehijauan taman.
Pada hari itu, rombongan siswa Sangha dan perumah tangga memasuki museum, yang memicu rasa ingin tahu dari staf museum yang bertanya dari mana semua orang berasal. Umat Sedharma yang mendampingi kemudian memanfaatkan nidana ini untuk memperkenalkan Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, Rainbow Temple, serta nidana pembabaran Dharma dari Zhenfo Zong kepada pihak museum. Sebuah kunjungan seni, dalam interaksi yang alami dan ramah ini, juga menjadi kesempatan untuk pertukaran budaya dan keyakinan.
Setelah melangkah masuk ke ruang pameran, yang pertama kali menarik perhatian Buddha Guru adalah Kamadeva dalam tradisi India, yaitu dewa nafsu keinginan. Buddha Guru menggunakan kesempatan ini untuk berbicara tentang kontradiksi dalam kehidupan dan bhavana: manusia di satu sisi memiliki nafsu keinginan, di sisi lain ingin melepaskan diri dari nafsu keinginan untuk mencari pembebasan. Jika sama sekali tidak ada nafsu keinginan, kehidupan akan kehilangan motivasi dasarnya, bahkan tidak dapat hidup normal, tetapi jika membiarkan nafsu keinginan, akan mudah tertarik olehnya dan sulit mendapatkan kebebasan. Bhavana, berada di antara dua ujung ini, tidak menyangkal kehidupan, juga tidak memanjakan nafsu keinginan, melainkan belajar untuk mengamati, menaklukkan, dan mengubah.
Di tengah kunjungan, juga muncul sebuah pemandangan yang sangat berkesan. Ada pengunjung orang Barat yang melihat Buddha Guru, meskipun belum tentu mengenali identitas Buddha Guru, namun secara alami menghentikan langkahnya, merangkapkan kedua tangan, dan memberi hormat dengan khusyuk kepada Buddha Guru, setelah itu baru melanjutkan mengamati barang pameran. Dalam momen singkat yang tidak memerlukan kata-kata itu, terpancar rasa keagungan yang memukau.
Dalam kunjungan kali ini, arca kayu saat Pangeran Shotoku berusia dua tahun dari Jepang sangat menarik perhatian. Pangeran Shotoku memiliki posisi penting dalam sejarah Buddhisme Jepang. Konon, sejak masa kanak-kanak beliau sudah mampu merangkapkan tangan untuk melafalkan nama Buddha, sehingga dianggap sebagai simbol penting penyebaran Buddhisme di Jepang. Umat Sedharma yang membantu mengatur jadwal kali ini memberitahukan kepada Buddha Guru bahwa museum tersebut sebenarnya juga mengoleksi arca Pangeran Shotoku saat berusia enam belas tahun dan lukisan Pangeran Shotoku saat usia dua puluh enam tahun, namun sayangnya saat ini tidak dipamerkan. Umat tersebut sambil tersenyum mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada pihak museum kapan benda-benda tersebut akan dipamerkan kembali, namun pada akhirnya ia menahan diri untuk tidak mengatakan kalimat Pangeran Shotoku sendiri yang ingin datang melihatnya, karena takut disalahpahami.
Setelah mendengarnya, Buddha Guru merespons dengan cerdas dan humoris: Pangeran Shotoku sudah tua, sudah menjadi Pangeran Tua Shotoku. Satu kalimat tersebut membuat semua orang tersenyum, dan juga membuat kunjungan yang khusyuk tersebut menjadi lebih santai dan hangat.
Buddha Guru dengan santai melihat-lihat pameran seni Asia dari Tiongkok, Jepang, Korea, dan India di dalam museum. Di depan sebuah layar interaktif lukisan tradisional Tiongkok, Buddha Guru secara khusus menjelaskan kepada para siswa tentang perbedaan teknik kuas, ekspresi, dan metode representasi burung dan serangga dalam lukisan Tiongkok, yang mengubah apresiasi seni yang tadinya statis menjadi sebuah pengajaran langsung yang hidup. Di depan arca Hariti, Buddha Guru juga memperkenalkan bahwa Beliau dikenal karena memiliki banyak anak, membesarkan seratus orang anak, dan para siswa tiba-tiba merasa sedikit lebih dekat dengan Dewi Dharmapala ini.
Mulai dari dewa India, Dharmapala Buddhis, hingga Pangeran Shotoku Jepang dan lukisan kaligrafi Tiongkok, Buddha Guru selalu dapat dengan leluasa menjelaskan asal-usul budaya dan prinsip-prinsip bhavana di baliknya. Dari hal ini, para siswa juga dapat merasakan bahwa Buddha Guru tidak hanya menyelami Buddhadharma, tetapi juga banyak mempelajari berbagai agama dan budaya besar di dunia, bahkan pemikiran agama seperti Jainisme India juga termasuk dalam pengetahuan Buddha Guru yang luas.
Setelah mengunjungi museum, Buddha Guru, Gurudara, dan semua orang berpindah ke Volunteer Park. Waduk di dalam taman memantulkan cahaya langit dan bayangan pohon seperti cermin yang terang, sementara menara air di salah satu sisi merupakan landmark terkenal taman tersebut, di mana orang dapat naik tinggi untuk memandang pemandangan kota Seattle, Space Needle, dan Puget Sound dari kejauhan. Namun, karena menara air memiliki cukup banyak anak tangga, semua orang mempertimbangkan keselamatan dan stamina Buddha Guru serta Gurudara, sehingga tidak naik ke menara untuk berkunjung.
Setelah itu, Buddha Guru dan semua orang berjalan perlahan di sepanjang tepi kolam, berjalan-jalan selama lebih dari sepuluh menit. Angin musim semi yang hangat, guru dan siswa berjalan bersama, suasananya damai dan membahagiakan. Di tepi kolam terlihat banyak bebek mandarin berenang berpasang-pasangan, dan ada juga anak-anak bebek yang mengikuti di samping mereka, penampilannya sangat menggemaskan. Buddha Guru melihat nidana ini, kemudian menceritakan beberapa lelucon. Salah satunya berbicara tentang sepasang suami istri yang melihat bebek mandarin berjalan bersama, sang istri dengan iri berkata: Lihat, betapa mesranya mereka. Beberapa saat kemudian, suami istri tersebut kembali untuk melihat, dan sepasang bebek mandarin itu masih bersama. Sang suami melihat dengan saksama, lalu berkata: Yang betinanya sudah bukan yang sama lagi. Buddha Guru menceritakannya dengan hidup dan humoris, dan setelah mendengarnya tawa semua orang tak henti-hentinya.
Momen singkat ini, bagi para siswa sangatlah berharga. Buddha Guru bisa berjalan-jalan menikmati pemandangan di taman, berbicara dan tertawa bersama dengan semua orang, benar-benar merupakan waktu yang hangat dan langka antara Guru dan siswa.
Setelah perjalanan selesai dengan sempurna, Buddha Guru naik ke mobil dan pergi. Banyak umat Sedharma merangkapkan tangan di luar mobil untuk mengantar dengan hormat, dan Buddha Guru juga melambaikan tangan kepada semua orang untuk waktu yang lama.
Di dalam galeri seni, barang-barang pameran tak bersuara, tetapi Buddha Guru memberikan Dharmadesana di mana-mana, mengubah yang statis menjadi dinamis. Di jalan setapak taman, suara tawa menyebar bersama angin musim semi, menemani Guru dan siswa berjalan bersama di sepanjang jalan. Demikian saja, sudah penuh dengan sukacita Dharma.