29 Maret 2026 Liputan Upacara Homa Maha Padmakumara Putih di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)
Pada tanggal 29 Maret 2026, Rainbow Temple, Amerika Serikat, dengan hormat mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk hadir memimpin Upacara Homa Maha Padmakumara Putih. Setelah Homa selesai dengan sempurna, Dharmaraja pertama-tama memberitahukan kepada semua bahwa sehubungan dengan minggu depan adalah hari raya Cengbeng, Rainbow Temple akan menyelenggarakan “Upacara Pertobatan Mahakaruna” pada Sabtu, 4 April 2026, pukul 10 pagi, dipimpin oleh seluruh Acarya dan Dharmacarya yang akan memandu umat dalam melakukan pertobatan; kemudian dilanjutkan pada Minggu, 5 April, tepat pada hari Cengbeng pukul 3 sore, akan diselenggarakan “Upacara Homa Bodhisatwa Ksitigarbha”.
【Simbol Dharmakaya nan Murni: Padmakumara】
Dalam Dharmadesana, Dharmaraja menjelaskan secara detail bahwa “padma” melambangkan kemurnian, sedangkan “kumara” melambangkan Dharmakaya yang murni; dalam ajaran Buddha, kumara juga memiliki makna sebagai Bodhisatwa. Dharmaraja menyebutkan bahwa Mahasattva Padmasambhava adalah Bodhisatwa Padmasambhava, yang pada hakikatnya juga merupakan Padmakumara.
Dharmaraja mengenang bahwa pada masa awal, Beliau menerima petunjuk dari Mahadewi Yao Chi dan mengetahui nama “Padmakumara”, kemudian Beliau mengunjungi banyak Biksu Agung dan banyak Mahaguru untuk mencari asal-usul dan nidana Dharma, namun sempat menghadapi kesulitan karena tidak ada seorang pun di kalangan Buddhis yang mengetahuinya.
【Gua Dunhuang dan Pembuktian Akademis】
Perjalanan pencarian akar ini memperoleh terobosan dalam penelitian Dunhuang. Dharmaraja menunjukkan bahwa berdasarkan data dari Gua ke-314 di Gua Dunhuang, catatan di dalamnya semuanya berkaitan dengan Padmakumara. Penelitian akademis dari Universitas Lanzhou lebih lanjut membuktikan bahwa Avalokitesvara, Mahasthamaprapta, dan Padmasambhava semuanya memiliki wujud Padmakumara, bahkan berkembang menjadi sebutan seperti Xiangguang Tongzi, Huashen Tongzi, dan lain-lain.
Dharmaraja mengutip syair dari Dinasti Tang:
蓮花童子見金仙,
Liánhuātóngzǐ jiàn jīnxiān,
Padmakumara menemui Resi Mulia,
落花虛空左右旋,
luòhuā xūkōng zuǒyòu xuǎn,
Hujan bunga turun dari angkasa,
微妙天音雲外聽,
wéimiào tiānyīn yun wài tīng,
Disambut alunan musik surgawi,
盡說極樂勝諸天
Jǐn shuō jílè shèng zhū tiān.
Membabarkan Sukhavati yang mengungguli semua surga.
Beliau menegaskan bahwa Padmakumara sesungguhnya merupakan emanasi dari Buddha Amitabha, dan hubungan keduanya sangat mendalam.
【Catatan dalam Sutra dan Kisah】
Selain itu, Dharmaraja juga mengutip catatan dari kitab Dinasti Ming: Penganugerahan Dewata (Fengshen Bang). Dalam kitab tersebut digambarkan bahwa Buddha Amitabha pernah mengutus Maha Padmakumara turun ke dunia untuk mengurus jenazah Guisheng Shengmu, namun karena kelalaian sang kumara, menyebabkan “dua belas tingkatan” di Sukhavati dimakan tiga tingkatan, sehingga berkembang menjadi “sembilan tingkat padma” yang dikenal di kemudian hari.
Dharmaraja menyatakan bahwa meskipun kisah ini mengandung unsur legenda, namun benar-benar membuktikan keberadaan istilah “Padmakumara” dalam literatur kuno. Beliau menyebutkan bahwa penulis Fengshen Bang, Lu Xixing, memiliki latar belakang bhavana Dao dan Chan, dan catatan ini juga menjadi bukti penting dalam pencarian Beliau terhadap data Padmakumara di seluruh dunia.
◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4
Selanjutnya, Dharmaraja melanjutkan penjelasan Surangama Sutra bab keempat, dengan teks sutra sebagai berikut:
“Pada saat itu, Begawan menaruh belas kasih kepada para Pratyekabuddha dan Sravaka yang hadir dalam persamuhan, yang belum memperoleh keleluasaan dalam Bodhicitta. Juga demi makhluk-makhluk pada masa mendatang setelah Parinirwana Buddha, yaitu makhluk pada zaman akhir Dharma yang membangkitkan Bodhicitta, supaya terbuka jalan bhavana yang menakjubkan dari Yana Anuttara. Disampaikan kepada Arya Ananda dan seluruh hadirin:
Anda semua yang telah bertekad membangkitkan Bodhicitta, dalam samadhi luhur Tathagata, jangan pernah merasa lelah. Hendaknya terlebih dahulu memahami dua makna: tekad awal.”
“Apakah dua makna dari tekad awal tersebut? Ananda, makna pertama adalah: jika Anda ingin meninggalkan jalan Sravaka, mempraktikkan Bodhisatwayana dan memasuki pengetahuan serta pandangan Buddha, hendaknya dengan saksama mengamati batin pada bumi hetu, apakah sama atau berbeda dengan kesadaran pada bumi phala Bodhi.”
“Ananda, jika pada bumi hetu menggunakan batin yang lahir dan lenyap sebagai dasar sebab bhavana, namun menginginkan Buddhayana yang tidak lahir dan tidak lenyap, hal itu tidak mungkin terjadi. Karena makna ini, engkau harus menerangi dan memahami bahwa semua fenomena dunia yang dapat diciptakan, semuanya berasal dari perubahan dan kehancuran. Ananda, perhatikanlah segala sesuatu di dunia ini yang dapat diciptakan, mana yang tidak rusak?”
【Belas Kasih terhadap Makhluk Zaman Akhir Dharma: Beralih dari Sravaka dan Pratyekabuddha menuju Bodhi Mahayana】
Dharmaraja terlebih dahulu menjelaskan latar belakang sabda Begawan yang “menaruh belas kasih kepada Pratyekabuddha dan Sravaka dalam persamuhan”. Beliau menunjukkan bahwa “Sravaka” adalah mereka yang mendengar langsung ajaran Buddha dan mempraktikkan “Empat Kebenaran Mulia”, yaitu para Arahat Hinayana; sedangkan “pratyekabuddha” adalah sadhaka yang mencapai pencerahan melalui pemahaman “dua belas nidana”. Dharmaraja menegaskan bahwa alasan Sang Begawan mengajarkan Sutra Surangama adalah karena mengasihani para siswa yang walaupun telah memiliki pencerahan tetapi Bodhicitta-nya belum leluasa, serta untuk menunjukkan jalan bhavana “Yana Anuttara” bagi makhluk zaman akhir Dharma setelah Parinirwana Buddha.
【Makna Pertama: Mengamati Apakah “bumi hetu” dan “bumi phala” Sehakikat】
Ketika memasuki makna pertama dari “dua kepastian”, Dharmaraja mengutip Sutra: “hendaknya mengamati dengan saksama batin pada bumi hetu, apakah sama atau berbeda dengan kesadaran pada bumi phala.” Beliau menjelaskan bahwa jika seorang sadhaka pada awal membangkitkan niat menggunakan “batin yang lahir dan lenyap” (batin duniawi yang berubah-ubah), tetapi berkhayal ingin mencapai Kebuddhaan yang “tidak lahir dan tidak lenyap”, maka hal itu sama sekali tidak mungkin terwujud.
“Bagian sutra ini sangat sulit dijelaskan, tetapi sangat penting.” ujar Dharmaraja secara langsung. Banyak orang ketika pertama kali membangkitkan niat untuk menjadi biksu atau bersadhana, penuh semangat berkobar, tetapi batin seperti ini sering berubah mengikuti kondisi. Beliau dengan humor menyebutkan bahwa ada sebagian biksu/biksuni yang karena dorongan sesaat menjadi biksu, namun kemudian karena “batin mati” atau tertarik oleh emosi duniawi lalu kembali ke kehidupan awam. Dharmaraja menegaskan bahwa walaupun laki-laki memiliki tujuh kali kesempatan untuk menjadi biksu, jika selalu berbhavana dengan batin yang lahir dan lenyap, maka sulit untuk mencapai pengetahuan dan pandangan Tathagata.
【Alam Fenomena Senantiasa Berubah dan Lenyap: Dari Mobil Mewah Hingga Jasmani】
Untuk membantu umat memahami apa itu “lahir dan lenyap”, Dharmaraja menggunakan contoh kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan bahwa “semua fenomena dunia yang dapat diciptakan, semuanya berasal dari perubahan dan kehancuran”. Beliau menyebutkan:
Kelapukan materi: Bahkan mobil mewah tertinggi seperti Rolls-Royce pun akan mengalami kerusakan komponen dan bunyi aneh; gerbang besi di Taman Arama Nanshan bisa rusak, pemanas air bisa menjadi dingin, semua benda berwujud berjalan menuju kehancuran.
Penuaan bangunan: Mengingat kejayaan dan kesan rumah baru saat pembukaan Rainbow Villa dahulu, Dharmaraja menghela napas bahwa kini bangunan pun menjadi tua, bahkan di masa depan bisa saja dihancurkan dan dibangun kembali.
Ketidakkekalan jasmani: Dharmaraja untuk pertama kalinya dengan penuh perasaan membagikan pengalaman baru-baru ini masuk rumah sakit dan menjalani operasi. Beliau mengatakan bahwa sepanjang hidupnya sehat, hingga usia 80 tahun baru masuk rumah sakit, merasakan pemasangan selang, transfusi darah, dan operasi. Saat berbaring di tempat tidur sambil melihat LRT di luar jendela, Beliau sangat merasakan bahwa “tubuh juga mengalami lahir dan lenyap”. Pengalaman penderitaan yang nyata ini membuat Beliau lebih berempati kepada pasien yang datang memohon pemberkatan.
【Hanya “Membersihkan Hati dan Pikiran” yang Dapat Melampaui Samsara】
Sebagai penutup, Dharmaraja menyimpulkan bahwa segala sesuatu di dunia adalah dharma yang akan hancur, hanya “ruang kosong” dan “pengetahuan serta pandangan Buddha” yang tidak lahir dan tidak lenyap. Beliau mendorong semua insan untuk, dalam tubuh jasmani yang terbatas dan pasti menuju kelahiran dan kehancuran ini, segera melakukan “hal yang penting”:
“Jangan berbuat jahat, perbanyaklah kebajikan, sucikan hati dan pikiran.”
Dharmaraja menekankan bahwa kemurnian tubuh, ucapan, dan pikiran adalah satu-satunya jalan untuk melampaui enam alam samsara dan menuju bhavana jangka panjang. Seorang sadhaka harus berlandaskan pada batin yang langgeng, batin yang tidak lahir dan tidak lenyap, barulah dapat berkontak yoga dengan samadhi luhur Tathagata.
Setelah pembabaran Dharma yang sangat mendalam berakhir, Dharmaraja Lian Sheng dengan penuh welas asih menganugerahkan kepada seluruh hadirin Abhiseka Sadhana Padmakumara, dan upacara pun berakhir dengan sempurna.
---------------------------------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia