4 Januari 2026 Upacara Homa Buddha Amitabha di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)
Pada tanggal 4 Januari 2026, Rainbow Temple dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng, untuk memimpin Upacara Homa Buddha Amitabha. Usai upacara, dalam Dharmadesana, Dharmaraja memberitahukan kepada seluruh hadirin bahwa pada hari Minggu berikutnya (11 Januari) pukul 3 sore akan diselenggarakan Upacara Homa Jambhala Merah. Jambhala Merah bernama Ganapati, dan di antara berbagai Dewa Rezeki, Ia memiliki kekuatan besar yang sempurna, sehingga dipandang sebagai salah satu Dewa Rezeki yang sangat penting.
Ketika membahas asal-usul Jambhala Merah, Dharmaraja menjelaskan bahwa dalam sistem Hindu terdapat tiga dewa utama, yaitu Vishnu, Syiwa, dan Dewa Maha Brahma, di mana Vishnu adalah Subhakrtsna, dan Syiwa adalah Dewa Mahesvara. Jambhala Merah, Ganapati, adalah putra Dewa Mahesvara Syiwa, juga dikenal sebagai Ganesha, dan memiliki kedudukan yang sangat luhur baik dalam sistem Hindu maupun Tantra. Selain itu, Dharmaraja juga menyebutkan bahwa dalam kepercayaan tradisional Hindu, Jambhala Merah sering dipuja bersama beberapa Dewi, termasuk Mahasri, Kali, serta lima Dewi Panjang Umur dan Sarasvati. Dalam susunan pemujaannya, Ganapati sering dipasangkan dengan Hanuman.
Karena Jambhala Merah memiliki kekuatan besar, Ia dihormati sebagai Istadewata penting yang mampu dengan cepat menumbuhkan berkah dan kebajikan. Dharmaraja melafalkan Mantra Hati Jambhala Merah: “Om. Ga Na Ba Di Ye. Suo Ha” Dalam sadhana, dapat membentuk mudra belalai gajah untuk memperkuat pemanunggalan dengan Istadewata (Dharmaraja memperagakan).
Mengenai Istadewata utama upacara hari itu, karena Dharmaraja akhir-akhir ini kurang sehat, sadhana penyeberangan arwah yang biasanya tidak pernah terputus terpaksa dihentikan sementara. Oleh sebab itu, melalui Upacara Homa ini secara khusus dipanjatkan permohonan kepada Buddha Amitabha agar mengatur secara sempurna penyeberangan bagi para makhluk alam halus yang selama ini menantikan pelimpahan jasa.
Dharmaraja menjelaskan bahwa dalam sistem ajaran Buddha Amitabha terdapat Sutra Amitabha Pendek, Sutra Amitabha Panjang, dan Sutra Kontemplasi Buddha Amitayus. Dalam Sutra Amitabha Panjang disebutkan tentang “kumara yang terlahir melalui transformasi”, yaitu Padmakumara yang merupakan perwujudan Buddha Amitabha, melambangkan makhluk yang terlahir di Tanah Suci secara alami dari padma, dalam keadaan suci dan murni. Oleh karena itu, dalam upacara ini secara khusus dimohonkan kepada Trini Arya Sukhavati: Buddha Amitabha, Bodhisatwa Avalokitesvara, dan Bodhisatwa Mahasthamaprapta, agar memancarkan cahaya agung dan menjemput semua makhluk yang menantikan penyeberangan, menuju Sukhavati.
Dharmaraja juga menyampaikan bahwa metode Tanah Suci adalah jalan mudah; insan hanya perlu mengingat Buddha Amitabha dan melafalkan nama agung-Nya, sehingga memperoleh bimbingan Buddha dan terlahir di Tanah Suci yang memiliki kondisi sempurna untuk melanjutkan bhavana. Karena itulah, di dunia Saha, di antara berbagai metode penyelamatan makhluk oleh para Buddha, metode Buddha Amitabha adalah yang paling luas dan mendalam.
Dharmaraja selanjutnya menjelaskan bahwa Tanah Suci, sesuai tingkat realisasinya, terbagi menjadi Alam Suci Cahaya Keheningan Abadi, Alam Suci Keagungan Sambhogakaya, Alam Suci Upaya Bersisa, dan Alam Suci Bersama Makhluk Suci dan Awam, yang masing-masing berkaitan dengan pencapaian Buddha Dharmakaya, Buddha Sambhogakaya, dan Buddha Nirmanakaya. Di Tanah Suci, makhluk berlatih Tiga Puluh Tujuh Faktor Pencerahan, yang mencakup Empat Landasan Perhatian, Empat Usaha Benar, Empat Daya Gaib, Lima Akar, Lima Kekuatan, Tujuh Faktor Pencerahan, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan, hingga akhirnya dari tubuh manusia biasa merealisasikan pencerahan tertinggi sempurna, mencapai Anuttara Samyak Sambodhi.
Dalam Dharmadesana selanjutnya, Dharmaraja melanjutkan pembahasan hari sebelumnya mengenai hakikat alam asura. Dharmaraja menunjukkan bahwa meskipun asura dikenal dengan sifat pertarungan, alam mereka tidak sepenuhnya tidak baik; dewa, manusia, dan asura sama-sama termasuk tiga alam kebajikan, hanya dengan karakteristik yang berbeda.
Dharmaraja menjelaskan bahwa usia hidup asura sebanding dengan alam dewa, jauh lebih panjang dibandingkan manusia. Bagi dewa dan asura, seratus tahun di dunia manusia hanyalah seperti satu hari. Dari segi usia, keberkahan, dan kenikmatan, alam asura hampir setara dengan alam dewa, bahkan jauh melampaui manusia; perbedaannya hanya terletak pada tingginya sifat pertikaian di alam asura.
Dharmaraja menambahkan bahwa kebahagiaan dan kemakmuran di alam asura bergantung pada status dan sebab-kondisi. Mereka yang berasal dari kalangan bangsawan atau memiliki berkah besar dapat menikmati kebahagiaan tanpa jeda; sedangkan makhluk biasa tetap terjebak dalam pertikaian sengit. Keadaan ini sesungguhnya tidak berbeda dengan pertikaian antarnegara dan antarindividu di dunia Saha, hanya berbeda tingkat dan bentuknya.
Mengenai sikap sadhaka, Dharmaraja menegaskan bahwa menurut ajaran Buddha, bahkan alam surga pun bukan tujuan akhir, apalagi alam asura. Tujuan bhavana bukanlah mengejar alam penuh kenikmatan, melainkan melampaui kelahiran dan kematian. Seorang Mahasiddha dapat memanifestasikan diri ke alam dewa atau asura untuk membabarkan Dharma, tetapi tujuan sejatinya tetap membimbing makhluk keluar dari kebodohan batin.
Dharmaraja juga menyebutkan bahwa Guru Padmasambhava pernah memanifestasikan diri ke alam asura demi menyelamatkan makhluk di sana, menunjukkan kekuatan ikrar welas asih yang tidak dibatasi oleh alam. Namun, dari sudut pandang bhavana tertinggi, tetap harus kembali pada Dharma sejati yang diajarkan Buddha. Dharmaraja mengutip ajaran Sutra Surangama, bahwa kunci bhavana adalah menyadari kebodohan dalam enam indra, enam objek, dan enam kesadaran yang membentuk delapan belas ranah, kembali ke asal sejati, pada Batin Sejati yang tidak bertambah dan tidak berkurang. Dewa, manusia, asura, hingga neraka, preta, dan binatang, semuanya muncul karena satu pikiran keliru; bila kebodohan dihancurkan dan pencerahan dibangkitkan, maka pada hakikatnya semuanya murni tanpa perbedaan.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab
Pertanyaan 1:
Buddha Guru pernah melukis gambar Dua Belas Dewi Mahasri yang agung dan indah, serta mentransmisikan banyak metode sadhana Dewi Mahasri. Dewi Mahasri juga merupakan Pelindung Dharma yang mulia dalam silsilah. Para siswa dengan hormat memohon Buddha Guru berwelas asih menganugerahkan “Gatha Pujian Dewi Mahasri”, karena saat ini belum terdapat tata ritual dan pujian resmi Dewi Mahasri.
Jawaban Dharmaraja:
Gatha pujian dan sadhana Dewi Mahasri sebenarnya sudah ada dan pernah ditransmisikan sebelumnya. Dharmaraja menjelaskan bahwa Dewi Mahasri memiliki hubungan sebab yang mendalam dengan Raja Dewa Vaisramana, salah satu dari Catur Maharaja. Istana Dewi Mahasri terhubung dengan istana Raja Dewa Vaisramana, menunjukkan kedudukan penting Dewi Mahasri dalam sistem Dharmapala.
Pertanyaan 2:
Dewi Mahasri memiliki wujud lembut dan juga wujud Vajra krodha. Apakah dalam sadhana santika dan vasikarana memvisualisasikan wujud lembut; sedangkan dalam sadhana perlindungan, penyingkiran rintangan, dan sadhana mimpi Dewi Mahasri memvisualisasikan wujud murka? Ataukah bebas sesuai preferensi pribadi?
Jawaban Dharmaraja:
Dewi Mahasri memang memiliki aspek keberuntungan dan aspek murka, masing-masing digunakan dalam sadhana Tantra tertentu. Dalam sadhana perlindungan dan simabandhana, sebaiknya memvisualisasikan wujud murka; sedangkan untuk sadhana paustika dan vasikarana, wujud lembut lebih sesuai. Dharmaraja menekankan bahwa visualisasi sadhana tidak mengikuti selera pribadi, melainkan harus sesuai dengan silsilah dan tahapan sadhana Istadewata, Guru, dan Dharmapala.
Pertanyaan 3:
Dalam salah satu buku, Buddha Guru menyebutkan bahwa beliau akan memberikan pemberkatan kepada kaum homoseksual, selama terdapat “cinta sejati”. Karena Buddha Guru adalah Buddha yang memanifestasikan kesetaraan sejati, maka pertanyaanya: apakah homoseksual yang ingin memperoleh hubungan cinta yang harmonis dapat menekuni Sadhana Vidyaraja Raga dan Bhagavati Kurukulla?
Jawaban Dharmaraja:
Vidyaraja Raga dan Bhagavati Kurukulla termasuk dalam metode vasikarana. Dari sudut pandang kesetaraan Buddhadharma, tidak ada pembedaan berdasarkan orientasi. Setelah memohon petunjuk, dalam sebagian besar kasus sadhana ini diperbolehkan; yang terpenting adalah ketulusan dan pikiran benar dari sadhaka.
Pertanyaan 4:
Dalam Tantra Jepang, Dewi Mahasri selain menganugerahkan berkah juga memiliki jasa dalam pernikahan. Apakah boleh memohon jodoh benar kepada Dewi Mahasri?
Jawaban Dharmaraja:
Dalam Tantra, Dewi Mahasri dikenal memberikan berkah, kebijaksanaan, dan ramalan. Danau suci Lhamo Latso di Tibet juga dianggap sebagai tempat Dewi Mahasri menampakkan pertanda; pencarian titisan Lama selalu bergantung pada petunjuknya. Mengenai jodoh pernikahan, Dharmaraja mengatakan: tunggu sampai ruang altar Yue Lao di Ling Shen Ching Tze Temple selesai dibangun, lalu berdoa kepada Yue Lao.
Dharmaraja kemudian juga menyebutkan bahwa beliau pernah memuliakan Dewi Mahasri dalam bentuk Gatha dalam salah satu kumpulan karya tulis Beliau (Jilid 54 – Sadhana Karman Tantra):
Memohon berkah, berbuat baik menambah kebajikan,
Dewi berjubah indah dan anggun;
Laksana lukisan, pujana mengabulkan harapan,
Perempuan berbhavana sowan Mahadewi.
◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4
“Dan lagi, seseorang yang menderita penyakit mata mungkin melihat fatamorgana bunga di udara, tetapi begitu penyakitnya sembuh, bunga-bunga yang dilihatnya di udara akan menghilang. Bayangkan orang itu cukup bodoh untuk melihat ke tempat bunga-bunga itu menghilang dan berharap melihatnya muncul kembali. Apakah Anda akan menganggap orang seperti itu bodoh atau bijak?”
Purna menjawab, “Tidak pernah ada bunga di udara. Bunga-bunga itu muncul karena kesadaran visualnya terdistorsi. Melihat bunga-bunga menghilang ke udara juga merupakan distorsi. Mengharapkan bunga-bunga itu muncul kembali adalah kebodohan hingga ke titik ketidakwarasan. Bagaimana mungkin seseorang menyebut orang tidak waras seperti itu hanya bodoh, apalagi menyebutnya bijak?”
Sang Buddha menjawab, “Karena Anda memahami itu, mengapa Anda bertanya apakah gunung, sungai, dan segala sesuatu di dunia ini akan muncul kembali untuk para Buddha, yang merupakan Tathagata dan yang telah menyadari kesunyataan yang menakjubkan dan pencerahan nan terang?
“Sekali lagi, pertimbangkan contoh tambang emas. Bijihnya mengandung emas yang bercampur dengan kotoran.” Setelah emas dimurnikan, ia tidak akan kembali menjadi bijih. Begitu pula kayu yang telah terbakar menjadi abu tidak akan pernah menjadi kayu lagi.
“Hal yang sama berlaku untuk nirwana, yaitu pencerahan penuh yang direalisasikan oleh sarwa Buddha, Tathagata.”
Dharmaraja mengutip dialog antara Buddha Sakyamuni dan Arya Purna, menjelaskan perumpamaan “orang sakit mata melihat bunga di angkasa”. Dharmaraja menyatakan bahwa bunga di angkasa hanyalah ilusi yang dilihat oleh mata yang sakit; Angkasa sejatinya tidak memiliki bunga, hanya karena pandangan keliru maka tampak seolah nyata.
Ketika penyakit mata sembuh, bunga ilusi itu pun lenyap. Bila masih menunggu bunga itu muncul kembali, maka itu adalah kebalikan dan kebodohan. Dengan perumpamaan ini, Buddha menunjukkan bahwa segala fenomena dunia bukanlah keberadaan sejati, melainkan ilusi akibat kebodohan batin.
Sarwa Buddha Tathagata telah merealisasikan Batin Sejati Terang nan Luhur, berdiam dalam sifat Tathagata-garbha, seperti emas yang telah dimurnikan atau kayu yang telah menjadi abu, tidak mungkin kembali ke keadaan semula. Oleh karena itu, pencerahan dan nirwana Buddha tidak lagi memunculkan gunung dan bumi yang bersifat ilusi.
Dharmaraja menekankan bahwa bila seseorang merealisasikan Batin Sejati Terang nan Luhur, ia akan menembus segala keterikatan duniawi. Kekayaan, tanah, kedudukan, harta, rupa, dan masa muda hanyalah muncul dari kebodohan sementara dan bersifat tidak kekal. Pembebasan sejati adalah melihat hakikatnya sebagai sunya dan tidak lagi melekat.
Dharmaraja menyimpulkan bahwa yang tercerahkan melampaui kebodohan batin dan berdiam di Empat Alam Suci, sedangkan yang tidak tercerahkan terus berputar dalam Enam Alam Samsara. Dewa, manusia, dan asura, meski termasuk tiga alam kebajikan, tetap dipenuhi pertikaian. Semuanya berawal dari satu pikiran avidya menghasilkan delusi.
Usai Dharmadesana yang sangat mendalam, Dharmaraja dengan welas asih menganugerahkan Abhiseka Sadhana Buddha Amitabha kepada seluruh hadirin, dan Upacara Dharma pun berakhir dengan sempurna.
------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia
#DharmadesanaDharmarajaLiansheng
#TrueBuddhaSchool
#BuddhaAmitabha
Istadewata Homa Minggu depan #JambhalaMerah