Upacara Puja Api Homa Jambhala Kuning Digelar di Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya
Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya menyelenggarakan Upacara Puja Api Homa Jambhala Kuning dalam rangka memperingati Hari Suci Jambhala Kuning. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 17 September 2026, pukul 19.00 WIB. Upacara dipimpin oleh Acarya Shi Lian Yuan, didampingi para Pandita Lokapalasraya.
Jambhala Kuning merupakan salah satu dari delapan Istadevata utama dalam Zhenfo Zong, sekaligus satu-satunya Jambhala yang masuk dalam jajaran tersebut. Dalam tradisi Tantra Tibet, Jambhala Kuning merupakan salah satu dari Panca Jambhala, yang terdiri dari Jambhala Kuning, Jambhala Merah, Jambhala Putih, Jambhala Hijau, dan Jambhala Hitam. Selama upacara berlangsung, lantunan mantra terdengar mengiringi jalannya prosesi Api Homa. Umat mengikuti setiap tahapan upacara hingga rangkaian persembahan selesai dilaksanakan.
Dharmadesana Acarya Lian Yuan
Dalam dharmadesananya, Acarya Lian Yuan menjelaskan bahwa Jambhala Kuning dikenal sebagai Dewa Rezeki. Menurutnya, rezeki memang berkaitan erat dengan kehidupan manusia, tetapi uang bukanlah segala-galanya. Uang tidak dapat membeli nyawa, umur, maupun kesehatan.
Acarya Lian Yuan juga menjelaskan bahwa Jambhala Kuning memberikan kesehatan terlebih dahulu sebelum rezeki. Karena itu, praktik Jambhala tidak semata-mata dipahami sebagai upaya untuk mendapatkan uang, tetapi juga sebagai bagian dari latihan diri. Acarya Lian Yuan kemudian membagikan pengalaman pribadinya ketika masih mengalami kesulitan dalam kehidupan. Ia mengaku pada masa itu tertarik pada Jambhala Kuning karena berharap dapat memperbaiki keadaan ekonominya. Ia juga menceritakan bagaimana dirinya dahulu rajin melakukan sadhana dan memohon kepada Jambhala Kuning agar kehidupannya dapat berubah.
Menurut pengalaman yang dibagikannya, perubahan hidup tidak datang secara instan. Ia pernah mendapat jawaban bahwa perubahan tersebut membutuhkan waktu hingga lima tahun.
Namun, setelah menjalani proses tersebut rajin bersadhana Jambhala Kuning, ia kemudian merasakan adanya perubahan dalam kehidupannya dalam waktu 3 tahun.
Acarya Lian Yuan menekankan bahwa memperoleh rezeki tidak berarti harus menunggu keberuntungan atau berharap mendapatkan lotre. Menurutnya, seseorang tetap perlu melihat kesempatan yang ada dan berusaha melalui pekerjaan yang dijalani.
Ia memberikan contoh bahwa seseorang yang tidak memiliki modal pun tetap dapat memperoleh penghasilan melalui pekerjaan seperti salesman. Yang penting adalah bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan melihat peluang yang tersedia.
Dalam dharmadesana tersebut, Acarya juga mengingatkan agar umat tidak hanya memikirkan diri sendiri setelah memperoleh keberhasilan. Menurutnya, ketika seseorang telah mendapatkan kecukupan, jangan menjadi pelit. Keberhasilan juga perlu disertai dengan sikap mau berbagi dan membantu orang lain.
Acarya kemudian mengajak umat untuk memahami bahwa praktik Jambhala bukan berarti hanya mengharapkan kekayaan datang dengan sendirinya. Latihan Dharma tetap perlu berjalan beriringan dengan usaha dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui dharmadesana tersebut, umat diajak untuk melihat makna rezeki secara lebih luas. Bukan hanya tentang mendapatkan uang, tetapi juga mengenai kesehatan, peluang, usaha,serta bagaimana kecukupan yang diperoleh dapat digunakan dengan baik.