Mengumpulkan Kebajikan untuk Memohon Buddha Menetap di Dunia
Pada Upacara Perdana Cetiya Maha Padminiloka:
Liputan: Winda
Medan, 1 Maret 2026 – Cetiya Maha Padminiloka, Medan, menggelar upacara perdana Apihoma Buddha Amitayus pada Minggu (1/3). Acara yang dipimpin oleh Acarya Shi Lian Jin ini menjadi tonggak sejarah karena merupakan upacara resmi pertama sejak cetiya menerima nama dari Mahaguru. Dalam kesempatan tersebut, Acarya Shi Lian Jin menyampaikan bahwa kesempurnaan upacara tidak lepas dari adhisthana Mahaguru, yang sekaligus menjadi simbol harapan agar sang guru senantiasa sehat dan panjang umur.
Pemilihan upacara Buddha Amitayus merupakan wujud permohonan kolektif umat agar Mahaguru menunda Parinirvana. Hal ini merujuk pada pesan Mahaguru yang menganjurkan sadhana Buddha Amitayus serta mantra Mahadewi Yaochi sebagai sarana memohon kesehatan beliau. “Umat di seluruh dunia diajak merapal mantra Mahadewi Yaochi di rumah masing-masing dan mencatat jumlahnya di situs TBSN sebagai bagian dari pengumpulan kebajikan bersama,” ujar Acarya Shi Lian Jin dalam wejangannya.
Pesan inti yang disampaikan adalah konsep kebajikan besar versus kejahatan besar. Terkumpulnya 3.000 kebajikan kecil dianggap sebagai satu kebajikan besar yang mampu mengubah takdir dan memohon Buddha menetap di dunia. Sebaliknya, 3.000 kejahatan kecil yang tidak disadari akan menjadi kejahatan besar pembawa keburukan. Karena itu, umat diingatkan untuk senantiasa bertobat dan melakukan introspeksi diri.
Kisah perjuangan ketua cetiya turut mewarnai jalannya acara. Selama 15 tahun membina umat tanpa nama resmi, akhirnya cetiya mendapat pengakuan setelah kunjungannya ke Seattle. Ketekunan umat yang tetap setia beribadah meski tanpa nama resmi menjadi bukti nyata semangat kebajikan yang tak pernah padam.
Gatha pemberian Mahaguru mengandung makna mendalam: secara batiniah, umat harus tekun menjalankan ajaran Buddha Sejati; secara lahiriah, mereka bertugas membimbing makhluk lain di alam semesta. Keberagaman usia umat dari muda hingga tua menjadi fenomena positif, namun mempertahankan mereka tetap setia adalah tantangan tersendiri. Sikap ramah, hangat, dan positif antarsesama umat menjadi kunci agar cetiya terasa seperti rumah kedua.
Memasuki Tahun Kuda Api, umat diajak tetap tenang dan fokus pada ibadah serta perbuatan baik. Dengan semangat kebersamaan, upacara perdana ini diharapkan menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang semakin baik di masa depan, sekaligus memperkuat tekad bersama untuk mewujudkan harapan luhur Mahaguru.