Vihara Tri Agung Jambi Gelar Api Homa Tolak Bala, Pemberkahan dan Penyeberangan Raja Agung Avalokitesvara
Oleh Tim publikasi Vihara Tri Agung, Jambi
Jambi, 16 Agustus 2026 — Dalam rangka Ulambana, Vihara Vajra Bumi Tri Agung (圓相雷藏寺) Jambi menyelenggarakan Upacara Api Homa Tolak Bala, Pemberkatan, dan Penyeberangan Raja Agung Avalokitesvara (高王觀世音菩薩). Upacara dipimpin oleh Acarya Shi Lian Phu, Acarya tetap Vihara Vajra Bumi Sriwijaya Palembang. Dalam upacara tersebut, Raja Agung Avalokitesvara dipilih sebagai Adinata.
Dengan Adhistana Mahamulacarya Liansheng dan Para Buddha-Bodhisattva, upacara berlangsung khidmat dan manggala. Upacara dipandu oleh Pandita Lokapalasraya Juliani ZJ (莲花得好助教) dan didampingi tim pengiring ritual Muda-Mudi Vihara Tri Agung Jambi. Hadir dalam kegiatan tersebut Pembimas Agama Buddha Provinsi Jambi, Dr. Wiswadas, S.Ag., M.Si., bersama sejumlah tokoh agama setempat dan umat Buddhis dari berbagai kalangan di Jambi. Meskipun hujan turun dengan sangat lebat, para peserta tetap mengikuti seluruh prosesi dengan penuh kekhusyukan.
Dalam Dharmadesananya, Acarya Shi Lian Pu memaparkan bahwa, ulambana sebagai momentum untuk menumbuhkan bakti kepada orang tua dan leluhur. Penjelasan tersebut disampaikan melalui kisah Maha Moggallana, salah seorang murid utama Buddha. Dikisahkan bahwa melalui mata batinnya, Moggallana melihat ibunya terlahir di alam preta akibat karma buruk. Upaya Moggallana untuk memberikan makanan kepada ibunya tidak berhasil karena makanan tersebut berubah menjadi bara api. Atas petunjuk Sang Buddha, Moggallana kemudian melakukan dana kepada para anggota Sangha yang baru menyelesaikan masa vassa pada tanggal 15 bulan ketujuh kalender lunar.
Persembahan tersebut menghasilkan akumulasi jasa kebajikan yang kemudian dilimpahkan, sehingga sang ibu terbebas dari penderitaan. Kisah ini menjadi landasan penting dalam pemaknaan ulambana sebagai momentum membalas budi dan menghormati orang tua serta leluhur, sekaligus mengembangkan kebajikan melalui dana dan pelimpahan jasa.
Melalui pelaksanaan Api Homa dan pembabaran Dharma tersebut, umat diajak menjadikan momentum ulambana bukan sekadar kegiatan ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat praktik kebajikan, penghormatan kepada orang tua dan leluhur, serta semangat melimpahkan jasa kebajikan.
Om Mani Padme Hum.