Kematian Bisa Datang Kapan Saja, Tetapi Kesempatan Untuk Mengumpulkan Kebajikan Sulit Diperoleh
Liputan Tim Publikasi Maha Vihara Dayin Jakarta
Sidoarjo, 12 April 2026 – Dalam rangka memperingati bulan Chengbeng (Qingming), Grand Heaven Columbarium Surabaya (天堂殯儀館) kembali menggelar serangkaian Upacara Dharma bersama Maha Vihara Dayin Jakarta (大音堂) dan Vihara Widiya Surya Padma Surabaya (蓮齊堂). Upacara berlangsung selama dua hari, yaitu Upacara Homa Pemberkatan dan Penyeberangan Raja Agung Avalokitesvara pada hari Sabtu, 11 April 2026, serta Upacara Homa Pemberkatan dan Penyeberangan Trini Arya Sukhavati pada hari Minggu, 12 April 2026. Kedua Upacara Homa ini dipimpin oleh Acarya Shi Lianpu (釋蓮菩上師), dan didukung oleh para rohaniwan, yaitu Pandita Dharmaduta Suryati (蓮花一敏講師), Pandita Lokapalasraya Henry Wijaya (蓮花振榮助教), Pandita Lokapalasraya Andi (蓮花發鈞助教), dan Pandita Lokapalasraya Venny (蓮花佩芬助教). Upacara ini terasa sangat spesial, karena hampir separuh dari peserta yang hadir bukanlah umat Zhenfozong, melainkan keluarga dari mendiang yang mengisi kotak abu di lantai 10 Grand Heaven Columbarium. Meskipun berasal dari agama dan keyakinan yang berbeda, mereka mengikuti jalannya Upacara Homa dengan khidmat dan penuh kesungguhan, seperti halnya para siswa Zhenfozong, bersama-sama mendoakan para leluhur yang dikasihi.
Dalam Dharmadesana, Acarya Shi Lianpu menjelaskan bahwa Tantrayana Satya Buddha (Zhenfo) tidak hanya identik dengan Ritual Duka. Dalam acara sukacita pun sebaiknya kita melangsungkan Ritual Suka, misalnya saat melangsungkan pernikahan, serta merayakan ulang tahun dan kelahiran, alangkah baiknya jika kita juga melangsungkan Ritual Suka untuk menambah berkah. Jangan mengingat Para Buddha Bodhisatwa hanya di saat berduka saja.
Acarya menjelaskan bahwa kelahiran sebagai manusia tidaklah mudah diperoleh. Tujuan mempelajari Buddhadharma bukan hanya agar mencapai Kebuddhaan, melainkan juga agar kita dapat menjalani hidup sebagai manusia dengan sebaik-baiknya. Sang Buddha Sakyamuni pernah terlahir di berbagai alam kehidupan, hingga akhirnya terlahir di Alam Manusia untuk menyempurnakan parami. Sang Buddha terlahir melalui seorang ibu. Oleh sebab itu, bakti kepada orangtua sangatlah penting. Bulan Chengbeng bukan hanya momen untuk bersembahyang saja, melainkan mengirimkan jasa pahala bagi leluhur. Terkait perlunya uang kertas, ataukah cukup dengan doa saja, Acarya menjelaskan bahwa jika semasa hidup leluhur kita pernah melantunkan sutra dan mantra, maka akan lebih mudah menyeberangkannya. Jika tidak, maka masih dibutuhkan uang kertas dan benda kertas lainnya di samping kertas mantra. Pembacaan doa memberkati agar benda-benda ini dapat berguna bagi leluhur kita setelah dibakar. Ketulusan hati dapat menggetarkan langit.
Acarya Shi Lianpu mengingatkan, bahwa hidup manusia penuh dengan kebahagiaan dan penderitaan. Bagaimana cara mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan? Yaitu dengan mempelajari Buddhadharma, mengubah penderitaan menjadi bodhicitta. Contohnya di bulan Chengbeng dan bulan Ulambana, bodhicitta kita wujudkan dengan membantu para makhluk yang tidak kasat mata. Oleh sebab itu, Sang Buddha senantiasa berucap, “Semoga semua makhluk hidup berbahagia.” Apakah kita sanggup mengikuti Sang Buddha mendoakan kebahagiaan semua makhluk? Terkadang kita merasa kurang senang melihat kebahagiaan orang lain, merasa tidak puas dengan kondisi kita, dan membandingkannya dengan orang lain. Kita seharusnya bersyukur atas kehidupan kita dan senantiasa mengembangkan pikiran positif. Bulan Chengbeng sesungguhnya juga merupakan momen untuk bersyukur dan merenungkan anitya. Berkumpul dan berpisah, merupakan anitya. Janganlah takut akan kematian, pun janganlah takut menghadiri Upacara Dharma di Rumah Duka. Kematian bisa datang kapan saja, tetapi kesempatan untuk mengumpulkan kebajikan sulit diperoleh. Marilah kita mengisi hidup dengan mengumpulkan kebajikan untuk bekal hidup kita sekarang dan mendatang.
Antusias para hadirin akan Dharma Zhenfozong tampak dari keinginan mereka untuk bersarana. Di penghujung Upacara, Acarya Shi Lianpu mewakili Dharmaraja Liansheng memberikan Abhiseka Sarana kepada 14 hadirin dan 22 mendiang yang diwakili oleh anggota keluarganya. Hal ini juga merupakan harapan dari pelaksanaan Upacara Dharma di Grand Heaven Columbarium, yaitu memperkenalkan Dharma Tantra Zhenfo kepada khalayak umum, mendoakan semua leluhur yang didaftarkan agar mendapatkan pelimpahan jasa dan terseberangkan di alam bahagia, serta mendoakan para hadirin agar mendapat berkah rezeki, kesehatan, perlindungan, dan kebijaksanaan. Acarya juga memberikan Abhiseka Pemberkatan Raja Agung Avalokitesvara pada hari pertama, dan Abhiseka Pemberkatan Trini Arya Sukhavati pada hari kedua. Serangkaian Upacara Dharma selesai dengan sempurna. Om Guru Liansheng Siddhi Hom.