Upacara Ratnakalasa Raja Naga — Momen Yang Dipenuhi Cahaya Kebijaksanaan
(Tim Liputan Vihara Dharma Hastabrata: Lian Hua Angeline)
Jakarta, 19 Juni 2026 — Bertepatan dengan Duan Wu Jie (端午节) atau yang lebih dikenal sebagai Peh Cun atau Hari Bakcang, Vihara Dharma Hastabrata (Yuan Xin Tang - 圓信堂) menyelenggarakan Upacara Ratnakalasa Raja Naga memohon pemberkahan, tolak bala, rezeki, dan keharmonisan yang dipimpin oleh Ayushmat Acarya Shi Lianchuan (長老釋蓮傳上師) dari Seattle, USA.
Dalam ajaran Satya Buddha (Zhen Fo Zong), kisah dan praktik Raja Naga sangat erat kaitannya dengan berkah, kemakmuran, dan perlindungan spiritual. Praktik sadhana Ratnakalasa Raja Naga bertujuan untuk memohon restu dari para Raja Naga untuk mengendalikan cuaca, menolak bala, dan meningkatkan rezeki. Selain itu, praktik spiritualnya menggunakan sarana ratnakalasa (pot pusaka) yang dipersembahkan ke laut atau diletakkan di altar khusus untuk memperoleh berkah ekonomi.
Upacara dimulai dengan putra-putri altar (法器组) menjemput rombongan Sangha dengan lantunan Mantra Hati Mahaguru yang diiringi alat musik Dharma yang menggema di seluruh lingkungan Vihara. Rombongan Sangha terdiri dari Ayushmat Acarya Shi Lianchuan (長老釋蓮傳上師) sebagai Pemimpin Upacara didampingi oleh Ayushmat Acarya Shi Lianman (長老釋蓮滿上師),Biksu Lian-Ding (釋蓮鼎法師), Biksu Lian-Yi (釋蓮易法師), Biksu Lian-Yong (釋蓮泳法師), dan Biksu Lian-Shou (釋蓮手法師). Selain itu, pandita yang hadir yakni Pandita Lokapalasraya Resinah (蓮花鳳璇助教), Pandita Lokapalasraya Irwan Johan (蓮花餘宛助教), Pandita Lokapalasraya Cun-Cun (蓮花俊雄助教) , Pandita Lokapalasraya Venny (蓮花佩芬助教), dan Pandita Lokapalasraya Juliana (莲花得好助教).
Para umat yang hadir hampir mencapai 100 orang, berdiri dengan khidmat menyambut Rombongan Sangha memasuki Dharmasala.
Selanjutnya, Shijie Shiping mewakili vihara Dharma Hastabrata memberikan khata sebagai persembahan tertinggi kepada pemimpin upacara (Ayushmat Acarya Shi Lianchuan (長老釋蓮傳上師), lalu diikuti oleh para donator dan umat lainnya. Setelah ritual upacara berjalan dengan sempurna, dilanjutkan dengan sesi Dharmadesana.
Dalam kesempatan ini, Ayushmat Acarya Shi Lianman (長老釋蓮滿上師) menceritakan sebuah kisah tentang makna berdana / persembahan.
Pada Dharmadesana kali ini, Ayushmat Acarya Shi Lianman (長老釋蓮滿上師) membahas tentang persembahan yang pantas kepada para Buddha dan Bodhisattva. Beliau menekankan bahwa persembahan harus dilakukan dengan hati yang penuh sukacita, tulus, tanpa ego, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Inti dari persembahan adalah pengembangan bodhicitta, bukan kemewahan atau nilainya.
Beliau menjelaskan bahwa persembahan hendaknya disesuaikan dengan Buddha atau Bodhisattva yang sedang dipuja. Sebagai contoh, pada puja kepada Raja Naga, persembahan yang dianjurkan berupa cairan dan tidak menggunakan makanan laut. Oleh karena itu, umat perlu memahami persembahan yang sesuai bagi setiap Buddha atau Bodhisattva.
Warna persembahan juga memiliki makna tertentu, yaitu:
● Putih untuk harapan memperoleh kedamaian, perlindungan, dan penolak bala atau penyakit.
● Kuning untuk memohon kemakmuran dan rezeki.
● Merah untuk keharmonisan keluarga dan jodoh.
● Biru tua atau gelap untuk praktik penaklukan ego atau tujuan tertentu dalam sadhana.
Saat mempersembahkan dana maupun persembahan lainnya, hendaknya dilakukan dengan sepenuh hati dan mewakili Tri Guhya ( Rahasia Tubuh, Ucapan dan Pikiran) yang baik. Beliau mengajarkan bahwa kita dapat melakukan visualisasi atau manifestasi, yaitu membayangkan persembahan yang sederhana menjadi tidak terhingga jumlahnya sehingga dipersembahkan kepada seluruh Buddha dan Bodhisattva. Air pun dapat dijadikan persembahan karena memiliki sifat mengisi segala tempat, namun tetap harus dijaga kebersihan dan dipurifikasi terlebih dahulu.
Dalam praktik sadhana, termasuk Sadhana Dharmapala Yoga, terdapat berbagai jenis persembahan yang memiliki makna mendalam. Sadhaka dianjurkan membawa persembahan pribadi sesuai kemampuan, namun tidak boleh melekat pada persembahan tersebut maupun memiliki rasa ego saat memberikannya. Yang terpenting adalah memahami metode transformasi dan manifestasi dalam praktik persembahan.
Beliau juga menyampaikan bahwa persembahan tidak terbatas pada benda. Ketika melihat pemandangan alam yang indah saat bepergian, kita juga dapat mempersembahkannya secara batin melalui visualisasi. Demikian pula ketika terjadi bencana, membantu sesama sesuai kemampuan merupakan bentuk persembahan yang mulia. Bahkan memberikan pujian dan dukungan dengan tulus juga menghasilkan kebajikan yang besar.
Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa para Buddha dan Bodhisattva tidak membeda-bedakan makhluk. Oleh karena itu, setiap persembahan hendaknya dipersembahkan dengan hati yang tulus, penuh sukacita, tanpa pamrih, serta diawali dengan proses purifikasi agar menjadi persembahan yang bersih dan bermakna.
Setelah Dharmadesana selesai, Rombongan Sangha meninggalkan Dharmasala. Dengan demikian, Upacara Ratnakalasa Raja Naga memohon pemberkahan, tolak bala, rezeki, dan keharmonisan pun selesai dengan paripurna.
Semoga semua harapan dan doa dari para umat sedharma dapat terkabulkan dengan sempurna sehingga dapat mendukung pembabaran Buddha Dharma khususnya ajaran Satya Buddha / Zhen Fo Zong di Nusantara tercinta ini . Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Om Mani Padme Hum. ????