Bag 22. Utpatti-krama dan Sampanna-krama

Pengulasan Tata Ritual Sadhana Tantra Yang Lengkap dan Mendetail
 
Bag 22. Utpatti-krama dan Sampanna-krama
 
- Dharmadesana Dharmaraja Lian-sheng
- Rainbow Temple, 29 November 1992
 
Selamat siang Para Acarya dan para umat sekalian ! Hari ini adalah hari kelima dalam serangkaian pengulasan tata ritual sadhana tantra lengkap secara mendetail. Sebelum memulai Dharmadesana, terlebih dahulu hendak berbincang dwi-krama ( dua tahap ) dalam Tantrayana. Tahap yang satu adalah Utpatti-krama ( Tahap Pembangkitan ) , yang satu lagi adalah Sampanna-krama ( Tahap Kesempurnaan ). Dalam Tantrayana dua tahap ini sangat penting. Pada umumnya, bagi yang berakar seperti kita ini, semua menekuni Utpatti-krama. Sedangkan Sampanna-krama ditekuni oleh Maha-bodhisattva yang berakar agung, kebanyakan kita dalam menekuni sadhana tantra perlu menekuni mulai dari mula, yaitu menekuni Utpatti-krama.
 
Apa itu Utpatti-krama ? Yaitu diumpamakan seperti kita terlebih dahulu masuk taman kanak-kanak, kemudian SD, dilanjutkan SMP, SMA, perguruan tinggi, magister dan doktor. Tentu saja ada orang yang masih sangat muda namun berbakat, dalam usia sepuluh atau dua puluh tahunan sudah mengenyam pendidikan doktor, ini termasuk yang berbakat besar. Seperti halnya yang menekuni bhavana tanpa melalui Utpatti-krama, langsung memasuki kelas doktor, langsung mulai pada Sampanna-krama, ini adalah orang yang berbakat besar. Namun seperti Mahaguru ini tergolong tidak berbakat, otak saya ini bukan komputer, dari usia 26 tahun saya berusaha hingga saat ini 48 tahun, usaha selama 20 tahunan, masih tergolong Utpatti-krama, dapat mencapai Sampanna-krama.
 
Dalam Tantrayana, bhavana Utpatti-krama adalah seperti halnya dalam Satya Buddha ( Zhen-fo Zong ) kita ini, bagi siswa yang baru bersarana terlebih dahulu menekuni Sadhana Catur-prayoga yang merupakan fondasi semua sadhana tantra, setelah beryukta dalam Catur-prayoga, kemudian dilanjutkan dengan Sadhana Guru-yoga, setelah beryukta dalam Guru-yoga, dilanjutkan Sadhana Yidam-yoga, setelah beryukta dengan yidam, barulah menekuni Sadhana Vajra, setelah beryukta dengan Sadhana Vajra, baru dapat menekuni Anuttarayogatantra, Mahaparipurna. Sampai pada tingkatan Anuttarayogatantra, bisa dikatakan merupakan Sampanna-krama, ini merupakan sebuah tingkatan.
 
Namun dari Sadhana Yidam hingga Sadhana Vajra, di dalamnya terdapat beberapa tingkatan, oleh karena itu bukan berarti setelah Anda beryukta dengan yidam langsung bisa menekuni Sadhana Vajra, Anda harus menekuni fondasi Sadhana Vajra terlebih dahulu. 
 
Tingkatan bhavana saya sendiri selama 20 tahunan ini, terlebih dahulu adalah Catur-prayoga, kemudian Guru-yoga, dilanjutkan Yidam Yoga, setelah beryukta dengan Sadhana Yidam, Anda sudah bisa mencapai Kebuddhaan, namun yang dimaksud di sini adalah Kebuddhaan melalui penjemputan.  Seperti yang telah saya ulas beberapa hari lalu, begitu mata terpejam, Anda melihat yidam, berarti telah ada jaminan bagi Kebuddhaan, sebab kelak saat Anda meninggal dunia, begitu mata terpejam, yidam langsung hadir di hadapan, menjemput Anda untuk mencapai Kebuddhaan, sudah tiada persoalan lagi.
 
Setelah beryukta dengan yidam, apa yang harus ditekuni ? Yaitu menekuni fondasi Sadhana Vajra, terlebih dahulu adalah Bhadra-kumbha-prana ( pernafasan botol ), mengapa demikian ? Sebab Bhadra-kumbha-prana merupakan fondasi kundalini, setelah prana Anda mencukupi, kundalini akan mudah terbangkitkan, sebab prana di dalam tubuh berfungsi untuk menggerakkan itu semua, jika mencukupi maka dapat menjadi sumber energi, sumber energi bagi pergerakan lift. Jika penekunan bhadra-kumbha-prana Anda telah mencukupi, begitu kundalini bangkit barulah dapat menembus nadi sushumna ( tengah ), apakah nadi sushumna itu ? Yaitu rel bagi naiknya lift, mulai dari muladhara-cakra sampai ke usnisa-cakra, yaitu sebuah rel di tengah, sedangkan prana merupakan sumber energinya. 
 
Setelah bhadra-kumbha mencukupi, barulah penekunan kundalini, apakah kundalini itu ? Yaitu lift, apa yang diangkut oleh lift ? Yang diangkut adalah bindu, apakah bindu itu ? Yaitu intisari dari hawa inti, prana dan kesadaran , inilah yang diangkut di dalam lift, diangkut ke atas, begitu nadi sushumna telah tembus, maka Anda akan melihat sinar.
 
Setelah menembus nadi sushumna, apa yang kemudian Anda tekuni ? Yaitu membuka lima cakra. Begitu cakra anahata terbuka, maka Sambhogakaya Buddha akan terbentuk. Begitu cakra visuddha terbuka, maka Nirmanakaya Buddha akan terbentuk. Begitu cakra ajna terbuka, maka Dharmakaya Buddha akan terbentuk. Dengan demikian Trikaya Buddha terbentuk.
 
Di dalam lima cakra bersemayam Panca-vajra, dimulailah penekunan Sadhana Vajra, setelah berhasil dalam Sadhana Vajra, Anda boleh menekuni Anuttarayogatantra. 
 
Mahaguru menuturkan proses tahapan bhavana diri sendiri, yaitu Catur-prayoga, Guru Yoga, Sadhana Yidam, Bhadra-kumbha-prana, kundalini dan bindu, menembus nadi sushumna, membuka lima cakra, Anuttarayoga, Mahaparipurna. Sampai pada Anuttarayoga, sampai Mahaparipurna, inilah Sampanna-krama, demikianlah tahapan bhavana.
 
Ada yang bertanya, dia memohon Mahaguru untuk berwelas asih membabarkannya, untuk mentransmisikan Catur-prayoga, Sadhana Vajracitta Bodhisattva dan Sadhana Guru Yoga. Sesungguhnya mengenai Catur-prayoga kita telah mengulas tiga prayoga : Mahanamaskara, mahapujana dan Catur-sarana. Yang tersisa adalah Sadhana Vajracitta Bodhisattva, tata ritual Sadhana Vajracitta Bodhisattva, memiliki banyak persamaan dengan Tata Ritual Sadhana Tantra yang sedang kita ulas, di manakah letak perbedaannya ? Ada pada perbedaan mudra , mantra dan visualisasi. 
 
Asalkan Anda dengan telitu menyimak pembabaran Mahaguru : Pengulasan Tata Ritual Sadhana Tantra Lengkap dan Mendetail, maka Sadhana Vajracitta Bodhisattva dapat Anda tekuni dengan sempurna, apakah Anda tahu letak perbedaan Sadhana Vajracitta, Sadhana Guru Yoga dan Sadhana Yidam ? 
 
Perbedaan ada pada mudra, mantra dan visualisasinya. Jika Anda dengan seksama menyimak video pembabaran kali ini, akan mengetahui bahwa sesungguhnya dalam tata ritual sadhana luar tidak pernah terpisah dari Sadhana Catur-prayoga, tidak terpisah dari visualisasi, penjapaan mantra, samadhi, adhistana usai meditasi dan pelimpahan jasa. Sebentar lagi akan dibabarkan mengenai apa yang dilakukan usai meditasi. 
 
Melalui pengulasan Sadhana Tantra ini, Anda bisa merenungkan dengan seksama, apakah itu Catur-prayoga ? Yaitu pengulasan sebelumnya ditambahkan dengan Sadhana Vajracitta. Jika ditambah dengan Sadhana Guru Yoga dan Cheda-sadhana ( Sadhana Persembahan Tubuh ), menjadi Sad-prayoga ( Enam Prayoga ). Kemudian Anda melanjutkan dengan penekunan Sadhana Yidam, asalkan Anda beryukta dengan yidam, maka seperti yang telah saya nyatakan, Anda telah terjamin pasti mencapai Kebuddhaan. Jika tidak mencapai Kebuddhan, kalian boleh mencari saya, sebab melalui Yukta dengan yidam, tidak hanya Guru yang akan datang menjemput Anda, Anda juga dapat terlahir di Buddha-ksetra yidam Anda, sudah pasti bisa. 
 
Jika Anda telah tekun dalam Sadhana Tantra Satya Buddha, namun Anda tidak mencapai keberhasilan, tidak dapat mencapai Kebuddhaan, atau Buddha Bodhisattva tidak datang untuk menjemput Anda, namun Anda malah terjerumus ke tempat Raja Yama, maka Anda katakan kepada-Nya, Mahaguru Lu yang mengajari, sehingga aku tidak dapat mencapai Kebuddhaan. Maka saya akan segera hadir di neraka menjemput Anda dan Anda pasti dapat mencapai Kebuddhaan. ( Hadirin bertepuk tangan )
 
Saya berani menyatakan demikian ! Jika Anda tekun sesuai dengan Sadhana Tantra Satya Buddha, pasti memperoleh yukta. Pada umumnya sutrayana hanya membahas pelafalan Nama Buddha, Amitabha Buddha menjemput Anda terlahir di Sukhavatiloka ! Sedangkan kita di sini mempunyai mudra, mantra dan visualisasi, juga memasuki samadhi, bahkan ada juga pelafalan Nama Buddha. Tiap-tiapnya dapat menjamin Anda mencapai Kebuddhaan. Ini merupakan Buddha Dharma yang sangat agung, sebuah intisari dan pasti membawa pada yukta. Di dunia ini sudah sangat sukar menemukan orang yang mengulasnya dengan demikian jelas. 
 
Ada banyak Rinpoche Tibet membabarkan Dharma dan tentu ada banyak Rinpoche Agung yang mengerti banyak hal, namun banyak lhama, banyak Rinpoche yang mengajari siswanya selama tujuh sampai delapan tahun, siswa hanya menguasai Catur-prayoga, coba Anda renungkan, hari ini Anda dapat berada di sini untuk mendengarkan Sadhana Tantra yang sangat lengkap, dari awal sampai akhir, Anda dapat melebur ke dalamnya, ini merupakan hasil jerih payah saya sendiri selama 20 tahunan, yang saya ajarkan merupakan kunci dan perolehan pribadi, hendaknya Anda sekalian menghargai Dharma. Asalkan Anda bersadhana dengan baik, maka kelak semuanya akan berjumpa dengan Mahaguru di Sukhavatiloka. ( Tepuk tangan hadirin )
 
Sesungguhnya Catur-prayoga hanya ditambahkan Sadhana Vajracitta. Tata Ritual Sadhana Vajracitta, sama dengan tata ritual sadhana tantra lengkap yang sedang saya ulas ini, hanya mudra, visualisasi dan mantra saja yang berbeda. Demikian pula dengan Sadhana Guru Yoga, dua sadhana itu sangat penting. 
 
Tahukah Anda bahwa Sadhana Vajracitta merupakan Mahasadhana Pertobatan juga merupakan Mahasadhana Kesunyataan, terlebih merupakan metode agung untuk menambal kealpaan dalam sadhana. Sedangkan Sadhana Guru Yoga merupakan pembuktian untuk terlahir di Buddha-ksetra, memohon Kekuatan Sarana, jika Anda telah beryukta dengan Guru, sudah pasti tidak akan luntur sradhanya, mengapa demikian ? Sebab Guru tidak akan luntur sradhanya, oleh karena itu kalian luntur sradha dikarenakan belum beryukta dengan Guru, ini sangat sederhana. Jika Anda telah beryukta dengan Mahaguru, bagaimana mungkin kalian luntur sradha ? Sebab saya sendiri tiada luntur sradha ! 
 
Saya beritahu Anda, sekalipun saya dimaki mati-matian, diserang mati-matian, saya tetap tidak akan luntur sradha, oleh karena itu jika sradha Anda luntur berarti sama sekali belum beryukta dengan Guru. Apabila Anda telah beryukta dengan Guru, mana mungkin sradha Anda luntur ? "Guru makan ubi, Anda juga makan ubi" ( dialek Taiwan ) , benar tidak ? Guru mencapai Kebuddhaan, kalian juga pasti mencapai Kebuddhaan ! Jika Anda beryukta dengan Guru, Mahaguru adalah Padma-prabha-svara Buddha ( Hua-guang Zi-zai Fo / 華光自在佛 ) , Apakah Anda telah Padma-prabha ? ( Sudah ), mungkin mata silinder ( hadirin tertawa ) apakah Anda telah merealisasi 'svara' ( keleluasaan tanpa rintangan )? Belum, sedikitpun tidak leluasa. Mengapa tidak leluasa ? Sebab begitu orang memaki, maka Anda langsung merasa tidak leluasa. Apakah malam hari Anda susah tidur ? Makan juga tidak enak ? 
 
Ada orang yang bertanya kepada Mahaguru Dhyana, dia bertanya apakah akhir-akhir ini Anda tekun ? Saya sangat tekun. Bagaimana Anda tekun ? "Makan dan tidur". Aduh ! Jadi makan dan tidur Anda bilang tekun ? Kalau demikian bukankah semua orang di dunia ini juga tekun ? Mereka semua juga makan dan tidur ! Benar tidak ? Heii ! Mahabhiksu Dhyana mengatakan : "Tidak sama ! Makan dan tidur saya tidaklah sama dengan orang lain. Mengapa tidak sama ? " Mahaguru Dhyana ini mengatakan saat dia makan, dia makan dengan baik, makan dengan enak, makan dengan semangat yang penuh, sepenuh hati tidak bercabang, makan dengan agung, jangan katakan apa keagungan dari kegiatan makan, Mahaguru sendiri makan tidak agung, adakalanya mangkuk diangkat dan kuahnya diminum habis. Tidak ada keagungan, sekalipun penampilan luar tidak agung, namun dalam hati sangat agung ( hadirin tertawa ) Saya makan dengan baik, tiap kali makan dapat menikmatinya, bahkan dijamin makan lahap, makan dengan tenang, makan dengan agung, ini merupakan usaha bhavana. Selain itu saya juga tidur dengan nyenyak, tidur dengan sangat baik, tidur saya berbeda dengan orang lain, begitu tidur sangat mendalam, tidak pernah mengalami insomnia, begitu berbaring langsung menjadi vajra, sangat kokoh ! Saya menekuni Sadhana Tidur Dalam Terang, tiap kali tidur bahkan memancarkan cahaya. Tidur dengan memancarkan cahaya merah yang melingkupi diri sendiri bagaikan sebuah kanopi, ini adalah usaha yang saya kerahkan ! Saya berubah menjadi vajra kokoh, mara tidak berani mendekat, tidur dengan nyenyak, pagi harinya bangun dengan penuh semangat, dalam tidur saya masih menekuni bhavana, dalam tidur bersadhana anasrava, ini tidak mudah ! Yang dilatih Mahaguru adalah Metode Kumara. Tentu saja dulu saya pernah menikah, lahirlah Fo-qing dan Fo-qi, Metode Kumara bagaimana ? Tentu saja dulu bukan perjaka. Namun saat ini , enam sampai tujuh tahun ini telah terlahir kembali sebagai perjaka ( hadirin tertawa ) apa itu terlahir kembali sebagai perjaka ? Kembali menjadi Kumara. 
 
Saya melatih dalam satu tarikan prana mampu menahannya, mampu menutup semua, menekuni anasrava, tubuh bercahaya, tidak hanya siang hari anasrava ( tidak bocor ), petang juga anasrava, Prajna anasrava, klesa anasrava, secara fisik juga anasrava, tidur di malam hari tetap menekuni bhavana, mampu mengendalikan mimpi sendiri, tidak akan disesatkan oleh mimpi. Sedangkan Anda bermimpi namun tidak menyadarinya, usaha bhavana tidak cukup, malam hari begitu masuk dalam mimpi, celaka ! Kekasih tiba ! Bagaimana ini ?! Saat itu kita hanya bisa menggunakan "titik titik...." Apakah maksudnya "titik titik...?" Seperti pada wayang potehi dikatakan : "Sangat panjang untuk dituturkan, lebih baik diungkapkan melalui suara tambur, dung dung dung, tiga kali." ( hadirin tertawa ),apa maksudnya tiga kali suara ? Maksudnya adalah "habis sudah" ( hadirin tertawa )
 
Bhavana di malam hari lebih penting daripada di siang hari, sebab begitu Anda memasuki mimpi langsung disesatkan, tidak menyadarinya, sangat mudah kehilangan intisari tubuh, prana dan kesadaran Anda, begitu bocor, semua usaha Anda sebelumnya telah habis. Begitu Anda bangun tidur , kepala pening, tenaga terkuras habis, bhavana macam apa ini ? Sudahlah ! Menjadi manusia awam lebih 'Easy' (mudah), menjadi orang suci sangat sukar. Siang hari adalah bhiksu yang suci, membabarkan sutra di hadapan banyak orang, namun di malam hari mengalami mimpi basah, bolehkah demikian ? Tidak boleh ! Oleh karena itu harus menekuni Sadhana Tidur Dalam Terang, menekuni Svapna-mahamudra, membuat simabandhana diri, ini semua hanya ada dalam Tantrayana , tidak ada dalam sutrayana. 
 
Oleh karena itu malam hari bisa tidur dengan baik, makan juga enak, berarti saya sedang tekun, benar tidak ? Pelatihan diri dalam Tantrayana, siang hari harus berlatih, malam hari juga harus berlatih, sehingga senantiasa dalam bhavana, kehidupan sehari-hari adalah bhavana, memperoleh keleluasaan Agung, tidak akan diganggu oleh mara, terhadap segala persoalan mampu lapang dada, mampu merelakan, leluasa , ini Ichiban ( nomor satu ) ! 
 
Sadhana Vajracitta dan Sadhana Guru Yoga dapat Anda temukan dalam pengulasan Mahaguru mengenai Tata Ritual Sadhana Tantra Lengkap dan Mendetail. 
 
Anda telah memahami Utpatti-krama, kali ini saya mengulas Tata Ritual Sadhana Amitabha Buddha sebagai contohnya, saya harap Anda dapat menggunakan satu contoh ini untuk yang lain juga, bagaimana dengan siswa yang baru bersarana ? Sama, harus mulai dari Catur-prayoga, terlebih dahulu menekuni Mahanamaskara, Catur-sarana, Mahapujana, Vajracitta Bodhisattva, Guru Yoga, kemudian baru Sadhana Yidam Yoga, setelah beryukta dengan yidam barulah ada jaminan Kebuddhaan, kemudian Anda menekuni Bhadra-kumbha-prana, kundalini dan bindu, menembus nadi sushumna, membuka lima cakra, Sadhana Vajra, Anuttarayoga Tantra, sampai Mahaparipurna. Apakah dengan demikian Anda telah paham ? 
 
Sekarang saya mengulas Sampanna-krama, apa itu ? Yaitu metode bhavana yang tertinggi, yang ditekuni oleh kelas doktor. Sebenarnya penekunan aliran dhyana sedang menekuni Sampanna-krama ini, bagi orang yang berbakat agung, ia mempunyai akar Prajna yang tajam, seketika dia mampu 'Mematahkan', kita orang awam tidak dapat 'Mematahkan', seperti Guru Leluhur dhyana, Bodhidharma, Beliau mampu 'Mematahkan'. Seperti Patriak ke 2 dhyana, Hui-ke, saat menjumpai Bodhidharma, Bodhidharma bertanya kepadanya, "Mengapa Anda kemari ?" Hui-ke menjawab : "Saya mencari ketenangan hati." Bodhidharma bertanya padanya : "Ambil hatimu , berikan padaku, Aku akan menenangkannya untukmu." Hui-ke menjawab : "Bagaimana mungkin saya bisa menekunan hatiku ? " , Bodhidharma menjawab : "Baiklah ! Saya telah memberikan ketenangan pada hatimu." Ini merupakan koan dhyana, Hui-ke ini sangat pandai, ia merupakan orang yang memiliki ketajaman pikiran, begitu mendengar ucapan Bodhidharma, "Saya telah memberikan ketenangan pada hatimu !" Dia yang pandai langsung Tercerahkan, dia memahami, langsung Mahaparipurna.
 
Hari ini saya mengisahkan koan ini kepada Anda, apakah Anda tercerahkan ? Asalkan saat Anda mendengar koan ini langsung memahami dan melebur di dalamnya, Anda langsung memahami apakah itu Buddha Dharma. Hanya dikuatirkan Anda tidak sanggup tercerahkan, sedangkan Patriak ke 2 Hui-ke begitu mendengar Bodhidharma langsung tercerahkan.
 
Saya ceritakan koan kedua, Bhiksu Dhyana De-shan, dia menulis "Pengulasan Vajracedhikka Sutra"di sana ia mengulas Vajracedhikka Sutra dengan sangat jelas, untuk menghancurkan mara dan Non-dharma, dia menyangka tulisannya sangat hebat, ia menyangka sudah memahami makna Vajrachedikka Sutra, menulis Penjelasan Vajrachedikka Sutra yang sangat tebal, ingin menggunakannya untuk menghancurkan mara dan Non-dharma.
 
Suatu ketika ia berjalan hingga sebuah toko makanan kecil, berjumpa dengan seorang ibu tua yang menanyainya : "Bhiksu, apa yang Anda panggul ?"
 
Bhiksu De-shan mengatakan : "Yang saya panggul adalah Vajrachedikka Sutra, saya memahami maknanya."
 
Ibu tua itu mengujinya, mengatakan : "Hari ini saya menjual makanan kecil, Anda Bhiksu De-shan, baik sekali, aku akan melontarkan satu pertanyaan, jika Anda dapat menjawabnya, maka makanan kecil ini gratis untuk Anda, namun jika Anda tidak dapat menjawabnya, silahkan pergi, jangan makan makanan kecil ini."
 
Ah ! Bhiksu De-shan mempersilahkan ibu itu bertanya, akhirnya ibu itu bertanya : "Dalam Vajrachedikka Sutra dikatakan : Batin lampau tak dapat diperoleh, batin saat ini tak dapat diperoleh, batin yang akan datang juga tak dapat diperoleh, mohon tanya, hari ini Anda menginginkan makanan kecil saya ini, batin apakah ini ?"
 
Bhiksu De-shan tidak sanggup menjawab, bukankah ketiga batin tak dapat diperoleh, jadi batin apakah yang memesan makanan kecil ibu itu ? Tidak sanggup menjawabnya dan merasa sangat malu. 
 
Saya beritahu Anda, Sampanna-krama ini merupakan metode langsung, langsung memutus, mematahkan. Sedangkan Utpatti-krama adalah metode bertahap, ditekuni tingkat demi tingkat, sampai akhirnya 'mematahkan', inilah Utpatti-krama. 
 
Dalam Tantrayana ada Sampanna-krama, Sampanna-krama adalah aliran dhyana ! Merupakan 'Tantra Tanpa Atribut', memberitahu semua untuk mematahkan, jika Anda sanggup mematahkan seketika, berarti mencapai Kebuddhaan. Jika tidak sanggup mematahkan seketika, maka tidak mencapai Kebuddhaan. 
 
Bodhidharma memberitahu Hui-ke : "Ambil hatimu, berikan kepada-Ku untuk ditenangkan."
 
Hui-ke menjawab : "Saya tidak dapat menemukan hati saya."
 
Ini tepat sekali, Anda memang tidak dapat menemukan hati Anda, langsung mematahkannya, benda apakah hati itu ? Satu kata : Acitta, acitta adalah Kebuddhaan. Jika masih ada citta berarti Anda tidak dapat mencapai Kebuddhaan. 
Ibu tua menanyai Bhiksu De-shan, tiga batin tak dapat diperoleh, yang memesan batin apa ? Jika Bhiksu De-shan menjawabnya, seharusnya menjawab 'Acitta' ! Sebab tiga batin tak dapat diperoleh. Anda memesan apa ? Anda menjawab 'Acitta'. Sekarang Anda sekalian menjawabnya, berarti telah mencapai Kebuddhaan ( hadirin tertawa )
 
Acitta sangat sederhana, sekarang kita sudah tahu jawabannya, namun tahukah Anda, apakah Anda benar-benar merealisasi acitta ? Dalam Sampanna-krama, trekcho dan togal , ini adalah bahasa Tibet. Togal dan terkcho adalah langsung mematahkan, kemudian leluasa. Apa yang leluasa ? Abhijna nan leluasa. Apakah itu abhijna nan leluasa ? Mahasvara ( Keleluasaan Agung ). Sampanna-krama hanya ada empat kata : 'Seketika Mematahkan','Leluasa','Togal','Trekcho'. Seketika mematahkan dan keleluasaan merupakan Mahaparipurna. 
 
Mahaprajna yang sejati, begitu mendengar 'Seketika Mematahkan'
Apa yang dipatahkan ? Semua klesa. Yang memiliki Mahaprajna, dalam seketika dari awam menjadi Suciwan, Anda mampu mematahkan semua kefanaan, 'Patah', dan menjadi Suciwan, hanya dikuatirkan Anda tidak mampu mematahkan, 'Akar telah terpecah dan terpisah namun serabutnya masih saling bertaut.'
 
Ada siswa yang mengatakan : "Mahaguru, saya telah mematahkan dalam seketika." 
 
Saya menjawab : "Baik sekali ! Wah ! Memiliki bakat agung !"
 
"Namun ibu saya masih sakit !" ( Tertawa ) 
 
Anda belum mematahkan ! Apa yang Anda patahkan ? Baiklah, Anda datang lagi dan mengatakan : "Mahaguru, saya telah berhasil mematahkan dalam seketika !" Sangat baik ! "Tapi kemarin saya dimarahi atasan sampai tidak dapat tidur." Padahal 'seketika mematahkan' mengajarkan kepada Anda untuk 'Tidak mengenakan sehelai benang-pun'. Lepaskan semua pakaian, menarilah, apakah di Amerika disebut Topless ? Dalam Bahasa Jepang adalah Xi-duo Li-bu ( hadirin tertawa ) saya bukan menyuruh Anda lihat topless, juga bukan meminta Anda untuk show tubuh Anda, bukan ! Saya meminta batin Anda telanjang, menampakkan terang, tiada sehelai noda-pun, sepenuhnya tiada rintangan.

Oleh karena itu dalam Tantrayana dibabarkan Buddha Dharmakaya, wah ! Buddha Dharmakaya, Beliau tidak mengenakan apapun. Sedangkan Sambhogakaya, Beliau mengenakan separuh, sama seperti Sakyamuni Buddha hanya mengenakan separuh, bahu kanan terbuka, yang mengenakan separuh adalah Buddha Sambhogakaya , mempunyai wujud. Sedangkan Buddha Nirmanakaya seperti Mahaguru, mengenakan pakaian lengkap, musim dingin masih ditambah dengan celana panjang dan stoking, sekujur tubuh dibuntal, inilah Buddha Nirmanakaya. 
 
Buddha Dharmakaya - Tidak mengenakan apapun, merepresentasikan sepenuhnya telanjang, sepenuhnya Acitta. Jika Anda mampu 'Seketika Mematahkan', seketika merealisasi Mahasvara. Menampilkan abhijna, keleluasaan agung, ini merupakan orang yang memiliki Mahaprajna, berbakat agung, yang ditekuni adalah Sampanna-krama.
 
Sesungguhnya, saat Anda mulai penekunan dari Utpatti-krama terus sampai Sampanna-krama, Anda juga dapat seketika mematahkan, Anda dapat alamiah leluasa. Dzogchen dari Guru Padmasambhava ada empat kata : Seketika Mematahkan, Alamiah Leluasa, hanya empat kata ini, Dzogchen. 
 
Mahaguru Marpa ke India belajar Mahamudra Ganga kepada Mahaguru Naropa. Ganga Mahamudra, Mahamudra dalam Kagyudpa disebut Bhutasthiti Mahamudra, ini masih Utpatti-krama, hanya Ganga Mahamudra, Dzogchen dan Aliran Dhyana yang merupakan ajaran langsung, yaitu Sampanna-krama.
 
Dalam Tantrayana dibagi menjadi Utpatti-krama dan Sampanna-krama, apakah dengan demikian semua telah paham ? Di antaranya saya juga mengulas Sadhana Vajracitta Bodhisattva dari Catur-prayoga , kemudian Sadhana Guru Yoga, dengan penjelasan ini, tentu Anda telah mengetahui tingkatan bhavana Utpatti-krama dan Sampanna-krama, seharusnya sudah sangat jelas. 
 
Kelak di Rainbow Villa, tunggu yang ini selesai diulas, barulah kita akan mengulas sadhana dalam, yaitu prana-nadi dan bindu. Setelah sadhana luar usai diulas, barulah mengulas sadhana dalam, bagaimana Mencapai Kehidupan Dalam Kehidupaan Saat Ini , setelah sadhana dalam diulas, dilanjutkan dengan 'Guhya', yaitu bagaimana menekuni Mahamudra Empat Abhiseka dan Anuttarayogatantra. Sampai Guhyatiguhya, yaitu mengulas yang lebih dalam : Dzogchen, kelak empat tingkatan ini akan diulas satu persatu di Rainbow Villa.
 
Namun sesungguhnya, dalam kehidupan Anda, asalkan beryukta dalam penekunan Sadhana Yidam, secara fondasi, sadhana luar telah beryukta, Anda telah dipastikan mencapai Kebuddhaan, lebih detail dan lebih terjamin dibandingkan dengan metode pelafalan Nama Buddha atau Kebuddhaan Melalui Penjemputan dalam sutrayana.
 
Mungkin semua mengira sudah usai sampai di sini, sesungguhnya besok masih ada, malam hari ini sebelum pulang, tinggalah dahulu, semua akan dianugerahi Abhiseka Sadhana Dewa Rejeki Lima Penjuru dan Sadhana Yidam, bagi yang ingin menerima abhiseka, maka malam hari ini silahkan ikut serta. Besok atau malam hari ini Anda sudah boleh pulang.
 
Besok, jika ada pertanyaan kalian boleh menanyakannya. Besok akan diberikan waktu untuk bertanya dan Abhiseka Dewa Rejeki Lima Penjuru, bagi yang malam hari ini belum pulang akan diberikan Abhiseka Dewa Rejeki Lima Penjuru dan Abhiseka Sadhana Yidam. Selain itu abhiseka apa lagi yang hendak kalian mohonkan ? Silahkan diungkapkan, tiba saatnya nanti akan dianugerahkan.
 
Kali ini, Dharmadesana hari kelima, kembali memberitahukan kepada semua, Dharmadesana empat hari sebelumnya yang dibabarkan adalah 'Tahap Awal' dan 'Tahap Inti', hari ini hendak mengulas 'Tahap Akhir', dengan demikian merupakan Sadhana Tantra yang lengkap, ada tahap awal, tahap inti dan tahap akhir. 
 
慶賀真佛宗根本傳承上師八十聖壽 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。