
003 Kebijaksanaan Tertinggi
Saya katakan sesungguhnya kepada para pembaca, Sang Buddha mengajarkan kita ‘Empat Corak Universal’, sebagai berikut:
- Segala sesuatu yang berkondisi tidaklah kekal.
- Segala fenomena tiada inti.
- Nirwana adalah kedamaian agung.
- Realitas sejati.
Empat kebenaran ini adalah ‘Kebijaksanaan Agung’, dan empat kalimat ini mencakup segalanya.
Mari kita renungkan lagi ‘Empat Landasan Perhatian’, sebagai berikut:
- Tubuh tidak bersih.
- Perasaan adalah penderitaan.
- Pikiran tidak kekal.
- Fenomena adalah tanpa inti.
Ketahuilah:
‘Empat Landasan Perhatian’ dan ‘Empat Corak Universal’ ini saling terkait, satu sama lain saling terhubung.
Saya sering merenungkan duka, sunya, anitya, dan anatman.
Anitya adalah penderitaan.
Nirwana adalah sunya.
Kelahiran dan kematian adalah ketidakkekalan.
Mimpi adalah tiada diri.
Apakah Anda tidak merasakannya?
Di dunia saha ini, ada satu kalimat yang harus Anda pahami baik-baik, kalimat itu adalah:
‘Tiada yang diperoleh’!
Saya (Guru Lu) selalu mengingat kalimat ‘Tiada yang diperoleh’ ini, saya mengucapkannya di mulut dan menyimpannya dalam hati.
Anda bisa pergi ke kuburan dan lihatlah di sana, orang-orang yang terkubur di bawah tanah, siapa yang mendapatkan apa?
Anda hidup di masa sekarang, di masa mendatang Anda akan dikubur di bawah tanah.
Semua kepemilikan akan berubah menjadi ketiadaan.
Hanyalah seonggok tanah.
Apa yang Anda peroleh?
•
Saya pernah berkata kepada seseorang yang menjadi kandidat presiden:
“Anda terpilih sama saja dengan tidak terpilih.”
Ia bingung dan berkata, “Saya tidak mengerti! Perkataan Guru Lu terlalu dalam!”
Saya menjawab, “Pahamilah perlahan-lahan.”
Mengapa saya berkata demikian?
Biarlah saya menjelaskannya sekarang.
Dalam ‘Sutra Vajra’ terdapat gatha berbunyi:
“Hati lampau tidak dapat diperoleh.”
“Hati sekarang tidak dapat diperoleh.”
“Hati mendatang tidak dapat diperoleh.”
Sebenarnya, masa lampau sudah berlalu, masa sekarang akan menjadi masa lalu, masa mendatang belumlah tiba.
Apa yang bisa Anda peroleh?
Untuk itulah disebut ‘Tiada yang diperoleh’!
Meski kini Tembok Raksasa Tiongkok masih berdiri, tidak tampak lagi jejak Kaisar Qin Shihuang.
Apa yang diperoleh Kaisar Qin Shihuang?
Kalimat terpenting dalam ‘Sutra Hati’ berbunyi:
“Tiada sesuatu yang diperoleh, karena itulah Bodhisattva.”
Kalimat ‘Tiada yang diperoleh’ ini adalah kebijaksanaan pamungkas.
‘Sutra Vajra’ menyebutkan:
Segala sesuatu yang berkondisi,
bagaikan mimpi, ilusi, bayangan, gelembung,
bagaikan tetes embun dan kilatan petir,
demikianlah semestinya mengamatinya.
Saya (Guru Lu) menyatakan demikian:
“Penderitaan adalah sunya, ketidakkekalan adalah sunya, tiada sifat diri adalah sunya. Oleh sebab itulah, mencerahi sunya adalah kebijaksanaan agung. Sunya, sunya, sunya.”


