25 Januari 2026 Upacara Homa Mahadewi Yaochi di Rainbow Temple

25 Januari 2026 Upacara Homa Mahadewi Yaochi di Rainbow Temple

Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)

12 Oktober 2026, Rainbow Temple dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin Upacara Homa Mahadewi Yaochi. Pada awal Dharmadesana, Buddha Guru terlebih dahulu mengumumkan bahwa pada Minggu depan, 1 Februari, pukul tiga sore Beliau akan memimpin Upacara Homa Vajrasattva.

Dharmaraja menegaskan bahwa Vajrasattva adalah Pemimpin Spiritual Tantra. Pada masa lampau, Bodhisatwa Nagarjuna membuka menara besi di India Selatan dan berjumpa langsung dengan Vajrasattva, sehingga ajaran tantra dapat ditransmisikan ke dunia.

Dharmaraja menjelaskan bahwa Vajrasattva, Bodhisatwa Vajrapani, dan Vajracitta sejatinya adalah manifestasi tubuh, ucapan, dan pikiran dari Pemimpin Spiritual Tantra. Bagi para sadhaka, melatih Mantra Seratus Aksara dan Mantra Hati Vajrasattva merupakan latihan pertobatan harian yang mutlak diperlukan untuk meneguhkan Bodhicitta di jalan Dharma.

【Ikatan Lima Puluh Tahun: Bersandar Sepenuh Hati dari Masa Muda hingga Senja】

Ketika membahas asal-usul Zhenfo Zong, Dharmaraja Lian Sheng mengenang bahwa pada usia 26 tahun beliau berjumpa dengan Mahadewi Yaochi. Sejak saat itu, nasib dan peruntungan hidupnya berbalik total, dari seorang pemuda biasa menjadi Dharmadhuta.

“Aku mengikuti Mahadewi Yaochi sejak usia 26 tahun, dan sekarang aku sudah berusia 82 tahun.” Dharmaraja menghitung satu per satu pratima Buddha Mahadewi Yaochi di kediamannya: Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan, Mahadewi Yaochi Besar, Mahadewi Yaochi Avatara, hingga Mahadewi Yaochi Bermuka Hitam. Baik di baktisala maupun kamar tidur, jejak Mahadewi Yaochi hadir di mana-mana.

Beliau dengan humor menyebutkan bahwa bahkan Drashi Lhamo yang baru-baru ini diperkenalkan pun merupakan jodoh Dharma yang dipertemukan oleh Mahadewi Yaochi. Dharmaraja dengan jujur mengungkapkan bahwa kehidupan ini seolah-olah dijalani demi Mahadewi Yaochi dan demi pembabaran Dharma: “Jika Mahadewi Yaochi tidak membawa aku kembali, aku pun tidak ingin menjalani hari-hari lagi di dunia Saha ini.”

【Rahasia Ritual Sebelum Tidur: Tidur Nyenyak Berkat Dua Lapis Simabandhana】

Dharmaraja juga menjabarkan secara rinci ritual doa dan perlindungan sebelum tidur yang beliau lakukan setiap hari. Beliau tidak hanya mendoakan kesehatan jasmani bagi Gurudara Acarya Lian Xiang dan dirinya sendiri agar terhindar dari penyakit, tetapi juga melafalkan Mantra Dewa Liu Ding Liu Jia, dipadukan dengan Mantra Sembilan Aksara, sambil menggambar fu untuk membentuk simabandhana, divisualisasikan sebagai cahaya putih yang menyelimuti.

Setelah itu, Dharmaraja melakukan simabandhana kedua: Buddha Amitabha sebagai Istadewata, Beliau memvisualisasikan huruf “A” bercahaya merah muncul di tenggorokan, lalu menyelimuti seluruh kediamannya Taman Arama Nanshan. Di bawah perlindungan dua lapis simabandhana ini, Dharmaraja berseloroh bahwa dirinya telah menjadi “dewa tidur”, dapat tertidur kapan saja dan di mana saja, menikmati ketenangan dan kebahagiaan yang dibawa oleh tidur.

【Memandang Dunia Apa Adanya - Bertekad Kembali ke Buddhaksetra】

Ketika berbicara tentang harapan terakhir dalam hidup, Dharmaraja Lian Sheng menunjukkan sikap yang amat transenden. Beliau menyatakan bahwa pengalaman hidup di dunia manusia sudah “lebih dari cukup”, dan di masa depan beliau tidak lagi melekat pada samsara, melainkan berharap kembali ke pangkuan Mahadewi Yaochi, Buddha Amitabha, dan Bodhisatwa Ksitigarbha.

◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab

Dalam sesi Interaksi Adalah Kekuatan, True Buddha Foundation mengajukan pertanyaan kepada Dharmaraja:

"Di era AI yang dipenuhi informasi palsu, deepfake dan berita bohong semakin menyerupai kenyataan sehingga banyak orang terseret arus. Ajaran Buddha mengajarkan “mengamati rupa tanpa melekat pada rupa”. Mohon Buddha Guru berkenan memberikan petunjuk: di zaman ketika yang benar dan yang palsu sulit dibedakan, bagaimana cara melatih mata kebijaksanaan, agar tidak buta dan tidak ekstrem?

【Dunia Saha adalah Ilusi - Hanya Tathagatagarbha yang Sejati】

Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan bahwa manusia modern memang khawatir terseret arus informasi AI, namun dari sudut pandang Dharma Buddha, dunia ini sendiri sejak awal bersifat semu dan membingungkan.
Beliau mengutip ajaran Sutra Surangama, menegaskan bahwa selain Tathagatagarbha dan Batin Sejati Terang nan Luhur, seluruh fenomena di dunia Saha pada hakikatnya adalah tidak nyata.

“Manusia pun tidak nyata, semua fenomena tidak nyata.”

Dharmaraja menekankan bahwa melatih mata kebijaksanaan bukanlah soal kemampuan teknis membedakan informasi internet, melainkan pada praktik “mengamati rupa dan melepaskan rupa”. Selama seseorang memahami bahwa segala sesuatu hanyalah fenomena palsu hasil pertemuan sebab dan kondisi, maka ia tidak akan digerakkan oleh dunia luar.

【Ibarat “Manusia Purba” Dharmaraja dan AI Tidak Bersentuhan】

Yang mengejutkan, di tengah puncak kemajuan teknologi, Dharmaraja Lian Sheng justru menyebut dirinya sebagai “Makhluk Langka”. Beliau dengan jujur mengaku sama sekali tidak memahami AI, bahkan fungsi ponsel yang digunakan hanya sebatas menelpon.

“Aku tidak pernah berselancar di internet, tidak tahu nomor ponselku sendiri, bahkan tidak tahu apa itu Line.”

Beliau tertawa mengenang ketika seseorang mengajaknya bertukar aplikasi komunikasi, sementara dirinya hanya terdiam kebingungan. Dharmaraja menegaskan bahwa beliau tidak mengangkat telepon dan tidak melihat ponsel, hidup dalam dunia yang sangat sederhana dan tanpa pertikaian. Filosofi hidup yang sederhana ini membuat beliau kebal secara alami terhadap penipuan teknologi dan kecemasan informasi. Dengan jenaka beliau berkata:

“Kelompok penipu tidak bisa menipuku, karena ponselku saja tidak pernah aku buka!”

【Bagaimana Jika AI Meniru Wajah dan Suara Buddha Guru? Dharmaraja: Itu Urusan Orang Lain】

Jika kelak AI meniru suara dan citra Buddha Guru untuk menyebarkan informasi palsu, bagaimana menyikapinya?

Dharmaraja menjawab dengan lapang:
“Itu urusan orang lain, bukan urusanku.”

Beliau menilai bahwa urusan administratif duniawi semacam itu seharusnya ditangani oleh True Buddha Foundation, sementara sebagai seorang lanjut usia, satu-satunya hal yang Beliau perhatikan sekarang adalah apakah tidurnya nyenyak atau tidak. Beliau pun berbagi bahwa di zaman penuh kekacauan ini, justru pola hidup sederhana semakin berharga: makan tiga kali sehari, tidur dengan baik, dan melatih simabandhana.

Dharmaraja berseloroh bahwa dirinya telah memasuki “empat samadhi”, baik di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple maupun di Rainbow Temple, beliau dapat tidur mengikuti kondisi. Semakin sederhana hidup, semakin jernih batin.

【Trilaksana sebagai Tolok Ukur: Duka, Sunya, dan Anitya adalah Kebenaran】

Tentang bagaimana melatih mata kebijaksanaan, Dharmaraja menyetujui pandangan siswa mengenai Trilaksana. Beliau menegaskan kembali bahwa ajaran Buddha Sakyamuni:

"Segala yang berkondisi tidak kekal, sarwadharma tanpa inti, Nirwana adalah kedamaian absolut." Ekadharmasvabhavamudra, adalah satu-satunya standar untuk menguji kebenaran.

Dharmaraja dengan penuh perhatian mengingatkan umat agar tidak tersesat dalam kerumitan AI. Hidup hendaknya semakin sederhana. Jika seorang sadhaka benar-benar memahami makna duka, sunyata, anitya, dan anatman, maka ia akan mampu tidak buta dan tidak ekstrem, serta tetap jernih di tengah arus deras informasi palsu dan benar.

Dengan nada rendah hati, Dharmaraja menyatakan bahwa jika dalam kehidupan ini terdapat hal-hal yang Beliau lakukan belum sempurna, Beliau memohon pengertian dan maaf dari semuanya.

◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4

Purna berkata, “Aku dan Tathagata sama-sama dikaruniai pikiran yang berharga, tercerahkan, sempurna, bercahaya, benar, menakjubkan, dan murni yang memahami. Namun demikian, untuk waktu yang tak ada habisnya aku diganggu oleh perbuatan-perbuatan pikiranku yang sesat, dan untuk waktu yang lama aku terikat pada siklus kematian dan kelahiran kembali. Meskipun sejak itu aku telah menjadi seorang bijak, pencerahanku belum sepenuhnya sempurna, sedangkan Begawan telah mengakhiri semua khayalan sehingga hanya apa yang menakjubkan, benar, dan abadi yang tersisa. Aku berani bertanya kepada Tathagata mengapa semua makhluk menderita karena delusi. Mengapa mereka terus menutupi pemahaman mereka yang menakjubkan dan bercahaya sehingga mereka terus tenggelam dalam samsara?”

Buddha bersabda kepada Purna: “Walaupun engkau telah menghilangkan keraguan, sisa kebingunganmu belum sepenuhnya habis. Aku akan menggunakan peristiwa yang nyata di dunia ini dan kembali bertanya kepadamu. Tidakkah engkau pernah mendengar, di kota Srala ada seorang bernama Yajnadatta? Suatu pagi ia bercermin, mencintai alis dan mata di dalam cermin yang terlihat jelas. Namun ia memarahi kepalanya sendiri karena tidak dapat melihat wajahnya secara langsung, mengira dirinya adalah makhluk aneh, lalu berlari-lari dengan gila tanpa arah.

Menurutmu, mengapa orang itu tiba-tiba menjadi gila? Purna menjawab: ‘Itu karena batinnya sendiri menjadi gila, tidak ada sebab lain.’

Buddha bersabda: ‘Kesadaran sejati yang luhur dan sempurna pada dasarnya sudah sempurna dan terang. Jika disebut sebagai khayalan, bagaimana mungkin ada sebab? Jika ada sebab, bagaimana bisa disebut khayalan? Khayalan muncul dari khayalan yang saling bergantungan, dari kebingungan yang menumpuk kebingungan, berlangsung sepanjang kalpa sebanyak butir debu. Walaupun Buddha menjelaskannya, tetap sulit untuk kembali. Kebingungan itu muncul dari kebingungan itu sendiri; mengenali kebingungan tidak memiliki sebab, dan khayalan tidak memiliki sandaran.’”

【Pertanyaan Purna: Mengapa Batin Sejati yang Sempurna Melahirkan Delusi?】

Dharmaraja mengutip Sutra tersebut dan menjelaskan bahwa Arya Purna menyadari bahwa meskipun dirinya memiliki batin sejati yang sama dengan Tathagata, ia tetap terjerat khayalan tanpa awal dan berputar dalam samsara. Bahkan setelah mencapai buah Arahat, ia belum mencapai kesempurnaan tertinggi.

Pertanyaannya kepada Buddha Sakyamuni adalah: “Mengapa semua makhluk memiliki delusi?” Bagaimana batin murni bisa tertutupi dan menimbulkan arus kelahiran dan kematian tanpa akhir?

Dharmaraja memberikan perumpamaan yang hidup:
Batin Sejati Terang nan Luhur ibarat biola atau pipa (kecapi Tiongkok) yang sangat indah.
Buddha adalah pemusik ulung, sekali disentuh, terdengar nada suci yang menakjubkan.
Sedangkan makhluk biasa meskipun memiliki alat musik, tidak tahu cara memainkannya; ketika ditekan, yang muncul hanyalah rasa sakit dan penderitaan.

【Yajnadatta Bercermin: Tersesat dalam Fenomena Palsu】

Mengenai asal-usul delusi, Dharmaraja menjelaskan kisah terkenal Yajnadatta. Karena melekat pada bayangan dalam cermin, ia menimbulkan kebingungan pertama, lalu kebingungan menumpuk kebingungan, berkembang sepanjang kalpa. Dharmaraja menegaskan bahwa manusia modern yang tergoda oleh rupa, harta, dan uang, melihat keindahan lalu timbul keterikatan, semuanya berawal dari kebingungan sebagai sebab, yang kemudian melahirkan delusi tanpa batas.

【Kunci Mematahkan Delusi: Tanpa Keinginan dan Merasa Cukup】

“Jika kita tahu bahwa kebingungan ini bisa dipecahkan, maka delusi tidak lagi memiliki sandaran.”

Dharmaraja menjelaskan bahwa masalah makhluk muncul karena tertipu oleh hal-hal yang tidak nyata. Beliau mencontohkan dirinya sendiri: di usia senja, Beliau telah merasa cukup terhadap uang dan materi. Walaupun mengikuti keinginan makhluk dengan meneriakkan “menjadi kaya raya”, batinnya sejatinya jernih dan sederhana.

Beliau menekankan, bhavana mesti semakin "tiada yang dikejar":
Sedikit keinginan, tahu cukup: Mengurangi godaan terhadap harta dan materi dunia.
Batin jernih dan hasrat minimal: Tidak lagi teperdaya oleh rupa dan atribut palsu.
Tidak mengejar: Ketika batin tidak lagi mencari ke luar, delusi kehilangan sandarannya, dan batin pun menjadi tenteram.

Dengan humor, Dharmaraja menutup dengan mengatakan bahwa karena tanpa keinginan, beliau dapat tertidur nyenyak hanya dalam beberapa detik setelah memejamkan mata. Beliau mendorong para sadhaka untuk melepaskan masa lalu, dan hidup di saat ini dengan kepuasan dan kejernihan.

Setelah Dharmadesana yang mendalam dan penuh welas asih ini, Dharmaraja berkenan menganugerahkan Abhiseka Sadhana Mahadewi Yaochi kepada seluruh hadirin. Upacara pun berakhir dengan sempurna.

------------------------

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB

Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate

Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊

Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw

Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature

Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org

Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng

TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

#DharmadesanaDharmarajaLiansheng
#TrueBuddhaSchool
#MahadewiYaochi
Istadewata Homa Minggu depan #Vajrasattva

請佛住世長壽佛心咒 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。