Upacara Memohon Berkah Rejeki dan Kemakmuran Apihoma Drashi Lhamo Vihara Vajra Bumi Oka Diputhera (德戒雷藏寺), Jembrana – Bali
(Ditulis oleh: Pdt. Kasdi)
Om Awignam Astu Namo Buddhaya,
Jembrana, Bali – 19 Juli 2026 — Memohon Berkah Rejeki dan Kemakmuran Vihara Vajra Bumi Oka Diputhera (德戒雷藏寺) menggelar Upacara Apihoma Perberkahan, Tolak Bala, dan Penyeberangan yang dipimpin oleh Upacarika Acarya Shi Lian Pu, yang merupakan acarya tetap Vihara Vajra Bumi Sriwijaya Palembang. Adinata pada upacara ini adalah Drashi Lhamo, yang dilaksanakan dengan khidmat dan penuh makna spiritual.
Upacara berjalan Manggala berkat pancaran adhistana dari Mula Guru Zhenfo Dharmaraja Lian Sheng dan para Buddha-Bodhisattva. Jalannya upacara dipandu oleh Pandita Dharmaduta Kasdi Jiangshi, diiringi lantunan pengiring ritual oleh Muda-Mudi Vihara Vajra Bumi Oka Diputhera. Seluruh petugas penjemput Upacarika mengenakan busana adat Bali yang berpadu dengan kearifan lokal Pulau Dewata.
Pada Upacara ini berkenan hadir Ketua WALUBI Provinsi Bali, Ibu Pande Made Utari, S.TK; Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dan partisipasi dari beberapa vihara Zhenfo Zong di Bali, antara lain: Vihara Paramita (定善雷藏寺), Denpasar; Vihara Vajra Sasana Dharma (寶慧雷藏寺), Denpasar; Vihara Vajra Bodhi Dharma, Jembrana. Selain umat Buddha, acara turut dihadiri oleh pemangku dan umat Hindu penganut ajaran Siwa-Buddha, yang bersama-sama mengikuti prosesi dengan penuh konsentrasi.
Usai pelaksanaan Apihoma, Acarya Shi Lian Pu menyampaikan Pembabaran Dharma diawali dengan ungkapan syukur kepada Maha Guru, para Guru Silsilah, para Buddha, Bodhisattva, Mahasiddha, Dharmapala, serta Adinata Drasi Lhamo atas berkah sehingga Upacara Puja Homa dapat berlangsung dengan baik. Acarya juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pengurus Vihara Vajra Bumi Oka Diputhera, panitia, tim transportasi, seluruh relawan, serta umat yang telah hadir dari berbagai daerah untuk mengikuti upacara tersebut.
Acarya menjelaskan bahwa pelaksanaan Puja Homa Drasi Lhamo bukanlah suatu kebetulan, melainkan merupakan hasil dari karma baik seluruh peserta. Meskipun undangan telah disampaikan beberapa bulan sebelumnya dan sempat beberapa kali mengalami penundaan, akhirnya upacara dapat terlaksana sesuai dengan waktu yang tepat. Hal ini menunjukkan pentingnya menepati janji serta keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi karena sebab dan kondisi yang telah matang.
Selanjutnya dijelaskan bahwa Drasi Lhamo merupakan Dewi Rezeki dalam tradisi Tantra Tibet yang sangat dihormati. Praktik Sadhana Drasi Lhamo tergolong sebagai ajaran rahasia yang diwariskan oleh Maha Guru. Kesempatan untuk mengikuti puja dan menerima pemberkatan Drasi Lhamo dipandang sebagai karma baik yang sangat langka dan bernilai.
Acarya juga mengingatkan pentingnya menjaga konsentrasi ketika mendengarkan Dharma. Gangguan yang muncul selama mendengarkan Dharma dijelaskan sebagai bentuk godaan Mara yang dapat mengurangi perhatian dan keyakinan seseorang. Dengan sedikit humor, Acarya mengaitkan salah satu gangguan masa kini dengan penggunaan telepon genggam yang sering mengalihkan perhatian dari praktik Dharma.
Asal mula Sadhana Drasi Lhamo kemudian dijelaskan. Awalnya seorang umat mempersembahkan rupang (patung) Drasi Lhamo kepada Maha Guru. Ketika Maha Guru memperhatikan rupang tersebut dengan penuh perhatian, beliau mengalami pengalaman spiritual melihat rupang itu berkedip. Dari peristiwa tersebut Maha Guru menyadari bahwa Drasi Lhamo benar-benar hadir dan memiliki hubungan karma dengan beliau sejak kehidupan lampau. Dalam kehidupan sebelumnya Maha Guru pernah membantu Drasi Lhamo dalam perjalanan spiritualnya sehingga pada kehidupan sekarang Drasi Lhamo bertekad membantu Maha Guru beserta seluruh muridnya.
Karena hubungan karma tersebut, Drasi Lhamo berjanji untuk memberikan berkah kepada para praktisi, khususnya dalam membantu mengatasi kesulitan ekonomi, memperlancar pekerjaan, membuka kesempatan rezeki, serta mendukung kesejahteraan hidup mereka. Atas dasar itulah Maha Guru kemudian mulai mengajarkan Sadhana Drasi Lhamo kepada para murid Zhenfo Zong.
Acarya menegaskan bahwa tujuan praktik Drasi Lhamo bukanlah memperoleh kekayaan secara instan atau melalui cara-cara yang bertentangan dengan hukum dan moral. Makna "menjadi makmur" adalah memperoleh kelancaran dalam usaha, pekerjaan, dan kehidupan sehingga rezeki dapat diperoleh melalui usaha yang benar serta didukung oleh berkah, karma baik, dan ketekunan. Praktik ini juga tidak mengajarkan untuk mencari kekayaan melalui perjudian atau jalan pintas, melainkan mendorong umat agar tetap bekerja keras, menjalankan Dharma, serta mengembangkan kebajikan.
Secara keseluruhan, Pembabaran Dharma ini menekankan bahwa keberhasilan, kemakmuran, dan kebahagiaan merupakan hasil perpaduan antara karma baik, usaha yang sungguh-sungguh, ketulusan dalam menjalankan Dharma, serta berkah dari para Buddha, Bodhisattva, Maha Guru, dan Adinata Drasi Lhamo.
Om Mani Padme Hum.