1 Februari 2026 Upacara Homa Vajrasattva di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)
Pada 1 Februari 2026, Dharmaraja Lian Sheng memimpin Upacara Homa Vajrasattva di Rainbow Temple. Dalam upacara tersebut, pertama-tama Beliau bersembah puja kepada Guru Sesepuh Silsilah, Triratna Mandala, serta Istadewata Homa hari itu, “Vajradhara Ketujuh”, Vajrasattva.
Setelah menyampaikan salam hangat kepada para siswa yang hadir di lokasi maupun yang mengikuti secara daring, Dharmaraja kemudian mengumumkan bahwa pada hari Minggu berikutnya (8 Februari) pukul tiga sore akan diselenggarakan Upacara Homa Bhagavati Usnisavijaya. Dharmaraja menjelaskan bahwa Bhagavati Usnisavijaya memiliki tiga wajah, yang masing-masing melambangkan perpaduan welas asih, kebijaksanaan, dan kekuatan, serta secara langsung memperagakan mudra dan mantra Bhagavati Usnisavijaya di hadapan hadirin.
【Tingkatan Pemimpin Spiritual Tantra dan Vajradhara】
Mengenai Istadewata utama hari itu, Vajrasattva, Dharmaraja menegaskan kedudukannya yang tertinggi dan tiada banding dalam agama Buddha Tantrayana. Silsilah Tantra bermula dari Vajradhara Pertama, Arya Vajradhara atau Dorje Chang, kemudian dilanjutkan dengan Pancadhyani Buddha, yaitu:
Buddha Vairocana (tengah),
Buddha Aksobhya (timur),
Buddha Amitabha (barat),
Buddha Ratnasambhava (selatan),
Buddha Amoghasiddhi (utara).
Kelima Buddha ini merupakan lima Vajradhara. Adapun Vajrasattva adalah perwakilan utama dari keenam Vajradhara tersebut, dan dihormati dengan gelar Vajradhara Ketujuh, yakni pemimpin tertinggi Vajrayana.
【Bodhisatwa Nagarjuna dan Asal-Usul Tantra di Dunia Manusia】
Dharmaraja secara khusus menguraikan asal-usul Bodhisatwa Nagarjuna sebagai Guru Sesepuh manusia bagi Tantra. Pada masa lampau, Bodhisatwa Nagarjuna membuka Menara Besi di India Selatan, dan secara langsung bertemu Vajrasattva. Dari Vajrasattva, Beliau menerima transmisi Dharma Agung Mandala Vajradhatu dan Mandala Garbhadhatu.
Dengan adanya silsilah yang diturunkan langsung dari Vajradhara Ketujuh ini, barulah Tantra dapat berkembang kemudian hari. Oleh karena itu, Vajrasattva sejatinya adalah Pemimpin Spiritual Tantra, sedangkan Bodhisatwa Nagarjuna adalah tokoh kunci yang membawa silsilah Dharma ini ke dunia manusia.
【Penyempurna Sadhana: Mantra Sataksara】
Dharmaraja Lian Sheng Berdharmadesana, bahwa setiap sadhaka, dalam setiap praktik sadhana, wajib melafalkan Mantra Sataksara, yang merupakan mantra panjang Vajrasattva. Mantra ini memiliki kebajikan yang amat luas. Apabila dalam sadhana terdapat kelalaian atau kekurangan apa pun, maka dengan melafalkan Mantra Sataksara tiga kali pada bagian akhir, seluruh kekurangan tersebut dapat disempurnakan sepenuhnya.
Saat memperagakan mantra pendek: “Om. Biezha. Saduo. A. Hom Pei”, Dharmaraja dengan jenaka mengingatkan bahwa kata “Hom Pei” harus diucapkan dengan tekanan kuat, dan jangan sampai dibaca sebagai “hong bei” (memanggang), karena nanti maknanya berubah menjadi membuat pizza, biskuit, atau roti, yang langsung mengundang tawa penuh keakraban dari seluruh hadirin.
【Wujud Silsilah dan Nadi Dharma Tak Berwujud】
Ketika membahas wujud konkret silsilah, Dharmaraja mengenang sebuah foto Guru Thubten Dhargye: Sang Guru memegang vajra di tangan kanan dan genta vajra di tangan kiri, duduk dengan wibawa di atas Dharmasana tinggi, dengan thangka sebagai latar belakang. Inilah perwujudan simbolis dari “Vajradhara”. Dharmaraja menjelaskan bahwa Vajradhara Universal (Adi Buddha, Samantabhadra Raja Tathagata), bersama Pancadhyani Buddha dan Vajrasattva, merupakan silsilah tak berwujud. Ketika Dharma hadir di dunia, setiap Acarya adalah “Vajradhara Kedelapan”, yakni penerus silsilah berwujud.
【Manifestasi Vajrasattva dan Pohon Sarana】
Kata “Vajra” melambangkan ketidakterhancuran dan sunyata, sedangkan “Sattva” bermakna Bodhisatwa. Dharmaraja Lian Sheng selanjutnya menjelaskan bahwa: Vajrasattva melambangkan welas asih, Bodhisatwa Vajrapani melambangkan upaya terampil (upaya), Bodhisatwa Vajracitta melambangkan inti ajaran tubuh, ucapan, dan pikiran. Sesungguhnya, Lima Vajra Agung dan Delapan Vidyaraja dalam Tantra, beserta aksara bija “Hum”, semuanya tidak terpisahkan dari Vajrasattva, dan merupakan manifestasi-Nya.
Dharmaraja menggunakan perumpamaan “pohon sarana” untuk menjelaskan silsilah Tantra: Silsilah ibarat sebatang pohon besar, dari akar (sumber asal), batang, cabang, hingga daun yang paling halus. Meskipun cabangnya tampak kecil dan beragam, semuanya tetap satu kesinambungan silsilah.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab
Pertanyaan siswa dari Malaysia:
Pada tanggal 4 Mei 2024, Mahaguru Lu Lu saat pujabakti Istadewata Padmakumara Berdharmadesana:
“Dalam bhavana menuju Kebuddhaan, daya bantuan terbesar justru berasal dari semua makhluk. Pelimpahan jasa yang paling agung bukanlah untuk diri sendiri, melainkan untuk semua makhluk. Jika engkau berbuat demi semua makhluk dan bukan demi diri sendiri, itulah daya bantu terbesar.”
Pertanyaan siswa: Mengapa dalam sadhana mencapai Kebuddhaan perlu bergantung pada bantuan semua makhluk? Jika hanya mengandalkan usaha diri sendiri untuk menyeberangkan diri dan menyeberangkan orang lain, apakah dapat menjadi Buddha?
【Semua Makhluk Adalah “Orang Dekat”】
Dharmaraja Lian Sheng mengenang makna saat itu: “Karena kita hidup di dunia ini, dalam realitasnya semua makhluk sesungguhnya adalah para dermawan dan pemberi jasa bagi kita, maka sudah sepatutnya kita melimpahkan jasa kepada semua makhluk.”
Dharmaraja menegaskan bahwa dalam sadhana tidak boleh dibedakan antara yang hidup membiara maupun umat awam, bahkan tidak boleh dibatasi hanya pada manusia. Beliau menyatakan: “Semua makhluk hidup, termasuk semut yang merayap di tanah, ikan dan udang yang berenang di air, semuanya adalah orang dekat.”
Beliau mengingatkan para siswa bahwa kebutuhan sandang, pangan, papan, dan aktivitas sehari-hari tidak ada satu pun yang tidak bergantung pada semua makhluk; semua makhluk sesungguhnya adalah para pemberi jasa bagi kelangsungan hidup kita.
【Dengan Welas Asih kepada Semua Makhluk, Hati Dapat Terbuka】
Mengenai sumber pahala kebajikan, Dharmaraja berkata terus terang: “Tanpa welas asih kepada semua makhluk, dari mana kebajikan dapat muncul?”
Hati membalas budi: bukan hanya kepada orang tua dan keluarga kita membalas budi, tetapi kepada semua makhluk pun harus memiliki hati membalas budi.
Keterbukaan batin: hanya melalui welas asih kepada semua makhluk, seorang sadhaka dapat membuka hati yang sempit dan egois, serta menghimpun daya bantu untuk mencapai Kebuddhaan.
Kekuatan pelimpahan jasa: pelimpahan jasa yang paling agung bukanlah demi diri sendiri, melainkan demi semua makhluk. Karena diri sendiri pun adalah bagian dari semua makhluk; berbuat demi semua makhluk itulah kebajikan terbesar.
【Catur Apramana Citta: Bhavana Menolak Keakuan】
Dharmaraja secara khusus menegaskan kembali pentingnya catir apramana citta: maitri, karuna, mudita, dan upeksa. Beliau menjelaskan bahwa “upeksa” yang sejati bahkan mencakup mempersembahkan hidup dan waktu sendiri bagi khalayak. Jika sadhana hanya demi diri sendiri dan tidak menolong semua makhluk, maka akan jatuh pada keterbatasan Hinayana.
Dharmaraja mengutip konsep Taois “yin zhi” (kebajikan tersembunyi) untuk menjelaskan bahwa berbuat baik bagi semua makhluk tanpa mengharapkan balasan menghasilkan kebajikan (kebajikan tersembunyi) yang paling besar.
Di akhir, Dharmaraja mendorong semua orang bahwa daya bantu terbesar dalam mencapai Kebuddhaan memang berasal dari semua makhluk; jika kebajikan terkumpul penuh, barulah sifat batin dapat ditransformasikan dan masuk ke dalam barisan para makhluk suci.
Selain itu, siswa tersebut juga bertanya:
Saat melakukan sadhana Bhagavati Sitatapatra, apabila perlu memvisualisasikan perlindungan bagi beberapa tempat tinggal (misalnya siswa dan keluarga tinggal terpisah di Singapura, Malaysia, dan Tiongkok), apakah boleh memvisualisasikan “satu payung putih besar yang sama” tetap tidak bergerak, hanya mengganti rumah di bawahnya secara bergantian menjadi tempat tinggal yang berbeda? Siswa merasa cara ini lebih mudah untuk berkonsentrasi daripada memvisualisasikan satu payung untuk setiap rumah secara terpisah.
Dharmaraja Lian Sheng terlebih dahulu menuturkan Sadhana Simabandhana dan perlindungan yang dilakukan diri sendiri. Beliau menuturkan, setiap malam, sebelum tidur, Beliau akan melakukan dua lapis perlindungan yang sangat ketat:
Simabandhana lapis luar ( cahaya merah ) : Visualisasi di bagian tenggorokan, aksara “A” memancarkan cahaya merah yang sangat terang, menggunakan “Om. Ah. Hum” untuk mengadhisthana, supaya Arama Nanshan dinaungi sepenuhnya dari tiap arah, timur, selatan, barat, dan utara, membentuk sebuah bola cahaya yang kukuh.
Simabandhana lapir dalam ( jala cahaya putih ): Bagian ruang kamar, Dharmaraja memadukan Mantra Liu Ding Liu Jia dalam Tao, dengan Mantra Navaksara dalam Tantra.
Dharmaraja di tempat secara lancar melafalkan Mantra Liu Ding Liu Jia, memanggil para dewata Liu Ding Liu Jia serta jutaan pasukan dewa untuk membantu formasi, kemudian menggabungkan Mantra Navaksara “Lin, Bing, Dou, Zhe, Jie, Zhen, Lie, Zai, Qian”, menjelma menjadi satu jaring cahaya putih yang menyelubungi dirinya sendiri, mencapai efek perlindungan “menyatu dengan Tao dan bersatu dengan kebenaran”.
Visualisasi Bhagavati Sitatapatra: sejauh kekuatan batin menjangkau, semuanya dapat memperoleh adhisthana
Ada siswa yang bertanya, dirinya tinggal di suatu tempat, tetapi orang tua serta saudara-saudaranya tersebar tinggal di Singapura, Malaysia, Tiongkok, dan tempat lainnya. Apakah boleh memvisualisasikan satu “Sitatapatra” yang sangat besar, menutupi seluruh tempat tinggal mereka sekaligus agar lebih praktis dan dapat berkonsentrasi?
Dharmaraja Lian Sheng dengan terus terang menyatakan, biasanya ketika memvisualisasikan Arama Nanshan, cakupannya sudah sangat rinci. Jika harus sekaligus memvisualisasikan rumah-rumah yang terpisah ribuan mil di Amerika Serikat dan Taiwan, memang cukup rumit. Terlebih lagi, orang masa kini kebanyakan tinggal di apartemen bertingkat; untuk dengan jelas menggambarkan dalam benak struktur ruang setiap lokasi bukanlah hal yang mudah.
Namun, berlandaskan welas asih “Dharma tidak memiliki bentuk yang tetap”, setelah melakukan ramalan dewata di tempat, Dharmaraja menjawab: “Jika Anda mampu memvisualisasikannya, para Buddha dan Bodhisatwa juga mengatakan itu boleh!”
◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4
“Pada saat itu, Ananda berada di tengah-tengah persamuhan, bernamaskara menyentuhkan kepala pada Kaki Buddha, lalu bangkit dan berkata kepada Buddha:
‘Begawan, kini menjelaskan bahwa karma membunuh, mencuri, dan asusila, apabila tiga kondisi pendukungnya diputuskan, maka tiga sebabnya tidak akan timbul. Dalam batin, sifat gila (kebingungan) Datta dengan sendirinya berhenti. Ketika berhenti, itulah Bodhi, dan Bodhi itu tidak diperoleh dari orang lain. Dengan demikian, hukum sebab dan kondisi menjadi terang dan jelas.
Mengapa kini Tathagata justru seketika meninggalkan sebab dan kondisi? Dahulu aku melalui sebab dan kondisi dalam batinku memperoleh pencerahan. Begawan, apakah makna ini hanya berlaku bagi kami para sramana muda yang masih belajar?
Di dalam persaumhan ini, seperti Mahamaudgalyayana, Sariputra, Subhuti, dan lainnya, mereka dahulu mendengar dari para brahmana tua tentang ajaran sebab dan kondisi yang diajarkan Buddha, lalu membangkitkan tekad dan memperoleh pencerahan hingga mencapai keadaan tanpa tiris (anasrava).
Kini dikatakan bahwa Bodhi tidak berasal dari sebab dan kondisi. Jika demikian, maka ajaran kaum Kusali dan lainnya di Rajagriha tentang ‘naturalisme’ justru menjadi kebenaran tertinggi. Semoga Anda berkenan, dengan welas asih yang besar, membuka dan menyingkapkan kebingungan kami.’”
Dalam Dharmadesana, Dharmaraja Lian Sheng menggambarkan Arya Ananda yang bernamaskara menyentuh Kaki Buddha dalam persamuhan dan mengajukan sebuah pertanyaan inti. Ananda menyebutkan bahwa Buddha pernah mengajarkan: apabila tiga kondisi dari membunuh, mencuri, dan asusila dapat diputuskan, maka sebab-sebab jahat tidak akan timbul; ketika sifat kegilaan berhenti, itulah Bodhi. Termasuk Mahamaudgalyayana, Sariputra, dan Subhuti, para siswa utama yang unggul dalam kebijaksanaan dan daya gaib, pada awalnya juga mendengar Buddha mengajarkan hukum “timbul dan lenyap karena sebab dan kondisi”, lalu membangkitkan Bodhicitta dan akhirnya merealisasikan anasrava.
Ananda merasa tidak mengerti: jika dahulu hukum sebab dan kondisi ditekankan sebagai kunci pencerahan, mengapa sekarang Buddha justru mengatakan bahwa Tathagatagarbha dan Batin Sejati Terang nan Luhur tidak diperoleh dari sebab dan kondisi? Jika tidak berbicara tentang sebab dan kondisi, apa bedanya dengan ajaran “naturalisme” kaum tirthika di Rajagriha? Karena itu Ananda memohon Buddha, dengan welas asih agung, untuk menyingkapkan kebingungan batin semua makhluk.
【Tahapan Ajaran: Dari yang Timbul-Lenyap Menuju yang Tidak Timbul dan Tidak Lenyap】
Dharmaraja menjelaskan bahwa Buddha tidak sedang menolak ajaran sebelumnya, melainkan ini adalah suatu “tahapan Dharmasasana.”
Tahap awal:
Ditujukan bagi Sravakayana, Buddha mengajarkan “karena sebab timbul, karena sebab lenyap,” agar manusia memahami kefanaan dan keterikatan dunia.
Tahap tertinggi:
Dalam Sutra Surangama, Buddha membimbing Mahasangha memasuki tingkatan yang lebih tinggi, menyelidiki “Hati Mula nan Luhur dan Sempurna” yang tidak termasuk sebab dan kondisi, dan juga bukan naturalisme.
Dharmaraja dengan humor menggambarkan bahwa Buddha Sakyamuni laksana seorang filsuf dan pendebat yang sangat bijaksana, yang melalui bimbingan bertahap membawa para siswa melampaui fenomena sebab dan kondisi, menuju realisasi sejati yang tidak timbul dan tidak lenyap.
【Mengenang Guru, Menyadari Ketidakkekalan: Hidup Laksana Kilat】
Di tengah penjelasan Sutra yang mendalam, Dharmaraja membagikan sebuah kenangan yang menyentuh hati. Ia mengenang tiga hari sebelum parinirwana Gurunya, Thubten Dhargye.
Saat itu Sang Guru terbaring sakit di tempat tidur, harus menggunakan masker oksigen untuk bernapas, suaranya lemah. Ketika Dharmaraja dan Gurudara memohon agar Beliau tinggal lebih lama di dunia, Guru hanya dengan lembut melambaikan tangan, memberi isyarat “tidak akan tinggal lagi,” lalu dalam getaran tubuh yang lemah mengulurkan tangan untuk memberikan abhiseka terakhir kepada mereka berdua.
Dharmaraja menghela napas: Guru berpulang pada usia 75 tahun, sementara Gyalwa Karmapa ke-16 wafat pada usia lima puluhan di Chicago. Dengan ini Dharmaraja menasihati siswa:
“Hidup memang seperti ini, sangat singkat, sekejap saja sudah tiada.”
Setelah Dharmadesana yang penuh makna berakhir, Dharmaraja dengan welas asih menganugerahkan Abhiseka Sadhana Vajrasattva kepada seluruh hadirin, dan upacara pun berakhir dengan sempurna.
---------------------------------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia