2017-10-15 Tidak Sama Juga Tidak Berbeda Adalah Konsep Jalan Tengah dari Nagarjuna Bodhisattva

undefined

Ceramah Lamdre ke-107 oleh Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada Upacara Homa Simhamukha Dakini, 15 Oktober 2017 di Rainbow Temple

Sembah puja pada Bhiksu Liaoming, sembah puja pada Guru Sakya Zhengkong, sembah puja pada Gyalwa Karmapa ke-16, sembah puja pada Guru Thubten Dhargye, sembah puja pada Triratna Mandala, sembah puja pada Adhinatha homa hari ini: "Senge Dongma, Asongma, dan Rahula."

Gurudara, para Acarya, Dharmacarya, Bhiksulama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat Sedharma, dan umat Sedharma yang menyaksikan melalui internet. Tamu agung kita hari ini, akuntan TBF, sdri. Teresa dan suami, Produser acara ‘Gei-ni dian-shang xin-deng’ di CTI Sdri. Xu Ya-qi. Penasihat Komunitas Emigran dari Taiwan , sdri. Xie Mingfang dan suami. Penasihat Komunitas Emigran dari Taiwan bpk. Mai Xianhui (Sifu Mak Fai). Sdri. Chen anggota Tim Tari Pujana Yangguang.

Terlebih dahulu memberitahu Anda semua, minggu depan, 22 Oktober, pukul 3 sore adalah Upacara Homa Vajrakila atau ‘Jilijilaya’, mudra dari Vajrakila adalah jari tengah tegak lurus, boleh merangkap ke luar, boleh juga merangkap ke dalam, jari tengah tegak lurus, sangat lurus (Mahaguru memperagakan), inilah mudra dari Vajrakila, sedangkan Mudra Yamantaka jari tengah agak ditekuk, jari tengah saling silang adalah Mudra Raga Vidyaraja, jari tengah tepisah adalah Mudra Ksitigarbha Bodhisattva atau Vajradamstra. Bijaksaranya adalah aksara ‘Hum’ berwarna biru, mantranya adalah: “Om. Biezha. Jilijilaya. Saerwa. Biganian. Bang. Hum Pei.” Mantra pendek: “Om. Puba. Duojie. Hum Pei.” Dan “Om. Puba. Duojie. Hum.” Memberitahu Anda semua, minggu depan adalah homa dari Vajrakila.

undefined

Hari ini yang kita lakukan adalah homa dari Simhamukha Dakini, homa kali ini menghasilkan Dharmabala yang sangat kuat. Asal-usul Simhamukha Dakini adalah Prajnapramita Bhagavati, dari Dorje Phagmo atau Vajravarahi, ketiganya merupakan kepala dari para Dakini. Vajravarahi memiliki kekuatan untuk menaklukkan, Simhamukha Dakini juga memiliki Dharmabala abhicaruka yang dahsyat, ‘super power’, merupakan Adhinatha yang memiliki Dharmabala sangat kuat. Kenapa kepala singa digunakan sebagai representasi, sebab singa adalah raja dari semua binatang, tidak ada yang dapat menandingi singa. 

Di sini ada sebuah lelucon, anjing bertanding dengan anjing, untuk membuktikan siapa yang paling kuat, akhirnya ada seekor anjing yang terus menang, sanggup mengalahkan semuanya dan tiada tandingannya. Suatu hari, ia melihat seekor anjing yang telah rontok bulunya sedang berbaring di bawah atap, nampak sangat malas. Saat raja anjing melewatinya, ia juga tidak berdiri untuk menghormati raja anjing, “Kenapa engkau tidak menghormati aku? Malah terus bermalasan, sungguh tidak sopan!” Raja anjing pun menantangnya. Anjing yang rontok bulunya sangat malas, ia sedikit berbalik, Raja anjing mengatakan “Ah? Engkau ingin berkelahi denganku?” Anjing yang sudah tidak berbulu itu mengatakan: “Baiklah! Terserah kamu!” Keduanya pun berkelahi, tidak berapa lama kemudian, raja anjing pun kalah, raja anjing sangat ketakutan, “Belum pernah ada yang bisa mengalahkan aku, tapi kenapa seekor anjing yang sudah tidak berbulu bisa demikian kuat?” Anjing itu menjawab: “Sebelum buluku rontok semua, orang menyebut aku: Singa!” Singa sangat kuat, ia adalah raja hutan, kekuatannya luar biasa.

◎ Oleh karena itu Simhamukha Dakini merepresentasikan bahwa di antara semua Dakini, Beliau memiliki kekuatan yang paling dahsyat. Kadang Dakini muncul seorang diri, hari ini muncul bertiga, Tiga Dharmapala utama Nyingmapa datang bersama, yaitu Senge Dongma atau Simhamukha Dakini, Asongma atau Ekajati Bhagavati, dan Rahula, Tiga Dharmapala Utama Nyingmapa hadir bersama. Upacara hari ini diliputi Dharmabala yang sangat kuat. Dalam radius 50 mil, semua roh jahat mesti pergi, lokasi menjadi bersih dari roh jahat.

◎ Adhinatha ini mempunyai 2 metode yang sangat penting, ulu hati Beliau dapat memancarkan sinar berwarna biru yang merupakan aksara mantra-Nya, mantra-Nya dapat memancarkan sinar biru, sinar biru ini sangat tajam, dan terus berputar ke arah luar. Pada malam hari tanggal 3 Oktober 2016, bala tentara roh jahat menyerbu kediaman saya, saya telah melakukan simabandhana, di keempat penjuru ada Acalanatha Vidyaraja (Mahaguru memperagakan), “Namo Sanmanduo. Mutuonan. Warila. Lan. Han.” Muncul Acalanatha Vidyaraja, tangan memegang ratnakhadga (pedang mestika), sepasang mata krodha, taring atas mencuat ke bawah, taring bawah mencuat ke atas, “Namo Sanmanduo. Mutuonan. Warila. Lan. Han.” Demikianlah saya melakukan simabandhana, di keempat sisi dilindungi oleh Acalanatha Vidyaraja. Kemudian, saya lakukan simabandhana Mahabala Vajra, “Om. Mahabalaya. Hum Hum Pei. Om. Mahabalaya. Hum Hum Pei. Om. Mahabalaya. Hum Hum Pei. Om. Mahabalaya. Hum Hum Pei.” Seluruh atap dipenuhi dengan Mahabala Vajra Dharmapala yang agung. Malam hari itu, ribuan bala tentara menyerbu. Kemudian muncul rangkaian akasara mantra berwarna biru yang terbang berputar ke arah luar, tiap kali berputar sekali di atas kepala, kepala pun langsung terpenggal, terus menyapu ribuan bala tentara hingga tidak berkepala, ini terjadi pada malam hari tanggal 3 Oktober 2016.

Sebabnya adalah, XX mengatakan: “Pergilah! Bereskan Lu Shengyan!” Akhirnya, tidak berhasil, semua bala tentaranya malah habis. Jala sinar biru ini adalah pisau yang sangat tipis, terus berputar, semua terbang keluar, kres kres, kepala semua hantu pun terpenggal, semua putus. Ada beberapa hantu yang segera melarikan diri, mereka lari untuk melapor! Semenjak saat itu, para hantu dalam puluhan ribu laskar Pasukan XX tidak ada satu pun yang berani mencari Mahaguru. Saya berseru kepada mereka: “Jika berani jangan kabur! Kalian jangan mencari siswa saya yang baik, cari saja Guru Lu!” Kenapa mereka tidak punya nyali untuk mencari saya? Sebab Dharmapala Mahaguru terlampau kuat, memancarkan jala sinar setajam pedang, sehamparan jala sinar biru, semua adalah pisau tajam yang berputar-putar, begitu mengenai kepala langsung terpenggal, semua yang tidak sempat melarikan diri pun habis. Inilah yang pertama, pada ulu hati Simhamukha Dakini terdapat jala sinar biru laksana pisau tajam, asalkan menjapa Mantra-Nya, begitu jala sinar keluar, semua roh jahat akan melarikan diri sampai tak bersisa, Beliau memiliki kemampuan semcam ini. 

Beliau mempunyai satu lagi Dharmayudham, Dharmayudham ini tidak nampak secara lahiriah, Beliau punya khatvanga, punya kapala, dan kartika, akan tetapi ada satu Dharmayudham yang tidak nampak, Dharmayudham ini adalah sepasang telinga singa, yaitu simbal. Apa itu simbal? Dalam sebuah orkes ada alat musik yang berbunyi “Qiang! Qiang! Qiang!”, saat hantu menghampiri, “Qiang!” Ia akan menjadi pastel daging! Apabila pemimpin roh jahat berani datang, seperti Kobayashi yang tidak berguna! Ninja apa an, apa artinya beberapa shuriken? Sekali “Qiang!”, telinga langsung tuli, sekali “Qiang!”, Nakamura Hajimu apa an, sekali “Qiang!”, Watanabe Ichiro, sekali “Qiang!”, Huang Jinquan, sekali “Qiang!”, Lin Liangzhi, kelima kepala pasukan hantu ini menjadi pastel daging, “Qiang! Qiang! Qiang! Qiang! Qiang!” kelima kepala pasukan hantu ini tidak ada apa-apanya, jika punya nyali cari saya saja, jangan cari siswa saya yang baik. Ingin membereskan Lu Shengyan, tapi Anda tidak berhasil, Zhenfo Zong masih baik-baik saja. Ada 2 metode Simhamukha Dakini yang sangat hebat, yang satu adalah menggunakan simbal “Qiang!”, kepala pasukan hantu pun tewas menjadi pastel daging. Selain itu, jala sinar biru aksara mantra, terbang keluar ibarat pisau berputar, kepala pun terpenggal. Apa artinya Pasukan XX? Mesti mengubah namanya menjadi “Pasukan Burung Kecil”, Anda adalah ‘potato’, tapi ‘potato’ masih termasuk besar, Anda adalah ‘peanuts’ ‘baby’, Pasukan XX adalah ‘peanuts’ dari ‘baby’, menelan Anda sekali lahap, saya beritahu Anda. Dengan memelihara hantu Anda pun merasa menjadi ketua, merasa luar biasa, padahal tidak ada apa-apanya, ia tidak tahu bahwa Mahaguru adalah sesepuh penangkap hantu! Benar-benar tidak ingin berurusan dengannya, terus terang, apa artinya berurusan dengan hantu-hantu itu? Akan tetapi, mereka menindas siswa kita! Membuat mereka tidak bisa tidur, dan beberapa hari ini ada beberapa yang lebih parah.

undefined

◎ Orang yang bercerita pada saat santap siang tadi tinggal di New Jersey, siapa namanya? Bermarga Li, tidak perlu ungkapkan namanya, ia adalah sukarelawan di tempat XX, setelah kesambet, bagaimana pemikiran dia? Hantu berbisik di samping telinganya: “Belilah senapan, dan bunuh semua orang yang kamu jumpai!” Bukankah ini menindas insan? Anda tahu, di Las Vegas ada peristiwa yang mirip dengan ini, dan saya masih terus memeriksa! Apakah itu ulah hantu XX? Orang yang bermarga Li dari New Jersey, saat saya melayani konsultasi, ia berdiri di samping dan memberitahu saya: “Mahaguru, saya beritahu Anda, saya telah kesambet, dan muncul sebuah pemikiran, hantu berbisik di samping telinga saya: Belilah senapan, dan tembak setiap orang yang kamu jumpai.” 

Ia menekan pemikiran tersebut, dan bervisualisasi Mahaguru menetap di puncak kepala, menjapa Mantra Hati Mahaguru, dan menyingkirkan semua pemikiran tersebut. Lihatlah, betapa parahnya hantu XX, sekarang mereka sudah tidak peduli dengan hukum dan moralitas, dan Anda (XX) masih saja memeliharanya? Benar-benar… Mau tidak mau saya mesti melayani Anda, penindasan yang Anda lakukan tidak bisa ditoleransi lagi!

Saya adalah sadhaka tiada persoalan. Anda bertindak seperti ini, mencelakai banyak insan, sampai mereka tidak bisa tidur, mengalami gangguan, muncul keinginan untuk mati, semua memberitahu saya bahwa hantu berbisik kepada mereka: “Matilah kau!” Ada beberapa yang loncat dari gedung, ada beberapa yang bunuh diri, sudah sampai dalam taraf seperti ini, dan Anda masih saja memelihara hantu itu? Bahkan mengatakan bahwa Pasukan XX telah menjadi dewa jenderal. Lebih lanjut lagi, mengatakan bahwa Pasukan XX merupakan tumpuan untuk memasuki Mahapadmini di Sukhavatiloka, lebih lanjut lagi mengatakan bahwa alam Pasukan XX sama dengan Alam Suci Mahapadminiloka, semua Anda yang mengucapkan. Bolehkah demikian? Tidak boleh! Saya beritahu Anda, XX bahkan mengatakan, semua orang yang datang mohon purifikasi di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple adalah siswa pengkhianat. Hah? Semua yang datang mohon purifikasi dari Mulacarya di Seattle sini adalah siswa pengkhianat? Mereka mohon purifikasi karena tercemar oleh Anda, dan datang kemari mohon adhisthana dari Mahaguru, supaya mereka menjadi bersih kembali, supaya pencemaran dari Anda tersingkirkan, ini disebut purifikasi. Semua yang datang mohon purifikasi dari Mahaguru adalah pengkhianat? Berarti Anda ingin supaya mereka menjadi hantu!? Coba pikir! Saya sungguh bingung, sebenarnya yang pengkhianat adalah Anda atau saya? Mendadak saya kehilangan arah, hah? Apakah saya adalah siswa dari XX? Sebenarnya, apakah saya yang bersarana kepadanya? Atau dia yang bersarana kepada saya? Siapa siswa pengkhianat? Untung saja kalian mengingatkan saya. Sungguh! Saya sudah bingung total, ia melontarkan ucapan semacam itu? Ucapan macam apa itu? Apakah lukisan antik dari Tang Bohu? Mengatakan bahwa semua yang datang mohon purifikasi adalah siswa pengkhianat, sungguh keterlaluan. Ia bahkan mengatakan, Lianhua Chunfei mencuci otak Mahaguru. Sdri. Chunfei, kapan Anda mencuci kepala saya? Anda juga bukan tukang gunting rambut. Juga tidak menggunakan air untuk mencuci kepala saya, kapan Anda mencuci otak saya? Ia mengatakan bahwa Anda mencuci otak saya. Baiklah! Tidak usah dibahas lagi.

Simhamukha Dakini kita ini sungguh luar biasa! Lihatlah mantranya, barusan mantranya sangat nyaring, sebenarnya tidak boleh! “A Jia Sa Ma. La Za Sha Da. La Sa Ma La Ya. Pei.” Mesti dijapa dalam hati, tidak boleh lantang, sebab jika dijapa dengan lantang, Raja Naga akan terkejut, akan menciutkan nyali Raja Naga. Mantra Simhamukha Dakini tidak boleh dijapa di pantai, ini ada aturannya, sebab bisa mengejutkan bangsa naga, mereka bahkan bisa tewas terbalik, sebab kekuatan-Nya sangat besar. Oleh karena itu tidak boleh dijapa di pantai. Pada umumnya, mantra ini hanya boleh dijapa dalam hati. Beliau punya mantra pembalik yang juga sangat hebat, kelak kalian bisa japa mantra ini, Mantra Pembalik. Apabila XX menitahkan Pasukan XX untuk membereskan Bhiksuni Lianzi (蓮茲法師) akuntan di Seattle, apa yang mesti dilakukan oleh Bhiksuni Lianzi? XX bisa berulah di tengah malam, Anda mesti segera japa Mantra Pembalik, sehingga dia sendiri yang akan tamat. Hari yang tersisa sudah tidak banyak! Waktu yang tersisa tidak lama lagi, Anda mesti segera merenung! Saya beritahu Anda, waktu Anda (XX) tidak lama lagi!

◎ Pada umumnya, Mantra Simhamukha Dakini cukup dijapa dalam hati, atau dijapa dengan suara lirih, tidak perlu nyaring, jika senyaring itu, dalam radius 50 mil, semua roh jahat akan melarikan diri, semua akan sirna. Barusan suaranya terlalu kencang. Guru Sesepuh kita, Padmasambhava pernah beradu ilmu dengan 500 kaum tirthika di sebuah hutan di India Utara, 500 tirthika ini adalah juru mantra, semua bisa menjapa mantra. Kemudian Simhamukha Dakini menampakkan diri, dan mentransmisikan Mantra Pembalik yang paling dahsyat kepada Guru Padmasambhava, oleh karena itu Simhamukha Dakini adalah Guru dari Padmasambhava, sekaligus merupakan Dharmapala dan Istadevata Beliau, inilah sebabnya, karena Simhamukha Dakini muncul untuk membantu Guru Padmasambhava, Beliau punya Mantra Pembalik yang paling dahsyat. 

◎ Kemarin telah saya ceritakan, XX bahkan mengatakan, Mahadewi Yaochi di vihara cikal bakal telah pergi sejak lama. Tidak apa, jika Mahadewi Yaochi di vihara cikal bakal telah pergi, kita masih punya Mahadewi Yaochi di Rainbow Vila, masih ada Mahadewi Yaochi di Taman Arama Zhenfo, masih ada Mahadewi Yaochi di Arama Nanshan, masih ada Mahadewi Yaochi di aula homa, di depan juga ada Mahadewi Yaochi, Mahadewi Yaochi kita ada sangat banyak, tidak hanya satu Mahadewi Yaochi di vihara cikal bakal, Mahadewi Yaochi di vihara cikal bakal ini paling kuat respon spiritualnya dan paling berwibawa, Mahadewi Yaochi yang agung dan mulia. Ucapan Anda tidak dianggap sah, ucapan saya yang dianggap sah. Sederhana bukan!? (Mahaguru mengundang Mahadewi Yaochi), bukankah dengan demikian Beliau telah hadir? Ucapan saya dianggap sah. Beliau jelas-jelas ada di hadapan saya! Mana mungkin menyatakan bahwa sudah pergi sejak lama? Anda masih saja omong kosong! Tidak mau bicarakan Anda lagi. 

Saya juga ingin memberitahu XX satu hal, Mahadewi Yaochi pernah hadir di Hualian Taiwan, kuil pusatnya adalah Cihuitang. Rupang Mahadewi Yaochi di kuil pusat Cihuitang diadhisthana oleh saya! Hari itu, siapa saja yang pergi bersama ke kuil pusat Mahadewi Yaochi? Apakah mereka ada di sini? Lianzi (蓮紫) juga ikut? Biyan (璧燕) juga? Saat saya mengadhisthana rupang Mahadewi Yaochi, apakah kalian ada? Ada! Rupang Mahadewi Yaochi di Cihuitang pusat diadhisthana oleh Guru Lu! Memberitahu Anda dengan jelas, Beliau turun dan hadir di sana. Sebelah sini adalah Cihuitang Pusat, sebelah sini adalah Wangmu Niangniang (Maharani Barat) di kuil Sheng-an-gong, keduanya sama saja, Wangmu dan Jinmu sama saja, karena Beliau tergolong arah barat, maka disebut sebagai Jinmu. Sebenarnya Beliau adalah Wangmu.

undefined

◎  Kita lanjutkan pengulasan Lamdre, “Bergantung pada tempat dan bergantung pada Dharma. Apabila bergantung pada garbha, bergantung pada Dharma apa? Ibarat bunga dengan wangi bunga satu substansi tiada berbeda.” Saya beritahu Anda, Lamdre menggunakan bunga dengan wangi bunga sebagai perumpamaan, apakah bunga dan wangi bunga bisa dipisahkan? Tidak terpisahkan.

Tanpa bunga, tidak akan ada wangi bunga, dengan adanya bunga, barulah ada wangi bunga, keduanya bersama, ‘Tiada berbeda’, “Tidak sama juga tidak berbeda”, keduanya adalah hal yang berbeda, tentu saja wangi bunga dan bunga adalah berbeda, ini adalah “Tidak sama”, “Tidak berbeda”, dengan kata lain, keduanya sama, tanpa bunga mana mungkin ada wangi bunga? Keberadaan wangi bunga tidak bisa tanpa bunga! Ini disebut “Tidak berbeda”, “Tidak sama”, ini adalah Madhyamika yang dibabarkan oleh Nagarjuna Bodhisattva.

Saya beritahu Anda semua, pembabaran berdasarkan Madhyamika dari Nagarjuna Bodhisattva adalah Buddhadharma Mahayana. (Mahaguru mengetuk ghanta menggunakan vajra), apa ini? Ghanta, substansinya adalah logam, dibentuk menjadi ghanta, dan fungsinya adalah “Teng!” ketiganya ini, “Tidak sama, dan tidak berbeda.”, tidak sama, apakah menurut Anda logam adalah ghanta? Keliru! Apakah logam adalah vajra? Tidak benar. Ia bisa menghasilkan suara, inilah fungsinya, ini disebut: “Substansi, karakteristik, dan fungsi”, substansinya adalah logam, karakteristiknya adalah ghanta, fungsinya adalah menghasilkan suara. Demikian pula dengan belajar Buddha, tubuh ini adalah substansi, benih di dalamnya adalah Buddhata, dengan tubuh jasmani ini, Anda bersadhana dan menghasilkan sinar, ini adalah: “Tidak sama dan tidak berbeda”, “Tidak sama dan tidak berbeda” adalah Madhyamika, saya beritahu Anda semua, demikianlah Madhyamika dari Nagarjuna Bodhisattva. Apakah dengan demikian sudah paham? Oleh karena itu dikatakan: “Bergantung pada tempat dan bergantung pada Dharma”, apa yang dimaksud dengan “Tempat”? Yaitu tubuh Anda. Karena tubuh Anda telah menekuni sadhana, bergantung pada Dharma, barulah Anda dapat mencapai Bodhi, mengandalkan tubuh Anda untuk mencapai Bodhi.

◎ “Fungsi dalam tempat saling berkaitan,  vasana yang terkumpul dari hati guhya, semua matang dalam diri, setelah matang dalam diri, muncul proyeksi lingkungan luar, dan lagi, segala sesuatu dari lingkungan berasal dari dalam diri sendiri, ada dalam diri sendiri, menyimpan hati guhya.”, memberitahu Anda semua, yang barusan saya tampilkan, substansinya adalah logam, karakteristik lahiriahnya adalah ghanta, fungsinya adalah “Teng!” menghasilkan suara, inilah makna dari kalimat: “Fungsi dalam tempat saling berkaitan.” Buddhata dalam diri Anda telah tercemar menjadi vasana (impresi karma), vasana matang dalam diri Anda, setelah hati Anda matang, muncul pengaruh lagi dari lingkungan luar. “Dan lagi, segala sesuatu dari lingkungan berasal dari dalam diri sendiri.” Sesungguhnya, semua kondisi lingkungan luar merupakan perwujudan dari hati Anda sendiri, dan dalam diri Anda tersimpan Buddhata. Diungkapkan sebanyak apa pun, semua tidak akan paham. Melalui pengulasan saya ini, kalian bisa memahaminya. (Mahaguru mengangkat ghanta), substansinya adalah logam, Buddhata adalah logam, dan karakteristik lahiriah yang terbentuk adalah seorang manusia, fungsinya adalah suara “Teng!”, inilah fungsinya! Apabila sesuatu yang tidak baik mencemarinya, tentu saja tubuh Anda juga tercemar, Buddhata juga tercemar, fungsinya “Teng!” juga tercemar, penjelasan demikian tentu sudah paling jelas!

Kita persilakan XX untuk mengulas Lamdre, belajar Buddha mesti belajar dalam waktu yang lama, dan butuh pengulasan lisan dari Guru, barulah Anda bisa memahaminya. Jika seharian penuh hanya bicara dengan burung dan anjing, apa manfaatnya? Apa artinya bicara dengan kucing? Apa artinya bicara dengan kura-kura? Apakah itu Buddhadharma? Ucapan anjing, kucing, semua itu bukan Buddhadharma! Saya beritahu Anda, apakah bicara dengan binatang adalah suatu yang luar biasa? Bukan Buddhadharma! Itu disebut pamer! “Memamerkan keanehan untuk memperdaya insan”! Sekalipun Anda benar-benar bicara dengan binatang, tetap saja itu disebut “Memamerkan keanehan untuk memperdaya insan”! Jika Shakyamuni Buddha datang, Beliau akan mengetuk kepala Anda: “Untuk apa mempelajari hal semacam itu? Apakah bisa mengantarkan Anda pada Kebuddhaan?” Sungguh, omong kosong!

◎ “Jika ditanyakan apa yang menjadikan kesinambungan hetu (sebab)? Jawab: Apabila garbha ini tidak berjumpa dengan afinitas Dharma upaya kausalya yang sangat unggul, maka ia akan menjadi hetu dari samsara; Apabila berjumpa dengan afinitas Dharma upaya kausalya yang unggul, maka ia akan menjadi hetu dari pembebasan dari duhkha (Nirvana).” Jika Anda tidak berjumpa dengan Buddhadharma, berarti itulah penyebab dari samsara, tapi jika Anda berjumpa dengan Buddhadharma, itulah faktor penyebab dari pembebasan dari penderitaan atau Nirvana, demikianlah perbedaanya. 

Dua orang manula di sebuah panti wreda menjalin kasih, sudah bertahun-tahun lamanya mereka telah saling kenal, suatu hari, pak tua memberanikan diri menanyai ibu tua: “Apakah kamu bersedia menikah denganku?” Si ibu tua berpikir sejenak, dan menjawab: “Aku bersedia.” Keesokan harinya, pak tua sudah lupa bagaimana jawaban ibu tua, akhirnya ia meneleponnya. Setelah ibu tua itu berpikir, ia menjawab: “Saya mengatakan saya bersedia.” Mendengarnya, pak tua sangat gembira, tapi tak disangka, ibu tua melanjutkan: “Untung kamu menelepon saya, jika tidak, aku tidak akan ingat siapa yang melamarku.” Ini namanya pikun, keduanya sudah pikun, sungguh. Suatu hari, Mahaguru juga sudah pikun, Gurudara juga pikun, kelak bagaimana? Yang penting, saya keluar dan tidak kembali, saat itu saya pergi ke mana? Saya bertamasya ke seluruh penjuru dunia. Suatu hari nanti, saat kembali, Gurudara mengatakan: “Siapa Anda?” Amituofo! Sudah pikun! Suatu ketika, Kaisar Qianlong memerintahkan Ji Xiaolan untuk terjun ke sungai, Ji Xiaolan mengatakan: “Jika baginda ingin saya mati, maka mau tidak mau saya harus mati!” maka ia pun melompati pagar. Tapi, mendadak ia memanjat lagi, Qianlong menanyainya: “Kenapa kamu tidak terjun ke sungai?” Ji Xiaolan mengatakan bahwa ia telah bertemu dengan Qi Yuan, Qi Yuan memberitahunya bahwa dahulu ia terjun ke sungai karena tidak ada kaisar yang bijak. Qi Yuan menanyai Ji Xiaolan: “Apakah kamu sedang menghadapi seorang kaisar yang tidak bijak?” Oleh karena itulah, setelah Ji Xiaolan berpikir, ia memanjat kembali. Orang ini sangat pandai, Ji Xiaolan sangat pandai. Saya pernah membaca buku Ji Xiaolan. Ji Xiaolan pernah tulis buku apa? Yang pernah baca bukunya silakan angkat tangan. Saya pernah baca bukunya “Yuewei Caotang Biji.” Ji Xiaolan yang menulisnya. Kalian tidak pernah baca buku yang dibaca oleh Mahaguru, Mahaguru benar-benar telah baca banyak buku, saya juga telah membaca banyak pustaka Buddhis , saya telah membaca keseluruhan Mahapitaka. Coba tanya XX, apakah ia telah membaca Mahapitaka? Coba tanya, pasti anjing yang mengajarinya, celaka! 

Ada 3 orang yang membeli sarapan di kedai sarapan, orang yang pertama memesan telur mata sapi tanpa kuning telur, pemilik kedai pun menggoreng sesuai pesanan. Yang kedua juga memesan telur mata sapi, tapi tanpa putih telur, pemilik kedai juga menggorengnya, akan tetapi, ia mulai merasa jengkel. Giliran yang ketiga, dengan jengkel pemilik kedai langsung menanyainya: “Bagaimana dengan Anda? Telur Anda tidak mau apa?” Dengan takut-takut, ia menjawab: “Telur saya tidak pakai cangkang.” Sungguh menarik, kuning telur, putih telur, dan cangkang, tidak sama! Anda mengerti ‘tidak sama’? Ketiganya adalah sesuatu yang berbeda, putih telur, cangkang telur, dan kuning telur, tentu saja merupakan suatu yang tidak sama, tapi juga tidak berbeda. Sebenarnya saling terhubung, inilah konsep Jalan Tengah dari Nagarjuna Bodhisattva, putih telur, cangkang telur, dan kuning telur tidak sama, bukan benda yang sama, tidak berbeda, juga bukan merupakan sesuatu yang berbeda. Nagarjuna Bodhisattva sungguh luar biasa, Beliau dapat mengetahui konsep Jalan Tengah. Sastra karya Beliau sudah sangat luar biasa, kemudian Mahanaga Bodhisattva (Raja Naga) membawanya ke sebuah tempat, yaitu tempat di mana keluarga-Nya berada, “Nagarjuna” adalah bahasa Sansekerta dari Longshu, ‘Long’ adalah Naga, bagaimana dengan ‘Shu’? Sebab Beliau terlahir di bawah Pohon Naga, oleh karena itu disebut sebagai Nagarjuna. Beliau adalah Guru Sesepuh 8 sekte, yang paling ternama adalah Sekte Nagarjuna beserta sastra-Nya, Dvadasamukhasastra, Satakasastra, dan Madhyamakasastra, Satakasastra merupakan karya siswa Beliau, siswa-Nya adalah Aryadeva Satu Mata, hanya punya satu mata. Madhyamika sangat agung, di bawa kemana pun tetap Madhyamika, Madhyamika Beliau yang paling hebat!

undefined

Istri menanyai suami: “Sayangku, jika suatu hari nanti kamu kehilangan aku, apa yang kamu rasakan?” Suami mengatakan: “Ibarat memasak sayur kurang garam.” Istri mengatakan: “Kamu benar-benar terpelajar, memiliki bakat sastra! Jadi maksud kamu, jika kamu kehilangan aku, maka hidupmu akan terasa hambar?” Suaminya tidak menjawabnya secara terus terang, ia hanya menoleh dan dengan lirih mengatakan: “Bodoh, saya pasti akan beli lagi sebungkus garam!” Bagaimana Madhyamika dari Nagarjuna Bodhisattva? Cita rasa! (Mahaguru menyanyi) “Kayu bakar, beras, minyak, garam, kecap, cuka, dan teh, setiap tetes adalah kebahagiaan yang sedang bertunas, kebodohan cinta bulan sabit, keberadaanmu membuatku tidak membutuhkan apa pun.”

◎ Sungguh! Apabila Anda memiliki pengetahuan Madhyamika dari Nagarjuna Bodhisattva, Anda sungguh luar biasa. Masyarakat yang dalam realitas kehidupan juga merupakan Buddhadharma, masyarakat secara Paramarthasatya juga adalah Buddhadharma, hati, Buddha, dan insan, ketiganya tiada berbeda. Anda bisa memahaminya? Ketiganya tiada berbeda, inilah yang ditampilkan oleh Madhyamika dari Nagarjuna Bodhisattva. Kayu bakar, beras, minyak, garam, kecap, cuka, dan teh, sesungguhnya tidak sama, namun juga tidak berbeda.

Saya beritahu Anda konsep Madhyamika dari Nagarjuna Bodhisattva, dalam sebuah kelas, dosen menanyai para siswa: “Sebuah mangkuk penuh dengan kotoran babi, setelah dicuci bersih, digunakan sebagai tempat nasi, apakah kalian akan memakannya?” Semua mengatakan tidak mau. Dosen bertanya: “Dijamin telah dicuci dengan sangat bersih, bahkan telah menggunakan disinfektan, kalian bersedia?” Semua mengatakan tidak bersedia. Dosen mengatakan: “Aneh sekali, kenapa kalian bersedia makan usus babi?” Padahal ini suatu hal yang sama. Apabila Anda memahami Madhyamika dari Nagarjuna Bodhisattva, Anda akan memahami pula bahwa sesungguhnya persoalan ada pada pemikiran Anda. Anda berani makan usus besar babi, bukankah di sana pernah menjadi tempat kotoran babi? Hanya saja telah dicuci bersih, demikian pula dengan mangkuk yang telah dicuci bersih, saat digunakan untuk menampung kotoran babi, sama saja dengan usus besar babi! Meskipun keduanya berbeda, sebenarnya tidak sama, juga tidak berbeda, usus besar babi tidak sama dengan mangkuk, memang tidak sama, tapi juga tidak berbeda, sama halnya, semua bisa dimakan. Meskipun ini adalah lelucon, akan tetapi, sebenarnya juga mengajarkan Madhyamika kepada Anda semua.

Sepulang sekolah, putra mengatakan: “Ma, pak guru lebih bodoh dari saya.” Mama langsung menyela: “Jangan sembarangan bicara!” Putra mengatakan: “Saya tidak sembarangan bicara, saya bisa membaca tulisan pak guru, tapi tulisan saya, walau beliau telah mengamatinya dalam waktu lama, pak guru tetap saja tidak bisa membacanya!” Pengulsan hari ini sampai di sini.

Om Mani Padme Hum.

慶賀真佛宗根本傳承上師八十聖壽 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。