Getaran Suci Sataksara, Kobaran Murni Agni Homa
Persembahan 100.000 Mantra Sataksara dan 2 Puja Api Homa di Desa
Liputan tim Publikasi Zhenfozong Kasogatan
Cilacap, 2–3 Mei 2026 — Dalam suasana penuh syukur, persaudaraan, dan kekeluargaan antarvihara, Vihara Vajra Bumi Giri Putra menyelenggarakan Upacara Api Homa Bhagawati Mahachundi dan Vajrasattva. Upacara ini terselenggara melalui kebersamaan 11 vihara desa yang berada di wilayah Kabupaten Cilacap, Banjarnegara, dan Wonosobo sebagai wujud persatuan umat dalam menekuni Dharma melalui upacara Tantrayana Zhenfo Zong.
Adapun vihara-vihara yang turut berpartisipasi dalam upacara ini yaitu Vihara Vajra Bumi Giri Putra (慈藏雷藏寺) sebagai tuan rumah, Vihara Vajra Bumi Arya Kerta Wijaya (雷音同修會), Vihara Vajra Bumi Buddha Sasana (滿願同修會), Vihara Vajra Bumi Dharmaloka (福藏同修會), Vihara Vajra Bumi Dharmapala Glempang Pasir (福德同修會), Vihara Vajra Bumi Rahula (廣德同修會), Vihara Vajra Bumi Prajna Dvipa (廣照同修會), Vihara Vajra Bumi Karuna Dharma (蓮華同修會), Vihara Vajra Bumi Mertha Bodhi (德寶同修會), Vihara Vajra Bumi Pura Mandala (德法同修會), serta Vihara Vajra Bumi Mandala Putra (慶音同修會).
Melalui kebersamaan lintas vihara ini, semangat persaudaraan Dharma semakin terasa kuat. Upacara Api Homa tidak hanya menjadi sarana praktik spiritual, tetapi juga menjadi momentum mempererat hubungan antarumat serta menumbuhkan semangat gotong royong dalam melestarikan ajaran Zhenfozong di tengah masyarakat pedesaan.
Vihara Vajra Bumi Giri Putra menjadi salah satu pusat kegiatan bersama vihara Zhenfo Zong di wilayah Kabupaten Cilacap dan sekitarnya. Meskipun letaknya paling jauh dibandingkan vihara-vihara lainnya, vihara ini memiliki fasilitas yang memadai dengan area yang luas sehingga mampu menampung berbagai kegiatan berskala besar. Sejak tahun 2012, Upacara Agni Homa secara rutin diselenggarakan di vihara ini melalui kerja sama 11 vihara Zhenfo Zong di Kabupaten Cilacap, Banjarnegara, dan Wonosobo. Hal tersebut mencerminkan kekompakan, semangat gotong royong, serta ketulusan umat Zhenfozong di pedesaan dalam menjalankan dan melestarikan ajaran. Kebersamaan antarvihara yang selama ini terjalin menjadi kekuatan spiritual yang sangat berharga dan patut terus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Acarya Shi Lianfei memiliki jodoh Dharma yang sangat kuat dengan umat di pedesaan. Sejak awal penyebaran Tantrayana Zhenfo Zong di desa-desa, beliau telah menjadi jembatan Dharma yang memperkenalkan ajaran Tantra Zhenfo Zong kepada masyarakat. Peranan beliau sangat besar dalam menuntun umat agar dapat berlindung kepada Mahamulacarya Liansheng serta berada dalam bahtera Dharma Zhenfo Zong.
Sejak tahun 2012, Acarya Shi Lianfei juga secara rutin hadir setiap tahun di Vihara Vajra Bumi Giri Putra untuk memimpin Upacara Api Homa. Perjalanan menuju vihara tersebut bukanlah hal yang mudah, karena memerlukan waktu tempuh sekitar 8 hingga 10 jam melalui perjalanan darat. Namun, segala keterbatasan dan panjangnya perjalanan tidak pernah mengurangi semangat beliau dalam menyebarkan Dharma.
Tema Upacara Apihoma kali ini adalah “Getaran Suci Sataksara, Kobaran Murni Agni Homa.” Artinya sederhana: kita diajak untuk membersihkan hati dan pikiran. Seperti petani yang membersihkan sawah dari rumput liar, kita juga perlu membersihkan diri dari keserakahan, kemarahan, dan kebodohan. “Seperti petani yang tekun merawat sawahnya, demikian pula seseorang harus tekun merawat batinnya.”
Sebulan menjelang pelaksanaan upacara, umat dari 11 vihara bersama-sama merapal Mantra Sataksara sebagai bentuk persiapan batin dan pemurnian diri. Dengan penuh ketulusan dan keyakinan, akumulasi jumlah perapalan mantra mencapai lebih dari 100.000 kali. Mantra Sataksara diyakini memiliki kekuatan purifikasi yang sangat luhur untuk membersihkan karma buruk dan kekotoran batin.
Melalui perapalan mantra Sataksara, umat bertobat atas berbagai akusalakarma yang pernah dilakukan pada masa lampau. Setiap lantunan mantra menjadi sarana untuk membersihkan batin, mengikis kebencian, keserakahan, iri hati, serta keangkuhan, sekaligus menumbuhkan welas asih, kebijaksanaan, dan ketulusan. Dengan batin yang semakin murni dan penuh kesadaran, umat meyakini akan lebih siap menerima pemberkatan, perlindungan, serta berkah spiritual dari Mahaguru dan Adhinata Homa.
Upacara Api Homa dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama adalah Api Homa dengan Adhinata Bhagawati Mahachundi yang diselenggarakan pada tanggal 2 Mei pukul 19.00 WIB, bertepatan dengan hari suci Bhagawati Mahachundi. Dalam Tantrayana Zhenfozong, Bhagawati Mahachundi merupakan salah satu dari Astadinata yang dimuliakan sebagai manifestasi welas asih, kekuatan, dan kebijaksanaan agung.
Terdapat gatha pujian yang agung untuk memuliakan Bhagawati Mahachundi:
“Mahamulia Chundi prihatin atas duka duniawi,
Mahamaitri Chundi memberkati lautan pahala,
Mahabala Chundi menaklukkan berbagai mara,
Mahakarunia Chundi leluasa tiada tara.”
Gatha ini menggambarkan keluhuran Bhagawati Mahachundi yang senantiasa melimpahkan welas asih kepada para makhluk, memberkati dengan kebajikan dan pahala, menaklukkan segala rintangan serta mara, dan menghadirkan cinta kasih tanpa batas bagi semua insan.
Usai pelaksanaan Api Homa Bhagawati Mahachundi, Camat Cipari, Fajar Eko Setiawan bersama Kepala Desa Segaralangu, Ismail beserta rombongan tiba di Vihara Vajra Bumi Giri Putra untuk menghadiri kegiatan keagamaan tersebut. Dalam sambutannya, Camat Cipari menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya Upacara Api Homa. Beliau menilai bahwa tradisi Api Homa tidak hanya sarat akan nilai spiritual, tetapi juga mengandung kekayaan budaya yang luhur dan diyakini dapat membawa berkah, kedamaian, serta keharmonisan bagi Masyarakat.
Dalam dharmadesananya, Acarya Shi Lianfei menyampaikan kisah-kisah agung para suciwan yang dikenal dalam sejarah Nusantara. Salah satunya adalah kisah Ken Dedes, permaisuri Raja Ken Arok dari Kerajaan Singasari, yang diyakini sebagai pengejawantahan Bhagawati Prajna, sosok suci yang juga dipuja dalam ajaran Tantrayana Zhenfo Zong. Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa ajaran Tantra telah dikenal dan berkembang sejak masa lampau di Nusantara, serta memiliki jejak sejarah dan spiritual yang mendalam di Indonesia.
Pada keesokan harinya, tanggal 3 Mei, umat dari 10 vihara lainnya mulai berdatangan ke Vihara Vajra Bumi Giri Putra untuk mengikuti Upacara Api Homa Vajrasattva. Sekitar 300 umat hadir dengan penuh semangat dan devosi. Sebagian umat harus menempuh perjalanan hingga enam jam dari vihara masing-masing demi dapat mengikuti upacara suci tersebut. Turut hadir pula Ketua Umum Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia, Winarni Harsono, bersama Bendahara Umum, Marcella Wiriadi.
Tepat pukul 13.00 WIB, Upacara Api Homa Vajrasattva dimulai dengan khidmat. Alunan surat doa berbahasa Jawa yang diiringi musik tradisional gamelan menghadirkan suasana yang begitu sakral dan penuh nuansa spiritual. Lantunan mantra-mantra Sanskerta serta gatha Prathana dalam bahasa Jawa menggema lembut, menyentuh sanubari seluruh hadirin yang hadir dengan penuh kekhusyukan.
Kobaran api suci yang menyala murni menjadi sarana penghantar berbagai sarana puja kepada Padmakumara, Adhinata Homa Vajrasattva, serta para suci di alam semesta. Inilah ritual Agni Homa, sebuah mahapuja agung yang dapat dipahami sebagai “Sedekah Langit” dalam perspektif budaya Jawa yang berpadu harmonis dengan spiritualitas Tantra. Sebagaimana tradisi Sedekah Bumi dan Sedekah Laut yang hidup dalam budaya masyarakat Jawa sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada alam semesta, Agni Homa menjadi persembahan suci untuk memuliakan para Buddha, Bodhisattva, Dharmapala, serta memohon berkah keselamatan, kedamaian, dan keharmonisan bagi semua makhluk.
Usai pelaksanaan Api Homa, Ibu Winarni Harsono menyapa segenap umat yang hadir dengan penuh kehangatan dan kasih. Bagi umat Zhenfo Zong di pedesaan, beliau bukan sekadar seorang pemimpin organisasi, melainkan sosok ibu yang senantiasa hadir memberikan perhatian, pengayoman, dan cinta kasih yang tulus tanpa pamrih.
Meskipun usia terus bertambah dan kondisi fisik tidak lagi muda, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk terus mengunjungi serta memperhatikan umat di berbagai vihara pedesaan. Setiap tahun, beliau hampir tidak pernah absen hadir untuk bertemu langsung dengan umat, mendengarkan keluh kesah mereka, memberikan semangat, serta membantu mencarikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi vihara. Kehadiran beliau menjadi sumber kekuatan dan penghiburan batin bagi umat, sekaligus mempererat rasa persaudaraan dalam keluarga besar Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia.
Acarya Shi Lianfei memberikan siraman Dharma mengenai keagungan Sutra Ksitigarbha dengan penuh makna dan inspirasi spiritual. Beliau menjelaskan secara singkat namun mendalam tentang manfaat merapal Sutra Ksitigarbha, baik bagi mereka yang masih hidup maupun bagi para leluhur dan sanak keluarga yang telah wafat.
Dalam penjelasannya, Acarya menyampaikan bahwa Sutra Ksitigarbha mengandung kekuatan welas asih dan bakti yang sangat luhur. Bagi yang masih hidup, perapalan sutra ini diyakini dapat menumbuhkan kebajikan, menenangkan batin, memperpanjang berkah kehidupan, mengikis karma buruk, serta menghadirkan perlindungan dan keharmonisan dalam keluarga. Sedangkan bagi mereka yang telah meninggal dunia, jasa kebajikan dari perapalan Sutra Ksitigarbha diyakini dapat membantu meringankan penderitaan, menuntun kesadaran menuju alam yang lebih baik.
Acarya juga mengutip ajaran luhur dalam Sutra Ksitigarbha yang menjelaskan bahwa seseorang yang dengan tulus mendengarkan, membaca, merapal, maupun memuliakan nama mulia Bodhisattva Ksitigarbha akan memperoleh perlindungan para Buddha dan Bodhisattva, dijauhkan dari berbagai marabahaya, serta dituntun menuju kehidupan yang penuh kebajikan dan kebijaksanaan. Semangat bakti kepada orang tua dan penghormatan kepada leluhur yang terkandung dalam Sutra Ksitigarbha juga menjadi nilai penting yang sangat relevan dalam kehidupan masyarakat.
Beliau kemudian menyemangati seluruh hadirin untuk mulai merapal Sutra Ksitigarbha secara rutin, terlebih karena saat ini sutra tersebut telah tersedia dalam bahasa Indonesia sehingga lebih mudah dipahami dan dipraktikkan oleh umat. Bahkan, saat ini juga sedang dilakukan proses penyempurnaan versi audio MP3 agar umat dapat lebih mudah mendengarkan dan meresapi lantunan Sutra Ksitigarbha kapan pun dan di mana pun sebagai bagian dari praktik Dharma sehari-hari.
Upacara disempurnakan dengan abhiseka pemberkahan Vajrasattva. Setelah seluruh rangkaian acara selesai, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama umat yang masih berada di lokasi, karena sebagian umat lainnya telah lebih dahulu kembali ke rumah masing-masing usai menerima abhiseka pemberkahan.
Dalam kunjungannya di Vihara Vajra Bumi Giri Putra, Acarya Shi Lianfei juga berkesempatan mengunjungi dua rumah umat untuk melaksanakan abhiseka altar. Kunjungan tersebut berlangsung hangat dan penuh nuansa spiritual. Acarya mengungkapkan rasa kagum sekaligus syukur atas semangat serta kesadaran umat dalam menekuni sadhana Tantra. Meskipun hidup dalam kesederhanaan, umat tetap memiliki tekad dan ketulusan untuk membangun altar sebagai sarana praktik spiritual, yang mencerminkan kesungguhan hati dalam menjalankan sadhana dan memuliakan Dharma.
Pada kesempatan tersebut, Dharmacarya Shi Lianhong juga berkenan hadir untuk memimpin doa paramita di salah satu rumah umat yang sedang memperingati satu tahun wafatnya sang ibu. Suasana doa yang berlangsung khidmat, menjadi ungkapan bakti, penghormatan, serta pelimpahan jasa kebajikan bagi mendiang agar senantiasa memperoleh kedamaian dan dapat terlahir di alam suci.