【Catatan Dharmaraja】
📕 Dharmaraja Lian Sheng berbagi pengalaman mendalamnyadalam praktik nyata (sadhana) Homa sebanyak 200 kali, serta mengajari kita bagaimana membakar klesa (kekotoran batin) melalui puja api dan dengan cepat menyempurnakan harapan duniawi maupun adiduniawi.
《Praktik Nyata Sadhana Homa》
Kumpulan Dharmadesana Dharmaraja Lian ShengSheng-Yen Lu ke-106 【Pelita Hati Satya Buddha】
Saya (Dharmaraja Lian Sheng, Sheng-Yen Lu) selalu merasa, untung sekali di dalam Tantrayana terdapat "Sadhana Homa". Perasaannya seperti tiba-tiba melihat kepulauan di tengah lautan yang luas, sehingga jasmani dan batin memiliki tempat bersandar. Saya sangat berterima kasih kepada "Biksu Liaoming" yang telah mentransmisikan penekunan "Homa" kepada saya.
Mengapa saya berkata demikian? Karena saya menyadari bahwa kontak batin dari "Homa" sangatlah nyata. Ketika seorang sadhaka sedang merasa "buntu dan kehilangan jalan", asalkan Anda "melakukan puja api" dan memanjatkan doa, harapan bisa terkabul secara tiba-tiba. Bagaimana ini tidak membuat orang bersorak kegirangan?
Khasiat "Homa" sama sekali tidak dilebih-lebihkan. Faktanya, mengenai berhasil atau tidak, begitu selesai melaksanakan "puja api", para Buddha, Bodhisatwa, dan para dewa akan memberikan kontak batin (pemberitahuan).
"Homa" (puja api) sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh dan tidak perlu diragukan. Itu adalah momen di mana Anda menggunakan hati yang paling tulus untuk memberikan persembahan kepadapara Buddha, Bodhisatwa, dan para Arya, serta memohon harapan. Begitu para Buddha, Bodhisatwa, dan para Arya menerima persembahan Anda, Beliau pasti akan berusaha untuk membantu. Apakah hal tersebut akan berhasil atau tidak, Beliau juga akan "memberi tahu" Anda. Prinsipnya sesederhana itu.
Saya melakukan Homa dan praktik nyata Sadhana Homa selama bertahun-tahun, sehingga memiliki pengalaman yang "dialami secara langsung" seperti ini. Umat aliran Eksoterik (Sutrayana) padau mumnya mungkin keliru dan menganggap "sembahyang ke langit melalui pembakaran sarana puja" sebagai "Sekte Pemuja Api". Sebenarnya"puja api" bukanlah menyembah api, melainkan tetap merupakan persembahan kepada Buddha dan Bodhisatwa, hanya saja metodenya yang berbeda. Dalam tata cara persembahan Sutrayana, persembahan diletakkan di atas meja dan hanya menyalakan dupa, tidak ada aturan baku maupun ritus. Setelah selesai, persembahan dibawa pulang untuk dimakan atau dipakai sendiri, sehingga jarang membuahkan kontak batin.
Namun, "puja api" berbeda. Homa memiliki ritus. Tidak hanya memiliki ritus, tetapi juga cukup rumit. Seorang sadhaka harus dekat dengan Mulacarya, dan diajarkan secara langsung oleh Mulacarya barulah bisa menguasainya. Anda juga harus berhati-hati untuk menghindari datangnya "makhluk halus dan roh-roh jahat" yang berebut makanan. Ritus "Homa" harus dipelajari dengan saksama, tanpa kesalahan sedikit pun, serta harus mempraktikkan Sadhana Homa secara nyata hingga mencapai 200 kali.
Dapat mempelajari Sadhana Homa, terlebih lagi mempraktikkannya hingga 200 kali, saya rasa ini adalah berkah yang sangat besar, karena "puja api" dapat menambah berkah (bekal spiritual/sambhara) seorang sadhaka. Kesempatan untuk mempelajari Sadhana Homa adalah berkah yang telah diakumulasi oleh sadhaka dari banyak kehidupan.
Kapan waktu terbaik untuk menyelenggarakan puja api Homa?
Saya menjawab:
1. Hari suci (ulang tahun) Buddha dan Bodhisatwa.
2. Diselenggarakan untuk upacara Dharma.
3. Peresmian (kaiguang) wihara.
4. Untuk tolak bala.
5. Untuk penyeberangan arwah.
6. Untuk kedamaian negara.
7. Berdoa memohon cuaca yang baik, negara yang aman, dan rakyat yang tenteram.
8. Menyelenggarakan Homa untuk kediaman baru.
9. Diselenggarakan untuk penyembuhan penyakit.
10. Menyelenggarakan Homa untuk memohon jodoh (pernikahan), keturunan, kesuksesan karier, perpanjangan usia, dan penyelesaian masalah hukum (perkara).
11. Diselenggarakan untuk meningkatkan Dharmabala (kekuatan Dharma).
12. Diselenggarakan untuk menghindari rintangan Mara.
Dan lain-lain.
Pada masa itu, Guru Sakya Zhengkong bertanya kepada saya, "Apakah engkau bersusah payah datang ke tempatku?"
Saya menjawab, "Nidana (Jodoh)."
Beliau bertanya lagi, "Apa yang Andakuasai?"
Saya menjawab, "Homa." (Hampir saja saya tidak terpikir bagaimana menjawabnya)
Beliau bertanya lagi, "Apakah Anda memahami maknanya?"
Saya pun tanpa henti menguraikan prinsip tentang "persembahan", "membakar kilesa (kekotoran batin)","api luar", dan "api dalam". Guru Zhengkong sangat memujinya. Di tempat Beliau, saya memperoleh banyak sekali Dharma. Sang Guru kemudian memberikan Abhiseka Acarya kepada saya, dan menganugerahkan cenderamata silsilah. Inilah ungkapan pujian dan pengakuan dari Guru karena saya memahami prinsip "Homa".
Situs Web: https://id.tbsn.org
Facebook TBSN Indonesia: http://www.facebook.com/syltbsnindonesia
Facebook TBSNTV Indonesia: facebook.com/tbsntv
YouTube: http://www.youtube.com/@TBSNTVIndonesia

