Suasana Penuh Keceriaan Warnai Upacara Api Homa Pingalakumara di Vihara Dharma Hastabrata
Tim Liputan Vihara Dharma Hastabrata: Pandita Lokapalasraya Irwan Johan
Jakarta, 20 Juni 2026, pukul 14.00 WIB — Suasana penuh sukacita dan khidmat mewarnai pelaksanaan Upacara Api Homa Pingalakumara (滿願童子) yang diselenggarakan di Vihara Dharma Hastabrata (圆信堂). Upacara dipimpin oleh Ayushmat Acarya Lianman (長老釋蓮滿上師 - Amerika Serikat), didampingi Ayushmat Acarya Lianchuan (長老釋蓮傳上師 - Amerika Serikat), bersama Pandita Lokapalasraya Resinah (蓮花鳳璇助教), Pandita Lokapalasraya Cun Cun (蓮花俊雄助教), Pandita Lokapalasraya Irwan (蓮花餘宛助教), dan Pandita Lokapalasraya Venny (蓮花佩芬助教).
Sejak memasuki dharmasala, para umat disambut suasana yang semarak namun tetap sakral. Ruangan dihiasi mandala Pingalakumara beserta berbagai persembahan dan ornamen pernak-pernik yang tertata indah, menghadirkan nuansa penuh keceriaan dan penghormatan kepada Kumara Pengabul Harapan.
Upacara Api Homa Pingalakumara ini merupakan penyelenggaraan perdana di Vihara Dharma Hastabrata. Antusiasme umat terlihat dari ratusan peserta yang hadir membawa berbagai persembahan sebagai ungkapan rasa syukur. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan tertib, khidmat, dan manggala hingga selesai.
Dalam dharmadesananya, Ayushmat Acarya Lianman mengajak umat untuk memahami asal-usul serta makna mendalam dari sadhana Pingalakumara. Beliau mengisahkan riwayat Pingalakumara sebagai putra bungsu Bunda Hariti, yang dahulu dikenal gemar memangsa anak-anak. Melalui welas asih Buddha Sakyamuni, Bunda Hariti disadarkan setelah kehilangan putra kesayangannya yang disembunyikan sementara oleh Sang Buddha. Peristiwa tersebut menjadi titik balik pertobatan Bunda Hariti, yang kemudian berikrar melindungi anak-anak dan membantu para siswa Buddha.
Dari kisah tersebut lahirlah tekad luhur Pingalakumara atau Man Yuan Tong Zi (滿願童子), yang berikrar mengabulkan harapan para makhluk. Ayushmat Acarya Lianman menegaskan bahwa inti dari sadhana ini adalah pengembangan Mahabodhicitta, yakni membangkitkan tekad agung demi kebahagiaan seluruh makhluk.
Pada kesempatan yang sama, Ayushmat Acarya Lianman juga melanjutkan sesi tanya jawab dari Dharma Talk bertajuk “Why Zhen Fo Zong?” yang telah diselenggarakan pada 16 Juni 2026. Berbagai pertanyaan yang diajukan umat dijawab secara mendalam, meliputi perbedaan pahala antara menjadi donatur dan sukarelawan, makna Tri-Śūnyatā (三轮体空) dalam praktik dana, hakikat Abhiseka dalam Tantrayana, cara menyikapi kegagalan menurut Buddha Dharma, hingga pemahaman mengenai penggunaan persembahan daging dalam tradisi Tantrayana.
Beliau menjelaskan bahwa besar kecilnya pahala tidak ditentukan oleh bentuk persembahan, melainkan oleh kemurnian niat dan pengembangan Bodhicitta. Donatur maupun relawan sama-sama memperoleh pahala apabila melaksanakan kebajikan dengan hati yang tulus, tanpa mengharapkan pujian ataupun balasan.
Mengenai Abhiseka, beliau menjelaskan bahwa ritual tersebut merupakan pemberian silsilah, pemberkahan, sekaligus izin untuk menekuni suatu sadhana. Melalui Abhiseka, seorang sadhaka memperoleh kekuatan silsilah yang menjadi landasan penting dalam praktik Tantrayana.
Dalam menjawab pertanyaan mengenai kegagalan hidup, Ayushmat Acarya Lianman mengingatkan umat agar selalu melakukan introspeksi diri, menerima hukum sebab-akibat (karma), serta mengembangkan hati pertobatan dan welas asih. Dengan memahami sifat ketidakkekalan (anicca), seseorang dapat melepaskan kebencian dan menghadapi setiap persoalan dengan kebijaksanaan.
Sementara itu, mengenai penggunaan persembahan daging dalam Tantrayana, beliau menegaskan bahwa Buddha Dharma pada dasarnya tidak mendorong pembunuhan makhluk hidup. Tradisi tersebut berlandaskan konsep “daging tiga bersih” (triśuddha māṃsa), sebagaimana telah dikenal sejak masa Buddha. Yang terpenting adalah menyantap makanan dengan penuh rasa syukur, welas asih, serta mendedikasikan jasa kebajikan agar makhluk tersebut memperoleh kelahiran yang lebih baik.
Pada hari yang berbahagia tersebut, Ayushmat Acarya Lianman dan Ayushmat Acarya Lianchuan juga menyerahkan dana paramita sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan kepemudaan YXT Sunday Service, yang diterima oleh Ketua Pengurus YXT Sunday Service, Valerie Shi Jie. Bantuan ini diharapkan semakin mendorong berkembangnya kegiatan pembinaan generasi muda dalam Dharma Satya Budhha.
Di penghujung acara, sejumlah umat tergerak hatinya untuk bersarana kepada Maha Mulacarya Lian Sheng sebagai langkah awal menapaki jalan spiritual dalam silsilah Zhen Fo Zong / Satya Buddha.
Seluruh rangkaian Upacara Api Homa Pingalakumara berlangsung dengan lancar, penuh sukacita, dan membawa suasana kebersamaan yang hangat. Kegiatan ini diharapkan semakin memperdalam pemahaman umat terhadap Buddha Dharma, menumbuhkan kebijaksanaan, serta memperkuat tekad dalam mengembangkan Bodhicitta demi membawa manfaat bagi diri sendiri maupun seluruh makhluk.
Semoga segala harapan yang bajik dapat terkabul, kebajikan senantiasa bertumbuh, dan semua makhluk memperoleh kebahagiaan.
Svaha.