18 Januari 2026 Upacara Homa Vidyarajni Mahamayuri di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)
Pada tanggal 18 Januari 2026, Mahaguru Lu, Dharmaraja Lian Sheng, memimpin Upacara Homa Vidyarajni Mahamayuri di Rainbow Temple, Seattle, Amerika Serikat. Pada hari itu, mandala disusun dengan agung, arus Dharma mengalir memurnikan, segenap siswa baik yang hadir langsung maupun melalui jaringan daring berkumpul untuk bersama menerima manfaat Dharma.
Pada awal upacara, selaras tahapan silsilah, dengan penuh hormat Dharmaraja Lian Sheng bersembah puja kepada para Guru Sesepuh: Biksu Liao Ming, Guru Sakya Zhengkong, Gyalwa Karmapa ke-16, Guru Thubten Dhargye, serta Triratna Mandala. Secara khusus, Beliau juga memberi penghormatan kepada Istadewata Homa hari itu, Buddha Vidyarajni Mahamayuri. Dharmaraja juga menyapa umat dengan hangat dalam berbagai bahasa, suasana dipenuhi sejuknya keharmonisan Guru dan siswa.
Selanjutnya, Dharmaraja Lian Sheng mengumumkan bahwa pada 25 Januari minggu berikutnya akan diselenggarakan Upacara Homa Mahadewi Yaochi, dan secara khusus menekankan kedudukan fundamental Mahadewi Yaochi dalam sistem bhavana. Dharmaraja Lian Sheng mengutip berbagai hasil kajian yang menjelaskan bahwa banyak Bhagavati dalam Vajrayana Tibet sejatinya merupakan perwujudan Mahadewi Yaochi. Sebagai contoh, Achi Chokyi Drolma yang dihormati oleh garis Drikung Kagyu, serta ibu dari Raja Gesar, keduanya dengan jelas tercatat sebagai manifestasi Mahadewi Yaochi. Dharmaraja menyampaikan bahwa Mahadewi Yaochi berasal dari Taman Para Suci Yaochi di Gunung Kunlun, merupakan Makhluk Suci Abadi Agung paling awal sejak zaman purba, dengan sejarah yang amat panjang.
Mengenai Istadewata hari itu, Vidyarajni Mahamayuri, Dharmaraja menjelaskan asal-usulnya yang luar biasa. Mahkota permata yang dikenakan Vidyarajni Mahamayuri adalah mahkota Mahavairocana, yang menunjukkan bahwa beliau adalah manifestasi dari Buddha Vairocana. Pada saat yang sama, Buddha Sakyamuni dalam kehidupan lampau pernah terlahir sebagai Raja Merak, sehingga Vidyarajni Mahamayuri nisyandakaya dari Buddha Sakyamuni. Selain itu, di Sukhavatiloka, merak juga merupakan salah satu manifestasi Buddha Amitabha. Dengan demikian dapat diketahui bahwa Vidyarajni Mahamayuri memiliki keagungan sempurna sebagai kesatuan tiga Buddha: Vairocana, Sakyamuni, dan Amitabha.
Dharmaraja selanjutnya menjelaskan empat aktivitas utama (caturkarma) Vidyarajni Mahamayuri:
Teratai putih di tangan melambangkan santika (tolak bala).
Buah bilva melambangkan paustika (pertumbuhan).
Buah matulunga melambangkan vasikarana (kerukunan).
Bulu merak memiliki kekuatan abhicaruka (penundukan).
Bulu merak yang disisipkan pada kalasa abhiseka juga berasal dari ikonografi Vidyarajni Mahamayuri, menunjukkan kesempurnaan daya spiritual dan kelengkapan empat aktivitas.
Dharmaraja Lian Sheng juga menggunakan contoh kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan kedudukan luhur burung merak dalam budaya India. Merak dipandang sebagai simbol kemuliaan; Dinasti Maurya (Dinasti Merak) dalam sejarah sangat menjunjung Buddhadharma, membangun banyak stupa relik, dan memberi kontribusi besar bagi penyebaran ajaran Buddha.
Selain memiliki empat aktivitas utama, Dharmaraja Lian Sheng juga pernah menurunkan Metode Vidyarajni Mahamayuri untuk Meredam Gempa Bumi, yaitu dengan mengambil tanah dari empat penjuru untuk sadhana, lalu mengembalikannya ke tempat semula guna mencapai tujuan menenteramkan bencana dan menstabilkan bumi.
Dharmaraja Lian Sheng berinteraksi dengan Acarya Lian Ci dari vihara Vancouver, yang menyampaikan bahwa setelah mempraktikkan metode tersebut, kondisi gempa di wilayah setempat menjadi stabil. Dalam aspek ajaran Dharma, Dharmaraja menjelaskan secara mendalam Catur-sarana khusus dalam Sadhana Vidyarajni Mahamayuri. Berbeda dari Catur-sarana pada umumnya, dalam sadhana ini terdiri dari:
1. Bersarana kepada Mulacarya,
2. Bersarana kepada Buddha Vidyarajni Mahamayuri,
3. Bersarana kepada Sutra Vidyarajni Mahamayuri,
4. Bersarana kepada samudra pariwara Vidyarajni Mahamayuri.
Hal ini karena pariwara Vidyarajni Mahamayuri sangatlah luas. Dalam mandalanya tercakup Sapta Buddha, dengan Bodhisatwa Maitreya di pusat, di sisi kiri dan kanan terdapat Pratyekabuddha dan Sravaka, serta menaungi Delapan Raja Langit, Dua Puluh Delapan Rasi, Sembilan Graha, dan Dua Belas Zodiak, sehingga Dharmadhatu tercakup secara sempurna tanpa rintangan.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab
Pertanyaan mengenai aneka pergerakan pada Tahun Kuda dan isu perjalanan:
Tahun Kuda juga melambangkan mobilitas dan perpindahan. Bagi umat Taiwan dan Amerika Serikat yang pada tahun 2026 berencana ke luar negeri, pindah tempat tinggal, penugasan luar negeri, atau perubahan kerja jarak jauh, apakah Mahaguru Lu menyarankan “menenangkan batin terlebih dahulu sebelum bergerak” atau “memanfaatkan momentum”? Dan bagaimana cara paling sederhana untuk membuat simabandhana perlindungan diri saat bepergian?
Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan bahwa Tahun Kuda ditandai perubahan yang intens, terutama Tahun Kuda Api, yang bagaikan kuda liar sulit dikendalikan. Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk bertindak gegabah mengikuti arus; sebaliknya, perlu menenangkan batin dan bersikap hati-hati. Dharmaraja Lian Sheng mengumpamakan dengan kuda surgawi Raja Gesar, menjelaskan bahwa kuda liar hanya dapat menjadi kuda unggul setelah bertemu sebab dan kondisi yang tepat serta melalui penjinakan jangka panjang. Demikian pula, pada tahun yang penuh gejolak, seorang sadhaka hendaknya menstabilkan diri terlebih dahulu, bukan memaksakan laju.
Dharmaraja selanjutnya mengajarkan simabandhana perlindungan diri paling sederhana sebelum bepergian. Seseorang dapat melafalkan Sutra Keberangkatan (Chumenjing/出門經), memohon para Buddha, Bodhisatwa, dan Dharmapala untuk senantiasa menyertai, sebagai perlindungan dasar dalam aktivitas harian.
Bagi sadhaka yang menekuni Bodhisatwa Vajrapani, Dharmaraja Lian Sheng mengajarkan metode sederhana: sebelum mengenakan pakaian, buat mudra Vajrapani, lalu ucapkan mantra “Om Bo Ru Lan Zhe Li” sebanyak tujuh kali pada pakaian, maka terbentuklah simabandhana tubuh. Dalam keseharian, menyatukan telapak tangan sambil melafalkan mantra ini juga memiliki daya perlindungan.
Selain itu, Dharmaraja Lian Sheng juga menyampaikan metode simabandhana sederhana dari Buddha Amitabha: melafalkan “Om. Ah. Hum” tujuh kali, membayangkan cahaya merah menyelimuti seluruh tubuh, maka seseorang dapat bepergian dengan tenang. Dharmaraja menegaskan bahwa seorang sadhaka tidak perlu terikat pada ritual yang rumit; selama simabandhana sederhana dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka tubuh terlindungi dan perjalanan akan berlangsung dengan aman.
◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4
Dalam Dharmadesana, Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan makna “Tathagatagarbha Hati Mula nan Luhur dan Sempurna”, menunjukkan bahwa Buddha dalam Sutra berulang kali menggunakan kata “bukan” untuk menjelaskan hakikat sejati, agar para siswa mampu membedakan dengan jelas antara “ini” dan “bukan ini”, serta tidak terjebak dalam konsep dan keterikatan. Hakikat Batin Sejati Terang nan Luhur ini bukanlah kesadaran, bukan pula kekosongan; bukan tanah, air, api, angin; bukan mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, maupun pikiran; juga bukan rupa, suara, bau, rasa, sentuhan, dan dharma; bahkan bukan enam kesadaran maupun delapan belas unsur, semua itu bukan esensinya.
Dharmaraja Lian Sheng melanjutkan bahwa pernyataan Sutra seperti “bukan terang dan bukan tanpa terang, hingga bukan tua dan bukan mati” mencakup dua belas sebab akibat; “bukan duka, bukan sebab, bukan lenyap, bukan jalan” melampaui Empat Kebenaran Mulia; “bukan kebijaksanaan dan bukan pencapaian” juga melampaui konsep keberhasilan bhavana. Penolakan menyeluruh ini bukanlah penyangkalan terhadap bhavana, melainkan bimbingan agar sadhaka menyadari bahwa semua dharma tidak lahir, dan bahwa segala sesuatu hanyalah manifestasi ilusi dari sebab dan kondisi.
Dharmaraja mencontohkan kehidupan dan kematian: tanpa memandang miskin atau kaya, mulia atau hina, semuanya pada akhirnya kembali ke keheningan sunya; status, pengetahuan, dan pencapaian akan lenyap bersama waktu, tidak ada yang kekal. Oleh sebab itu, Buddha terlebih dahulu meniadakan semua fenomena untuk mematahkan keterikatan makhluk pada konsep “aku”, “manusia”, “makhluk”, dan “umur”.
Namun, penafian ini tidak jatuh pada kehampaan nihil. Dharmaraja Lian Sheng menegaskan bahwa justru karena hakikatnya sunya dan hening, segala fenomena dapat muncul; seluruh keberadaan duniawi adalah manifestasi sementara dari Tathagatagarbha, Hati Mula nan Luhur dan Sempurna. Inilah makna tertinggi dari ajaran “rupa adalah sunya, sunya adalah rupa” dalam Sutra Hati.
Setelah menyelesaikan pengulasan Dharma yang mendalam, Dharmaraja Lian Sheng menganugerahkan Abhiseka Sadhana Vidyarajni Mahamayuri kepada seluruh hadirin. Upacara pun berakhir dengan sempurna dan manggala.
------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia
#DharmadesanaDharmarajaLiansheng
#TrueBuddhaSchool
#VidyarajniMahamayuri
Istadewata Homa Minggu depan #MahadewiYaochi