7 Februari 2026 Pujabakti Sadhana Istadewata Bodhisatwa Ksitigarbha di Seattle

7 Februari 2026 Pujabakti Sadhana Istadewata Bodhisatwa Ksitigarbha di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple

Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple (西雅圖雷藏寺)
Oleh: Biksu Lian En (蓮嗯法師)

Pada tanggal 7 Februari 2026 pukul delapan malam, di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, Amerika Serikat, diselenggarakan pujabakti Sadhana Istadewata Bodhisatwa Ksitigarbha, dengan tulus mengundang Mulacarya Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin. Di penghujung tahun saat musim dingin, para rohaniwan dan umat Sedharma dari berbagai penjuru dunia datang silih berganti ke Seattle, masing-masing membawa hati yang penuh sukacita dan rasa syukur, menantikan untuk bersama Mahaguru Lu dan Gurudara menyambut perayaan Tahun Baru Imlek, berhimpun bersama, berbincang akrab layaknya keluarga, serta bersama-sama menikmati kebahagiaan reuni.

Setelah pujabakti selesai dengan sempurna, Mahaguru Lu berkata, Tahun Baru segera tiba. Orang-orang mengatakan bahwa merayakan Tahun Baru berarti bertambah satu tahun usia. Tetapi saya mengatakan bahwa bagi saya, merayakan Tahun Baru berarti berkurang satu tahun. Apa sebabnya? Orang lain bertambah satu tahun karena usia mereka meningkat satu tahun, sedangkan saya berkurang satu tahun karena setelah melewati satu tahun, berarti jatah hidup berkurang satu tahun. Masuk akal, bukan!

◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab

Siswa bertanya: Dalam Sutra Purva Pranidhana Bodhisatwa Ksitigarbha beberapa kali disebutkan tentang alam manusia pada masa kalpa yang tak terhingga lampau. Misalnya, dalam Sutra tercatat, “Pada masa lampau yang sangat jauh, kalpa sebelumnya yang tak terperikan, ketika Ia menitis sebagai putra seorang Maha Grhapati… Tathagata Simha-vikridita-vrihat-carya berkata kepada putra Grhapati itu: Jika engkau hendak membuktikan Tubuh Buddha yang agung ini, engkau harus dalam waktu yang sangat panjang membebaskan semua makhluk yang menderita.” Siswa merasa ragu, apakah ini menunjukkan bahwa alam manusia telah ada sejak kalpa yang tak terhingga lampau? Dan telah mengalami siklus terbentuk, bertahan, rusak, dan hampa secara berulang-ulang? Jika pada waktu itu bumi belum ada, apakah manusia tinggal di planet lain? Manusia yang disebut dalam Sutra pada kalpa tak terhingga lampau itu, apakah serupa dengan manusia sekarang? Apakah juga mungkin memiliki cara hidup berteknologi tinggi seperti zaman modern?

Mahaguru Lu menjawab: Kalpa adalah istilah waktu dari India kuno. Satu kali bumi mengalami terbentuk, bertahan, rusak, dan hampa disebut satu kalpa. Usia Dewa Maha Brahma adalah seratus kalpa, sama dengan bumi mengalami terbentuk, bertahan, rusak, dan hampa sebanyak seratus kali. Sedangkan usia manusia adalah yang paling pendek, seratus tahun saja sudah tiada. Karena itu, bagi manusia sangat sulit untuk mengukur usia alam dewa.

Menurut yang dijelaskan dalam Sutra Vimalakirti, usia makhluk di Buddhaksetra Gandhottama sangat panjang, pasti bukan berada di bumi. Arya Vimalakirti pernah memanifestasikan diri pergi ke Buddhaksetra Gandhottama untuk mengambil makanan dan membawanya kembali. Ia hanya mengambil sedikit saja makanan, lalu memberikannya kepada semua yang mendengarkan Dharma. Setelah dimakan, masih tersisa. Inilah teknologi tinggi. Makanan itu dapat berubah-ubah; sedikit makanan dibawa ke dunia Saha untuk dimakan bersama, semua orang kenyang dan masih tersisa. Selain itu, para Bodhisatwa di Buddhaksetra Gandhottama bertubuh sangat tinggi besar. Demi bertemu manusia, mereka juga mengecilkan wujudnya. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki teknologi tinggi.

Kita berbicara tentang Sukhavatiloka, itu sudah berbeda dengan dunia Saha kita. Musik yang terpancar di Sukhavatiloka adalah suara surgawi yang amat halus dan indah. Di sana bunga teratai besarnya seperti roda kereta. Makhluk-makhluk di sana, apa pun yang mereka pikirkan dalam hati akan terwujud; berpikir ingin pergi ke mana, seketika sampai di sana. Inilah teknologi tinggi. Yang ada di sana adalah istana emas dan paviliun tujuh permata. Di mana dunia Saha memiliki yang demikian? Semua itu berbeda dari dunia Saha, jadi memang berbeda.

Sakyamuni Buddha ketika membabarkan Sutra Amitabha mengatakan bahwa dari sini ke arah barat, harus melewati seratus ribu koti Buddhaksetra barulah dapat mencapai Sukhavatiloka. Ini menunjukkan bahwa masih ada tempat-tempat lain, bukan hanya satu dunia Saha, dan bukan hanya satu bumi saja.

◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4

"Buddha Sakyamuni memberitahu Ananda: 'Seperti di dalam kota ada Yajnadatta; karena sebab dan kondisi kegilaannya, jika sebab dan kondisi itu dapat disingkirkan, maka sifat tidak gila dengan sendirinya muncul. Sebab dan kondisi maupun kealamian, penalarannya berhenti sampai di sini. Ananda, Yajnadatta, pada dasarnya kepalanya memang alami, sejak semula memang demikian adanya; tidak ada yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Karena sebab dan kondisi apa ia menjadi takut pada kepalanya lalu berlari dengan gila? Jika kepala itu secara alami ada, lalu karena sebab dan kondisi menjadi gila, mengapa tidak secara alami pula karena sebab dan kondisi menjadi hilang? Kepala aslinya tidak pernah hilang; kegilaan dan ketakutan itu muncul dari delusi, sama sekali tidak pernah berubah, mengapa perlu bergantung pada sebab dan kondisi? Jika kegilaan itu alami, berarti sejak semula memang ada kegilaan dan ketakutan; sebelum ia gila, di mana kegilaan itu bersembunyi? Jika tidak gila itu alami, maka kepala pada dasarnya tidak pernah keliru; mengapa sampai berlari dengan gila? Jika ia menyadari kepala aslinya dan mengetahui bahwa lari gilanya itu hanyalah demikian, maka sebab dan kondisi maupun kealamian, keduanya hanyalah permainan kata-kata.'”

"Buddha Sakyamuni Buddha menjelaskan kepada Ananda: 'Lihatlah Yajnadatta di dalam kota Rajagrha. Penyebab kegilaannya adalah karena ia melihat kepalanya sendiri di dalam cermin, lalu mengira kepalanya telah hilang, sehingga ia menjadi gila. Padahal kepalanya tetap ada di tubuhnya; hanya karena delusinya ia menjadi gila. Jadi kegilaannya bukan karena sebab dan kondisi, juga bukan karena kealamian. Bukan sebab dan kondisi, bukan pula kealamian, semuanya hanyalah perbincangan kosong. Sesungguhnya tidak ada perubahan sama sekali; kepalanya tetap ada! Hanya karena ia melihat kepala di cermin dan mengira kepalanya tidak ada di tubuhnya, maka ia menjadi gila. Padahal kepalanya sama sekali tidak berubah. Di mana letak sebab dan kondisi? Juga bukan kealamian, ia saja yang menjadi gila.'"

“Karena itu Aku mengatakan: jika tiga kondisi diputuskan, maka itulah Bodhicitta.”

Apa yang dimaksud dengan “tiga kondisi”? Yaitu membunuh, mencuri, dan berzina, tiga kondisi ini. Jika engkau memutuskan ketiga kondisi itu sampai tuntas, maka dengan sendirinya Bodhicitta ada. Apakah Bodhicitta itu? Ia sejak semula sudah ada; bukan muncul secara alami, juga bukan muncul karena sebab dan kondisi. Engkau hanya perlu membersihkan debunya, maka Bodhicitta tampak di sana, sejak awal memang sudah ada.

“Bodhicitta muncul.”
Hati Bodhi tampak muncul.

“Saat padamnya pikiran yang lahir dan lenyap, ini semata kelahiran dan kemusnahan; lenyap dan lahir keduanya berakhir.”
Engkau tidak lagi memiliki batin, tidak ada lagi pikiran membunuh, mencuri, dan berzina; pikiran yang lenyap dan muncul dari membunuh, mencuri, dan berzina semuanya sudah tidak ada.

“Jalan tanpa upaya.”
Engkau tidak perlu melakukan apa pun; dengan sendirinya ada Bodhicitta.

“Jika ada yang disebut alami, maka demikianlah penjelasannya: hati yang alami lahir, hati yang lahir-lenyap padam, ini pun masih kelahiran dan kemusnahan. Yang tanpa lahir dan tanpa lenyap itulah yang dinamakan alami.”
Tiada lahir, tiada lenyap, barulah disebut alami.

“Seperti berbagai fenomena dunia yang bercampur dan menyatu menjadi satu tubuh, itu disebut sifat perpaduan. Yang bukan perpaduan disebut sifat asal-mula. Namun asal-mula bukanlah ‘demikian’, perpaduan bukanlah ‘bersatu’. Bersatu maupun alami keduanya ditinggalkan; terpisah maupun bersatu keduanya juga bukan.”

Bukan perpaduan, bukan pula alami, apa pun bukan. “Terpisah dan bersatu keduanya bukan”; baik dalam keadaan menyatu maupun terpisah, semuanya tidak tepat.

“Kalimat ini barulah dinamakan Dharma tanpa permainan kata”

Sakyamuni Buddha terutama menjelaskan bahwa bukan sebab dan kondisi, juga bukan kealamian. Asalkan engkau memutuskan sebab dan kondisi itu, maka Bodhicitta ada di sana.

Sederhananya, tidak perlu menghabiskan begitu banyak tenaga untuk berlatih; cukup putuskan tiga kondisi membunuh, mencuri, dan berzina, maka Bodhicitta memang sudah ada di sana. Inilah keadaan asal-mula, memang sejak awal demikian. Bukan karena engkau berlatih baru memiliki Bodhicitta; selama engkau menyingkirkan karma dan rintanganmu sendiri, Bodhicitta memang sudah ada.

Bukan sebab dan kondisi yang melahirkan Bodhicitta, juga bukan secara alami memiliki Bodhicitta, melainkan selama engkau memutuskan tiga kondisi membunuh, mencuri, dan berzina, itulah Bodhicitta.

Setelah Mahaguru Lu memberikan Dharmadesana yang indah dan berharga, dengan penuh welas asih beliau memberkati Air Mantra Maha Karuna bagi hadirin, serta mengadhisthana pratima Buddha.

Selanjutnya, Mahaguru Lu memegang vyajanacamara mengadhisthana segenap hadirin.

---------------------------------------------------------

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB

Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate

Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊

Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw

Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature

Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org

Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng

TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

全球真佛宗眾上師、教授師、法師、講師、助教暨全球弟子,萬眾一心,持誦 瑤池金母心咒,同心祈願 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。