10 Januari 2026 Pujabakti Sadhana Istadewata Padmakumara di Seattle

10 Januari 2026 Pujabakti Sadhana Istadewata Padmakumara di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple

Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple (西雅圖雷藏寺)

Pada tanggal 10 Januari 2026, keempat kelompok siswa berkumpul di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple untuk mengikuti Pujabakti Sadhana Istadewata Padmakumara minggu ini, serta mendengarkan Dharmadesana istimewa dari Buddha Guru Lian Sheng. Seluruh hadirin dipenuhi sukacita, bergembira bersama, ikut menikmati sukacita Dharma, dan bersama bermandikan budi jasa Buddha.

Dalam Dharmadesana, Mahaguru Lu menyebutkan bahwa beberapa siswa menyampaikan kabar tentang kekayaan mendadak yang mereka alami. Beliau berkata, melihat orang lain memperoleh kekayaan besar, di dalam hati justru merasa ikut bahagia. Bagi diri Beliau sendiri, memiliki sedikit keinginan dan merasa cukup, kepuasan batin itulah yang merupakan kekayaan besar.

◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab

Seorang siswa bertanya:
Buddha Guru pernah menyebutkan bahwa jika ingin memperpanjang usia dan kesehatan Buddha Guru, perlu melakukan kebajikan besar, banyak melafalkan Mantra Hati Buddha Amitayus, serta menekuni Sadhana Buddha Amitayus. Mohon Buddha Guru menjelaskan, apakah yang dimaksud dengan melakukan kebajikan besar?

Jawaban Mahaguru Lu:
(Mahaguru Lu memohon petunjuk Mahadewi Yaochi) Beliau menyampaikan bahwa dalam Empat Ajaran Liao Fan terdapat ajaran tentang “ilmu membangun nasib”, yang mengajarkan kita untuk melakukan tiga ribu perbuatan baik. Tiga ribu kebajikan yang dikumpulkan bersama-sama itulah yang disebut kebajikan besar. Bukan berarti Anda harus menunggu melakukan satu perbuatan yang sangat besar baru mau melakukannya, melainkan semua perbuatan baik jika dijumlahkan; ketika Anda telah melakukan tiga ribu perbuatan baik, itulah kebajikan besar.

Adapun segala perbuatan yang melukai atau membahayakan kehidupan makhluk lain, jangan dilakukan. Anda perlahan-lahan mengumpulkan satu per satu, hingga mencapai tiga ribu perbuatan, itulah kebajikan besar. Segala sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk hidup adalah perbuatan baik; yang tidak bermanfaat bagi makhluk hidup adalah perbuatan jahat. Jika Anda secara khusus melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi makhluk hidup, itu adalah satu kebajikan. Jika ada tiga ribu perbuatan yang bermanfaat bagi makhluk hidup, itulah tiga ribu kebajikan, tiga ribu jasa kebajikan. Ketiga ribu jasa kebajikan itu bila digabungkan, itulah kebajikan besar.

◎ Pengulasan Sutra Surangama

“Purna, engkau bertanya lagi: tanah, air, api, dan angin, pada hakikatnya saling menyatu secara sempurna dan meliputi seluruh Dharmadhatu; engkau meragukan mengapa sifat air dan api tidak saling memusnahkan.”

Arya Purna, engkau kembali bertanya tentang tanah, air, api, dan angin, yaitu fenomena dunia saha. Pada dasarnya semuanya saling berada bersama, saling menyatu secara harmonis, dan memenuhi seluruh dunia saha. Engkau, Purna, meragukan bahwa sifat air dan api saling bertentangan. Air dapat memadamkan api, api dapat menguapkan air, namun kenyataannya air dan api dapat tetap berdampingan.

“Engkau juga mempertanyakan angkasa dan seluruh bumi, yang sama-sama meliputi Dharmadhatu, tetapi tampaknya tidak saling menyatu.”

Angkasa itu bersih dan tanpa halangan, sedangkan bumi memiliki sifat menghalangi; misalnya menyeberangi sungai atau mendaki gunung, semuanya ada rintangan. Namun angkasa dan seluruh bumi sama-sama meliputi Dharmadhatu, keduanya berada bersama di dunia saha dan sama-sama eksis. Mengapa bisa demikian?

“Purna, ibarat angkasa, hakikatnya bukan kumpulan rupa, namun tidak menolak berkembangnya segala rupa. Mengapa demikian?”

Angkasa terbentang tanpa batas, tidak memiliki rupa apa pun, seakan tidak ada apa-apa. Namun meskipun angkasa sepenuhnya terbuka dan tanpa hambatan, ia tetap memungkinkan tanah, air, api, dan angin di dalamnya menjalankan fungsinya masing-masing secara bebas. Mengapa bisa demikian?

“Purna, di angkasa maha luas, ketika matahari bersinar maka menjadi terang; ketika awan berkumpul maka menjadi gelap; ketika angin bertiup maka bergerak; ketika hujan berhenti maka menjadi jernih; ketika udara memadat maka menjadi keruh; debu tanah menumpuk menjadi kabut; air yang jernih memantulkan bayangan. Menurutmu, apakah maknanya?”

Di dalam angkasa maha luas, ketika sinar matahari muncul, bumi menjadi terang. Ketika awan menutupi matahari, bumi menjadi gelap. Ketika angin bertiup, pepohonan bergoyang. Setelah hujan berhenti, langit menjadi cerah. Ketika udara memadat, keadaan menjadi keruh dan suram, seperti saat cuaca mendung. Air yang bersih dapat memantulkan bayangan. Apakah makna dari semua ini?

“Demikianlah berbagai rupa fenomena yang tercipta ini, apakah muncul karena sebab tertentu, ataukah karena sunya dan keberadaan?”

Berbagai rupa fenomena ini muncul karena sebab-sebab tertentu? Ataukah karena “sunya” dan “keberadaan”? Sunya dan keberadaan sesungguhnya saling menyatu, sehingga menjadi “keberadaan adalah sunya, dan sunya adalah keberadaan”

“Jika memang muncul karena sebab tersebut…”

Buddha Sakyamuni kemudian menjelaskan kepada Purna dengan menggunakan matahari sebagai perumpamaan.

“Purna, ketika matahari bersinar, itu jelas karena terang matahari; seluruh dunia di sepuluh penjuru dipenuhi warna matahari. Lalu mengapa masih terlihat matahari bulat di angkasa? Jika terang itu berasal dari angkasa, maka angkasa seharusnya bersinar sendiri; mengapa pada malam hari atau saat berkabut tidak memunculkan cahaya?”

Ketika sinar matahari menyinari segala penjuru, semua tempat yang terkena cahaya tampak berwarna matahari, tetapi kita tetap dapat melihat matahari bulat di angkasa. Jika cahaya itu dihasilkan oleh angkasa, maka pada saat tertutup awan dan kabut, mengapa tidak muncul cahaya?

Buddha Sakyamuni bertanya: apakah cahaya itu dihasilkan oleh angkasa, atau oleh matahari?

“Ketahuilah, cahaya itu bukan berasal dari matahari, bukan pula dari angkasa; namun juga tidak terpisah dari matahari maupun angkasa.”

Ketahuilah bahwa cahaya tersebut bukan semata-mata dihasilkan oleh matahari, juga bukan semata-mata oleh angkasa; tidak satu dan tidak berbeda.

“Mengamati rupa, hakikatnya adalah ilusi, tidak dapat ditunjuk sebagai sesuatu yang nyata. Ibarat mengejar bunga di angkasa lalu mengikatnya menjadi buah angkasa. Bagaimana mungkin mempertanyakan makna saling memusnahkan? Mengamati hakikat, sejatinya adalah kebenaran, hanya kesadaran agung yang murni. Terang Kesadaran Luhur Sejati yang murni ini sejak awal bukan air atau api; lalu mengapa mempertanyakan ketidakselarasan? Hakikat Terang Kesadaran Luhur Sejati Terang sejati juga demikian.”

Segala rupa fenomena adalah ilusi dan tidak nyata, tidak dapat dikatakan mana yang benar. Seperti bunga di angkasa yang berubah menjadi buah di angkasa. Segala rupa yang terlihat di dunia ini sepenuhnya ilusi dan tidak nyata, sehingga tanah, air, api, dan angin dapat hadir bersama. Semua rupa adalah bukan-rupa, rupa bukanlah rupa, namun tetap disebut rupa.

Seribu sungai terdapat air, seribu sungai memantulkan bulan. Di berbagai tempat di dunia dapat terlihat bulan, Danau Washington, Danau Sammamish, Danau Phantom, masing-masing memiliki satu bulan.

Namun bulan yang mana yang asli? Ternyata semuanya tidak nyata.

Wajah manusia pun berubah. Seseorang dari kecil hingga dewasa memiliki rupa yang berbeda; ketika muda ada rupa muda, ketika tua ada rupa tua. Walaupun orangnya sama, rupanya telah berubah. Rupa manusia juga ilusi. Gunung yang dahulu tidak bersalju kini bersalju; Malaysia dan Thailand yang dahulu tidak mengalami gempa kini mengalami gempa. Dunia terus berubah, manusia pun berubah; tidak ada yang tetap. Segala sesuatu yang memiliki rupa adalah ilusi.

Tanah, air, api, dan angin hadir bersamaan; ada saling menghasilkan dan juga saling menaklukkan. Dalam konsep lima unsur juga terdapat saling menaklukkan dan saling menghasilkan: logam menaklukkan kayu, kayu menaklukkan tanah, tanah menaklukkan air, air menaklukkan api, api menaklukkan logam. Ada penaklukan, tetapi juga ada kelahiran; keduanya hadir bersamaan.

Tubuh kita pun sama, terdiri dari tanah, air, api, dan angin; ada saling menghasilkan dan saling menaklukkan. Semuanya menyatu dan saling berubah. Tubuh manusia dan seluruh dunia ini sepenuhnya adalah proses saling menghasilkan dan saling menaklukkan, saling menampung satu sama lain.

Melalui pembabaran Dharma yang mendalam namun mudah dipahami, Dharmaraja Lian Sheng menggugah segenap siswa, membangkitkan sukacita Dharma. Kemudian, Dharmaraja dengan penuh welas asih mengadhisthana segenap hadirin, dan pujabakti minggu ini pun usai dengan sempurna.

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB

Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate

Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊

Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw

Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature

Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org

Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng

TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

請佛住世長壽佛心咒 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。