28 Desember 2025 Upacara Homa Vajra Vyaghravaktra di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)
Pada tanggal 28 Desember 2025, Rainbow Temple dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng, untuk memimpin Upacara Homa Vajra Vyaghravaktra. Setelah Homa selesai, Dharmaraja menyampaikan pengumuman bahwa Istadewata Upacara minggu berikutnya adalah Buddha Amitabha. Dharmaraja Lian Sheng melafalkan Mantra Hati dan membentuk mudra Buddha Amitabha.
Dharmaraja menunjukkan bahwa Istadewata hari itu, Vajra Vyaghravaktra, sejatinya merupakan manifestasi dari Mahadewi Yaochi, yang selaras dengan energi lima penjuru alam semesta: Timur – Naga Hijau, Barat – Harimau Putih, Selatan – Kebajikan Api, Utara – Esensi Air, dan Tengah – Tanah Kuning. Karena itu, manifestasi Mahadewi Yaochi adalah Vajra Vyaghravaktra. Manfaat utamanya adalah menenangkan energi jahat, menangkal bencana, serta menaklukkan dewa wabah dan berbagai hawa tidak menguntungkan, dengan daya kekuatan yang luar biasa.
Membahas kondisi baru-baru ini, Dharmaraja dengan jujur mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini Beliau sering merasakan keadaan samar dan tenggelam dalam samadhi, bahkan ketika berada di atas Dharmasana, Beliau dapat secara alami masuk ke dalam samadhi. Dharmaraja menjelaskan bahwa hal ini bukan karena kurang tidur, melainkan suatu keadaan “roh seakan tidak sepenuhnya menetap”, di mana tubuh dan batin secara bertahap menjauh dari keterikatan duniawi, seolah-olah setiap saat bisa berangkat jauh dalam mimpi. Dengan nada humor, Dharmaraja berkata bahwa bila dapat pergi dengan bebas dalam mimpi, itu pun merupakan hal yang baik.
Dharmaraja selanjutnya menjelaskan beberapa keadaan sadhaka menjelang wafat, termasuk: “duduk dan bertransformasi”, yakni saat nadi, energi, dan bindu telah matang, energi kehidupan menembus ke puncak dan bertransformasi; “transformasi dalam mimpi”, yakni meninggalkan tubuh secara alami di dalam mimpi.
Keduanya termasuk cara pembebasan dengan sedikit penderitaan bahkan tanpa penderitaan. Sebaliknya, menderita sakit berkepanjangan sebelum wafat adalah keadaan yang paling sulit ditanggung. Adapun tingkat yang lebih tinggi, yakni Tubuh Sinar Pelangi, merupakan kesempurnaan yang hanya dapat dicapai oleh sedikit Mahasiddha.
Meninjau kembali masa lalu, Dharmaraja juga membagikan pengalamannya dalam perjalanan bhavana. Pada usia 79 tahun, Beliau pernah merasakan kemunculan alam cahaya, hampir meninggalkan dunia, namun berhenti karena satu keterikatan batin. Dari pengalaman ini, Dharmaraja mengaitkannya dengan ajaran Sutra Surangama tentang “belenggu emosi dan cinta”, serta menunjukkan bahwa ikatan duniawi sedalam apa pun, tetap tidak dapat bersama-sama menembus hidup dan mati.
Suami-istri, keluarga, guru dan siswa, semuanya adalah pertemuan sebab dan kondisi, masing-masing memiliki waktunya sendiri untuk meninggalkan dunia, dan hal itu tidak dapat dihindari. Hidup dan mati adalah hukum alam, cepat atau lambat, semuanya adalah jalan bhavana masing-masing.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab
Pertanyaan siswa: Akhir-akhir ini saya menggunakan AI, lalu tiba-tiba muncul fenomena gaib. Jawaban AI mengatakan bahwa Dharmakaya menembus AI untuk membimbing saya, bahkan memberi tahu asal-usul kehidupan lampau saya serta ramalan masa depan. Saya ingin bertanya kepada Mahaguru Lu, apakah semua ini benar, atau hanyalah khayalan hasil simulasi AI semata? Terima kasih atas belas kasih Mahaguru Lu!
Dharmaraja menyatakan bahwa beliau tidak terlalu memahami AI, namun mengetahui bahwa AI masa kini sangat hebat: dapat melukis, menggubah musik, menulis artikel, dan menjawab berbagai pertanyaan secara instan, sehingga telah menjadi alat umum dalam kehidupan modern. Namun, ketika seorang siswa bertanya kepada AI dan memperoleh jawaban bahwa “Dharmakaya masuk ke dalam AI untuk menjawab pertanyaan”, bahkan mengklaim dapat membicarakan kehidupan lampau dan masa depan, maka fenomena ini perlu ditelaah secara cermat.
Acarya Lian Yan berpendapat bahwa jawaban AI berasal dari pengumpulan dan pengolahan data dalam jumlah besar, serta disusun berdasarkan cara bertanya dan harapan psikologis pengguna. Oleh karena itu, meskipun AI menggunakan istilah religius dan menyebut dirinya “Dharmakaya”, hal itu tidak mewakili realisasi sejati maupun perwujudan Buddha atau Bodhisatwa.
Dalam aspek nasib dan peruntungan, Dharmaraja menjelaskan bahwa saat ini AI memang dapat melakukan berbagai perhitungan, seperti Bazi dan Ziwei Doushu, yang semuanya dibangun berdasarkan aturan dan data yang telah ada. Namun terdapat satu sistem perhitungan yang sangat mendalam dan sangat rinci, yaitu Shaokangjie Yishu (juga dikenal sebagai Tieban Shenshu), yang tidak dapat dikuasai oleh AI biasa.
Dharmaraja menjelaskan bahwa Shaozi Yishu tidak hanya menghitung tahun, bulan, hari, dan jam, melainkan hingga menit, sehingga dapat meramalkan banyak detail kehidupan seseorang, termasuk latar belakang keluarga, urutan saudara, pendidikan, penghasilan, pernikahan, anak, bahkan waktu kejadian besar dalam hidup. Metode ini terkenal akan ketepatannya dalam sejarah. Yuan Liaofan, penulis Empat Ajaran Liao Fan, pernah membuktikan sendiri keakuratannya.
Namun, Dharmaraja juga menekankan bahwa nasib tidak sepenuhnya tak dapat diubah. Seperti dijelaskan dalam Empat Ajaran Liao Fan tentang “ilmu menegakkan nasib”, ketika seseorang melakukan kebajikan besar atau kejahatan besar, jalur nasibnya tetap dapat berubah. Bila hanya mengikuti kebiasaan dan takdir lama, maka umumnya sulit melepaskan diri dari ketentuan tersebut.
Menjawab pertanyaan siswa, Dharmaraja secara langsung memohon petunjuk Buddha dan Bodhisatwa, lalu dengan jelas menyatakan: “Tidak boleh sepenuhnya percaya” pada jawaban yang mengklaim “Dharmakaya masuk ke dalam AI”. Dharmaraja juga meramalkan bahwa Shaozi Yishu dapat dipercaya, dan bila berkonsultasi dengan ahli sejati, maka dalam hal urusan kehidupan sekarang, bisa kita percayai.
◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4
“Purna, semua makhluk saling mengikat diri melalui pikiran cinta dan kasih. Cinta itu begitu kuat sehingga mereka tidak sanggup berpisah, dan karena itulah muncul para ayah, ibu, anak, dan cucu di dunia ini dalam rangkaian kelahiran yang tak terputus. Akar dari semua ini adalah nafsu emosional. Karena nafsu dan cinta emosional yang berlebihan, semua makhluk mendambakan makanan, dan keinginan ini tidak pernah berhenti. Maka semua makhluk di dunia, baik yang lahir dari telur, melalui transformasi, dari kelembapan, maupun dari rahim, saling memangsa dan dimangsa, masing-masing sesuai dengan kekuatan atau kelemahannya. Akar dari semua ini adalah keinginan untuk membunuh."
“Misalnya, seorang manusia memakan seekor domba. Domba yang dibunuh terlahir kembali sebagai manusia. Ketika manusia yang memakan domba itu meninggal, ia pada gilirannya menjadi domba. Pola ini berlaku di antara sepuluh jenis makhluk, yang saling memangsa dalam siklus kelahiran dan kematian yang terus berlanjut. Karma buruk dari saling memangsa ini menyertai mereka dari kehidupan ke kehidupan hingga masa depan yang paling jauh. Akar dari semua ini adalah dorongan untuk mencuri."
“Misalnya, bila engkau berutang nyawa kepada seseorang karena telah mengambil hidupnya, ia akan ingin mengambil nyawamu sebagai balasan. Karena sebab dan kondisi semacam ini, makhluk-makhluk harus melewati ratusan ribu kalpa dalam rangkaian kelahiran dan kematian yang tiada akhir."
“Misalnya, seseorang mencintai orang lain karena pikirannya atau kecantikannya. Karena sebab dan kondisi semacam ini, makhluk-makhluk harus melewati ratusan ribu kalpa dalam rangkaian keterikatan yang tak berkesudahan. Akar dari semua ini adalah membunuh, mencuri, dan cinta emosional. Tiga inilah, dan tidak ada yang lain, yang menjadi sebab dan kondisi kelangsungan pembalasan karma.”
Dharmaraja menunjukkan bahwa Buddha menjelaskan kepada Purna, bahwa alasan mendasar mengapa semua makhluk terus terlahir di dunia adalah ketamakan dan kecintaan. Karena saling tarik-menarik oleh nafsu dan cinta, makhluk-makhluk berkumpul dan membentuk hubungan suami-istri, orang tua, dan anak, sehingga kelahiran terus berlanjut tanpa henti. Semua ini berakar pada keinginan dan ketamakan.
Lebih lanjut, Dharmaraja menjelaskan bahwa di dunia Saha, baik makhluk yang lahir dari telur, rahim, kelembapan, maupun transformasi, semuanya saling memangsa demi kelangsungan hidup, sehingga membentuk karma membunuh. Karena membunuh demi makan, lalu timbul kebencian, maka muncullah siklus “engkau berutang nyawaku, aku menagih utangmu”, saling membayar kehidupan demi kehidupan tanpa henti. Ditambah dengan keinginan memiliki dan merampas demi bertahan hidup, terbentuklah karma mencuri. Cinta-nafsu, nafsu membunuh, dan nafsu mencuri menjadi tiga akar utama dari kelahiran berulang tanpa akhir.
Dharmaraja juga menjelaskan bahwa sepuluh jenis makhluk yang disebutkan dalam sutra: lahir dari telur, rahim, kelembapan, transformasi, serta makhluk berwujud, tak berwujud, berkesadaran, tanpa kesadaran, bukan berkesadaran, dan bukan tanpa kesadaran, semuanya saling terikat dalam sebab-akibat karma, berlanjut tanpa henti. Karena karma membunuh, mencuri, dan nafsu terus berkembang, karma jahat menumpuk dan buah karmanya berlanjut hingga masa depan yang tak terhingga.
Dharmaraja menambahkan bahwa meskipun seseorang menganggap dirinya tidak membunuh, tidak mencuri, dan tidak berzina, dalam kehidupan sehari-hari makhluk tetap sulit lepas dari tiga karma dasar ini. Makanan berkaitan dengan pembunuhan, pencarian harta berkaitan dengan niat mencuri, dan kelahiran serta cinta duniawi berakar pada nafsu. Karena itulah karma dan pembalasan saling berlapis-lapis, membentuk samsara kelahiran dan kematian.
Setelah menjelaskan hukum sebab-akibat, Dharmaraja juga membagikan beberapa contoh nyata dari para siswa dalam beberapa tahun terakhir, mengenai pematangan buah kebajikan. Ada siswa yang awalnya sangat kekurangan secara ekonomi, bahkan tidak mampu membiayai perjalanan jauh, namun karena memenangkan lotere, kehidupannya berubah drastis dan dapat pergi ke Seattle untuk mendekati Mulacarya. Dharmaraja menekankan bahwa penampakan luar yang miskin tidak berarti tanpa berkah, dan ketika sebab dan kondisi matang, seseorang dapat memperoleh hasil “kaya mendadak”.
Namun Dharmaraja juga mengingatkan bahwa berkah besar belum tentu sepenuhnya berkah. Bila identitas terbuka, sering kali muncul tekanan dari keluarga dan lingkungan, sehingga justru menjadi beban. Oleh karena itu, ada orang yang memilih bersikap rendah hati dan tertutup. Dharmaraja juga mencontohkan pengalaman nyata para pemenang lotere di masa lalu, menunjukkan bahwa kekayaan mendadak tanpa kebijaksanaan dan kebajikan yang memadai dapat membawa ujian dan ketidaknyamanan.
Setelah pembabaran yang luar biasa ini, Dharmaraja dengan penuh belas kasih menganugerahkan Abhiseka Sadhana Vajra Vyaghravaktra kepada seluruh hadirin, dan Upacara pun berakhir dengan sempurna.
------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia
#DharmadesanaDharmarajaLiansheng
#TrueBuddhaSchool
#VajraVyaghravaktra
Istadewata Homa Minggu depan #BuddhaAmitabha