2013-06-02 Padmasambhava Memendamkan Sadhana 9 Tingkat Dzogchen ke dalam Pikiran Mahaguru Lu dalam Kehidupan Sebelumnya Secara Genetika

Intisari Ceramah Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada Upacara Agung Homa Trini Arya tanggal 2 Juni 2013 di Rainbow Temple



Sadhana 9 Tingkat Dzogchen - Materi Pertama

Pertama-tama, kita sembah sujud pada Bhiksu Liaoming, Guru Sakya Dezhung, Gyalwa Karmapa XVI, Guru Thubten Dhargye, sembah sujud pada Triratna Mandala, sembah sujud pada adinata homa Tathagata Amitabha di Sukhavati Barat. Namo Bodhisattva Avalokitesvara. Namo Bodhisattva Mahasthamaprapta."

Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, umat se-Dharma di internet, tamu agung kita hari ini, nyonya Dubes Liao, Sdri. Judy, terima kasih. Akuntan TBF Zhenfo Zong Sdri. Teresa and her husband, penasihat hukum TBF Sdri. Jennifer Chow serta putra dan putrinya, nyonya ketua OCAC Overseas Credit Guarantee Foundation Xue Shenghua, Sdri. Xuewang Shu-mei, produser acara "Gei Ni Dian Shang Xin Deng" CTI Taiwan Sdri. Xu Ya-qi, asisten Sdri. Chen Shu-yi. Dr. Zhuang Jun-yao, America California four big mothers (4 ibu California), apa kabar semuanya, than you for coming, Emkoi! Emkoi sai! (Bahasa Kanton: terima kasih).

undefined

Hari ini kita mengadakan homa Trini Arya, yaitu perintis Sukhavatiloka Barat Tathagata Amitabha, Namo Bodhisattva Avalokitesvara, dan Namo Bodhisattva Mahasthamaprapta. Ketiga yidam ini adalah "Trini Arya" yang terkenal di dalam Agama Buddha, aliran yang dirintis bernama "Sekte Sukhavati". Di aspek Avatamsaka, ada tiga yidam Avatamsaka, juga sangat terkenal, Buddha Sakyamuni di tengah, kanan adalah Bodhisattva Manjusrhi, kiri adalah Bodhisattva Samanthabradha. Tiga yidam Tantra, tengah adalah Vajrasattva, samping adalah Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Manjushri, Mereka disebut 3 penguasa pratisarana.

Bodhisattva Vajrapani juga merupakan salah satu dari 3 yidam Vajrayana, Bodhisattva Manjusrhi di tengah, kanan adalah Vajrapani, kiri adalah Cherenzig (Avalokitesvara Berlengan 4, ini adalah fenomena kombinasi 3 yidam. Selain itu, juga ada 3 yidam Bhaisajyaguru, tengah adalah Tathagata Bhaisajyaguru, tengah adalah Bhaisajyaraja, Bhaisajyatara, atau Bodhisattva Suryaprabha, Bodhisattva Candraprabha sebagai pendampingnya, juga merupakan 3 yidam. Hari ini ada yang bertanya pada saya, donatur upcara Trini Arya di Taiwan, semua arwah yang didaftarkan diseberangkan ke alam suci Barat. Kalau begitu, donatur homa di Rainbow Temple, Seattle, apakah nenek moyang mereka diseberangkan juga ke alam suci Barat? Pertanyaan ini! Ketika saya baru mengadakan homa, saya pun bertanya sebentar, Ia berkata, "80%." Angka 80 dianggap lulus. Banyak karma berat, seperti karma neraka avici, karma 5 perbuatan durnaka tidak termasuk ke dalamnya, jika karma biasa, semua akan diseberangkan, terlahir ke alam suci Barat dengan membawa serta karma. Sdri. Chen berangan-angan, hari ini semua nenek moyangnya bisa diseberangkan. 

Ada sebuah lelucon, ketika pesawat terbang sedang terbang, ketika memasuki kondisi stabil, pramugari mulai mengantarkan minuman, pramugari bertanya pada seorang ibu, "Bu, apa kabar, Anda ingin minum apa?" Penumpang wanita berusia setengah baya dengan malu menjawab, "Oh! Tidak usah. Tidak usah." Pramugari berbisik, "Ini gratis." Penumpang wanita berkata, "Oh, gratis! Saya mau segelas orange juice (jus jeruk), segelas Coca Cola, segelas kopi, saya mau minum seharga tiket pesawat terbang saya." Donatur hari ini sangat banyak, lebih banyak daripada dulu, semua orang sepikiran, semoga setelah menjadi donatur, semua nenek moyang dapat diseberangkan seketika, kelak tidak perlu diseberangkan lagi. Seharusnya begini, Anda punya pikiran tersebut, Buddha Bodhisattva akan kontak batin. Buddha Bodhisattva menyeberangkan insan, Buddhadharma tidak bertepi, Ia menggunakan banyak kekuatan untuk menyeberangkan makhluk akhirat, namun, tidak semua insan dapat diseberangkan sepenuhnya. Di antaranya masih ada satu macam lagi, yakni Ia sama sekali tidak suka ke Sukhavatiloka, Ia mau pergi ke alam suci Timur, alam suci Selatan, alam suci Utara, bahkan ia bersedia tinggal di dunia Saha. Kita tidak mampu menyeberangkan makhluk demikian. Sebenarnya, asalkan ia sendiri berjodoh di alam suci Barat, semua diseberangkan, semua diterima. Kembali ke lelucon, ketika pramugari lanjut mengantarkan minuman, pramugari bertanya lagi, "Apa kabar, apa yang bisa saya bantu?" Penumpang berkata, "Boleh minta segelas air?" Pramugari berkata, "Boleh. Apakah Anda mau air mineral?" Penumpang bertanya lagi, "Apakah ada jus?" Pramugari berkata, "Ada. Orange juice atau apple juice, mau yang mana?" Penumpang bertanya lagi, "Apakah ada Coca Cola?" "Ada, apakah mau ditambah es?" Penumpang akhirnya berkata, "Kalau begitu, berikan saya segelas kopi!" Dia itu mau memilih. Namun, upacara kita hari ini, tidak dapat dipilih, hanya ada satu Sukhavatiloka Barat. Jika Anda memilih hingga ke alam Bodhisattva Maitreya, memilih hingga ke alam Tathagata Bhaisajyaguru, memilih ke alam Buddha Vairocana, mau ke alam Buddha Ratnasambhava, hari ini tidak dapat dipilih, hanya Sukhavatiloka Barat Tathagata Amitabha. Yang tidak berjodoh, juga tidak boleh pergi; ada 5 karma neraka avici, 5 karma durhaka, tidak boleh pergi, karena karmanya sungguh sangat berat, sama sekali tidak berjodoh dengan Buddhadharma, bahkan menentang Buddhadharma, mengkhianati Buddhadharma, berlawanan dengan Buddhadharma, tentu saja tidak mampu pergi. Ini yang mau saya sampaikan pada Anda semua. 

Ketika kita sedang menjapa nama Buddha, ada dua macam sangat penting, ada dua macam pahala menjapa nama Buddha, satu adalah mengumpulkan bekal Anda sendiri, mengumpulkan berkah Anda, mengumpulkan bekal terlahir di alam suci; kedua adalah sepenuh hati dan tidak galau. Ketika Anda sepenuh hati dan tidak galau, cita-cita Anda akan tercapai. Buddha pernah bersabda, jika pikiran bisa terfokus, konsentrasi, tidak ada yang tidak terlaksana. Setiap orang dalam proses melatih diri, harus konsentrasi, sepenuh hati dan tidak galau, sangat terfokus, dengan demikian, dapat terlahir di alam suci. Jika hati Anda kacau balau, ketika meninggal dunia, berpikir ke mana-mana, seketika memikirkan hal yang sangat rumit, tidak mampu membuka simpul tersebut, Anda pun tidak mampu memutuskan bermacam-macam karma duniawi dan terlahir di alam suci Buddhaloka. Oleh karena itu, dua hal yang penting, kita mesti japa nama Buddha, japa Namo Amitabha, kemudian japa pendamping-Nya "Namo Bodhisattva Avalokitesvara. Namo Bodhisattva Mahasthamaprapta." Boleh menjapa 3 kali, namaskara 3 kali, menjapa dan bernamaskara dengan sangat tulus, bahkan harus sepenuh hati dan tidak galau, ini adalah titik berat dari menjapa nama Buddha. Kelak di dalam buku saya akan menulis tentang Dharma Sukhavati, mengajari Anda metode japa nama Buddha. Setelah metode menjapa nama Buddha ini ditulis, kalian jalankan metode ini, manula juga boleh menekuninya. Saat muda, Anda harus banyak mendengarkan Dharma! Saat usia setengah baya, harus mendalami satu metode; saat usia lanjut, memohon dapat terlahir di Buddhaloka, ini paling penting, juga merupakan ajaran dari pendahulu kita, ini baru bisa sepenuh hati dan tidak galau. 

Ketika pesawat sedang melaju dengan stabil, pilot menyiarkan dengan senang hati, "Lady and gentlemen, saya adalah pilot kalian, selamat datang di pesawat dengan nomor penerbangan sekian, yang ingin saya sampaikan pada Anda semua adalah.....aduh! Oh, Tuhan!...." Setelah itu suara pilot hilang. Saat itu, semua penumpang ketakutan, bahkan pramugari pun kalang kabut, di dalam kabin sunyi senyap. Tak lama kemudian, tersiar lagi suara pilot, "Sorry, membuat kalian ketakutan, barusan pelayan menuangkan kopi, tidak sengaja menumpahkan kopi ke baju saya, kalau tidak percaya, kalian boleh lihat, basah kuyup semua." Penumpang sangat marah, "Apalah artinya kemeja Anda basah? Kalian lihat saja celana saya." Celananya basah kuyup.

undefined

Hari ini, kita mengulas 9 Tingkat Dzogchen untuk pertama kalinya. Pertama-tama, kita lebih dulu membahas asal mula saya memperoleh silsilah 9 Tingkat Dzogchen. Saya memiliki 4 guru Tantra, pertama adalah Bhiksu Liaoming, kedua adalah Guru Sakya Dezhung, ketiga adalah Gyalwa Karmapa XVI, keempat adalah Guru Thubten Dhargye, saya memiliki 4 Mulaguru. Yang pertama adalah Bhiksu Liaoming, Beliau tergolong Nyingmapa, Nyingmapa disebut aliran lama. Tantra terbagi menjadi aliran baru dan aliran lama, aliran lama adalah Nyingmapa. Arti dari Nyingma adalah lama, tua.

Aliran kuning adalah Gelugpa, aliran bunga adalah Sakyapa, aliran putih adalah Kargyupa, ketiga aliran ini tergolong baru. Nyingmapa tergolong lama, tua, yaitu aliran merah. Bhiksu Liaoming adalah aliran merah, saat Beliau di Sichuan, Beliau belajar 9 Tingkat Dzogchen dari Acarya Norna. Oleh karena itu, saya menerima abhiseka 9 Tingkat Dzogchen dari Bhiksu Liaoming, ini adalah silsilah dunia saya. Selain itu, di sisi Padmasambhava ada seorang lagi, yaitu Y.A. Jingming (Mahaguru Jingming juga disebut Mahaguru Jihu), saat itu mereka bersama, bahkan membangun Vihara Samye, juga disebut Vihara Leluasa, leluasa artinya bebas, Vihara Samye yang dapat bebas leluasa di antara angkasa dan dunia Saha. 

Trisondetsen sendiri belajar Dharma secara rahasia, karena saat itu banyak bangsawan yang menentang Agama Buddha, aliran saat itu Aliran Bon, Tibet ternyata memuja roh leluhur, memuja alam, Aliran Bon sama dengan Aliran Saman, memuja batu, memuja pohon, memuja gunung, memuja danau, memuja semua roh leluhur, aliran ini disebut Aliran Saman. Aliran Saman saat itu sangat berjaya di Tibet. Saat Padmasambhava masuk, walaupun Raja Trisondetsen mengundang Padma Guru, namun, saat ia bersadhana, sangat rahasia. Kemudian, Padmasambhava sambil menjelajahi seluruh Tibet, ke Bhutan, bahkan Nepal, saat menjelajah, kemudian menuliskan Sadhana 9 Tingkat Dzogchen yang rahasia ke atas permukaan kulit domba, dipendam di dalam gua, dipendam di dalam danau, dipendam di dalam hutan, dipendam di mana-mana, agar kelak orang yang berjodoh dapat menggalinya. Satu-satunya tempat pendam yang berbeda adalah Ia memendam 9 Tingkat Dzogchen ke dalam pikiran Raja Trisondetsen, karena Mahaguru memiliki nidana demikian dan berinkarnasi, Mahaguru dapat dalam meditasi mendalam, di tengah meditasi yang terfokus, bisa memperlihatkan 9 Tingkat Dzogchen yang Padmasambhava pendam di dalam pikiran saya. (Hadirin tepuk tangan) Ini merupakan silsilah antar generasi, dalam ilmu pengetahuan modern, disebut gen, saya memiliki gen 9 Tingkat Dzogchen, sehingga saya dapat memahami 9 Tingkat Dzogchen. Ini adalah dua macam silsilah, silsilah pertama adalah silsilah dunia, merupakan 9 Tingkat Dzogchen yang diabhiseka oleh Bhiksu Liaoming pada Mahaguru; satu lagi adalah 9 Tingkat Dzogchen dari Padmasambhava sendiri, secara genetika, dipedam ke dalam pikiran Raja Trisondetsen, menunggu hingga inkarnasi, karena gen 9 Tingkat Dzogchen, saat duduk meditasi, dari hati akan mengalir Sadhana 9 Tingkat Dzogchen. Sejujurnya saya katakan pada Anda semua, 9 Tingkat Dzogchen adalah puncak, seperti Puncak Everest dari Gunung Himalaya di dunia manusia, merupakan puncak tertinggi, puncak tertinggi dari seluruh Tantra. Keberhasilan terbesar pertama, tubuh Padmasamhava bisa menjelma menjadi sinar pelangi, seperti pelangi, lenyap di langit angkasa, tubuh menjelma menjadi sinar pelangi, ini adalah keberhasilan terhebat. Kita sudah memiliki keberhasilan terhebat ketiga, yakni Acarya Lianhua Yimin, Beliau memiliki sarira sekujur tubuh, merupakan terhebat ketiga. Terhebat kedua, adalah menjelma menjadi sinar pelangi, namun, masih meninggalkan pakaian, rambut, kuku, ini adalah terhebat kedua. Oleh karena itu, 9 Tingkat Dzogchen disebut puncak. 

Padmasambhava menyimpan 9 Tingkat Dzogchen ke dalam 6,4 juta kitab Sutra Tantra, 6,4 juta! Sembilan tingkat Dzogchen-Nya tersimpan di dalam 6,4 juta kitab Tantra. Yang pertama kali mentransmisikan 9 Tingkat Dzogchen adalah Buddha Atarma Tathagata Samanthabradharaja, Tathagata Samathabradharaja beda dengan Bodhisattva Samanthabradha, merupakan 2 sosok Tathagata, Tathagata Samanthabradharaja adalah Buddha Atarma, merupakan Buddha Bhumi ke-16. Buddha Vairocana merupakan Buddha Bhumi ke-13, Bodhisattva Avalokitesvara, Bodhisattva Sahasrabhujanetra Avalokitesvara merupakan Buddha Bhumi ke-11, Buddha pun memiliki pembagian tingkatan, ini dibagi oleh manusia. Namun, Buddha primitif adalah Tathagata Samanthabradharaja. Oleh karena itu, di dalam buku saya yang ke-56 "Dzogchen Tantra" tertulis "Tathagata Poxian", mengapa disebut "Tathagata Poxian"? Sebenarnya adalah Tathagata Samanthabradharaja, saya tulis menjadi "Tathagata Poxian", "Poxian = Samanthabradha", saya sengaja tulis menjadi "Poxian". Mengapa? Karena tidak mau orang tahu itu Tathagata Samanthabradharaja, ini adalah rahasia yang saya simpan. Ketika saya tulis artikel, kadang-kadang akan menyimpan rahasia di dalamnya, sengaja menggunakan nada yang mendekati, hanya insan tidak mengerti saja. Sadhana ini diturunkan kepada Raja Lang Darma, yakni dua raja setelah raja Trisondetsen, itulah Raja Lang Darma, Raja Lang Darma membinasakan Buddha, membinasakan seluruh Agama Buddha. Padmasambhava karena tahu ada seorang raja akan membinasakan Agama Buddha, sehingga, Ia pun menyembunyikan semua kitab Sutra, pendam di berbagai tempat, Bhutan, Nepal, bahkan di dalam danau. Benda yang disimpan sangat luar biasa, banyak orang tidak mengakui Terma, juga banyak orang yang mengakui, selama Terton (guru Terma) yang berjodoh dengan Terma, semua adalah murid Padmasambhava dalam kehidupan lampau. Ia akan memperoleh kontak batin, pada saat bulan purnama, perahu didayung hingga ke pusat danau, suruh ia tunggu di sana, tunggu apa? Tunggu kitab suci keluar, tiba-tiba ada ikan meloncat, seekor ikan yang sangat besar meloncat, mulutnya memuntahkan sebuah benda, seperti sinar putih, siut! Jatuh ke perahu, begitu dilihat, adalah kitab sutra yang dipendam oleh Padmasambhava saat itu, tak disangka dipendam di dalam perut ikan di danau ini. Kebetulan sekali, peristiwa yang begitu menakjubkan, ajaib tidak? Ada sebuah lelucon tentang pramugari, ketika pesawat terbang sedang terbang, ada seorang penumpang menunjuk ke luar jendela dan bertanya pada pramugari, "Nona! Danau apa ini?" Pramugari tidak melihat danau tersebut, menoleh pun tidak, juga tidak angkat kepala, ia menjawab, "Teko kopi." (danau homofon dengan teko) Ia sedang menuang kopi!

undefined

Terma Padmasambhava sangat menakjubkan, saat abad ke-14, Bodhisattva Manjushri yang pernah menitis menjadi Longchen Rapchampa, ia sempat menyusun 9 Tingkat Dzogchen, ia menulis dua buku, yang terutama adalah Longchen Nyingthi, yaitu pusat hati Dzogchen, penting sekali. Sadhana dari pusat hati Dzogchen disebut Nyingthi. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan 9 tingkat Dzogchen itu? Setelah didengarkan lama, tetap tidak tahu! Ketahuilah, ia memiliki 3 tingkat luar, 3 tingkat dalam, dan 3 tingkat anuttara.

Apa yang dimaksud dengan 3 tingkat luar? Yaitu Sravakayana, Pratyekayana, Bodhisattvayana; yang dimaksud dengan 3 tingkat dalam adalah Kriya Tantra, Carya Tantra, dan Yoga Tantra; lalu apa 3 tingkat yoga yang teragung? Yaitu Mahayoga, Anuyoga, dan Atiyoga. Tiga tingkat luar, tiga tingkat dalam, 3 tingkat yoga, disebut 9 tingkat Dzogchen, termasuk seluruh sadhana Tantra, setelah disusun oleh Y.A.  Longchen Rapchampa, titik beratnya dituliskan, disebut sebagai Longchen Nyingthi, ada dua kitab, Longchen Nyingthi tergolong pusat hati 9 tingkat Dzogchen, yakni satu kitab yang terpenting. 

Setelah abad ke-18, ada seorang bernama Y.A. Jigme Lingpa, ia adalah Terton, kehidupan sebelumnya juga merupakan inkarnasi dari murid Padmasambhava, ia khusus mencari Terma 9 tingkat Dzogchen, sebenarnya dipendam di mana, ia pun menggunakan bermacam cara, di dalam perut ikan, di dalam gua, di dalam hutan, pohon ditebang, Padmasambhava memberikan petunjuk padanya, "Anda tebang pohon besar ini, di tengahnya ada Terma saya." Ia benar-benar menebang pohon tersebut, dibuka, di dalamnya benar-benar ada kitab Sutra, yang ditinggalkan oleh Padmasambhava, di dalam goa juga ada terma-Nya. Suatu kali, Jigme Lingpa pergi ke sisi sebongkah batu besar, ia duduk di atasnya, di dalam gua tak disangka ada suara berkata padanya, "Di tengah gua ada kitab Sutra", tidak ada yang percaya, setelah digergaji, ditebas, dan dibuka, di dalamnya benar-benar muncul kitab Sutra, bahkan merupakan kulit domba zaman dulu, 9 Tingkat Dzogchen yang ditulis dalam Bahasa Sansekerta justru berada di dalamnya. Di dalam pikiran Mahaguru juga ada terma, ia berubah menjadi gen saya. Oleh karena itu, saya mengulas 9 Tingkat Dzogchen dengan sangat jelas. (Hadirin tepuk tangan) 

Kita mau melakukan abhiseka 9 Tingkat Dzogchen, harus lebih dulu visualisasi pohon sarana. Pohon sarana adalah pusat keyakinan Anda, aliran apapun, baik Nyingmapa, Kargyupa, Gelugpa, maupun Sakyapa, semua ada pohon sarana, mirip pohon pengabul kehendak, dari tengah air pahala tumbuh sebatang pohon, ada ranting pohon, ada batang pohon, ada daun pohon, membentuk menjadi sebatang pohon, tepat di tengahnya adalah Mulaguru Anda, acarya Nyingmapa adalah Guru Rinpoche, yakni Padmasambhava, di atasnya semua adalah guru-guru silsilah, total ada 15 guru silsilah. Guru silsilah yang akan datang, satu per satu harus Anda sebut, yang paling atas adalah Buddha Atarma Tathagata Samanthabradharaja, karena Ia mentransmisikan 9 Tingkat Dzogchen, selanjutnya adalah semua guru sesepuh. Terakhir baru ditransmisikan ke Dunia Saha, ke dunia mamnsuia, silsilah dunia manusia juga banyak guru silsilah, kelak akan perkenalkan satu per satu pada Anda semua. Pusat pohon sarana adalah Guru Rinpoche, yakni Padmasambhava, "Om. Biezha. Beima. Hum." yakni mantra hati terpendek Padmasambhava. Ia duduk tepat di tengah pohon sarana, di belakangnya juga ada 6,4 juta kitab Tantra Dzogchen, semua berada di belakang Padmasambhava. Di atas pohon sarana terdapat barisan guru silsilah, di sebelah kanan-Nya, terdapat 3 penguasa pratisarana Tantra, yakni Bodhisattva Manjushri, Bodhisattva Vajrapani, dan Cherenzig. Di sebelah kiri-Nya, ada Sariputa, Moggalana, dan semua Pratyeka serta Sravaka, di depan terdapat Buddha Sakyamuni dan segala Buddha di sepuluh penjuru dan triloka, seribu bhadrakalpa Buddha masa depan mengelilingi. Oleh karena itu, di belakang-Nya terdapat kitab sutra, kitab Tantra, di depan adalah Buddha Sakyamuni dan segala Buddha di sepuluh penjuru dan triloka, di kedua sisi ada Cherenzig, Manjushri, dan Vajrapani; di sebelah lagi terdapat Sravaka, Pratyeka, Sariputra, Moggalana, dan seluruh Bodhisattva. Selain itu, di bawah terdapat seluruh Vajra, Dharmapala, Dakini, Para Dewa, semua berada di bawah hadapan Buddha Sakyamuni, begitulah susunan pohon sarana. Mari kita semua pikirkan sejenak. Dari dalam laut, di dalam air 8 pahala muncul sebatang pohon besar, tepat di tengah pohon besar adalah Padmasambhava, di atas adalah seluruh guru silsilah, di sebelah kanan terdapat 3 yidam Tantra, di sebelah kiri terdapat Sravaka, Pratyeka, di depan terdapat Buddha Sakyamuni, di belakang terdapat Sutra, Sutra Tantra, ada 6,4 juta kitab, di bawahnya terdapat seluruh dewa Vajra, dewa Dharmapala, semua tempat lowong  terdapat para dewa turun di dalamnya, inilah pohon sarana; dengan kata lain, saat bersarana, sering japa, "Namo Gurubei. Namo Buddhaya. Namo Dharmaya. Namo Sanghaya." sebenarnya harus visualisasi pohon sarana ini, ini yang terpenting. 

Sadhana 9 Tingkat Dzogchen sangat penting, ia mencakup bermacam-macam benda Tantra, dua di antaranya adalah guru silsilah yang paling mulia, satu adalah Guru Rinpoche Padmasambhava, Ia adalah guru silsilah; satu lagi adalah Bhiksu Liaoming, yakni guru silsilah dunia saya. Menyusun Dzogchen, tokoh terpenting adalah Longchen Rapchampa, guru sesepuh ini paling penting, karena ia telah menyusun semua kitab Sutra dan kitab Tantra. Selain itu adalah Jigme Lingpa, Ia menggali benda Dzogchen, saat digali sangat menakjubkan. Sebenarnya, ia tidak kontradiksi, karena 9 tingkat Dzogchen ada 3 kendaraan luar, 3 kendaraan dala, 3 kendaraan yoga, ada tingkatannya, pertama adalah Sravaka, Pratyeka, Bodhisattva, selanjutnya adalah Kriya Tantra, Carya Tantra, Yoga Tantra, sampai teratas, adalah Mahayoga, Anuyoga, dan Atiyoga. Atiyoga adalah yang terpenting, dan tidak kontradiksi. Ada sebuah lelucon, seorang putra bertanya pada ayahnya, "Ayah, apakah dunia ini banyak hal yang kontradiksi?" Ayah menjawab, "Tentu saja, contohnya ibu kamu, seumur hidupnya hanya fokus dua hal, satu adalah makan, satu lagi adalah diet." Makan dan diet itu kontradiksi, mau makan, tetapi mau diet. Di bawah kolong langit banyak kontradiksi, namun 9 Tingkat Dzogchen sama sekali tidak kontrakdiksi, sangat penting. Ada sebuah lelucon, sekolah menetapkan tidak diperkenankan menerima telepon saat guru sedang mengajar. Suatu hari, mereka masuk kelas fisika, telepon guru berdering, guru pun menatap murid, "Ini adalah telepon dari pemimpin, angkat atau tidak?" Semua murid menjawab, "Karena telepon dari pemimpin, tentu harus diangkat." Guru pun keluar, berteriak, "Sayang, ada apa? Saya sedang ada kelas." Istri adalah pemimpin, ini juga kontradiksi. Anak bertanya pada ibu, "Mengapa semua orang menjulukimu wanita galak?" Ibu menjawab, "Itu pujian untuk ibu yang lincah dan manis." Ini beda jauh sekali. Di sini ada sebuah lelucon yang mengatakan bahwa hidup ibarat Kisah Perjalanan ke Barat, saat kecil, kita adalah Sun Go Kong, pengacau istana langit yang bandel; saat muda, kita pun menjadi Cu Pat Kai, berani cinta dan berani benci; saat usia prima, kita adalah Sa Ceng, pekerjaan bertubi-tubi, jujur dan setia; saat usia tua, kita pun menjadi Tong Sam Cong, bawel, merepotkan sekali. Ini bukan kontradiksi, melainkan mengikuti hidup.

undefined

Sembilan Tingkat Dzogchen juga tidak kontrakdisi, lebih dulu belajar Pratyeka, kemudian belajar Sravaka, kemudian belajar Bodhisattva. Selanjutnya, memasuki ajaran Tatnra, lebih dulu belajar Kriya Tantra, kemudian Carya Tantra, lalu Yoga Tantra, terakhir memasuki Dogchen, ada Mahayoga, Anuyoga, Atiyoga. Ini adalah tingkatan, seperti hidup, dari usia muda, usia prima, usia tua, yaitu sebuah tingkatan. Yang terakhir kita pelajari adalah Atiyoga, yaitu yang harus dipelajari paling akhir dari Dzogchen. Di dalam Dzogchen terdapat banyak hal, namun, sama sekali tidak kontradiksi.

Ada seorang yang sangat fanatik dengan fengshui, hal apapun harus meminta petunjuk dari ahli fengshui, semua harus meminta diramalkan mujur malangnya. Suatu hari, ia duduk di bawah tembok, tiba-tiba gempa bumi, tembok pun rubuh, menindihnya, ia berteriak minta tolong, pembantu pun datang semua, dan berkata pada majikannya, "Bos, sabar sebentar, kita pulang dulu bertanya pada ahli fengshui, apakah hari ini boleh bongkar tanah." Ini adalah kontradiksi, saat benar-benar darurat, Anda tidak dapat mempertimbangkan banyak hal. Yang terpenting, Anda mesti memanfaatkan kesempatan, hal yang terpenting adalah Atiyoga yang terakhir, yakni Nyingthi, Nyingthi adalah Atiyoga, kelak akan mengulas tentang Atiyoga, bisa sama seperti Tong Sam Cong, bawel. Ceramah Mahaguru tidak bawel, namun, bisa bawel mengulas banyak hal, karena mengulas seputar Dzogchen, terakhir baru bicara tentang pusat, Nyingthi diulas supaya kita semua mengerti, "Oh! Ternyata demikianlah Buddhadharma, inilah Buddhadharma sejati." (Hadirin tepuk tangan) 

Yang dimaksud dengan Nyingthi, saya ambil sebuah contoh, ada seorang raja meminta dua orang pemahat untuk memahat tikus, hasil karya pemahat pertama seperti hidup, hasil karya pemahat kedua tidak mirip tikus. Ketika raja mau mengumumkan pemahat pertama menang, pemahat kedua mengusulkan untuk meminta kucing membedakan mana pahatan yang bagus.Tak disangka, salah, kucing suka dengan pahatan yang tidak mirip tersebut, mengapa? Karena bahan yang digunakan pemahat untuk memahat adalah tulang ikan, sehingga kucing pilih karya pemahat kedua. Hari ini kita mengulas Nyingthi juga demikian, kita mau Nyingthi pusat hati Dzogchen, maka kita pun harus menggenggam pusat, ini yang terpenting. Kucing memilih yang tidak mirip, barulah benda yang benar-benar bagus, terlalu mirip, malah bukan benda yang baik, karena bahannya tidak sama. Kita semua tahu arti dari Nyingthi--pusat hati, yakni yang paling kita inginkan, butuhkan. Guru bertanya pada murid, "Jika mengumpamakan kalian sebagai bunga segar yang indah, maka guru bisa diumpamakan sebagai apa?" Murid menjawab, "Tidak tahu." Guru berkata, "Coba dipikirkan lagi. Sering bawa sebuah gunting, yang gunting sana sini di kebun itu disebut siapa?"Murid menjawab, "Pencuri bunga." Sebenarnya adalah tukang kebun! Sebenarnya, guru adalah tukang kebun, Mahaguru sama seperti seorang guru, mau  mengajarkan kalian 9 Tingkat Dzogchen, tentu harus lebih dulu mengatur konsep kalian dengan jelas, apa itu 9 Tingkat Dzogchen, apa silsilahnya, apa asal muasalnya. Nyingthi adalah ajaran Tantra tertua, dengan kata lain, Padmasambhava membawanya dari India ke Tibet, saat itu Tibet belum menganut Tantra, saat itu ajaran Bon. Setelah Padmasambhava memasuki Tibet, Tibet baru ada Aliran Tantra, baru ada ajaran Tantra. Oleh karena itu, yang diwariskan oleh Padmasambhava adalah Sadhana 9 Tingkat Dzogchen, asal muasal Padmasambhava titisan dari tritunggal Buddha Amitabha, Buddha Sakyamuni, dan Bodhisattva Avalokitesvara. Apa itu Padmasambhava? Yaitu bocah yang menitis di teratai, bocah yang terlahir di teratai; tidak memiliki ayah maupun ibu, bocah yang lahri di atas teratai, itulah Padmasambhava, atau Padmakumara, Kumara adalah Bhava, Bhava adalah Kumara, sama, tiada beda. Oleh karena itu, Beliau adalah Padmakumara kita. (Hadirin tepuk tangan) Asal mulanya sangat dalam! Mahaguru adalah Padmakumara, Padmasambhava juga Padmakumara, saat Ia lahir, memang adalah titisan teratai! 

Hari ini mulai mengulas 9 tingkat Dzogchen, baru mulai perkenalkan sampai di sini. Terima kasih semua. Om Mani Padme Hum.

來源: Rainbow Temple
慶賀真佛宗根本傳承上師八十聖壽 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。