undefined

Bedah Buku:
Apa itu kematian? Orang yang belum pernah meninggal tidak tahu, setelah meninggal pun tidak dapat memberitahu kita, namun, Dharmaraja Liansheng justru dapat sejujur-jujurnya memberitahu umat manusia, dimensi alam setelah meninggal dunia untuk mengingatkan manusia agar mempersiapkan diri menghadapi saat-saat tersebut.

Hidup Ini Sekadar Mampir

Karya Tulis Dharmaraja Liansheng ke-163_Mengarungi Samudra Samsara

Pada masa awal saya belajar Agama Buddha, saya pernah belajar penjapaan. Bhiksu yang mengajari saya penjapaan adalah Bhiksu Shanci dari Vihara Ciyin dan Bhiksu Shanglin dari Vihara Ciming.
 
Setelah menguasai penjapaan Sutra dan Ksamaya, sesekali dipraktekkan pula. Saya pernah bersama rombongan pergi melakukan Ritual Zhaitian (Sembahyang Dewa Langit), juga pernah ke rumah duka membantu membacakan doa penyeberangan.
 
Bahkan, saya sering sendirian membacakan doa penyeberangan (Sutra Ujung Kaki ) untuk orang yang baru meninggal dunia yang masih terbaring di atas dipan.
 
Jadi, saya yang masih seorang pemula sudah sering melihat jasad, jumlahnya tak terhitung.
Saya gambarkan dengan gatha sebagai berikut:
Bunga tumbuh liar di alam hampa
Dikira triloka sebagai rumah
Sinar nirvana menerangi segenap alam
Alam fana selalu terhalang oleh jarak
Tali kasih menjerat duka di Dunia Saha
Menangis hingga di alam baka
Kata siapa perpisahan itu sebuah duka
Sekujur tubuh melebur dalam Amitabha
Tangis duka mendampingi hidup nan susah
Siapa pula yang menyebut nama Buddha
Dari duka terlahir di alam Padma
Tak butuh dikirimi kertas baka
 
Dulu, sesuai tradisi yang berlaku, ketika menjapa Sutra Ujung Kaki, seluruh pratima Buddha yang ada di ruangan tersebut mesti ditutup agar tidak “membahayakan” jasad mendiang. Namun, saya malah berbuat sebaliknya, saya mengimbau keluarga duka menyingkirkan kain penutup, dan meletakkan pratima Buddha dekat kepala mendiang, agar Buddha-Bodhisattva berkenan menuntun mendiang, juga supaya mendiang ingat kepada Buddha-Bodhisattva.
 
Demikianlah cara saya menjapa Sutra Ujung Kaki, sambil menyalakan lilin dan membakar dupa serta menyiapkan semangkuk nasi putih.
 
Hidup manusia sungguh tragis, begitu sampai di penghujung jalan, kedua kaki membujur, kepala terkulai, langsung tinggal.
 
Kebanyakan manusia begitu melihat jenazah, pasti menutup hidung dan mengernyitkan dahi karena merasa jijik akan baunya, lalu bergegas beranjak pergi. Padahal mungkin saja pada masa hidupnya dulu, si mendiang seorang wanita ayu anggun yang selalu mengundang rasa kagum dari orang yang memandangnya.
 
Lain hidup, lain mati.
Hal ini dialami oleh semua orang tanpa terkecuali, dari orang yang terburuk hingga yang terunggul, dari orang yang termiskin hingga orang yang terkaya, dari orang yang terhina hingga orang yang terhormat, dari orang yang terbodoh hingga cendekiawan. Masing-masing dari mereka telah mengalami masa berkalpa-kalpa, laksana tetesan air laut, baik rakyat jelata maupun pejabat tinggi, sama-sama mengalami dukanya saha!
 
Saya telah banyak melihat, sungguh prihatin, hidup ini memang sekadar mampir, alam saha bak sebuah penginapan.
 
Belakangan setelah saya belajar Tantra, saya baru paham bahwa saat manusia meninggal dunia, walau kesadaran mata, telinga, hidung, lidah, jasmani, pikiran, manas, dan sebagainya sepertinya telah melemah, namun, kesadaran atnam masih terus berlanjut, seperti sedang bermimpi atau sedang pingsan, atau berada di antara mimpi dan pingsan.
 
Orang awam mengira, mati berarti kesadaran akan lenyap total atau memasuki kekosongan sejati, segalanya sirna. Ada lagi yang mengira, manusia hanya mengalami satu kali kehidupan saja, tidak ada lagi kehidupan yang lain; mati berarti sama sekali lenyap.
 
Namun, alam bardo yang saya saksikan tidak demikian. Setelah manusia meninggal dunia, bagaikan memasuki alam mimpi yang lain, mimpi ini tentu saja bukan kekosongan sejati, atau hampa, inilah alam arwah.
Bardo adalah arwah, atau disebut ‘antara bhava’.
Dalam Taoisme disebut roh asal.
Manusia, setelah meninggal dunia dan sebelum bertumimbal lahir, akan mempertahankan keberadaan vitalitasnya dalam bentuk zat mikro. Kelahiran secara spontan inilah yang disebut tubuh bardo. Umumnya, menurut versi Tantra, tubuh bardo ini selama 49 hari setelah meninggal dunia, setiap lipatan tujuh hari sekali akan mengalami proses hidup dan mati. Setelah tujuh kali mengalami proses hidup dan mati, selanjutnya akan menunggu pengaturan sesuai karma, yaitu bertumimbal lahir di enam alam kehidupan untuk mengembara.
 
Setahu saya, bagi orang yang berbhavana, saat masih hidup atau sesudah meninggal dunia namun sebelum tumimbal lahir di enam alam kehidupan, masih dalam alam bardo, ia telah dapat mengetahui ke alam suci mana ia akan terlahir kelak. (bardo yang mengatur kelahiran diri)
 
Bagi orang yang tidak berbhavana, sesudah meninggal dunia, akan menjadi tubuh maya avidya yang mengembara di antara hidup dan mati (tubuh bardo).
Sebentar-sebentar, ia pergi mencari sanak saudara.
Sebentar-sebentar, ia akan mondar-mandir di taman kuburan.
Sebentar-sebentar, ia akan kembali ke tempat tinggalnya yang semula.
Sebentar-sebentar, ia akan menyentuh benda kesayangannya.
Sebentar-sebentar, ia akan mengenang masa lalunya.
 
Yang paling kerap saya temui, pergerakan tubuh bardo sangat cepat, sebentar ke timur sebentar ke barat, artinya berupa kesadaran yang tidak dibatasi oleh segala faktor. Dari aspek perasaan, sangat kompleks, namun dari aspek semangat, ia bebas bergerak, hanya saja tidak berdaya.
 
Rasa tidak berdaya ini dimaksudkan daya terhadap dunia materi. Apa pun yang dikatakan atau dilakukan oleh tubuh bardo, manusia biasa tidak dapat merasakannya sama sekali, kecuali seorang medium.
 
Contohnya saya.
Schizencephaly yang saya alami adalah pengalaman kematian yang diberikan Bodhisattva Avalokitesvara pada saya. Dengan sangat pesimis saya berkata bahwa saya ini yang dalam penderitaan ingin membebaskan diri dari penderitaan. (setelah meninggal dunia, segala penderitaan pun sirna)
 
Empat elemen utama yang terurai adalah sebuah pengalaman.
Delapan tahapan dingin dan delapan tahapan panas juga sebuah pengalaman.
Setelah otak terbelah, teratai berkelopak delapan mekar, tubuh bardo yang duduk di tengah teratai adalah roh asal, aku sejati, Buddha Satya, Tathata, sifat asal, Buddhata, sinar sejati....dari hasil saya melatih diri dalam jangka waktu yang panjang.
 
Pada hakekatnya, inilah parinirvana sadhaka. Orang yang melatih diri, orang yang mencapai pencerahan sejati, sepenuhnya bebas dari tumimbal lahir enam alam dan penderitaan fisik. Parinirvana adalah sebuah pengalaman yang sempurna. Dari sifat pencerahan, tiada kerisauan sama sekali, bebas leluasa, sangat kuat, memiliki Dasa-Tathagata-Balani, yakni:
1. Daya kebijaksanaan.
2. Daya mengetahui semua kelahiran yang terdahulu.
3. Daya samadhi.
4. Daya mengetahui karma makhluk hidup.
5. Daya mengetahui pemahaman makhluk hidup.
6. Daya mengetahui sepuluh alam Dharma di angkasa.
7. Daya mengetahui hukum karma.
8. Daya mata batin yang tak terbatas.
9. Daya parinirvana tiada tiris.
10. Daya bebas dari semua kegusaran.
 
Selain itu, sadhaka yang telah mencapai Anuttara Samyaksambodhi, juga dapat menampakkan dirinya di segala tempat berdasarkan karma pikiran makhluk di sepuluh penjuru.
 
Saya kira, yang paling disayangkan adalah tubuh bardo avidya yang mengembara di samudera samsara. Mereka tersesat di dalam ilusi, tidak menyadari hidup saat hidup, dan tidak menyadari mati saat mati. Mereka sombong, iri, malas, pemarah, serakah, nafsu, dungu....
 
Semua kegelapan batin ini membuat banyak orang tidak mengerti melatih diri, tidak bertemu nidana yang baik, sehingga selamanya menjadi manusia atau hewan di enam alam gati, atau menjadi ‘tamu’ yang mampir di empat alam gati lainnya.

「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。