14 Januari 2024 Upacara Homa Bodhisatwa Avalokitesvara di Rainbow Temple

14 Januari 2024 Upacara Homa Bodhisatwa Avalokitesvara di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Yunshen (蓮花云紳)

Pada tanggal 14 Januari 2024, Rainbow Temple (Caihong Leizangsi/彩虹雷藏寺), Seattle, Amerika Serikat, dengan tulus mengundang Dharmaraja Liansheng memimpin Upacara Agung Homa Bodhisatwa Avalokitesvara (Guanshiyin Pusa/觀世音菩薩). Terlebih dahulu Dharmaraja memberitahukan bahwa minggu depan adalah Upacara Homa Mahottara Heruka (Dahuanhuawang Jin’gang/大幻化網金剛). Dharmaraja mengungkapkan, Mahottara Heruka berkekuatan sangat besar, sering terjadi mukjizat. Mahottara Heruka merupakan Dharmapala yang sangat agung dalam Nyingmapa, merupakan satu di antara Panca Mahavajra, Mantra: "Om. Gulu. Liansheng. Xidi. Hom. Om. Biezha. Zhuoda. Mahaxie. Xili. Haluga. Hom Pei."

Dharmaraja Liansheng memperkenalkan Istadewata upacara hari ini: Bodhisatwa Avalokitesvara. Dharmaraja mengatakan, tiap umat Buddha pasti mengetahui Buddha Amitabha dan Bodhisatwa Avalokitesvara. Saat biksu di Tiongkok berjumpa, selalu melafal: "Amituofo!", sedangkan biksuni melafal: "Guanshiyin Pusa". Bodhisatwa Avalokitesvara memberikan respon spiritual sangat luas, memiliki perwujudan tak terhingga banyaknya, hadir menjawab doa di berbagai penjuru, dan senantaisa menjadi bahtera yang menyeberangkan insan di samudra samsara. Bodhisatwa Avalokitesvara memiliki tirta suci di ranting dedalu, sekali percik memberi purifikasi, percik ke dua adalah sifat diri nan suci, percik ke tiga sifat segala sesuatu suci, dengan kata lain, semua makhluk suci. Bodhisatwa Avalokitesvara memiliki kekuatan yang sangat besar, Beliau adalah Tathagata, yang karena berwelas asih kepada semua makhluk sehingga tampil dalam wujud Bodhisatwa Avalokitesvara, oleh karena itu jangan meremehkan Beliau, terlebih bagi sadhaka yang menjunjung Bodhisatwa Avalokitesvara sebagai Istadewata.

◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab

Siswa dari Malaysia bertanya, tiap akhir bulan, tanggal 29, siswa teristimewa memberikan persembahan kepada segenap Vidyaraja Dharmapala atau Daka dan Dakini yang disemayamkan di mandala dan telah memperoleh abhiseka transmisi sadhana tersebut dari Mulacarya Liansheng; Siswa terkhusus mengundang salah satu Dharmapala atau Daka dan Dakini, dan di hadapan Istadewata menata cangkir puja Dharmapala, menata biskuit, teh, anggur merah, membakar dupa, menyalakan pelita, melakukan tata ritual sadhana seperti biasa, menjapa Mantra Istadewata sebanyak 1,080 kali. Mohon Mulacarya Liansheng berwelas asih memberi petunjuk:
1. Apakah yang tata cara di atas merupakan cara persembahan Dharmapala yang sesuai tata Dharma?
2. Bagaimana cara yang tepat menggunakan cangkir puja Dharmapala?
3. Apakah dalam tata ritual boleh memasukkan gatha pujian mohon perlindungan Dharmapala?

Dharmaraja Liansheng menekankan, dalam daftar sarana puja yang disebutkannya ada satu yang kurang, yaitu daging. Persembahan kepada Dharmapala tidak bisa tanpa daging dan arak. Dharmaraja mengenang, saat Dharmaraja Ganden Tripa ke-100 berkunjung ke Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, beliau khusus minta orang untuk membelikan daging dan arak, sebab ada satu hari yang merupakan saat beliau memberi persembahan kepada Dharmapala. Persembahan bagi Dharmapala, boleh menggunakan daging sapi atau kambing. Mengenai cangkir puja Dharmapala, tentu saja juga perlu diisi dengan arak. Mengenai memasukkan gatha pujian Dharmapala dalam tata ritual sadhana, menurut Dharmaraja, tentu saja boleh, bahkan sadhaka wajib memuliakan Dharmapala.

Dharmaraja melanjutkan, kemarin membahas duka, segala sesuatu adalah duka. Ada orang berpendapat bahwa makan itu menyenangkan, sesungguhnya juga duka, termasuk tidak bisa makan sesuatu yang diinginkan, dan harus makan sesuatu yang tidak disuka. Makanan makin sedikit, perut lapar, makan banyak malah begah, salah makan, langsung ke toilet.

"Apakah menurut Anda hubungan laki-laki dan perempuan adalah menyenangkan? Jika Anda melekat, itulah penderitaan. Kemelekatan adalah akar dari penderitaan, hati tanpa rintangan merupakan kebahagiaan sejati. Saat hasrat tak terpuaskan, itulah derita. Kesenangan laki-laki dan perempuan, tentu saja senang, tapi hanya sesaat; Namun penderitaanya selamanya, sebab hasrat tidak akan bisa terpuaskan, hanya derita, sebab Anda melekat pada kesenangan tersebut. Hati tanpa beban, datang dan pergi alamiah, pasangan kekasih tidak akan saling melukai, tidak akan timbul kebencian. Mesti bisa mencerahinya, mesti bisa alamiah. Kita yang belajar Buddha tahu, melihat segala sesuatu sebagaimana wajarnya, selaras, jangan melekat. Konfusius bersabda: "Makanan dan seks adalah tabiat." Makan dan seks adalah tabiat manusia. Namun, kedua hal itu adalah duka, sebab hasrat adalah lubang tanpa dasar. Kita yang belajar Buddha mesti selaras, dahulu ia mencintai Anda, tetapi sekarang tidak lagi, mesti bisa selaras, mencerahi kewajaran dan tidak melekat, inilah yang paling penting dalam belajar Buddha. Bukan meminta Anda untuk tidak makan dan pantang seks, melainkan Anda melakukan dengan sukacita, hubungan dijalin dengan alamiah, saling menolong, dan tidak melekat. Buddha Sakyamuni bersabda, ‘Segala sesuatu itu duka’, ini adalah kalimat yang diucapkan oleh Ia yang memiliki kebijaksanaan agung, sebab tidak ada kesenangan sejati, kesenangan adalah bibit duka. Oleh karena itu, dalam asmara, yang paling baik adalah bisa menjadi sahabat. Jika tidak, Anda terus mengikuti hasrat, selamanya tidak bisa naik, hanya bisa bertumimbal lahir dalam sadgati."

◎ Pengulasan Sutra Vimalakirti

Bagian 6: Varga Adbhuta
"Menjalani kemunculan dan kelenyapan berarti mengejar kemunculan dan kelenyapan, tidak berupaya dalam Dharma; Dharma disebut tak tercemar, barang siapa tercemar dalam Dharma atau bahkan terhadap nirvana, berarti ia telah tercemar, bukan berupaya dalam Dharma; Pengamalan Dharma tidak terbatas pada objek, barang siapa mengupayakan objek, berarti bukan mengupayakan Dharma. Dharma tidak ada penerimaan maupun penolakan, barang siapa menggenggam atau melepas sesuatu, berarti melekat pada menggenggam dan melepas, bukan mengupayakan Dharma; Dharma bukan lah tempat, barang siapa melekat pada konsep tempat, berarti mengupayakan tempat, bukan mengupayakan Dharma; Dharma tanpa atribut, jika hanya mengikuti atribut, berarti mengupayakan atribut, bukan mengupayakan Dharma; Dharma tidak dapat didiami, jika mendiami Dharma, berarti mengupayakan mendiami, bukan mengupayakan Dharma; Dharma tidak dapat didengar, dirasa, dan diketahui, jika mendengar, merasa, dan mengetahui, berarti hanya mengupayakan mendengar, merasa, dan mengetahui, bukan mengupayakan Dharma."

Dharmaraja Liansheng mengulas:
Dharma kemunculan dan kelenyapan tentu saja bukan Buddhata, sebab Buddhata tidak muncul pun tidak lenyap. Buddhata juga tidak tercemar, ada yang mengumpamakan, Buddhata laksana sebuah cermin, ia memantulkan segala di hadapannya, jika sebatang lilin menyala diletakkan di depannya, cermin itu akan memantulkan lilin menyala; Jika Anda meletakkan sekuntum bunga, cermin pun memantulkan sekuntum bunga, tetapi cermin itu sendiri tidak tercemari; Demikianlah Buddhata, pun tidak tercemar. Kita insan memiliki tabiat yang bisa tercemar. Namun, Buddhata tidak akan tercemar.

"Dharma disebut tak tercemar, barang siapa tercemar dalam Dharma atau bahkan terhadap nirvana, berarti ia telah tercemar, bukan berupaya dalam Dharma."

Jika Anda tercemari oleh Dharma, bahkan mengejar nirvana sekali pun berarti tercemar oleh nirvana. Sebab Buddhata yang sejati tidak tercemar.

"Pengamalan Dharma tidak terbatas pada objek, barang siapa mengupayakan objek, berarti bukan mengupayakan Dharma."

Buddhata tidak memiliki lokasi tetap, di mana pun ada, tetapi Buddhata yang sejati tidak menetap. Buddhata juga bukan datang karena pembinaan diri, melainkan pada hakikatnya sudah ada. Kita bersadhana adalah sebuah metode belaka, supaya Buddhata tampak, tetapi Buddhata sendiri bukan pembinaan diri.

"Dharma tidak ada penerimaan maupun penolakan, barang siapa menggenggam atau melepas sesuatu, berarti melekat pada menggenggam dan melepas, bukan mengupayakan Dharma."

Buddhata tidak mengambil pun tidak melepas. Seperti cermin, Anda meletakkan sekuntum bunga, ia tidak akan mengambil bunga itu, juga tidak akan melepas bunga itu, dia hanya memantulkan bunga tersebut. Dharma tidak ada penerimaan pun penolakan, juga tidak ada lokasi, Dharma tidak menetap di suatu tempat, Dharma juga tidak cemar, Dharma adalah keheningan, Dharma adalah angkasa. Selama Anda masih menerima dan menolak, itu bukan Dharma yang sejati.

"Dharma bukan lah tempat, barang siapa melekat pada konsep tempat, berarti mengupayakan tempat, bukan mengupayakan Dharma."

Dharma tidak menetap di mana pun, jika Anda mengira Buddha hanya ada di Rainbow Temple, berarti Anda keliru, sebab Buddha Maha Hadir, Buddhata Maha Ada. Anda mengira toilet itu kotor, Buddha tidak mungkin ke sana, tetapi di dalam toilet pun juga ada. Di mana pun adalah Tuhan, di mana pun adalah rumah Tuhan. Di sini (Amerika Serikat) ada sangat banyak kapel, atau rumah doa, jika ingin berdoa, maka ke gereja atau rumah doa, sesungguhnya tidak perlu, di mana pun kita bisa berdoa. Bahkan di dalam toilet pun bisa berdoa, apakah di toilet tidak ada Tuhan? Anda masuk Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, wah! Ada banyak Buddha Bodhisatwa, sangat baik untuk meditasi. Namun, jika Anda bermeditasi di dalam toilet rumah, tidak ada bedanya. Jika Anda melekat pada gereja, atribut Buddha, vihara vajragarbha, ini juga tetap merupakan kemelekatan.

"Dharma tanpa atribut, jika hanya mengikuti atribut, berarti mengupayakan atribut, bukan mengupayakan Dharma."

Dharma tiada atribut, bukan kaca, bukan cermin, hanya disimbolkan dengan angkasa. Saat saya berdoa kepada Hevajra, saya tidak berjalan ke hadapan pratima Hevajra, saya hanya beranjali ke angkasa berdoa kepada Hevajra, memohon supaya tidak turun salju, akhirnya sungguh tidak turun salju. Jika Anda berpendapat bahwa pratima ini barulah Buddha Sakyamuni, berarti Anda melekat pada atribut, sebab Buddha Sakyamuni Maha Hadir. Jika Anda berpendapat bahwa atribut ini baru benar, berarti Anda mengejar atribut, bukan mengupayakan realisasi Buddhata.

"Dharma tidak dapat didiami, jika mendiami Dharma, berarti mengupayakan mendiami, bukan mengupayakan Dharma."

Dharma ada setiap saat 24 jam. Jika Anda berpendapat saat tertentu baru ada Dharma, justru keliru, sebab Buddhata ada setiap saat, tiada ruang dan waktu.

"Dharma tidak dapat didengar, dirasa, dan diketahui, jika mendengar, merasa, dan mengetahui, berarti hanya mengupayakan mendengar, merasa, dan mengetahui, bukan mengupayakan Dharma."

Buddhata yang sejati, tidak terlihat, tidak terdengar, tidak dirasakan, juga tidak diketahui, inilah Buddhata yang sejati. Selama Anda masih mendengar, merasa, mengetahui, berarti itu bukan Buddhata sejati. Anda melihat Istadewata, terang, itu masih bukan Buddhata.

Di akhir, Dharmaraja mengungkapkan, "Ada sangat banyak arwah korban perang yang datang, tetapi saya tidak sanggup seorang diri menangani urusan kalian, saya bagikan beberapa, untuk ditangani oleh mereka yang bisa melihat Dharmakaya saya." (Dharmaraja meminta seorang umat di lokasi untuk bersaksi)

Dari sanubari, Dharmaraja mengungkapkan, "Palestina merupakan lokasi Yesus mengajar, Danau Galilea, Yerusalem, dan Betlehem, semua merupakan lokasi Yesus membabarkan ajaran, di sana ada perang, sungguh sangat berduka. Para korban jiwa, orang Palestina dan orang Yahudi, semua merupakan keturunan Abraham, di sana juga memiliki jalinan nidana mendalam dengan saya. Saya juga pernah dibaptis, kemudian dibawa kemari oleh Mahadewi Yaochi, tetapi dalam hati-Ku tetap ada Guru-Ku. Yesus mengatakan, kasihi musuhmu. Beliau sendiri telah berbhavana hingga tiada perbedaan dengan semua makhluk, ini merupakan tingkat yang sangat tinggi, masih ada yang lebih tinggi, yaitu Buddhata. Anda tidak berbeda dengan semua makhluk, Anda adalah Bodhisatwa. Inilah maha maitri tanpa pamrih, maha karuna memandang semua sebagai satu kesatuan, hanya mungkin saat Anda manunggal dengan semua makhluk, inilah Maha Bodhisatwa. Jika tidak sanggup berbhavana mencapai tingkat ini, Anda masih makhluk biasa. Oleh karena itu, penyeberangan yang dilakukan Mahaguru tiada diskriminasi, semua diseberangkan.”

"Menurut saya, dalam belajar Buddhadharma, asal Anda belajar untuk mengembangkan maha maitri tanpa pamrih, dan maha karuna memandang semua sebagai satu kesatuan tubuh, Anda tiada berbeda dengan semua makhluk, maka Anda sudah sangat luar biasa."

Usai Dharmadesana, upacara homa pun telah berakhir dengan sempurna. Kemudian Dharmaraja menyapa segenap siswa yang daring, dilanjutkan dengan menganugerahkan Abhiseka Sadhana Bodhisatwa Avalokitesvara kepada segenap siswa yang hadir di lokasi.

------------------------

Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate

Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 11:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 06:00 WIB

Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw

Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature

Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org

Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng

TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

TBSNTV bahasa Mandarin:
https://www.youtube.com/c/真佛宗網路電視台tbsnTV

#DharmadesanaDharmarajaLiansheng
#TrueBuddhaSchool
#BodhisatwaAvalokitesvara
Upacara minggu depan #MahottaraHeruka
#SutraVimalakirti

2024真佛宗為世界祈福 高王經千遍迴向師尊