27 Juni 2026 Liputan Pujabakti Sadhana Istadewata Buddha Sakyamuni dan Memandikan Rupang Buddha di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Oleh Biksuni Lian En (蓮嗯法師)
Pada tanggal 27 Juni 2026 pukul delapan malam, Seattle Ling Shen Ching Tze Temple dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin pujabakti Sadhana Istadewata Buddha Sakyamuni, perayaan pemandian Buddha (rupang bayi Siddhartha), dan melanjutkan pengulasan Sutra Surangama.
Sebelum pujabakti dimulai, para siswa baru dari berbagai belahan dunia pada minggu ini secara berurutan berdiri untuk memperkenalkan diri, serta memberi salam kepada Mahaguru Lu, Gurudara, dan para hadirin. Di antaranya, terdapat banyak siswa yang sudah lama tidak kembali ke wihara cikal bakal, ada juga umat Sedharma yang baru pertama kali datang Berdharmayatra ke Seattle, semuanya tidak menghiraukan jarak ribuan mil, berkumpul di wihara cikal bakal, bersama-sama merayakan ulang tahun Buddha Guru yang ke-82, dan dengan tulus berpartisipasi dalam upacara pemandian Buddha.
Setelah pujabakti manggala, para hadirin bersama-sama menikmati video perkenalan buku terbaru Dharmaraja Lian Sheng buku ke-309 “Dialog Hati ke Hati”. Kemudian, Dharmaraja Lian Sheng memberikan Dharmadesana, hari ini kita melaksanakan pujabakti Sadhana Istadewata Buddha Sakyamuni. Buddha Sakyamuni adalah Sasanapati agama Buddha, agama Buddha didirikan dan dibabarkan oleh Beliau.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
Selanjutnya, Dharmaraja Lian Sheng mengulas Sutra Surangama Bab Keempat:
“Ananda, seperti orang-orang di dunia yang memusatkan penglihatan pada mata, jika menyuruh mereka segera menutupnya, wujud kegelapan akan muncul di hadapan. Enam indra menjadi redup, kepala dan kaki terasa serupa. Orang tersebut menggunakan tangan meraba berkeliling di luar tubuh, meskipun dia tidak melihat, begitu membedakan kepala dan kaki, persepsinya adalah sama. Kondisi melihat terjadi karena terang, gelap membuat tidak terlihat. Ketidakjelasan yang muncul dengan sendirinya, maka segala wujud gelap selamanya tidak akan bisa membutakan. Karena indra dan objek telah lenyap, mengapa kesadaran terang tidak menjadi sempurna dan luhur.”
“Ananda, seperti orang-orang di dunia yang memusatkan penglihatan pada mata, jika menyuruh mereka segera menutupnya, wujud kegelapan akan muncul di hadapan. Enam indra menjadi redup, kepala dan kaki terasa serupa.”
Semua makhluk di dunia Saha, menggunakan enam indra yakni mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, untuk membuat berbagai macam perasaan dan persepsi. Mengambil contoh mata, jika menyuruhnya segera ditutup, saat mata tertutup, segalanya gelap gulita, tidak bisa melihat apa-apa. Enam indra menjadi redup, keenam indra semuanya menjadi redup, yang berarti telinga juga tidak mendengar suara apa pun, lidah tidak bisa mengecap apa pun, pernapasan hidung juga tidak ada perasaan, tubuh juga tidak memiliki indra peraba, kesadaran semuanya tidak ada. Kepala dan kaki terasa serupa, Anda juga tidak merasakan di mana kepala dan kaki berada.
“Orang tersebut menggunakan tangan meraba berkeliling di luar tubuh, meskipun dia tidak melihat, begitu membedakan kepala dan kaki, persepsinya adalah sama.”
Orang ini menutup mata, lampu digelapkan, tetapi menggunakan tangan meraba berkeliling di luar tubuh, meraba kepala langsung tahu ini adalah kepala, meraba kaki langsung tahu ini adalah kaki, meskipun tidak bisa melihat kepala, tetapi saat Anda meraba kepala Anda tahu ini adalah kepala, Anda meraba kaki Anda tahu ini adalah kaki, rasanya tetap sama.
Tetapi saya merasa kalimat ini bermasalah. Mata tertutup, menggunakan tangan untuk meraba, tahu ini adalah kepala, ini adalah kaki, tentu saja tahu, karena Anda dari awal sudah tahu ini adalah kepala, ini adalah kaki, tetapi orang buta meraba gajah itu berbeda. Buddha Sakyamuni menggunakan perumpamaan ini, sedikit kurang memuaskan.
“Kondisi melihat terjadi karena terang, gelap membuat tidak terlihat, ketidakjelasan yang muncul dengan sendirinya, maka segala wujud gelap selamanya tidak akan bisa membutakan.”
Mata adalah indra penglihatan, ada cahaya barulah Anda bisa melihat, tidak ada cahaya maka Anda tidak akan bisa melihat. Meskipun segalanya gelap gulita, mata jasmani tidak bisa melihat apa pun, tetapi saat melakukan bhavana hingga Batin Sejati Terang nan Luhur bermanifestasi, jenis mengetahui yang sejati itu akan selalu ada, tidak akan tidak terlihat.
“Karena indra dan objek telah lenyap, mengapa kesadaran terang tidak menjadi sempurna dan luhur.”
Enam indra dan enam objek semuanya sudah tidak ada, Batin Sejati Terang nan Luhur Anda pun akan tampak secara sempurna.
Sebenarnya di sini Buddha Sakyamuni tidak menjelaskannya dengan sangat jelas, sebagai contoh berbicara tentang melihat, penglihatan dari Batin Sejati Terang nan Luhur, adalah tidak memiliki batasan waktu dan ruang, kehidupan masa lampau Anda bisa melihatnya, kehidupan masa sekarang Anda bisa melihatnya, kehidupan masa depan Anda juga bisa melihatnya, terlebih lagi, seberapa jauh pun, ribuan mil jauhnya, Sepuluh Dharmadhatu, Anda semua bisa melihatnya, bukan hanya di dunia Saha ini, Anda ingin melihat Surga Caturmaharajika, langsung bisa melihat Surga Caturmaharajika, Anda ingin melihat Surga Trayastrimsa, langsung bisa melihat Surga Trayastrimsa. Anda bisa melihat alam dewa, alam manusia, alam asura, alam neraka, alam preta, alam binatang, Anda semuanya bisa melihatnya, inilah yang disebut penglihatan Batin Sejati Terang nan Luhur.
Sekarang orang-orang di dunia Saha kita hanya menggunakan mata untuk melihat, menggunakan telinga untuk mendengar, menggunakan hidung untuk mencium, menggunakan lidah untuk mengecap, menggunakan tubuh untuk merasakan, menggunakan kesadaran untuk mengetahui, orang-orang di dunia Saha memang seperti ini. Benar-benar telah berhasil melatih Batin Sejati Terang nan Luhur, tidak menggunakan mata, tidak menggunakan barang-barang dunia Saha, Anda mengetahui segalanya, inilah yang disebut pengetahuan sejati dan penglihatan sejati.
Setelah Dharmadesana berakhir, Dharmaraja Lian Sheng dengan welas asih memberkati Tirta Maha Karuna Dharani untuk para hadirin, melakukan abhiseka pada pratima Buddha, dan memegang vyajana-camara untuk memberikan adhisthana kepada para hadirin.
Upacara prosesi pemandian Buddha berjalan dengan agung dan khidmat, para hadirin mengikuti Dharmaraja Lian Sheng, dengan hati yang penuh bakti memandikan rupang emas Buddha, mencuci noda debu di dalam hati, di tengah musik yang agung dan damai, para hadirin bersama-sama merasakan sukacita Dharma, bersama-sama bermandi karunia Buddha, dan dengan hormat mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-82 kepada Dharmaraja Lian Sheng, semoga tubuh Buddha senantiasa sehat, menetap di dunia selamanya, dan cakra Dharma terus berputar.
------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia