Rangkaian Acara Cheng Beng (Qing Ming) di Vihara Dharma Hastabrata berlangsung Manggala.
(Tim Liputan Vihara Dharma Hastabrata)
Jakarta, 18–19 April 2026 — Vihara Dharma Hastabrata (Yuan Xin Tang 圓信堂) menyelenggarakan rangkaian peringatan Cheng Beng (Qing Ming) selama dua hari dengan tema “Bakti Leluhur, Menyucikan Diri, menumbuhkan Kebijaksanaan & Berkah.” Kegiatan berlangsung setiap pukul 14.00 WIB dan diikuti oleh para Biksu (Biksu Lian-Ding 釋蓮鼎法師, Biksu Lian-Yi釋蓮易法師, Biksu Lian-Yong釋蓮泳法師, Biksu Lian-Shou釋蓮手法師), Pandita yang hadir adalah Pandita Lokapalasraya Resinah (蓮花鳳璇助教), Pandita Lokapalasraya Irwan Johan (蓮花餘宛助教), Pandita Lokapalasraya Cun-Cun (蓮花俊雄助教) , Pandita Lokapalasraya Venny (蓮花佩芬助教), para umat sedharma, serta para Donatur budiman dalam suasana penuh kekhusyukan.
Pada hari pertama, Sabtu (18/4), dilaksanakan Upacara Homapuja Bodhisatwa Ksitigarbha yang dipimpin oleh Acharya Shi Lian Zhao - 釋蓮照上師 (Australia) berjalan dengan sempurna. Dalam dharmadesananya, Beliau mengisahkan riwayat Bodhisatwa Ksitigarbha secara singkat. Acarya menjelaskan bahwa Mahaguru Lian Sheng pernah mengatakan bahwa Bodhisatwa Ksitigarbha memiliki 3 buah kitab yang sangat terkenal (“Di Zang Pu Sa Ben Yuan Gong Te Jing, Di Zang Shi Lun Jing dan Dan Ca San E Ye Bao Jing”), ketiga kitab ini adalah menceritakan tentang tekad agung Bodhisatwa Ksitigarbha yang sangat agung dan sungguh luar biasa sehingga memiliki kekuatan yang sangat besar. Selain itu Acarya juga pernah membaca 2 kitab lainnya, ternyata Bodhisatwa Ksitigarbha juga memiliki sadhana Tantranya yang disebut “Mu Xiang Lun”. Dari sebatang kayu yang diukir menjadi sebuah bentuk persegi dengan 2 sisi yang bisa berputar. Ini digunakan untuk memberitahu kita pada saat kita memohon apakah untuk hal yang baik atau menghilangkan hal yang buruk. Bodhisatwa Ksitigarbha telah 11 kalpa lamanya menuntun dan menyeberangkan bermacam-macam insan dengan berbagai macam karmawarana, sehingga pahala keagungan dari Bodhisatwa Ksitigarbha ini hanya para Buddha yang dapat melampauinnya. Buddha Sakyamuni juga memuji Bodhisatwa Ksitigarbha karena Beliau mengajarkan berbagai cara agar kita dapat memperbaiki diri , tidak melakukan kejahatan dan terbebas dari penderitaan.
Dengan kemampuan Beliau dapat dengan cepat melenyapkan karmawarana insan dan mengubah semua kesalahan berat para Insan. Khalayak umum mengatakan bahwa kita tidak boleh melafalkan nama agung, mantra hati dan memuja Bodhisatwa Ksitigarbha, ini adalah pandangan yang keliru. Di dalam kitab suci “Di Zang Wang Pu Sa Ben Yuan Gong Te Jing”, dikatakan Beliau adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Beliau menggunakan kehidupannya memberikan contoh bakti untuk para insan. Cahaya dari mutiara yang ditopang oleh Bodhisatwa Ksitigarbha dapat melenyapkan berbagai macam karmawarana para insan, menerangi langit, bumi dan neraka, dapat menolong dan menuntun para insan meninggalkan neraka yang gelap.
Dengan kekuatan tekad agung dan maitri karuna Beliau menuntun semua insan. (“Selama neraka belum kosong, Aku bersumpah tidak akan jadi Buddha. Selama semua makhluk belum terselamatkan, Aku tidak akan mencapai pencerahan”). Di dalam kehidupan sehari-hari, membantu atau menuntun orang lain menuju kebaikan adalah kebajikan yang paling baik. Sesungguhnya semua hal baik yang kita lakukan adalah merupakan Kebajikan. Di dalam sila Buddhis terdapat Pancasila Buddhis & 10 kebajikan (Dasa Kusala). Bila kita dapat menaati Pancasila Buddhis dan 10 kebajikan ini dengan tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, tidak memfitnah, tidak berkata kasar, tidak bicara sia-sia, tidak serakah, tidak membenci, tidak melakukan praktek menyimpang / pandangan salah serta tidak pernah melanggarnya maka kelak kita akan terlahir di surga. Ini adalah ajaran para Buddha.
Acarya pernah membaca buka Mahaguru, seperti kita ketahui bahwa Mahaguru Lian Sheng memiliki daya abhijñā yang sangat tinggi dalam menulis talisman, mengusir setan, mengobati penyakit dan sebagainya. Semuanya sangatlah hebat akan tetapi ada beberapa kasus yang tidak sanggup diselesaikan oleh Mahaguru yaitu yang berhubungan dengan pelanggaran sila membunuh karena perasaan dendam itu sangat kuat. Oleh karena itu Mahaguru berkata pelanggaran sila membunuh itu sangat berat dan sulit dilerai.
Pada momentum ini, umat diajak meneladani kebajikan yang diajarkan oleh Bodhisatwa Ksitigarbha serta menaati Pancasila Buddhis & melakukan 10 kebajikan serta menghindari kejahatan. Kita dihimbau untuk selalu menolong dan menuntun serta memberi manfaat untuk orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Upacara berlangsung khidmat dengan dukungan altar mandala yang agung. Menggambarkan suasana neraka dalam dekorasi menjadi sarana refleksi bagi umat untuk menjauhi kejahatan dan memperbanyak kebajikan. Pada kesempatan ini, umat juga mendoakan leluhur agar memperoleh kedamaian dan terlahir di alam yang lebih baik.
Memasuki hari kedua, Minggu (19/4), Acarya Shi Lian Zhao memimpin Upacara Argampuja (Shui Gong) Mahadewi Yaochi – Ma Shang You Qian, yang merupakan pelaksanaan kedua di vihara Dharma Hastabrata setelah puluhan tahun. Dalam Dharmadesananya, Acarya menerangkan bahwa Argampuja memiliki prinsip serupa dengan Homapuja, namun menggunakan elemen air sebagai sarana utama. Air dalam kehidupan sehari - hari sangat berguna untuk membersihkan berbagai kotoran . Mahaguru Lian Sheng pernah mengatakan bahwa air memiliki kekuatan untuk mengikis / menghilangkan/ membersihkan karmawarana kita selama berkalpa-kalpa.
Lebih lanjut, Acarya menjelaskan simbolisme mandala Argampuja, diantaranya menara air tiga tingkat yang melambangkan ucapan, pikiran, dan perbuatan, serta kesatuan langit, bumi, dan manusia. Selain itu melambangkan Avaduthi atas, tengah dan bawah.
Terdapat bendera pancawarna yang dipasang di mandala air merepresentasikan lima elemen alam serta perlindungan / Simabandhana dari 5 jenderal sementara lambang Taichi (Yin-Yang) dalam ajaran Taoisme mencerminkan keseimbangan alam semesta. Sadhaka dapat menggunakan metode Argampuja ini untuk menyucikan ucapan, pikiran dan perbuatan kita untuk bersatu dengan alam semesta.
Mandala argampuja juga terdapat lilin panca warna yang melambangkan Pancadyani Buddha. Hal di atas semuanya memiliki arti yang mendalam, yaitu langit, bumi dan segenap insan di alam semesta dalam pancaran sinar Buddha.
Pada kesempatan kali ini, Acarya juga menjelaskan bahwa Mahadewi Yaochi juga merupakan sosok Dewi Agung yang sangat dijunjung tinggi dalam aliran Tantrayana Satya Buddha yang dapat memberikan berkah & kebijksanaan. Upacara Argampuja ini juga memadukan sadhana Ma Shang You Qian (Lekas Kaya) yang akan memberikan berkah berlimpah bagi semua umat.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat bakti kepada leluhur, menumbuhkan berkah dan kebajikan, serta meningkatkan kebijaksanaan dengan memperdalam pemahaman umat terhadap Buddha dharma. Dengan demikian, umat diharapkan terus bertumbuh dalam Buddha dharma dan membawa manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Svaha.