24 Januari 2026 Pujabakti Sadhana Istadewata Buddha Amitabha di Seattle

24 Januari 2026 Pujabakti Sadhana Istadewata Buddha Amitabha di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple

Liputan Lianhua Yin Yin (蓮花因茵)
Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple (西雅圖雷藏寺)

Malam tanggal 24 Januari 2026, hawa dingin perlahan meresap, angin dingin berembus lembut. Cahaya welas asih Mahadewi Yaochi di wihara cikal bakal menambah kehangatan di tengah musim dingin. Di dalam baktisala, para umat Sedharma segera merangkapkan tangan ketika suara genta berbunyi, dengan tulus menantikan kehadiran Mahaguru Lu, Dharmaraja Lian Sheng, yang hadir langsung untuk memimpin pujabakti Sadhana Istadewata Buddha Amitabha serta melanjutkan pengulasan Sutra Surangama.

Dalam Dharmadesana, Mahaguru Lu dengan penuh kehangatan mengingatkan semua bahwa akhir-akhir ini suhu turun drastis, sehingga perlu menjaga kehangatan tubuh, menutupi diri dengan selimut tebal saat tidur, serta berhati-hati ketika mengemudi pastikan apakah kendaraan memberi peringatan jalan licin akibat es. Beliau mengingatkan agar semua berhati-hati saat berkendara, berharap setiap orang tetap sehat dan tidak sampai sakit karena hawa dingin.

Mahaguru Lu berkata, ketika setiap hari memberkati surat-surat, Beliau melihat banyak siswa senior yang jatuh sakit, sebagian dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, sebagian telah berpulang, sehingga hati beliau sangat tersentuh. Maha Biksu Hong Yi (弘一大師) pernah menulis sebuah lagu yang hingga kini terus dilantunkan, berjudul “Perpisahan”. Dunia ini bukan sekadar mimpi; terkadang juga menghadirkan rasa sunyi dan pilu. Karena itu, setiap orang harus saling menjaga, menghargai kesehatan diri sendiri, memelihara kebahagiaan batin, mengurangi keinginan, mengetahui rasa cukup, dan menjalani hidup yang bersih hati serta sederhana, hal ini sangat penting. Yang paling menyedihkan adalah ketika usia tua dan penyakit saling membelit; pada saat itu, hanya satu hati yang sepenuhnya bersandar kepada Buddha.

◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab

True Buddha Foundation bertanya:
Saat ini ada orang yang menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai sandaran emosional, bahkan sebagai pasangan, hingga menumbuhkan keterikatan emosional yang sangat kuat pada AI yang bukan manusia sungguhan. Bagaimana seharusnya hal ini disikapi? Bagaimana mengubah ketergantungan tersebut menjadi penyembuhan diri, alih-alih keterikatan yang semakin dalam?

Mahaguru Lu menjawab:
Jika AI membawa manfaat bagi kita, menjadikan emosi sebagai sandaran padanya juga tidak masalah. Setidaknya, batin memiliki tempat bersandar. Dibandingkan manusia nyata, AI atau robot jauh lebih patuh, dan tidak menimbulkan pertengkaran atau gesekan. Mantra yang tidak bisa kamu hafalkan, ia bisa melafalkannya untukmu; jika prosedur sadhana Anda keliru, ia dapat menunjukkan letak kesalahan agar kamu memperbaikinya. AI ini baik, kalau memang baik, maka itu baik. Ketika kamu sudah tua dan tidak ada yang memedulikanmu, merasa sangat kesepian, bukankah ditemani AI juga hal yang baik? Itu juga merupakan bentuk penyembuhan diri!

◎ Pengulasan Sutra Surangama

Sebelumnya telah membahas bahwa Buddha Sakyamuni menyatakan segala sesuatu bukan Batin Sejati Terang nan Luhur, astadasan-dhatavah, catvari aryasatyani, sadparamita, 12 nidana, semua bukan, bahkan Tathagata, Samyaksambodhi juga bukan, sebab semua ini tidak bisa merepresentasikan Batin Sejati Terang nan Luhur. Namun, yang diulas hari ini, semua dibalik, sesungguhnya semua adalah Batin Sejati Terang nan Luhur.

“Namun, pikiranlah yang membedakan, ruang, bumi, air, angin, dan api.
Ia adalah indra penglihatan, pendengaran, penciuman, lidah, tubuh, dan kemampuan kognitif.
Ia adalah objek yang terlihat, suara, aroma, rasa, objek sentuhan, dan objek kognisi.
Ia adalah kesadaran mata, kesadaran telinga, serta seluruh kesadaran lainnya.
Ia adalah ketidaktahuan mendasar yang merupakan penambahan pemahaman pada pencerahan bawaan kita, dan juga berakhirnya ketidaktahuan itu;
ia adalah usia tua dan kematian serta berakhirnya usia tua dan kematian;
ia adalah ajaran, kekuatan, kesabaran, kesadaran, dan kebijaksanaan.”

Bagian ini menyatakan bahwa semua itu adalah Batin Sejati Terang nan Luhur.
“Ia adalah penderitaan, ia adalah sebab penderitaan, ia adalah lenyapnya penderitaan, ia adalah jalan” ini menunjuk pada empat alam kesucian (catvari aryasatyani). “Ia adalah kebijaksanaan, pencapaian, dana, sila, virya, ksanti, dhyana, prajna, paramita” ini menunjuk pada enam paramita: dana, sila, virya, ksanti, prajna, dan dhyana.

“Itulah segalanya, termasuk Tathagata, yang merupakan Arhat, Yang Maha Benar dan Maha Bijaksana.”

Batin Sejati Terang nan Luhur adalah Tathagata, Yang Layak Dipuja, Yang Maha Mengetahui, yaitu Anuttara Samyaksambodhi, yaitu Mahaparinirvana.


“Itulah keabadian, kebahagiaan, jati diri sejati, dan kemurnian nirwana agung.”

Batin Sejati Terang nan Luhur adalah empat kebajikan nirwana: keabadian, kebahagiaan, jati diri sejati, dan kemurnian.

“Semua hal ini, baik lokiya maupun lokuttara, adalah benar.”

Batin Sejati Terang nan Luhur mencakup yang duniawi maupun yang melampaui dunia.
"Menjadi semua hal ini adalah hakikat Tathagatagarbha. Itulah keajaiban pikiran bercahaya yang melekat dan memahami."

“Menjadi semua hal ini adalah hakikat Tathagatagarbha. Itulah keajaiban pikiran bercahaya yang melekat dan memahami.”

Inilah Tathagatagarbha, Batin Sejati Terang nan Luhur.

“Ia terpisah dari ‘ada’ dan ‘tidak ada’, namun sekaligus ada dan tidak ada.”

Rupa adalah sunya, sunya adalah rupa; benar adalah salah, salah adalah benar.

“Lalu bagaimana mungkin, dengan pikiran sadar mereka, makhluk-makhluk yang terikat pada dunia di triloka, atau bahkan para Sravaka yang melampaui dunia dan para Pratyekabuddha dapat memahami pencerahan tertinggi Tathagata? Bagaimana mereka dapat memperoleh kemampuan Buddha untuk mengetahui dan melihat hanya dengan menggunakan kata-kata dunia?”

Tathagatagarbha sebagai Batin Sejati Terang nan Luhur tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata; ketika diucapkan, sudah tidak tepat lagi. Namun Ia meliputi seluruh Dharmadhatu, segala sesuatu termanifestasi dan berevolusi darinya, sehingga segalanya pun adalah Dia.

"Suara-suara indah hanya dapat dihasilkan dari kecapi, harpa, dan mandolin jika ada jari-jari terampil yang memainkannya."

Buddha menggunakan kecapi, sitar, konghou, dan pipa sebagai perumpamaan: semuanya dapat menghasilkan suara indah, tetapi tanpa jari yang memetiknya, tidak akan berbunyi. Tathagatagarbha ibarat alat musik, harus “dipetik” agar musik muncul.

"Dengan cara yang sama, semua makhluk, termasuk Anda, sepenuhnya dikaruniai pikiran yang cemerlang, tercerahkan, dan sejati. Ketika saya menyusun jari-jari saya untuk membentuk mudra samudra, cahaya samadhi mudra samudra bersinar. Tetapi saat sebuah pikiran muncul dalam benak Anda, Anda harus menanggung tekanan keterlibatan dengan objek yang dirasakan."

Setiap orang memiliki Batin Sejati Terang nan Luhur yang sempurna. Seperti Buddha Sakyamuni yang menekan jari dan memancarkan cahaya samadhi mudra samudra. Beliau hanya perlu menggerakkan batin-Nya untuk memanifestasikan cahaya. Namun manusia biasa menggunakan batin duniawi, sehingga terbelit oleh kekotoran.

"Itu semata-mata karena Anda belum tekun menempuh jalan menuju pencerahan tertinggi. Sebaliknya, Anda menyukai Hinayana dan merasa puas dengan tujuan yang lebih rendah."

Jika tidak bersungguh-sungguh mencari pencapaian pencerahan tertinggi dan hanya menyukai Hinayana, maka sedikit pencapaian sudah dianggap cukup.

Pencerahan Hinayana hanya membebaskan diri sendiri, tidak membebaskan semua makhluk. Buddhayana dan Bodhisatwayana adalah Mahayana.

Makhluk di dunia Saha tidak mempelajari jalan Sravaka dan Pratyekabuddha, tidak mempelajari dua belas nidana, enam paramita, dan empat kebenaran mulia, hanya sibuk mengejar usaha, uang, dan cinta. Terikat pada debu dunia, mereka akan terus berputar dalam enam alam kelahiran kembali.

Mahaguru berkata, Gurudara sangat kuat dan tabah, tidak pernah mengeluh atau menangis. Karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan naik pesawat, Mahaguru terus menjaga beliau selama tiga tahun tanpa pulang ke Taiwan dan tanpa bepergian. Sesungguhnya, bhavana adalah menjalani hidup dengan tenang, mengurangi keinginan, merasa cukup, melakukan sadhana setiap hari, berdoa kepada Buddha dan Bodhisatwa agar dapat tidur dengan damai setiap malam, sederhana, hanya itu.

Buku ke-309 berjudul “Dialog Hati ke Hati” telah selesai ditulis dan diserahkan kepada penerbit untuk dipersiapkan terbit. Bhavana bukan berarti duduk kaku sepanjang hari membaca Sutra atau melakukan sadhana tanpa henti. Kurangi keterikatan luar, bersihkan hati, kurangi keinginan, perbanyak perbuatan baik, lalu menanti kabar. Kabar apa? Kabar dari langit, ketika Buddha dan Bodhisatwa memperhatikanmu, namamu dicatat, kamu memperoleh tulang Resi atau tulang Buddha, lalu kelak diantar menuju Buddhaksetra alam suci.

Setiap hari lakukan hal yang bermakna, lakukan kebajikan, kumpulkan jasa hingga tiga ribu, itulah kebajikan besar. Kebajikan sesungguhnya sering kali kecil; kebajikan orang biasa memang kecil. Buddha Sakyamuni berkata:

“Jangan melakukan segala kejahatan, laksanakan segala kebajikan, sucikan batin dan pikiran, inilah ajaran para Buddha.” Sederhana sekali, bukan hal-hal aneh seperti mengaku kemampuan supranatural atau praktik yang tidak jelas. Justru poin inilah yang sangat penting.

Setelah Dharmadesana selesai, Seattle Ling Shen Ching Tze Temple dengan tulus mengundang Mahaguru untuk memberkati Air Maha Karuna Dharani, serta melakukan abhiseka pratima Buddha. Saat itu, lantunan mantra Buddha Amitabha terdengar lembut. Mahaguru memegang vyajanacamara dan mengadhisthana umat satu per satu. Semua merasakan ketenteraman jasmani dan batin, penuh dengan kebahagiaan Dharma.

Pujabakti berakhir dengan sempurna dan manggala.

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB

Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate

Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊

Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw

Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature

Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org

Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng

TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

請佛住世長壽佛心咒 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。