Upacara Homa Arya Avalokitesvara di Vihara Vajra Padma Suci
Pada hari Minggu, 07 Desember 2025, Vihara Vajra Padma Suci (大覺雷藏寺) menyelenggarakan Upacara Homa Arya Avalokitesvara (聖觀音護摩法會) yang dipimpin oleh Acarya Shi Lian Yang (釋蓮樣上師).
Sebelum upacara homa dimulai, Acarya terlebih dahulu memberikan penjelasan mengenai Yidam Arya Avalokitesvara. Penjelasan ini disampaikan karena Upacara Homa Arya Avalokitesvara baru pertama kali dilaksanakan di Vihara Vajra Padma Suci sejak Dharmaraja Lian Sheng menurunkan ajaran Dharma Hartawan Nomor Satu. Dharma ini merupakan ajaran khusus yang hanya terdapat dalam aliran Zhenfo.
Keistimewaan Dharma ini terletak pada cara pandang terhadap tiga racun batin dalam Buddhadharma, yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan (moha). Dalam praktik Buddhadharma pada umumnya, ketiga unsur ini harus dihapuskan. Namun, dalam Dharma ini, energi keserakahan justru digunakan sebagai sarana untuk memacu ketekunan dalam melatih diri. Hal ini didasari pemahaman bahwa pada dasarnya manusia menginginkan kondisi kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Keinginan tersebut kemudian diarahkan agar seseorang terdorong untuk belajar Buddhadharma, membaca sutra dan mantra untuk mencapai kontak batin.
Sebagaimana dijelaskan Dharmaraja Lian Sheng dalam Sutra Vimalakirti, keserakahan, kebencian, dan kebodohan sejatinya adalah Dharma. Setiap insan memilikinya, namun apabila ketiga unsur tersebut dapat diolah dan diarahkan menjadi sarana latihan spiritual, maka itulah makna Dharma yang sesungguhnya.
Acarya menjelaskan bahwa terdapat tiga unsur penting dalam melatih sadhana Arya Avalokitesvara, yaitu mudra, mantra, dan persembahan.
Mudra Arya Avalokitesvara memiliki makna khusus. Ibu jari tangan kanan yang ditegakkan ke atas melambangkan bahwa seluruh dewa kekayaan di sepuluh penjuru alam semesta akan menaati perintah Arya Avalokitesvara untuk memberkati sadhaka.
Makna utama dari sadhana ini adalah apabila seseorang dapat mencapai kontak yoga dengan Arya Avalokitesvara, maka ia dapat memperoleh kekayaan duniawi—menjadi hartawan—serta kekayaan surgawi, yaitu mencapai kebuddhaan. Pencapaian kebuddhaan inilah yang menjadi tujuan tertinggi dari sadhana ini.
Mantra Arya Avalokitesvara bermakna bahwa seluruh bekal kebajikan dan kekayaan akan memenuhi diri sadhaka, serta seluruh harapan yang paling luhur dapat terpenuhi melalui berkah Arya Avalokitesvara.
Adapun persembahan yang utama dalam sadhana ini terdiri atas tiga kelompok, yaitu:
1. Lima batu berharga: emas, perak, mutiara, permata, dan kristal;
2. Lima kain sutra yang melambangkan Panca Buddha;
3. Lima jenis padi-padian atau kacang-kacangan, seperti beras, barley, gandum, dan wijen.
Ketiga jenis persembahan tersebut melambangkan pelimpahan jasa berupa harta berharga yang tidak habis digunakan, sandang yang selalu tercukupi, serta pangan yang tidak pernah kekurangan.
Acarya menegaskan bahwa Dharmaraja Lian Sheng selalu menekankan bahwa seluruh berkah ini berasal dari Arya Avalokitesvara. Apabila dalam kehidupan ini seseorang telah tekun melakukan sadhana dan membaca mantra, namun belum merasakan perubahan, maka hendaknya disadari bahwa setiap insan terlahir membawa karma yang berbeda-beda, sehingga perubahan nasib juga sesuai dengan karma masing-masing.
Dengan keyakinan yang tulus, bukan hanya dalam kehidupan sekarang, tetapi dalam kehidupan mendatang pun seseorang berpeluang terlahir sebagai insan yang berkecukupan. Namun demikian, Acarya menekankan bahwa kesehatan tetap merupakan harta yang paling berharga, karena kesehatan sulit digantikan oleh harta duniawi. Oleh sebab itu, dalam upacara homa ini, umat tidak hanya memohon kelimpahan rezeki, tetapi juga kesehatan agar dapat terus berusaha dan melatih diri dengan baik.
Acarya juga mengingatkan umat untuk melakukan visualisasi aksara yang berubah menjadi Yidam, lalu menyatu dengan diri sendiri selama upacara homa berlangsung.
Usai Upacara Homa, Acarya Shi Lian Yang membagikan pengalaman spiritualnya selama mengikuti Dharmayatra ke India dan Nepal bersama Para Acarya Senior yang lain. Beliau menyampaikan bahwa apabila ada kesempatan, umat dianjurkan untuk mengunjungi dan melihat delapan tempat suci (Asta Mahasthana) yang berkaitan dengan kehidupan Sang Buddha Sakyamuni. Setiap tempat tersebut masih memiliki nilai-nilai sejarah dan energi spiritual yang kuat.
Delapan tempat suci tersebut meliputi:
Taman Lumbini sebagai tempat kelahiran Sang Buddha; Bodh Gaya sebagai tempat pencapaian pencerahan; Sarnath atau Taman Rusa Isipatana sebagai tempat pemutaran Roda Dharma pertama; Kushinagar sebagai tempat parinibbana. Empat tempat lainnya yang juga memiliki nilai sejarah penting adalah Sravasti, tempat Sang Buddha menunjukkan mujizat ganda; Gunung Ratnagiri atau Rajgir (靈鷲山), lokasi pembabaran berbagai sutra penting; Sankasya, tempat Sang Buddha turun dari Surga Trayastrimsa setelah membabarkan Dharma kepada ibu-Nya; serta Vaisali, tempat Sang Buddha menyatakan parinibbana dan membabarkan Dharma penting.
Melalui perjalanan ini pula, Acarya menyadari betapa beruntungnya umat yang hidup di Indonesia. Banyak masyarakat di India masih hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan, dan kondisi tersebut menjadi pengingat agar kita tidak terus merasa kekurangan, melainkan belajar bersyukur atas apa yang telah dimiliki saat ini.
Dari pengalaman tersebut, Acarya kembali mengingatkan pesan Dharmaraja Lian Sheng agar kita tidak hanya melihat ke atas, tetapi juga melihat ke bawah. Melatih Dharma Arya Avalokitesvara untuk menjadi “orang kaya” tidak semata-mata dimaknai sebagai kaya secara materi, melainkan kaya dalam rasa cukup, bersyukur, dan mampu berbagi.
Dharmaraja menurunkan berbagai sadhana memohon rezeki, bukan untuk menumbuhkan keserakahan, melainkan sebagai bentuk welas asih agar umat Zhenfo dapat memiliki kehidupan yang layak, sehingga dapat melatih diri dengan batin yang tenang dan membantu sesama yang membutuhkan.
Acarya menekankan bahwa kebajikan harus dilakukan dengan kebijaksanaan. Berbuat baik hendaknya disesuaikan dengan kemampuan, tanpa paksaan, dan dilandasi kerelaan hati. Kebajikan yang dilakukan dengan tulus dan bijaksana akan menjadi bekal yang berkesinambungan, baik bagi kehidupan saat ini maupun kehidupan mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula rencana pelaksanaan bakti sosial. Pada bulan Januari akan dilaksanakan Trimula Puja secara serentak di berbagai negara, disertai kegiatan donasi global melalui Lotus Light Charity Society (LLCS) dengan slogan “True Love Changes Lives.” Umat sedharma diimbau untuk berdana sesuai kemampuan dan kerelaan hati. Selain itu, pada bulan Juni direncanakan pelaksanaan bakti sosial di wilayah Jawa Tengah (Desa Lamuk, Pati, dan Jepara) dengan distribusi paket sembako kepada 3800 kepala keluarga, bekerja sama dengan Walubi Jawa Tengah dan LLCS. Kegiatan ini sepenuhnya didedikasikan untuk Dharmaraja Liansheng agar senantiasa sehat, panjang umur dan senantiasa memutar Cakra Dharma, serta dapat menjalin jodoh baik antara umat Zhenfo dan masyarakat luas.
Sebagai penutup, Acarya bersama seluruh umat melakukan sesi foto bersama dan pemberkatan Arya Avalokitesvara. Seluruh umat yang hadir menerima kartu baby gold special Arya Avalokitesvara yang telah dipersembahkan dan diberkati dalam upacara ini.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dipanjatkan kepada Dharmaraja Lian Sheng atas Maha Adhistana-Nya, serta kepada para donatur, relawan, dan saudara-saudari se-Dharma yang telah berpartisipasi, sehingga Upacara Homa Arya Avalokitesvara dapat berlangsung dengan penuh keberkahan dan manggala.
Semoga kita senantiasa diberi kesempatan untuk terus menanam kebajikan sebanyak mungkin dalam kehidupan ini, tekun dalam bhavana, dan pada akhirnya mencapai pencerahan sempurna.