Bag 5. Pengundangan

Pengulasan Tata Ritual Sadhana Tantra Lengkap dan Mendetail 
 
Bag 5. Pengundangan
 
- Dharmadesana Dharmaraja Lian-sheng
- Rainbow Temple, 24 November 1992
 
Berikutnya adalah pengundangan, di dalamnya ada hal yang sangat penting. Di dalamnya ada kiat, ada perolehan, yaitu perolehan sadhana Mahaguru. Biasanya kita melakukan pengundangan dengan beranjali dan menjapa Mantra Pengundangan : "Om A Hum. Suoha" ( 3x ) Anda mengundang Para Adinata di altar tantra, juga Semua Adinata dan parivara, atau secara kolektif menyebut Sepuluh Penjuru Buddha dalam Tiga Masa, Para Bodhisattva Mahasattva, ini merupakan sebutan kolektif, mengundang semuanya. Kemudian yang pertama kali diundang adalah Namo Sakyamuni Buddha, Namo Sukhavatiloka Amitabha Buddha, dapat melakukan pengundangan berdasarkan Adinata Utama yang disemayamkan di altar tantra Anda.
 
Dalam sadhana tantra, ada mudra untuk pengundangan, saat kita bersadhana menjapa Mantra Pengundangan sambil beranjali, ada juga pengundangan dengan pikiran, yaitu saat Anda beranjali , Anda bervisualisasi cakra-anahata mekar menjadi padma, kemudian di atas padma terdapat cakra-candra, di tengahnya terdapat bijaksara yidam Anda, jika Yidam Anda adalah Amitabha Buddha maka bijaksara Hrih ada di atas cakra-candra Anda. Jadi saat ini Anda bervisualisasi cakra hati berubah menjadi padma, di tengah padma terdapat bijaksara Hrih, di tengah cakra-candra terdapat bijaksara Hrih, bijaksara ini memancarkan sinar tiga kali sesuai dengan warna dari yidam, jika yidam Anda adalah Amitabha Buddha maka warnanya adalah merah, memancarkan sinar merah tiga kali ke arah ubun-ubun, setelah menembus ubun-ubun terus menyinari sampai ke angkasa sebanyak tiga kali ; Inilah pengundangan melalui kekuatan pikiran.
 
Kita menjapa Mantra Pengundangan “Om A Hum. Suoha.” Tiga kali, saat menjapanya pikiran kita telah memekarkan Padma di cakra-anahata, di tengah Padma terdapat cakra-candra, di tengah cakra-candra terdapat bijaksara merah memancarkan cahaya tiga kali, inilah pengundangan dengan pikiran. Ada juga pengundangan dengan menggunakan mudra, saat bibir kita menjapa , itulah pengundangan dengan ucapan, yaitu mantra. Saat Anda melafal : Dengan setulus hati mengundang Namo Sukhavatiloka Amitabha Buddha, atau jika Adinata Utama Anda adalah Yaochijinmu : Dengan setulus hati mengundang Mahadewi Rsi Yaochi, ini sudah merupakan pengundangan.
 
Tiap kali saya makan selalu melakukan pengundangan, sesungguhnya pengundangan saya sangat sederhana, adakalanya saya tidak menjapa mantra tertentu, sebab jika setiap makan masih harus menjapa ‘Om A Hum Suoha” sangatlah merepotkan, Buddha Bodhisattva telah ada disekitar, maka Anda beranjali : “Mengundang semua untuk makan.” Pelafalan yang demikian sederhana, Beliau semua langsung mendengarnya, sebab tiap kali saya juga menepuk tangan : “Ah ! Anda sekalian telah terbangun, mari semuanya makan.” Hanya demikian, sangat sederhana. Begitu batin Anda terpancar, maka dengan mudah Beliau akan menangkapnya, sangat dekat, bahkan sangat biasa. 
 
Mengapa kita menjapa “Om A Hum Suoha” ? Sesungguhnya mantra ini paling agung, “Om A Hum” ini adalah Mantra Triaksara, merepresentasikan alam semesta. “Om” adalah alam semesta, “A” adalah Buddha, “Hum” adalah pencapaian keberhasilan. Buddha semesta, keberhasilan tercapai. “Suoha” adalah “Amin” ! Yaitu harapan hati tercapai. Apa yang Anda lakukan saat ini ? Yaitu hati berharap dapat mengundang Beliau, bukankah ini merupakan harapan ? Hati saya mempunyai harapan, yaitu saya berharap mencapai keberhasilan dari Buddha Bodhisattva semesta. Mengundang Beliau semua, dengan setulus hati mengundang. Mantra ini adalah mantra teragung untuk pengundangan, pada mulanya mantra ini adalah untuk mengundang Pancadhyani Buddha, saat Anda melakukan pengundangan menjapanya, tentu saja semua di bawah Pancadhyani Buddha akan mendengarkan mantra ini, semuanya akan hadir. Oleh karena itu inilah mengapa saya memilih “Om A Hum Suoha”, yaitu mengundang semua Adinata di alam semesta, ini merupakan mantra teragung. 
 
Pengundangan dengan pikiran juga sangat baik, Anda beranjali dan dalam hati cakra-anahata mekar menjadi Padma, di tengahnya terdapat cakra-candra, di cakra-candra terdapat aksara mantra, memancarkan cahaya tiga kali. Jika Anda dapat melakukan visualisasi demikian dan melakukannya dengan sangat jelas, maka Buddha Bodhisattva pasti akan hadir. Inilah Sadhana Tantra, yang terpenting dalam Sadhana Tantra, yaitu Padma, cakra-candra, aksara mantra dan memancarkan cahaya. 
 
Masih ada lagi pengundangan dengan mudra, belum pernah mengajarkannya pada Anda sekalian, dulu biasanya pengundangan dilakukan dengan beranjali, mengundang hanya dengan mantra, tidak menggunakan pikiran. Hari ini mengajari Anda semua, telah mengajari pengundangan dengan pikiran, masih ada lagi pengundangan dengan mudra, apa itu mudra ? Apakah beranjali adalah mudra ? Anjali juga bermakna harapan dalam hati, namun saat ini Anda merubah postur jemari tangan menjadi merangkap keluar dan membentuk kaitan, inilah Mudra Vajrankusa.
 
Jika Anda telah menjapa mantra namun Buddha Bodhisattva belum hadir, Anda telah menggunakan pikiran namun visualisasi masih belum jelas, mantra yang dijapa juga belum berhasil, singkat kata penjapaan mantra Anda belum demikian murni. Meski Anda telah menjapa Mantra Pembersihan, telah menjapa Mantra Pengundangan, namun akhirnya masih belum murni, pikiran yang dikerahkan juga tidak jelas, misalnya Padma di dalam cakra-anahata nampak miring. Sinar yang dipancarkan tidak melalui nadi tengah, malahan keluar melalui pori-pori, demikianlah visualisasi pemancaran sinar juga tidak boleh kurang, oleh karena itu tidak ada pilihan lain lagi lebih baik mengajari Anda menggunakan mudra, maka mudra yang digunakan untuk pengundangan adalah Mudra Vajrankusa. ( Mahaguru memperagakan Mudra Vajrankusa ) Berbentuk sebuah kaitan, yaitu mudra jemari saling merangkap diluar, kemudian jari telunjuk tangan kanan membentuk seperti kaitan, ini memerlukan visualisasi, tangan membentuk mudra menjapa “Namo Vajrankusa Bodhisattva Mahasattva” ( 3x ) Kaitan ini terus melesat ke angkasa, ke angkasa yang sangat tinggi, Anda perlu memvisualisasikan Yidam berada di atas awan di tengah angkasa, kemudian kaitan ini terus melesat ke angkasa mengait awan tersebut, kemudian ditarik ke bawah, maka Yidam akan turun ke bawah. Kaitan ini tidak mengait kerah jubah Buddha Bodhisattva, jangan sampai keliru. Hanya boleh mengait awannya, atau mengait Dharmasana-Nya. Dalam metode Tantra ada banyak hal yang sangat unik dan menakjubkan, seperti yang hari ini kita bahas juga supaya Anda mengetahui metode unik dan menakjubkan ini. Meskipun hanya sebuah tata ritual menggunakan pikiran, namun dapat berubah menjadi nyata. 
 
Anda mengundang : Namo vajrankusa Bodhisattva tiga kali, kemudian memvisualisasikan kaitan melesat ke tengah angkasa, mengait awan yang menopang Buddha Bodhisattva, menariknya ke bawah, ini merupakan sebuah kiat rahasia. Disinilah letak kiatnya. Anda masuk ke ruang altar dan melakukan pengundangan Buddha Bodhisattva. Semua menulis surat kepada saya : “Mahaguru, setiap hari saya bersadhana, apakah Buddha Bodhisattva hadir ?” Saya mengatakan : “Habis sudah . . tiap kali bersadhana Anda tidak mengetahui apakah Buddha Bodhisattva hadir atau tidak, ke arah mana Anda mengerahkan kekuatan pikiran Anda ?” Anda melakukan pengundangan pada Buddha Bodhisattva dan Para Adinata, maka Beliau akan hadir, bagaimana mungkin tidak hadir ? Kecuali Anda tidak cukup sepenuh hati, maka gunakanlah pengundangan dengan mantra, pikiran dan mudra. Pengundangan dengan mudra ini sangat unik dan menakjubkan, demikian pula dengan pengundangan menggunakan pikiran, hari ini saya memberitahukan semua kiat dan perolehan kepada Anda sekalian, dengan harapan 1,200,000 siswa dapat mencapai Kebuddhaan, bukan malah menekuni sadhana bertahun-tahun namun sama sekali tiada respon spiritual, ataupun makin lama makin malas bersadhana, merasa bahwa memasuki altar mandala selama setengah jam atau 40 menit hanya membuang-buang waktu belaka. Masuk ke ruang altar bagaikan masuk dalam bunker untuk menghindari serangan udara sejenak, lebih parah lagi adalah masuk ke dalam untuk tidur menghindari keramaian di luar. 
 
Bersadhana harus sungguh-sungguh, masuk ke dalam altar tantra sepenuhnya adalah melebur dengan semesta, untuk berhubungan dengan Buddha Bodhisattva, seperti yang kemarin kita bahas : Bernafas dengan lubang hidung yang sama. Nafas Buddha Bodhisattva adalah nafasku, nafasku adalah nafas Buddha Bodhisattva, bernafas dengan lubang hidung yang sama, dalam altar tantra aku dan Buddha manunggal, jangan sampai Anda telah bersadhana seharian penuh namun aku masih adalah aku, Buddha adalah Buddha, apakah Buddha hadir ? Tidak tahu, jika Anda tidak tahu, maka habislah sudah, pengulasan mengenai pengundangan hari ini sangatlah penting. 
 
Setelah kita menggunakan kaitan untuk mengait, tidak hanya menarik Nya turun, namun perlu juga membawa Beliau ke hadapan kita, tidak hanya ke hadapan, masih harus memasuki hati kita, tidak hanya memasuki hati, Anda masih harus berubah menjadi Dia, ini baru disebut Sadhana Tantra, baru disebut yukta. Saat Anda menekuni Sadhana Guruyoga atau Sadhana Yidam Yoga, Anda harus berubah menjadi Dia, bukan malah Buddha tetaplah Buddha yang terpisah dengan aku. 
  
Di dalamnya masih ada hal yang menakjubkan, hadir atau tidak hadir, Anda harus jelas . Jika yidam Anda adalah Avalokitesvara Bodhisattva, Beliau ada di atas awan di angkasa, Anda harus memperhatikan apakah jubah putihnya bergerak, Anda perhatikan sejenak, apakah mata-Nya berkedip, Anda juga perlu memperhatikan kaki-Nya sejenak, apakah awan-Nya terbang ke hadapan Anda, apakah kaki-Nya bergerak, ini merupakan kiat yang sangat penting. Anda menggunakan Vajrankusa untuk mengaitnya, kemudian dengan kekuatan pikiran memvisualisasikannya, visualisasikan jubah surgawi yang dikenakan bergerak, visualisasikan Beliau mengabhiseka Anda dengan amrta dari kalasa suci yang dibawa, visualisasikan kakinya terbang bergerak-gerak, visualisasikan mata Beliau menatap Anda, memperhatikan Anda, visualisasikan mahkota bahkan jubah surgawinya bergerak tertiup angin, inilah gerakan Bodhisattva, sebab dengan adanya gerakan ini, Beliau hadir, ini semua dapat menjadi kenyataan. 
 
Dulu saat bersadhana kita menjapa : “Om A Hum Suoha” tiga kali, beres sudah dan menggoyangkan gantha, tidak mengetahui betapa banyaknya hal menakjubkan di dalam mantra ini. Ada visualisasi , ada mudra da nada mantra, ada semua pengundangan yang lengkap. Sebuah kiat rahasia dalam Tantrayana, di saat darurat, sangat gawat, saat berhadapan dengan suatu persoalan, melakukan pengundangan darurat, langsung menjapa mantra, langsung bervisualisasi menggunakan pikiran, langsung menggunakan kaitan, langsung berharap Beliau bergerak hebat, semuanya ada, apakah masih tidak tahu hadir atau tidak ? Harus bersadhana sampai bagaimana ? Saat Anda mengundangnya, Beliau memberikan amrta kepada Anda, begitu cahaya putih menyinari Anda, Anda langsung merasakan aliran listrik, ada yang dirasakan, ada anubhava, anubhava semacam rasa yang diperoleh. Saat Anda telah menggunakan ketiganya, mantra telah saya japa, pikiran telah saya gunakan, mudra juga telah dibentuk, juga telah bervisualisasi Avalokitesvara Bodhisattva bergerak , jubah bergerak tertiup angin, mata-Nya menatap Anda, amrta digunakan-Nya untuk mengabhiseka Anda, semua telah Anda lakukan dengan lengkap, jika Anda benar-benar membuka hati, bersadhana dengan hati penuh ketulusan, Air Mahakaruna Dharani diteteskan oleh Nya kepada Anda, bagaikan teraliri oleh listrik. 
 
Anda jangan menirukan Mahaguru mengundang Buddha Bodhisattva atau seperti saat makan, mengundang dengan mudah, hanya melafal dan beranjali, silahkan Semua makan ! Amitabha Buddha silahkan makan, Avalokitesvara Bodhisattva silahkan makan, Mahastamaprapta Bodhisattva silahkan makan, Hei ! Sebab saya mengetahui kedatangan Beliau semua. Bukan hanya bicara sembarangan saja, bukan hanya berucap lalu tidak perduli lagi, saya makan saja. 
 
Adakalanya Beliau juga tidak hadir, mengapa adakalanya tidak hadir ? Sebab saya telah memakannya baru teringat untuk mengundang, adakalanya lauknya kelihatan enak, menu berdatangan, langsung menyumpit dan melahapnya, wah ! Baru teringat belum melakukan pengundangan, kemudian menepuk tangan mengundang Beliau, Yah ! Tidak datang. Merasa tidak enak hati, saat saya melihat Gurudara datang membawa satu piring lagi yang masih belum disentuh, saya mengambilnya, melakukan pengundangan dengan satu piring yang baru ini, Beliau pun hadir. Hadir atau tidaknya, diri sendiri yang tahu, jika saya tidak mengetahui Beliau hadir atau tidak, kemudian saya duduk disini mengatakan : “Saya tahu!” Berarti saya telah berdusta. Jika dalam sadhana sehari-hari, apakah Buddha Bodhisattva ada memberikan Anda abhiseka , saya menyatakan tahu, hari ini di hadapan Buddha Bodhisattva, jika saya mengatakan tahu, Buddha Bodhisattva duduk di belakang mengatakan : “Sesungguhnya Anda juga tidak tahu.”  Berarti saya berdusta. 
 
Anda bersadhana setiap hari, Anda tahu Anda berada di hadapan Buddha Bodhisattva, Beliau memberikan abhiseka kepada Anda, mengadhistana Anda, menyinari Anda, menjamah kepala Anda, menyucikan lahir batin Anda dengan Air Mahakaruna Dharani, seorang sadhaka sejati akan mengetahuinya, rasa semacam itu sangat kuat dan jelas, apakah maksudnya ? Yaitu sangat kuat, kokoh. Yang satunya adalah sangat jelas, bukannya seakan-akan ada dan seakan –akan tidak ada, apa yang sedang Anda pikirkan ? Sungguh, jika ada maka ada, jika tidak ada maka tidak ada, itu adalah semacam sentuhan, yang sangat jelas, bukannya sepertinya ada, sepertinya juga tidak ada. 
 
Hari ini merasa sadhana sangat baik, saya bertanya baik bagaimana, dia menjawab : “Tubuh terasa ringan.” Tentu saja Anda ringan, akhir-akhir ini pencernaan bermasalah, tidak makan, makin kurus, tentu saja tubuh ringan, “Merasa tenteram”, sangat tenteram, tentu saja tenteram, sebab Anda di dalam hanya tidur dan tidak memikirkan apapun. Bukan demikian ! Sama sekali bukan hal yang seperti itu, oleh karena itu pengundangan sangat penting, kiatnya ada pada pergerakan Buddha Bodhisattva, tangan dan kakinya bergerak sejenak, jemari kaki juga bergerak , jubah bergerak, mata berekspresi, Beliau hadir, disinilah poin utamanya.   
 
Saat sungguh darurat, dalam Tantrayana ditetapkan untuk menepuk paha kanan dan kiri, menepuk paha kanan sekali, menepuk paha kiri sekali, mengapa menepuk paha ? Sebab paha melambangkan pergerakan, menepuk paha Anda sendiri, berkontak dengan kehendak Buddha Bodhisattva untuk beraksi, ini juga merupakan kunci rahasia.
 
Ada satu lagi pendapat bahwa di kaki kanan dan kiri Anda terdapat 500 Daka dan 500 Dakini, dalam Tantrayana Daka Dakini beryukta dengan kaki kanan dan kiri dari sadhaka tantra, Anda menepuknya berarti mulai beraksi, maka Daka dan Dakini mulai beraksi, doakan kepada Beliau semua apapun persoalan Anda. Saat sungguh tidak berhasil mengundangnya, dikala darurat, menepuk paha kiri dan kanan, ini adalah satu perolehan juga merupakan satu kiat, namun di saat tidak dalam kondisi darurat, jangan menggunakan metode ini.
 
Biasanya kita mengundang hanya menggunakan pikiran, mantra dan mudra, kemudian memvisualisasikan jubah-Nya bergerak, Dharmayudham bergerak, mata bergerak, kaki bergerak adalah aktifitas, ini adalah kiat, perolehan dari praktek pengundangan, kiat utama pengundangan. Mengapa dulu saya tidak menuliskannya demikian mendetail di buku ? Mengapa tidak memberitahukannya dengan demikian mendetail ? Sebab jika saya menuliskan semua kiatnya, ada banyak siswa yang tidak mampu dalam seketika menerapkan demikian banyak hal, sebab hanya untuk sesi pengundangan saja ada siswa yang membutuhkan waktu setengah jam, benar tidak ? Masih sampai pada sesi ke dua, Anda sudah menggunakan banyak hal, namun sesungguhnya Anda sedang mendalami Sadhana Tantra, saya berharap setelah semua mulai mengenal baik, kemudian barulah memberitahukan hal-hal penting, kemudian mengulas satu persatu hal-hal penting tersebut, supaya semua dapat memahami dengan jelas, sebab jika tidak demikian, maka banyak orang yang saat melihat Sadhana tantra, memang akan terlihat sangat mendetail, namun akan merasa terlampau panjang, sehingga menyebabkan ia menjadi malas untuk mengerahkan usaha ini, akhirnya mundur di awal. 
 
Oleh karena itu saya membagi-bagi tiap tahapannya, seperti melafal Mantra Pembersihan, kemudian menjapa Mantra Pengundangan, mengulas dan menjelaskannya dengan lebih sederhana, tunggu sampai semua mampu mendalaminya, baru dapat menggunakan metode-metode ini, kemudian hal-hal mendetail ini kembali diperinci dan dibagi, kemudian dengan usaha dan pemahaman mendalam diri, menekuninya dengan baik dan tekun, secara bertahap memasuki pada yang utama.
 
Selain itu, saat semua telah menekuni dalam beberapa waktu, kemudian beru belajar beberapa kiat dan perolehan ini, maka barulah dapat memperdalam sadhana Anda, semuanya akan semakin mendalam, demikianlah melakukan pengundangan, apakah semua telah paham ? Sesi ini sangat penting.
 
Selain itu masih ada lagi satu Mantra Pengundangan, entah apakah Anda sekalian pernah menjapanya ? Sesungguhnya mantra Vajrasattva juga merupakan pengundangan. Barusan kita membahas bahwa “Om A Hum Suoha” adalah mengundang Pancadhyani Buddha. Dengan demikian semua di bawah Pancadhyani Buddha juga terundang, jika menggunakan Mantra Vajrasattva : “Om. Mahasamaya. Suoha” tiga kali, ini juga merupakan Mantra Pengundangan. Mengapa Mantra Vajrasattva dapat digunakan untuk pengundangan ? Anda tahu Buddha Asali, Ardharma Buddha disebut sebagai Vajradhara, Beliau ada di Bhumi Ke Enam Belas, biasanya aliran eksoterik hanya membahas sampai Dasabhumi, sedangkan Ardharma Buddha termasuk dalam Bhumi Ke Enam Belas, Pancadhyani Buddha disebut juga Panca Mahavajradhara, disebut juga Pancavajradhara, Vajrasattva adalah Vajradhara Ke Enam, merupakan manifestasi kolektif dari Panca Vajradhara, sehingga pengundangan Panca Mahavajradhara dengan Mantra Vajrasattva sangatlah agung, oleh karena itu Mantra Pengundangan juga dapat menggunakan seruan untuk Vajrasattva, dapat dilakukan pengundangan, ini semua ada asal muasalnya.  
 
Oleh karena itu terlebih dahulu kita harus mengenal Ardharma Buddha disebut sebagai Buddha Asali, dalam Bahasa Mandarin adalah Pu-xian-wang Rulai, dalam Vajrayana Beliau disebut Vajradhara, kemudian Pancadhyani Buddha adalah Panca Mahavajradhara, semua disebut sebagai Vajradhara, Vajradhara Ke Enam adalah Vajrasattva, kata Sa-duo atau Sattva sama dengan Bodhisattva, seperti halnya Avalokitesvara Bodhisattva, kita sebut Guan-yin Saduo, seperti Cundi Bodhisattva kita sebut Zun-ti Saduo, Padmasambhava Bodhisattva kita menyebutnya Lianhua-sheng Saduo. Vajrasattva adalah Guru Leluhur Vajrayana, sebab Nagarjuna Bodhisattva membuka Stupa Besi berjumpa dengan Vajrasattva, silsilah dimulai dari Vajrasattva, ditransmisikan kepada Nagarjuna Bodhisattva sebagai Guru Leluhur dunia manusia, Vajrasattva adalah Guru Leluhur Vajrayana, oleh karena itu Mantra Vajrasattva sangat baik untuk pengundangan. 
 
Usai melakukan pengundangan, maka kita dapat melanjutkan pada sesi ke tiga : “Mahanamaskara”
慶賀真佛宗根本傳承上師八十聖壽 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。