Apihoma Jambhala Kuning, Memohon Berkah di Awal Tahun Kuda Api
Liputan: Pandita Lokapalasraya Tan Ai Lian
SIMALUNGUN – Di tengah dinamika dan tantangan yang menyertai datangnya Tahun Kuda Api 2026, Vihara Vajra Bumi Simalungun menyelenggarakan Upacara Homa Tolak Bala dan Pemberkatan Jambhala Kuning. Ritual suci yang digelar pada 28 Februari 2026 pukul 19.30 WIB ini dipimpin langsung oleh Acarya Shi Lianjin, menghadirkan pesan kedamaian dan ketajaman batin di tengah ketidakpastian zaman.
Dalam ceramah dharmanya, Acarya Shi Lianjin memberikan perspektif penting bagi para sadhaka dalam menghadapi tahun ini. Merujuk pada prediksi Dharmaraja Lian Sheng, Acarya mengingatkan bahwa Tahun Kuda Api 2026 diprediksi membawa tantangan yang lebih kompleks dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sebagai sadhaka, kita tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan besar," ujar Acarya. Beliau menekankan bahwa di tengah kondisi yang cenderung "kacau", langkah paling bijak bukanlah berlari mengejar perubahan, melainkan menenangkan hati dan pikiran. Dengan batin yang jernih, seseorang akan lebih mampu melewati rintangan dengan lancar dan bijaksana.
Membahas mengenai ritual pemberkatan Jambhala Kuning, Acarya mengajak umat untuk memandang kekayaan dari sudut pandang yang berbeda. Banyak orang terobsesi dengan konsep Baofu atau "Segera Makmur", terutama di tengah penurunan kondisi ekonomi saat ini.
Namun, Acarya menegaskan bahwa hakikat kekayaan sesungguhnya bukan uang yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari karma baik yang telah ditanam di kehidupan lampau. "Rezeki kita memang sudah ada, hanya saja datang lebih awal," jelasnya.
Lebih jauh, beliau mengingatkan akan ikrar agung Jambhala Kuning yang tertuang dalam gatha-Nya:
• Rasa Puas: Kekayaan harus dibarengi dengan rasa cukup.
• Kemurahan Hati: Sebagian rezeki wajib didanakan untuk kebaikan makhluk lain.
"Jika kita ingin doa kita dikabulkan, kita harus menjalankan ikrar-Nya. Kekayaan sejati bagi seorang praktisi adalah kemampuan untuk mengurangi hasrat dan senantiasa merasa puas," tambahnya.
Momen kebersamaan di Vihara Vajra Bumi Simalungun tersebut juga menjadi wadah bagi siswa untuk menunjukkan rasa bakti kepada Mahaguru Lian Sheng. Mengingat kondisi kesehatan Mahaguru yang sedang menurun, Acarya Lianjin mengajak seluruh hadirin untuk merapal Mantra Hati Mahadewi Yaochi.
"Sebagai siswa, kita tidak hanya bersadhana, tetapi juga harus aktif berbuat kebajikan dan menyalurkan jasa kepada Mahaguru agar beliau segera pulih seperti sediakala," tutur Acarya.
Beliau pun merujuk pada Empat Ajaran Liao Fan, di mana akumulasi jasa pahala—seperti melakukan 3.000 kebajikan besar—diyakini mampu mengubah nasib seseorang. Hal ini juga menjadi pengingat akan pentingnya memohon agar Buddha menetap di dunia, sehingga ajaran kebajikan dapat terus dibabarkan demi keselamatan banyak makhluk.
Sebagai penutup, Acarya merangkum esensi ajaran Buddha dalam tiga kalimat fundamental yang menjadi fondasi kehidupan setiap umat: Jangan berbuat jahat, perbanyak perbuatan kebajikan, sucikan hati dan pikiran.
"Yang terpenting adalah hati dan pikiran kita. Karena perbuatan dan ucapan hanyalah buah, sedangkan akarnya bersumber dari hati dan pikiran," pungkas Acarya.
Upacara yang berlangsung khidmat ini tidak hanya memberikan harapan akan kelancaran rezeki, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh umat bahwa perubahan nasib dan kedamaian hidup dimulai dari transformasi batin yang konsisten.