Upacara Agung Musim Semi Homa Avalokitesvara Bodhisattva dan Transmisi Perdana Sadhana Istadevata Ye

Penulis : Ye Yan, editor True Buddha News

Secara Langsung Membuktikan Terma Padmasambhava
Mentransmisikan Sadhana Bhagavati Yeshe Tsogyal


1 Februari 2020 merupakan hari ke-8 awal bulan tahun Imlek Gengzi, Rainbow Temple (彩虹雷藏寺) dengan tulus mengundang perintis Zhenfo Zong : Anuttara Dharmaraja Liansheng untuk hadir secara langsung memimpin Upacara Agung Homa Avalokitesvara Bodhisattva.

Ini adalah pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir Rainbow Temple menyelenggarakan Upacara Agung Musim Semi. Pagi hari pukul 10:30 hari itu, Dharmaraja Liansheng telah tiba di Rainbow Temple untuk menghadiri acara tanda tangan buku karya tulis beliau yang terbaru : “Kiat Vimuktimarga” ( Jietuodao de koujue -解脫道口訣 ), para umat dan simpatisan dari berbagai negara juga berdatangan, persamuhan Dharma kali ini dihadiri oleh sekitar 2000 orang.

Sebelum upacara dimulai, ada lebih 700 orang pemohon utama yang berbaris untuk mempersembahkan khata kepada Dharmaraja, setiap umat mempersembahkan khata dengan membawa harapan supaya di masa-masa awal tahun baru Imlek ini dapat memperoleh berkat dari Vajra Mahaberkah, Avalokitesvara Bodhisattva, dan Bhagavati Yeshe Tsogyal. Jumlah pemohon utama tahun ini melebihi jumlah pemohon utama dalam upacara yang pernah diselenggarakan di Rainbow Temple sebelumnya. Semangat empat kelompok siswa yang hadir sungguh memberikan kehangatan di tengah hawa dingin awal tahun ini.

Upacara kali ini sangat istimewa, karena terus menghasilkan kontak batin ! Mulai dari nidana pada saat memohon transmisi Dharma beberapa waktu yang lalu, saat pembawa acara mengumumkan upacara memohon Dharma, langit mencurahkan hujan es sebagai tanda kemanggalaan ! Dan pada saat abhiseka di hari upacara 1 Februari 2020 ini, langit kembali mencurahkan hujan es, sungguh merupakan tanda-tanda alam yang bersesuaian. Selain itu, menurut ramalan cuaca, pada hari itu akan turun hujan, namun berkat ketulusan doa dari Dharmaraja Liansheng dan segenap umat, langit membuat cuaca menjadi indah, dan upacara dapat berjalan lancar tanpa terganggu oleh hujan, ini membuktikan pepatah : “Buddha memberikan respon spiritual kepada insan yang tulus.” ; Siswa yang hadir pada upacara kali ini tidak gentar akan hawa dingin, semua tetap bersukacita mendukung upacara, membuktikan bakti dan rasa penghargaan seorang siswa atas pengorbanan Guru dalam membabarkan Dharma.

Upacara Musim Semi dihadiri oleh banyak tamu agung, antara lain : Sdri. Judy, istri dari Bapak Liao Dongzhou (廖東周) Duta Besar Taiwan di Swedia dan Norwegia ; Akademisi Academy of Sinica Prof. Zhu Shi-yi (朱時宜) dan istri Ibu Chen Wenwen (陳旼旼) ; Segenap anggota tim profesor doktor Zhenfo Zong dan tim medis Zhenfo Zong ; CEO Tbboyeh : Pengacara Zhou Huifang (周慧芳) ; Ibu Xie Mingfang (謝明芳) dan Bapak Mai Xianhui (麥顯輝), Konsultan Komisi Urusan Komunitas Luar Negeri ; Bapak Duan Shengquan (段生泉) : Pemimpin Greenland USA ; Tian Lele (田樂樂) direktur utama grup media Amerika Utara ; Liu Yihong (劉逸虹) pemilik Restoran Shanghai Weidao Fang ; Tang Yan (湯研) pemilik Restoran Shanghai Shanghai ; Jiang Meiyu (江美玉) CEO marketing Seattle Chinese Times ; David Chan ( Chen Fazheng - 陳發正 ) komisioner pemadam kebakaran ; Luo Weicheng (羅偉誠) pemimpin SUN-RISE FOODS INC. sekaligus komite utama partai ; Bapak Wang Zizhu (王資主) ketua humas Taiwan Lei Tsang Temple (台灣雷藏寺) ; Jian Zhengxing (簡政興) seniman pahat kayu dan putrinya ; Fan Xiuji (范秀姬) penanggung jawab penerbit Darong Perancis ; dr. Lin Gengxu (林耿旭) ; dr. Zhuang Zujin (莊足金) dan dr. Su Guoying (蘇國英) ; Teresa Piersa akuntan True Buddha Foundation beserta suami ; dr. Zeng Yiling (曾誼齡) beserta istri ; dr. Zhuang Junyao (莊駿耀) beserta istri ; dr. Gao Huanxian (高歡嫻 ), dr. Zhou Heng (周衡), dr. Chen Ruilian (陳瑞蓮), dr. Lin Shuhua (林淑華), dr. Zhang Xinli (張鑫力), dr. Jia Meiqin (賈美琴) ; Dr. Chen Zongjie (陳宗傑) Dosen Fakultas Sastra Tionghoa Universitas Sao Paulo Brasil, beserta istri ; Zhang Liangyan (長梁雁) wakil kepala Pusat Bahasa dan Budaya Lotus Light Brasil ; Zeng Yaoquan (曾耀全) pemimpin Yayasan Eka Pelita Indonesia ; Wu Shumei (吳淑美) Budaya Daden Taiwan ; Produser acara Gei Ni Dian Shang Xin Deng (給你點上心燈) di CTI Sdri. Xu Yaqi (徐雅琪) ; Wan Peipei (萬佩佩) CEO Kreasi Oufeimo ; Sdr. Gao Minglu (高銘祿) dan istri ; Profesor Tan Weilun (譚偉倫) dari The Chinese University Hong Kong ; Dr. Liang Chaofan (梁超凡) beserta istri.


Tokoh Pemerintahan Taiwan Mengirimkan Kaligrafi Berisi Ucapan Penghargaan dan Doa Restu


Banyak tokoh pemerintahan Taiwan yang mengirimkan ucapan selamat, antara lain : Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen mengirimkan kaligrafi bertuliskan : “Salam Persahabatan bagi Tokoh Kehormatan Emigran” ; Wakil Presiden Legislatif Yuan : Cai Qichang (蔡其昌), mengirimkan ucapan : “Melindungi Kami para Insan” ; Anggota Legislatif Yuan : Xu Shuhua (許淑華) mengirimkan ucapan : “Dharma Tersiar ke Segala Penjuru” ; Anggota Legislatif Yuan : Ma Wenjun (馬文君) mengirimkan ucapan : “Membabarkan Dharma Melindungi para Insan” ; Anggota Legislatif , Cai Peihui (蔡培慧) mengirimkan ucapan : “Melindungi Bangsa dan Negara” ; Anggota Legislatif , Xu Zhijie (許智傑) mengirimkan ucapan : “Membabarkan Buddhadharma, Kebaikan bagi Semua Makhluk, Orang Benar Mendapatkan Berkah, Pahala Tak Terhingga” ; Yu Tien (余天), penyanyi kenamaan Taiwan, sekaligus anggota legislatif, mengirimkan ucapan : “Melindungi Bangsa dan Negara” ; Wali Kota Kaohsiung, Han Kuo-yu (韓國瑜) mengirimkan ucapan : “Membabarkan Buddhadharma, Menyucikan Hati para Insan” ; Cheng Wen-tsan (鄭文燦) Wali Kota Taoyuan mengirimkan ucapan : “Kebajikan Suci Melindungi Bangsa” ; Lin Ming-chen (林明溱) Bupati Nantou mengirimkan ucapan : “Kemurahan Hati bagi Semua Makhluk” ; Cai Wangquan (蔡旺詮) anggota dewan kota Tainan mengirimkan ucapan : “Sukses Sempurna” ; Ketua Kuomintang, Wu Den-yih (吳敦義) mengirimkan ucapan : “Sinar Padma Menerangi Semesta” ; Qiu Jianfu (邱建富) ketua komite partai Demokratik Progresif Taiwan di Zhanghua, sekaligus Wali Kota Zhanghua ke-16, periode 17, mengirimkan ucapan : “Selamanya Menjunjung Kebajikan”. Para tokoh pemerintahan dan tamu agung bersama memberikan dukungan bagi upacara kali ini.

Sekitar pukul 14:00, regu prosesi penyambutan Guru bersama mengundang Dharmaraja Liansheng, Gurudara Acarya Lianxiang, dan para Acarya untuk memasuki homasala Rainbow Temple. Mulacarya Dharmaraja Liansheng yang mengenakan rompi naga berwarna merah dan mahkota Dharmaraja berwarna merah melangkah menuju ke atas Dharmasana untuk memimpin Upacara Homa Avalokitesvara Bodhisattva.

Api homa berkobar laksana cahaya kebijaksanaan Avalokitesvara Bodhisattva yang menerangi semesta. Lidah api mengangkasa seolah-olah menjelmakan tarian Vajra nan gemulai dari Bhagavati Yeshe Tsogyal. Warna api menampakkan perpaduan antara merah dan kuning sama seperti warna tubuh Tara Peredam Wabah yang membakar habis semua wabah penyakit !

Dharmaraja mempersembahkan berbagai macam sarana puja berkualitas kepada Tri-adhinatha, beserta para Buddha, Bodhisattva, Vajra, Daka, dan Dakini. Kemudian membentuk mudra santika, paustika, vasikarana, abhicaruka, dan penyeberangan. Arus Dharma terus mengalir menyegarkan jiwa dan raga para umat.

Pada saat melakukan pelimpahan jasa, Dharmaraja Liansheng dengan tulus memanjatkan doa kepada Avalokitesvara Bodhisattva, Bhagavati Yeshe Tsogyal, Tara Peredam Wabah, beserta Trini Arya Sukhavati, Guru Padmasambhava, 21 Tara, dan para Dakini, serta para makhluk suci sekalian, supaya menyeberangkan para arwah terlahir di alam suci Buddha, menganugerahkan adhisthana amerta tirta untuk menyingkirkan penyakit para siswa, supaya semua sehat, panjang usia, serta mengalami peningkatan dalam karma baik, berkah, kebijaksanaan, dan bekal bersadhana, supaya segala harapan yang baik dan wajar dapat terpenuhi, supaya segalanya manggala, vasikarana sempurna, kukuh dalam silsilah, dan mencapai kesempurnaan dalam bhavana.

Setelah ritual homa usai, Dharmaraja menganugerahkan sila kebiksuan kepada empat orang siswa yang mendapatkan anugerah nama kebiksuan : Lianzan (蓮瓚), Lianyi (蓮眙), Liancheng (蓮䁎), dan Liandi (蓮堤). Dharmaraja menyemangati mereka untuk tulus menapaki kehidupan membiara dan mengamalkan Ajaran Guru demi menyeberangkan insan luas.

Sebelum Dharmadesana, Mulacarya memuji segenap siswa yang hadir, mereka tidak gentar akan influenza dan wabah pneumonia Wuhan, menempuh perjalanan jauh untuk hadir di Rainbow Temple, dan mereka bisa disebut sebagai : “Kawan sehidup semati.” !

Dalam upacara hari ini, Trini Arya Sukhavati : Amitabha Buddha, Avalokitesvara Bodhisattva, Mahastamaprapta Bodhisattva ; Bhagavati Yeshe Tsogyal, Guru Padmasambhava, Prajnaparamita Bhagavati, Vajrayogini, Vajravarahi, Dakini Pelindung Empat Arah, Dakini Pelindung Delapan Arah, 20 Dewi, Tshe Ring Mched Inga, 12 Sridevi, dan Dewi Sarasvati ; Tara Peredam Wabah, Syama Tara, dan 21 Tara, beserta para makhluk suci yang tak terhingga banyaknya hadir di mandala, dan hendak menganugerahkan abhiseka yang paling sempurna untuk semua.

Dharmaraja juga mengumumkan bahwa hari Minggu depan, pukul 15:00, Dharmaraja Liansheng akan memimpin Upacara Agung Homa Sarvanivaranaviskambhin di Rainbow Temple. Bodhisattva ini dapat menyingkirkan avidya, kemelekatan ego, dan lima racun batin yang menutupi Buddhata sadhaka. Dharmaraja menyambut semua untuk kembali berpartisipasi.


Bhagavati Pertama di Tibet : Yeshe Tsogyal
Bhagavati di Antara Bhagavati


Adhinatha transmisi sadhana hari ini adalah : Bhagavati Yeshe Tsogyal, di kehidupan lampau pada masa Sang Buddha, Beliau adalah Dewi Sungai Gangga, Beliau juga adalah Sadaprarudita Bodhisattva, selain itu, asal-usul Beliau juga adalah Sarasvati Bhagavati dan Sita Tara, menitis sebagai Yeshe Tsogyal menjadi Bhagavati pertama bagi Guru Sesepuh Tantra Tibet : Padmasambhava. Beliau merupakan yang utama di antara para Bhagavati.

Menurut Hagiografi Yeshe Tsogyal, jika sadhaka menjapa Mantra Padmasambhava genap 100,000 kali, maka Guru Padmasambhava akan hadir di hadapan sadhaka ; Guru Padmasambhava adalah penjelmaan Triadhinatha, yaitu : Tubuh Amitabha Buddha, ucapan Avalokitesvara Bodhisattva, dan batin Sakyamuni Buddha. Guru Padmasambhava bersumber dari Amitabha Buddha, oleh karena itu, menjapa Mantra Padmasambhava genap 800,000 kali Amitabha Buddha akan senantiasa bersama dengan sadhaka.

Guru Padmasambhava dan Bhagavati Yeshe Tsogyal tidak terpisahkan dengan Amitabha Buddha, dan warna utama ketiganya adalah merah, salah satu wujud Avalokitesvara Bodhisattva ada yang berwarna merah, yaitu : Raktalokesvara ( Avalokitesvara Merah ), oleh karena itulah hari ini Mahaguru mengenakan mahkota berwarna merah, untuk berkontak yoga dengan Adhinatha.

Dharmaraja sendiri memiliki dua benda suci berupa cap kaki saat Bhagavati Yeshe Tsogyal masih muda, dan sarira Bhagavati Yeshe Tsogyal. Di antara siswa yang hadir dalam upacara, ada satu orang yang merupakan titisan Yeshe Tsogyal, ada satu orang yang pernah melihat penampakan Yeshe Tsogyal, dari sini dapat diketahui betapa eratnya nidana antara Yeshe Tsogyal dengan Zhenfo Zong.


Padmasambhava Mentransmisikan Dzogchen kepada Yeshe Tsogyal


Pada usia 13 tahun, Yeshe Tsogyal menjadi selir Raja Trisong Detsen, dan pada usia 16 tahun mulai mengikuti Guru Padmasambhava ; Guru Padmasambhava mendirikan Nyingmapa, dan silsilah Dzogchen Beliau terdiri dari Sembilan Yana, tiga Yana awal adalah Sravakayana, Pratyekabuddhayana, dan Bodhisattvayana, tiga Yana yang tengah adalah kriya, carya, dan yoga, dan terakhir adalah Mahayoga, Anuyoga, dan Atiyoga ; Sembilan Yana ini ditransmisikan kepada Yeshe Tsogyal ! Bhagavati Yeshe Tsogyal mencapai keberhasilan melalui penekunan Dzogchen, Beliau bukan hanya seorang Bhagavati, melainkan juga seorang Guru Agung yang telah menyeberangkan insan luas ! Sama seperti Guru Padmasambhava, Yeshe Tsogyal juga mencapai kondisi tiada lahir dan tiada mati, leluasa menampakkan diri memenuhi permohonan siswa. Yana tertinggi dalam Dzogchen adalah Atiyoga.

Dharmaraja Liansheng mengungkapkan kiat utama yang merupakan Terma yang pernah disimpan oleh Guru Padmasambhava di dalam benak beliau :

1. Makan – Guru Padmasambhava mengajarkan “Gunakan prana sebagai makanan !” Seperti proses menghirup qi dalam Dao, menggunakan pernapasan penuh untuk menghirup qi masuk ke dantian dan keluar melalui jari kaki, menggunakan qi ke sekujur tubuh.

2. Pakaian – “Gunakan kundalini sebagai pakaian”, dalam Yoga Niguma dan Enam Yoga Naropa, kundalini dipandang sangat penting. Tekuni Sembilan Tahap Pernapasan Buddha, Pernapasan Botol, dan metode Memelihara Hangat untuk membangkitkan kundalini. Bangkitnya kundalini tidak hanya bisa menangkal hawa dingin di Tibet, namun juga merupakan permata yang sangat berharga untuk mencapai keberhasilan Sadhana Anasrava dan Bindu, serta merealisasi mahasukha dan prabha.

3. Kediaman – Sadhaka mesti memilih lokasi yang memiliki prana bumi untuk berbhavana. Di Gua Taktsang Bhutan, Guru Padmasambhava pernah berbhavana dengan Yeshe Tsogyal, prana bumi berhimpun di dalam gua, dan gua itu penuh dengan prana spiritual.

Keutamaan lokasi yang baik ada pada lima hal : “Long, xue, sha, shui, dan xiang”. “Long” berarti di lokasi tersebut ada prana yang datang menghampiri ; “Xue” berarti lokasi tempat prana berkumpul ; “Sha” adalah kondisi lingkungan sekitar ; “Shui” adalah apakah air di luar mengalir ke arah ‘xue’ , apakah bermanfaat bagi ‘xue’ ; Yang terakhir adalah ‘Xiang’ atau arah. Dharmaraja Liansheng adalah Guru Cerah yang menguasai ilmu geografis.

4. Aktivitas – Aktivitas menurut petunjuk Guru Padmasambhava adalah ‘Menembus nadi’, berlatih vajramusti, Vajravarahimusti, yoga enam hari, dan berbagai tinju yoga lainnya untuk menembus nadi di sekujur tubuh, supaya prana bisa mengalir sampai kedua tangan, kedua kaki, dan ratusan tulang di tubuh, sehingga dapat menangkal berbagai penyakit.

5. Tubuh – Guru Padmasambhava memberitahu Yeshe Tsogyal, tubuh adalah tujuh sikap duduk Vairocana, yaitu : Duduk tegap laksana genta, dan berdiam tak goyah, memasuki samadhi.

6. Ucapan – Senantiasa japa Nama Buddha dan japa mantra, sepenuhnya meninggalkan semua obrolan dan pembicaraan yang tidak bermanfaat.

7. Pikiran – Memasuki samadhi dengan mengutamakan kesucian yang diajarkan oleh Sang Buddha, kemudian menghasilkan mahasukha, prabha, dan sunya.

Guru Padmasambhava mengajarkan empat hal utama kepada Yeshe Tsogyal, antara lain : Pengamatan, bhavana, carya, dan phala.

1. Pengamatan – “Mengamati bahwa segala sesuatu di dunia adalah sunya”, Mantra Visualisasi Kesunyataan : “Om. Sibawa. Suda. Saerwa. Daerma. Sibawa. Suduohang.” Harta, rupa, nama, bahkan tubuh tidak ada satu pun yang merupakan milik diri.
2. Bhavana - Memperpanjang anubhava dalam berbhavana, mulai dari mahasukha, prabha, sunyata, sampai sempurna.
3. Carya – Menghancurkan segala ilusi, memperoleh Dharma yang paling sejati.
4. Phala – Adalah kesempurnaan Trikaya : Dharmakaya, Sambhogakaya, dan Nirmanakaya.

Terakhir, Guru Padmasambhava mengajarkan maitrikaruna kepada Yeshe Tsogyal, gunakan Caturapramanacitta, kasihi musuhmu, utamakan memberi manfaat kepada insan lain, gunakan kebijaksanaan dan upaya yang sesuai untuk melindungi dunia, melalui ketekunan bhavana dan pengamalan Dharma, dapat mencapai Bodhi dan Kebuddhaan.

Bhagavati Yeshe Tsogyal mencapai keberhasilan, menjelma menjadi seberkas cahaya biru memasuki cahaya pelangi, hanya meninggalkan rambut dan kuku. Saat ini Beliau bersama Guru Padmasambhava membimbing insan di Surga Akanistha.

Demikianlah intisari dari Atiyoga yang ditransmisikan oleh Dharmaraja Liansheng berdasarkan Terma Guru Padmasambhava di dalam benak beliau.

Bhagavati Yeshe Tsogyal ada yang berjubah merah, ada pula yang biru, sementara Dharmayudham yang dipegang antara lain : Ada yang berupa vajra, damaru, kapala, amerta, dan khatvanga.

Tata ritual Sadhana Istadevata Yeshe Tsogyal akan ditulis oleh Dharmaraja Liansheng dalam buku yang terbaru : “Menertawakan Kehidupan” ( Xiao xiao rensheng -笑笑人生 ), isinya berbeda dengan yang beredar secara umum, sebab tata ritual tersebut merupakan Sadhana Avenika yang berasal dari Terma di dalam benak Dharmaraja Liansheng.


Dharmaraja Liansheng Rela Memberikan Adhisthana Jamah Kepala kepada Semua yang Sakit di Wuhan


Dharmaraja Liansheng mendoakan supaya di tahun tikus ini, semua memiliki kualitas baik dari tikus, yaitu : cerdik, memiliki pengamatan yang mendalam, dan gesit supaya dapat menghindar dari segala bencana.

Tahun Gengzi, tahun Imlek yang baru ini adalah tahun tikus, dan virus corona di Wuhan ibarat kucing ganas yang memangsa. Dharmaraja Liansheng meneladani ajaran welas asih Guru Padmasambhava untuk membangkitkan tekad mahamaitrikarunacitta : Rela berada di Wuhan Tiongkok untuk memberikan adhisthana jamah kepala kepada setiap orang yang sakit, berdoa bagi kesehatan mereka. Mohon Guru Padmasambhava, Yeshe Tsogyal dan para Dakini untuk maju bersama. Keberanian Dharmaraja dalam mengamalkan Buddhadharma sungguh mengharukan setiap siswa yang menjadi saksi dan mendengar.

Usai Dharmadesana yang sangat berharga, Dharmaraja menganugerahkan beberapa abhiseka yang istimewa, antara lain : Abhiseka Sadhana Istadevata Avalokitesvara Bodhisattva, Sadhana Istadevata Yeshe Tsogyal, dan Abhiseka Tara Peredam Wabah. Pada saat itu, mendadak langit Seattle menurunkan hujan es ! Fenomena manggala ini menjadi penanda akhir yang sempurna bagi Upacara Agung Musim Semi Tahun Gengzi di Rainbow Temple.

Kami yakin, setiap siswa Zhenfo memperoleh basuhan Dharma, mendapatkan anugerah kesehatan jasmani dan rohani untuk mengamalkan ajaran Dharmaraja Liansheng, dan pada akhirnya dapat mencapai Kebuddhaan.

「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。 億萬虎頭金剛心咒,招財鎮煞降伏瘟疫