Waisak Nasional 2570 BE / 2026 “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan”

Waisak Nasional 2570 BE / 2026 “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan”

Liputan: Sekretariat Zhenfozong Kasogatan

Perayaan Waisak merupakan tradisi luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dalam kehidupan umat Buddha. Perayaan ini menjadi momentum penting untuk mengenang dan merenungkan Tiga Peristiwa Agung dalam kehidupan Buddha Sakyamuni, yaitu kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaian Penerangan Sempurna (Kebuddhaan), dan Parinirvana Buddha. Melalui perenungan tersebut, umat Buddha diajak untuk semakin memahami ajaran Buddha mengenai hakikat dukkha, sebab-sebab munculnya dukkha, kemungkinan berakhirnya dukkha, serta jalan praktik yang menuntun pada berakhirnya dukkha.

Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfozong Kasogatan Indonesia senantiasa berperan aktif dalam setiap penyelenggaraan Waisak Nasional bersama 15 majelis agama Buddha lainnya yang tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI). Partisipasi aktif Zhenfozong Kasogatan menjadi salah satu wujud kontribusi nyata dalam mendukung keberhasilan dan kemeriahan rangkaian Perayaan Waisak Nasional.

Sebelum puncak Perayaan Waisak Nasional 2570 BE/2026 dilaksanakan, umat Buddha terlebih dahulu mengikuti dua prosesi sakral, yaitu pengambilan Api Abadi Mrapen dan Air Berkah Umbul Jumprit. Kedua prosesi tersebut melambangkan nilai-nilai luhur yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Waisak di Candi Mendut dan Candi Borobudur, Jawa Tengah.

Pengambilan Api Abadi Mrapen
Prosesi pengambilan Api Abadi dilaksanakan pada Jumat, 29 Mei 2026, di kawasan Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Rangkaian acara dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan puja bakti oleh para Bhikkhu Sangha dan rohaniwan dari berbagai majelis agama Buddha yang tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI). Pandita Dharmaduta Suyamto, didampingi Pandita Waliyono, Pandita Setiawan, dan Pandita Tri Wahyu Widodo selaku rohaniwan Majelis Zhenfozong Kasogatan memimpin Puja Bakti Zhenfozong.

Setelah rangkaian ritual selesai dilaksanakan, perwakilan dari masing-masing majelis menyalakan obor Api Dharma yang bersumber dari Api Abadi Mrapen. Selanjutnya, api diberangkatkan menuju Candi Mendut pada pukul 12.20 WIB. Dalam tradisi Waisak Nasional, Api Abadi Mrapen memiliki makna simbolis sebagai cahaya kebijaksanaan yang menerangi batin serta menjadi pengingat akan pentingnya pengembangan kebijaksanaan dalam kehidupan.

Api Dharma tiba di Candi Mendut pada pukul 15.30 WIB, Ketua Sangha Zhenfozong Kasogatan, Acarya Shi Lianfei dan Sekretaris Jenderal Zhenfozong Kasogatan, Yusuf Sumartha bersama para Bhikkhu Sangha, pejabat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, pengurus WALUBI, serta para pimpinan majelis agama Buddha yang tergabung dalam WALUBI menerima Api Dharma untuk disemayamkan di Mandala Candi Mendut. Api kemudian disakralkan dengan puja bakti secara bergilir oleh Sangha dan rohaniwan dari berbagai tradisi Buddhis. Ritual api dharma ditutup dengan pradaksina dengan objek Candi mendut sebanyak 3 putaran.


Pengambilan Air Berkah Umbul Jumprit
Air merupakan sumber kehidupan dan simbol kesucian batin. Dalam rangkaian perayaan Waisak Nasional WALUBI, air menjadi salah satu sarana puja. Air yang digunakan sebagai sarana puja ini diambil dari mata air di Umbul Jumprit, Desa Tegalrejo, Temanggung, Jawa Tengah. Ritual pengambilan air dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Mei 2026.

Seperti halnya prosesi pengambilan Api Dharma, pengambilan Air Berkah diawali dengan pelaksanaan ritual oleh para rohaniwan dan umat dari majelis-majelis agama Buddha yang tergabung dalam WALUBI. Prosesi pengambilan Air Berkah di Umbul Jumprit dimulai pada pukul 10.30 WIB dan berakhir pada pukul 12.45 WIB dengan pemberangkatan Air Berkah menuju Candi Mendut untuk disakralkan di altar Wisaka Puja di Candi Mendut. Acarya Shi Lianfei mewakili sangha Zhenfozong menerima kendi air berkah dan disemayamkan di Altar Candi mendut. Air berkah disakralkan dengan lantunan Sutra, Mantra dan Dharani oleh Sangha Theravadha, Sangha Mahayana, Sangha Vajrayana, dan Sangha Tantrayana Zhenfozong. Air berkah bersama dengan Api Dharma akan diarak melalui prosesi dari Mendut ke Borobudur pada puncak perayaan Waisak. Ritual air berkah disempurnakan dengan pradaksina mengelilingi Candi Mendut.


Puncak Perayaan Waisak: 31 Mei 2026
Rangkaian utama perayaan Waisak berlangsung pada Minggu, 31 Mei 2026. Puluhan ribu umat Buddha dari berbagai daerah memadati kawasan Candi Mendut sejak pagi hari. Mengusung tema “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan”, acara diawali pada pukul 08.00 WIB dengan doa bersama yang dipimpin oleh para Bhikkhu Sangha dan rohaniwan dari berbagai majelis.

Di antara puluhan ribu umat yang hadir, 1300 umat Tantrayana Zhenfozong dari Majelis Kasogatan turut memenuhi pelataran Candi Mendut. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan menggunakan 22 unit bus besar, selain kendaraan pribadi dan transportasi umum. Kehadiran mereka mencerminkan semangat dan keyakinan yang kuat dalam menjalankan ajaran Dharma serta tekad untuk mengikuti rangkaian suci perayaan Waisak.

Acarya Shi Lianfei, didampingi oleh Dharmacarya Shi Lianhong, Dharmacarya Shi Lianzhu, para Pandita Dharmaduta, serta Pandita Lokapalasraya, memimpin sesi doa dalam tradisi Zhenfozong sebelum dimulainya prosesi kirab Waisak. Pada kesempatan tersebut, Acarya Shi Lianzhao dari Australia turut hadir dan bergabung bersama tiga orang Bhiksu serta para Pandita Lokapalasraya dari Madha Tantri dalam doa bersama yang berlangsung dengan khidmat.

Usai pelaksanaan doa, Acarya Shi Lianfei dan Acarya Shi Lianzhao bersama para Sangha, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, serta Ketua Umum WALUBI melaksanakan prosesi penyalaan Pelita Perdamaian. Lantunan lagu Pelita Dharma yang dibawakan oleh Acarya Shi Lianfei mengiringi prosesi tersebut, menciptakan suasana yang khusyuk dan penuh makna. Penyalaan Pelita Perdamaian menjadi simbol harapan dan doa bersama bagi terwujudnya perdamaian, kerukunan, dan kesejahteraan dunia.

Prosesi Kirab Waisak dimulai pada pukul 10.00 WIB dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Barisan terdepan diisi oleh Marching Band WALUBI yang mengiringi jalannya kirab dengan penuh semangat dan khidmat. Di belakangnya, barisan pembawa Bendera Merah Putih, Bendera Buddhis, dan Bendera WALUBI berjalan beriringan, masing-masing dibawa oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Ketua Umum WALUBI, dan Ketua Panitia Waisak Nasional 2570 BE/2026.

Rangkaian kirab kemudian dilanjutkan dengan kendaraan pembawa Api Dharma, Air Berkah Waisak, serta tandu Kitab Suci Tripitaka. Berbagai simbol budaya dan kebangsaan turut memeriahkan prosesi, antara lain Garuda Pancasila, rengkong, hasil bumi, serta beragam lambang kebhinekaan yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia dan semangat persatuan dalam keberagaman.

Para Bhikkhu senior turut mengikuti kirab dengan menaiki kendaraan yang membawa Relik Buddha. Sepanjang perjalanan menuju Candi Borobudur, para Bhikkhu memercikkan air suci kepada umat yang memadati jalur kirab sepanjang kurang lebih tiga kilometer sebagai simbol pemberkahan, kedamaian, dan harapan akan kebahagiaan bagi semua makhluk.

Rangkaian di Candi Borobudur
Setibanya di kawasan Candi Borobudur, para peserta kirab memasuki Zona 1 (Lapangan Kenari) dan Zona 2 yang menjadi area tenda majelis-majelis agama Buddha. Di Zona 1, berbagai sarana puja, bendera, dan pataka ditempatkan di Altar Utama sebagai pusat pelaksanaan rangkaian Perayaan Waisak Nasional. Sementara itu, tenda Majelis Zhenfozong Kasogatan di Zona 2 telah dipadati oleh umat dengan penuh sukacita dan semangat kebersamaan.

Rangkaian kegiatan di tenda majelis diawali dengan acara ramah tamah yang berlangsung hangat dan penuh keakraban. Suasana semakin semarak dengan penampilan paduan suara dari Vihara Vajra Bumi Satya Dharma Vidya Lamuk (定智同修會) dan Vihara Vajra Bumi Honocoroko Bedono (諦幢同修會) yang membawakan lagu-lagu bernuansa Dharma berbahasa Jawa. Lantunan syair yang indah dan sarat makna menghadirkan suasana yang teduh, menyentuh hati, sekaligus mempererat rasa persaudaraan di antara para hadirin.

Di tengah berlangsungnya acara, Acarya Shi Lianzhao dari Australia bersama rombongan Dharmaduta dan pengurus Madha Tantri berkenan mengunjungi tenda Majelis Zhenfozong Kasogatan. Kehadiran rombongan disambut dengan penuh sukacita oleh Acarya Shi Lianfei, para Dharmaduta, jajaran pengurus Majelis Zhenfozong Kasogatan. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh persaudaraan. Pada kesempatan itu, Acarya Shi Lianfei dan Acarya Shi Lianzhao mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama membuat video ucapan selamat ulang tahun kepada Mahaguru.

Setelah sesi foto bersama, Acarya Shi Lianfei beserta para Dharmaduta Majelis Zhenfozong Kasogatan menghantar rombongan Madha Tantri kembali ke tenda majelis mereka sekaligus melakukan kunjungan balasan. Di tenda Madha Tantri, Acarya Shi Lianzhao dan Acarya Shi Lianfei kembali mengajak para pengurus dan umat yang hadir untuk menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Mahaguru melalui sebuah rekaman video bersama. Suasana penuh kegembiraan, keakraban, dan semangat kebersamaan begitu terasa dalam setiap rangkaian kegiatan tersebut.

Kunjungan timbal balik antara Majelis Zhenfozong Kasogatan dan Madha Tantri ini menjadi cerminan nyata dari keharmonisan, persaudaraan, dan sinergi yang telah terjalin dengan baik di antara dua wadah pembabaran Dharma Zhenfozong di Indonesia. Lebih dari sekadar pertemuan antarorganisasi, momen ini menunjukkan semangat persatuan dalam Dharma, saling menghormati, serta tekad bersama untuk terus melestarikan dan mengembangkan ajaran Buddha demi membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Suasana sukacita dan kebersamaan masih terasa hangat di Tenda Majelis Zhenfozong Kasogatan. Keceriaan umat semakin bertambah dalam sesi interaktif yang diselenggarakan panitia. Pada kesempatan tersebut, Venky Suvendri (Kiki) Shixiong mewakili para donatur menyerahkan hadiah berupa voucher belanja kepada peserta yang berpartisipasi dalam sesi tanya jawab. Selain itu, Venny Zhujiao juga mempersembahkan sejumlah japamala sebagai hadiah bagi umat dalam sesi interaktif tersebut. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga menjadi ungkapan kepedulian dan semangat berbagi yang tumbuh dalam kebersamaan keluarga besar Zhenfozong.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Majelis Zhenfozong Kasogatan, Winarni Harsono mengajak seluruh umat untuk tidak hanya mempelajari Dharma sebagai pengetahuan, tetapi juga menghayati dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menekankan bahwa nilai-nilai kebijaksanaan, welas asih, dan kesadaran diri yang diajarkan Buddha hendaknya diwujudkan dalam setiap tindakan, ucapan, dan pikiran. Pada kesempatan yang sama, beliau juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh donatur, relawan, serta umat yang telah memberikan dukungan sehingga rangkaian kegiatan Waisak tahun ini dapat terlaksana dengan baik dan penuh makna.

Memasuki sesi Dharmadesana, Acarya Shi Lianfei memberikan pembabaran Dharma yang menginspirasi dan sarat makna spiritual. Beliau mengajak umat untuk secara tekun merapal Sutra Ksitigarbha sebagai salah satu praktik kebajikan yang memiliki manfaat besar bagi perkembangan batin. Acarya menjelaskan bahwa pelafalan dan perenungan Sutra Ksitigarbha dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kebajikan, memperkuat ikatan kasih sayang dalam keluarga, serta membantu menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara orang tua dan anak. Secara khusus, beliau menyampaikan bahwa praktik ini sangat baik dilakukan oleh para ibu hamil sebagai bentuk penanaman energi positif dan kebajikan sejak dini bagi calon buah hati.

Puncak acara di tenda Majelis Zhenfozong Kasogatan adalah puja bakti bersama Yidam Buddha Sakyamuni. Dalam suasana yang khusyuk dan penuh penghormatan kepada Buddha, umat melantunkan mantra dan dharani serta mengembangkan tekad untuk menapaki jalan Dharma. Acara ditutup dengan ritual Pemandian Rupang Buddha (浴佛), sebuah tradisi yang melambangkan upaya membersihkan batin dari kekotoran, dan mengembangkan kebijaksanaan.

Dharmasanti Waisak
Rangkaian Perayaan Waisak Nasional 2570 BE/2026 dilanjutkan dengan Dharmasanti Waisak yang diselenggarakan di kawasan Candi Borobudur. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 1.500 perwakilan umat Buddha dari berbagai majelis yang tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), serta dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara dan pemerintah daerah.
Hadir dalam acara tersebut Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming; Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia, Djamari Chaniago; Menteri Agama Republik Indonesia, Nazaruddin Umar; Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon; Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana; Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya; Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar; Panglima TNI; Kapolri; serta jajaran pemerintah daerah dari Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Republik Indonesia, Nazaruddin Umar, mengajak umat Buddha untuk merenungkan makna mendalam yang terkandung dalam relief-relief Candi Borobudur. Menurut beliau, para leluhur telah mewariskan ajaran spiritual yang terpahat dalam bentuk visual pada dinding-dinding candi. Relief tersebut menggambarkan perjalanan batin manusia dari alam yang masih dipenuhi nafsu keinginan menuju tingkat kesadaran yang lebih tinggi hingga mencapai pembebasan. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap insan hendaknya terus mengembangkan kualitas batin dan kebijaksanaan agar mampu melampaui keterikatan duniawi menuju kesempurnaan spiritual.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai luhur Buddhis, yaitu Maitri (cinta kasih), Karuna (welas asih), dan Prajna (kebijaksanaan), dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, ketiga nilai tersebut sangat relevan dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan modern serta menjadi landasan penting dalam membangun bangsa yang harmonis, damai, dan sejahtera.

Melalui tayangan video khusus yang diperdengarkan kepada seluruh umat Buddha Indonesia, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Waisak kepada seluruh umat Buddha. Presiden mengajak umat Buddha untuk menjadikan berkah Waisak sebagai cahaya yang menerangi batin, memperkuat semangat persatuan, serta mendorong terwujudnya Indonesia yang maju, damai, dan sejahtera.

Sebagai penutup rangkaian Perayaan Waisak Nasional 2570 BE/2026, ribuan lampion diterbangkan ke angkasa malam Borobudur. Pelepasan lampion tersebut menjadi simbol cahaya kebijaksanaan yang menerangi semesta, harapan akan perdamaian dunia, serta tekad seluruh umat untuk senantiasa menumbuhkan cinta kasih, kebijaksanaan, dan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Cahaya lampion yang menghiasi langit malam Borobudur menjadi penanda berakhirnya rangkaian Waisak Nasional, sekaligus mengingatkan umat untuk terus membawa terang Dharma bagi diri sendiri, masyarakat, dan seluruh makhluk.

持誦長壽佛心咒「嗡。阿媽惹尼。祖溫底耶。梭哈。」 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。