Prosesi Pelarungan Ratnakalasa Raja Naga dan Ceramah Dharma di Pulau Cipir: Hari Yang Dipenuhi Berka

Prosesi Pelarungan Ratnakalasa Raja Naga dan Ceramah Dharma di Pulau Cipir: Hari Yang Dipenuhi Berkah dan Rasa Syukur
Tim Liputan Vihara Dharma Hastabrata: Lianhua Angeline

Jakarta, 21 Juni 2026 — Di pagi hari minggu yang cerah pada umat Yuan Xin Tang (圓信堂) yang mengikuti prosesi Pelarungan Ratnakalasa Raja Naga ke Pulau Cipir sudah mulai berkumpul di Vihara Dharma Hastabrata. Sebelum berangkat, para umat bersama pengurus dan muda-mudi YXT Sunday Service terlihat bersemangat dalam bahu-membahu untuk membawa perlengkapan yang diperlukan ke dalam kendaraan sebelum berangkat menuju ke Pelabuhan Muara Angke, Pluit.

Pada saat para umat telah tiba di dermaga, panitia ikut mengarahkan setiap umat dan membantu mereka untuk masuk ke dalam kapal melalui sebuah jalur. Sebelum kapal berlayar, para umat sudah diarahkan ke dalam ruang istirahat untuk beristirahat sejenak serta dibagikan makanan ringan dan roti oleh para panitia.
Ayushmat Acarya Shi Lianman (长老释莲满上师), Ayushmat Acarya Shi Lianchuan (长老释莲传上师), dan Biksu Lian-Yi (釋蓮易法師) pun telah tiba dikapal yang akan berlayar ini. Adapun pandita yang hadir yakni Pandita Lokapalasraya Resinah (蓮花鳳璇助教), Pandita Lokapalasraya Cun-Cun (蓮花俊雄助教), serta Pandita Lokapalasraya Venny (蓮花佩芬助教).

Saat kapal berlayar, para umat diarahkan oleh panitia untuk berkumpul di atas dek kapal untuk segera melangsungkan sadhana singkat sebelum ratnakalasanya dilarung yang di pimpin oleh Ayushmat Acarya Shi Lianchuan (长老释莲传上师).
Suasana pagi menjelang siang hari yang cerah dan angin kencang yang bertiup dari lautan memberikan sensasi yang segar dan suasana baru, namun tidak menyurutkan semangat para umat sedikit pun dalam memanjatkan Mantra Hati Padmakumara Putih dengan lantang dan penuh konsentrasi.

Kemudian, tibalah saatnya untuk melangsungkan prosesi melarungkan persembahan Botol Ratnakalasa (龍王寶瓶) ke laut lepas. Pelarungan Ratnakalasa (bejana permata) dalam tradisi Buddhis bertujuan utama sebagai sarana pelimpahan jasa dan persembahan kepada para makhluk suci atau penjaga alam, seperti Raja Naga (Nagaraja). Ritual ini merupakan wujud nyata dalam mempraktikkan cinta kasih dan welas asih kepada seluruh makhluk hidup.

Kemudian, Ayushmat memberikan arahan agar setiap umat yang melakukan pelarungan untuk mengucapkan satu doa atau keinginan (baik keluarga, kekayaan, jodoh, pekerjaan, dan lain sebagainya) di dalam hati.
Pelarungan botol ratnakalasa dilakukan para umat masing-masing dari berdoa, melarungkan botol ke dalam laut, lalu menuangkan susu dan madu ke dalam lautan. Muda-mudi pun ikut membantu dalam melarungkan botol-botol milik para umat yang tidak bisa hadir dengan berdoa di dalam hati, "Semoga doa mereka dapat tercapai dengan sempurna." lalu melarungkan botol itu ke laut.

Setelah prosesi pelarungan selesai dilaksanakan, Ayushmat Acarya Shi Lianchuan (长老释莲传上师) selaku pemimpin prosesi pun memulai sesi Dharma Sharing dengan melanjutkan sesi Q & A yang belum sempat terjawab pada saat Dharma Talk Show maupun Puja Homa beberapa hari sebelumnya.
Sesi Dharma Sharing ini dibantu penerjemahan oleh Pandita Lokapalasraya Venny (蓮花佩芬助教). Beberapa pertanyaan yang menjadi pembahasan dalam Dharma Desana kali ini yakni,
(1) "Bagaimana cara menerapkan ajaran Zhen Fo Zong dalam kehidupan sehari-hari agar tetap tenang dan bijaksana saat menghadapi masalah?" dan
(2) "Apakah boleh beribadah/baca paritta di kamar?"
Untuk menjawab pertanyaan kedua, Ayushmat memulai dengan menanyakan sebuah pertanyaan kepada seluruh umat yang berada di dalam kapal, "Saudara-saudari se-Dharma sekalian, sekarang kita berada di dalam kapal. Bukankah ini juga tempat yang berbeda?"
Acarya Shi Lianchuan (长老释莲传上师) lalu melanjutkan dengan mengajari para umat yang hadir mengenai kondisi konsentrasi pikiran dan ruangan yang ditempati dalam ber-Sadhana. Selain itu, beliau juga memberikan sebuah studi kasus mengenai seorang mahasiswa yang tinggal di dalam asrama yang ingin menaruh sebuah Rupang Buddha di dalam kamarnya, tetapi khawatir akan merasa malu jika mengganti baju di dalam ruangan yang sama. "Tentu boleh. Di manapun itu, tidak hanya di kamar, asalkan bisa selalu mengondisikan ruangan itu rapi dan pantas untuk melakukan Sadhana. Lakukanlah visualisasi dengan pikiran yang penuh konsentrasi."

Usai Dharma Desana berakhir, para umat pun dipersilakan untuk kembali ke ruang istirahat untuk didistribusikan makan siang. Pada masa istirahat ini, umat juga diizinkan untuk menikmati panorama lautan lepas yang indah sembari menyantap hidangan yang lezat. Setelah selesai makan siang, panitia kembali mengarahkan umat untuk untuk sesi foto bersama. Pada sekitar pukul 12.00 WIB, sampai kembali di Pelabuhan Muara Angke, para umat pun berpamitan dengan Ayushmat Acarya Shi Lianman (长老释莲满上师), Ayushmat Acarya Shi Lianchuan (长老释莲传上师), serta para Biksu dan Pandita. Pelarungan Ratnakalasa Raja Naga dan Ceramah Dharma di Pulau Cipir pun selesai dengan Sarva Manggala.
Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia. Om Mani Padme Hum. ????

持誦長壽佛心咒「嗡。阿媽惹尼。祖溫底耶。梭哈。」 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。