Sesungguhnya Siapakah Buddha?

Sesungguhnya Siapakah Buddha?

1.1 Memandang Dharma adalah Buddha

Sebenarnya, apa itu Buddha? Sesungguhnya, ini merupakan pertanyaan yang terpendam dalam hati tiap umat! Mungkin, kita dapat memahami lebih banyak lagi dari pustaka agama Buddha, untuk membuka tabir pertanyaan yang menjadi perdebatan dunia ini.

Dalam bab pertama kitab sekte Ch’an : “Kompendium Panca Pelita”, tercatat kisah yang sangat menarik dan sarat akan makna mendalam:

“Begawan berada di Surga Trayastrimsa selama 90 hari demi membabarkan Dharma untuk Sang Ibunda, kemudian berpamitan dari surga untuk turun ke bumi. Saat itu, keempat kelompok siswa menuju ke akasa loka untuk menyambut kepulangan Sang Begawan. Biksuni Utpalavarna berpikir: ‘Aku berwujud Biksuni, wajib berada di bagian belakang Sangha Agung saat berjumpa dengan Buddha. Lebih baik aku gunakan daya gaib untuk berubah wujud menjadi Raja Cakravartin yang dikelilingi oleh ribuan putra, sehingga bisa paling awal berjumpa dengan Buddha.’ Harapannya pun terwujud. Saat Begawan berjumpa dengannya, Beliau berkata: “Biksuni Utpalavarna, mengapa engkau mendahului para Sangha Agung untuk berjumpa dengan-Ku? Meskipun engkau menyaksikan tubuh jasmani-Ku, tetapi tidak dapat menyaksikan Dharmakaya-Ku. Sedangkan Subhuti, yang sedang bermeditasi di dalam gua, justru menyaksikan Dharmakaya-Ku.’” Dalam bab 29 Ekottara Agama, diuraikan situasi saat itu.

Titik berat dari kutipan kitab di atas adalah: Sang Begawan naik ke alam surga untuk membabarkan Dharma selama 90 hari, segenap siswa di dunia tidak berjumpa dengan Begawan selama 90 hari, sehingga mereka sangat rindu. Sang Begawan turun dari alam surga, semua pergi untuk menyambut, semua berebut untuk berjumpa. Akhirnya, Biksuni Utpalavarna menjadi orang pertama yang berhasil berjumpa dengan Sang Begawan. Namun, Sang Begawan justru memberitahu, yang dijumpai oleh Biksuni Utpalavarna adalah tubuh jasmani, sedangkan yang benar-benar menyaksikan Dharmakaya-Ku adalah Arya Subhuti yang sedang duduk bermeditasi di dalam gua, Arya Subhuti lah yang sesungguhnya menjadi siswa utama yang pertama kali menjumpai Sang Begawan.

Dari kutipan kitab di atas, kita dapat melihat bahwa Arya Subhuti, dalam meditasi yang mendalam, mencerahi: “Sarwadharma anitya, tiada Dharma yang tetap, semua lahir dari nidana, tiada ‘diri’, hanya merupakan fungsi yang lahir dari sebab akibat yang saling bergantungan (timbul dari sebab akibat yang saling bergantung, dan bersifat sunya).

Saat Biksuni Utpalavarna kegirangan karena berhasil menjadi orang pertama yang berjumpa Buddha, Buddha justru memberitahu semua: Arya Subhuti lah yang pertama menyaksikan Tubuh-Ku. Dalam kutipan sutra tersebut, dengan sangat gamblang sesuai dengan makna mendalam dari kalimat dalam Sutra Vajra: “Meninggalkan semua atribut, ini dinamakan sarwa Buddha.” Dan “Semua yang beratribut adalah palsu. Jika melihat atribut sebagai bukan atribut, berarti melihat Tathagata.”

Dalam Stalistambaka Sutra dikatakan: “Mengetahui sebab dan kondisi, berarti melihat Dharma; Mengetahui Dharma, berarti dapat melihat Buddha.” Ini menyatakan bahwa, mulai dari melihat Dharma sebab akibat yang saling bergantungan, terus hingga mencerahi kesunyataan Sarwadharma, memahami makna sejati Sarwadharma, sama seperti menyaksikan Dharmakaya sarwa Buddha.

Lebih jelas dan mendalam, Dharmaraja Liansheng mengungkapkan: “Asalkan bermeditasi dalam gua, melatih diri hingga realisasi Dharmakaya, dapat melalui Dharmakaya melihat Buddha Sakyamuni yang sedang membabarkan Dharma di Surga Akanistha. Dapat melihat Buddha Sakyamuni yang membabarkan Dharma di Vihara Guntur Agung Catur Surga. Tidak hanya demikian, bahkan dapat melalui Dharmakaya, menyaksikan Buddha yang banyaknya tak terhingga, melihat Sapta Buddha lampau, Ribuan Buddha Bhadrakalpa mendatang, Seribu Lima Ratus Buddha, Lima Belas Ribu Buddha, Lima Ratus Buddha Kusuma Wijaya, dan Miliaran Buddha Vajragarbha.” Menggunakan sabda Dharma Buddha Sakyamuni untuk menggugah semua: “Mencerahi semua atribut adalah bukan atribut, berarti menyaksikan Tathagata.”

Dalam Dharmadesana pada tahun 2007, Dharmaraja Liansheng pernah mengungkapkan, bahwa saat Beliau sedang bersamadhi, berjumpa dengan seorang Guru Sesepuh, dalam tanya jawab, Beliau bertanya: “Apa itu Buddha?” Guru Sesepuh menjawab dengan satu kalimat: “Menyaksikan Dharma adalah Buddha”, kata “menyaksikan” dalam kalimat tersebut, bukan sesuatu yang dilihat mata seperti biasanya, melainkan, jika dalam bhavana Anda dapat mencerahi, bahwa di dalam alam semesta raya ini, Dharma senantiasa kekal adanya, memahami makna sejati Sarwadharma, memahami Sarwadharma sunyalaksana, dengan pencerahan Dharma ini, berbhavana tanpa menyimpang, laksana kereta yang berjalan sesuai rel, meskipun tidak berhasil mencapai Kebuddhaan, tetapi makna Dharma yang dicerahi, tetap tiada berbeda dengan Buddha. Oleh karena itu, menyaksikan Dharma adalah Buddha (Tathata alamiah)

Dharmaraja Liansheng juga mengungkapkan, “Buddha adalah tokoh dalam mimpi, Dharma adalah mimpi, dan kebajikan adalah aktivitas dalam mimpi.” Kalimat bahwa Buddha adalah tokoh dalam mimpi, selaras dengan makna dalam Sutra Vajra: “Dharma yang terlahir dari kondisi, bersubstansi sunya.” Laksana Buddha dalam mimpi, menyeberangkan makhluk dalam mimpi, antara hati, Buddha, dan semua makhluk, ketiganya tiada berbeda, tentu saja Buddha adalah tokoh dalam mimpi, Dharma merupakan kondisi fungsi sesaat, pun laksana ilusi mimpi, jangan timbul rasa tamak dan melekat, sebab Dharma adalah mimpi. “Semua yang beratribut adalah ilusi.” Oleh karena itu, bahkan kebajikan pun adalah aktivitas dalam mimpi. (Mencapai keberhasilan kebajikan mimpi yang banyaknya bagaikan butiran pasir sungai)

Dharmaraja Liansheng pernah dengan ringkas menjabarkan makna Buddha:

Buddha berarti “mencerahi sunya” (Samatajnana: Pada hakikatnya sunya dan demikian, tidak ditemukan apa itu baik? Apa pula itu buruk?)

Buddha berarti “abhavana” (krtya-anusthana-jnana: Pada hakikatnya tidak bertambah pun tidak berkurang, bertindak tanpa pamrih)

Buddha berarti “tiada kelahiran dan tiada kematian” (Pratyaveksanajnana: Segala sesuatu pada hakikatnya noneksistensi)

Buddha berarti “asrava-ksaya” (Adarsajnanam: Pada hakikatnya adalah vimoksa, tiada ikatan)
Buddha berarti “welas asih dan abhijna” (Dharmadhatu-svabhava-jnana: Pada hakikatnya tak terkatakan, sekalipun diungkapkan tidak akan mengena)

Barang siapa dapat mencerahi ini, berarti “Anuttara Samyak-sambodhi”!
Tingkatan spiritual ini disebut: “Pembebasan Hidup dan Terang Sempurna”

Dalam Sutra Buddha yang bersejarah, juga ada penjabaran makna Buddha, berikut di bawah ini kami kutip sebagai referensi:

《Sutra Mahavairocana》: Ia yang sadar dan tercerahkan disebut Buddha.

《Samyuktagama》:Buddha memandang kehidupan lampau, demikian pula memandang kehidupan mendatang, dan kehidupan sekarang, sarwa samskara muncul dan lenyap. Memliki kebijaksanana terang atas segala yang diketahui, semua yang perlu ditekuni telah sempurna, semua yang perlu dipatahkan telah dipatahkan, oleh karena itu disebut Buddha. Mengupayakan selama berkalpa-kalpa, memadamkan duka kelahiran, terbebas dari kekotoran, telah mencabut akar penderitaan, Sambodhi, sehingga disebut Buddha.

《Sutra Mahaparinirwana》 : Diibaratkan seperti seseorang yang menyadari keberadaan pencuri, pencuri itu tidak berdaya. Bodhisatwa Mahasattva menyadari segala kerisauan batin yang tak terhingga banyaknya, dan setelah memahaminya, membuat berbagai kerisauan tersebut tidak berdaya, oleh karena itu disebut Buddha.

《Sutra Mahaparinirwana》 : Maha maitri maha karuna, dinamakan Sifat Buddha. Maitri merupakan alam para Buddha yang tidak terperi, alam para Buddha yang tidak terperi adalah maitri. Ketahuilah bahwa Yang Maitri adalah Tathagata.

1.2 Siapa yang Bisa Menjadi Buddha

Menurut yang tertulis dalam Sutra Avatamsaka, di bawah pohon Bodhi, Buddha Sakyamuni menyadari, setelah mencapai Anuttara Samyak-sambodhi, kalimat pertama yang dibabarkan adalah: “Sungguh menakjubkan! Sungguh menakjubkan! Semua makhluk yang sesungguhnya memiliki kebijaksanaan Tathagata, bagaimana kebodohan dan kesesatan membuat mereka tidak menyadari dan tidak melihatnya?” Dan: “Tidak ada satu pun makhluk yang tidak memiliki kebijaksanaan Tathagata, tetapi karena pikiran khayal dan sesat, mereka melekat sehingga tidak menyadarinya.”, di antaranya juga ada: “Hati, Buddha, dan makhluk, ketiganya tiada berbeda.”, dapat kita ketahui bahwa Buddha dan semua makhluk tiada berbeda, hanya antara jiwa raga yang sadar dan tidak sadar.

Dalam Sutra Brahmajala tertulis: “Semua makhluk pada hakikatnya memiliki Buddhata. Dalam makhluk awam tidak berkurang, dalam Arya pun tidak bertambah. Oleh karena itu dalam Sutra dikatakan: Semua makhluk, pada hakikatnya mencapai Kebuddhaan. Namun, pikiran paling awal tidak menyadarinya, membangkitkan avidya, menjadi kegelapan batin, diri sendiri merintanginya.”

Seperti yang diajarkan oleh Dharmaraja Liansheng: “Di antara makhluk dan Buddha, perbedaanya adalah, yang sadar adalah Buddha, yang tidak sadar adalah makhluk awam, hanya demikian.”

Dari sini dapat kita ketahui: Buddha, dalam agama Buddha, bukan hanya merupakan objek pemujaan dan doa dari insan, melainkan jika insan mengikuti petunjuk benar dari kalyanamitra, memahami yang ilusi dan yang sejati, mencerahi sunyata, melampaui kemelekatan diri, menekuni bhavana merealisasi Bodhi, melampaui materi, menyempurnakan laku dan kesadaran, tiada berbeda dengan Buddha.

Dalam Sutra Avatamsaka dikatakan: “Alam Tathagata maha luas dan mendalam, sukar diketahui, sukar dipahami, tak terukur, melampaui sarwa loka, tidak terperi, tiada yang dapat menghancurkan, pun bukan merupakan alam dua yana.” Bimbingan dan ajaran Kebuddhaan adalah agama Buddha yang dibabarkan Tathagata.

Di dunia ini, satu-satunya yang dapat menolong diri sendiri terbebas dari samsara, adalah proses diri sendiri berbhavana menyucikan tubuh, ucapan, dan pikiran, mengenali dan memahami Buddhata yang hakikatnya telah ada. Dharmaraja Liansheng mengajarkan: “Tujuan belajar Buddha adalah purifikasi karmavarana diri sendiri, tidak lagi membuat karma buruk. Membersihkan pikiran ilusi, menyadari semua, hidup sederhana alamiah, dengan sendirinya terang pun terpancar, inilah kesucian tubuh, pikiran, dan ucapan, ini yang paling penting.” Sadhaka berbhavana berdasarkan ini, dapat mencerahi hati dan menyaksikan Buddhata, terbebas dari kelahiran dan kematian. Melalui kebenaran dan ajaran dari Buddhadharma, semua makhluk dapat memperoleh pembebasan final sejati, terbebas dari duka, merealisasi kebahagiaan sejati.

Tahapan bhavana Buddhadharma:

Menjaga pancasila: Memperoleh kelahiran sebagai manusia
Mengamalkan sepuluh perbuatan baik: Memperoleh kelahiran di alam surga
Menaklukkan enam pencuri: Mencapai kesucian Arahat
Menekuni 12 nidana: Mencapai kesucian Pratyekabuddha
Mengamalkan sadparamita: Mencapai kesucian Bodhisatwa
Mengamalkan astamarga: Mencapai Kebuddhaan

Mencapai penggugahan diri dan menggugah makhluk lain, sempurna dalam laku penggugahan, alam kebenaran terunggul, klesa tak tiris, senantiasa berada dalam kedamaian Nirwana. Seperti yang dibabarkan oleh Dharmaraja Liansheng: “Jangan kira Buddha sangat jauh, Buddha adalah Buddhata dalam hati Anda. Jangan kira Bodhisatwa sangat jauh, Bodhisatwa adalah maitri karuna dalam hati Anda.”

Bagaimana semestinya kita berbhavana, supaya bisa mencapai alam kesucian Buddha? Kiat yang ditransmisikan oleh Dharmaraja Liansheng adalah: “Mesti mematuhi sila Buddha, baru bisa menyucikan tubuh, ucapan, dan pikiran, sehingga Buddhata pun tampak. Kemunculan Buddhata, tidak harus dari angkasa, kadang Buddhata hati diri sendiri muncul dengan sendirinya. Buddha Bodhisatwa bukan orang lain, saat tubuh, ucapan, dan pikiran diri suci, maka diri sendiri adalah Buddha Bodhisatwa yang sesungguhnya!”

Dharmaraja Liansheng mengingatkan siswa: “Dalam berbagai hal, dapat berdoa kepada Buddhata diri sendiri. Sesungguhnya mengandalkan diri sendiri dan Buddhata diri untuk mencapai Kebuddhaan, tidak ada siapa pun yang bisa diandalkan. Mengandalkan diri sendiri dalam mematuhi sila, mengamalkan Dharma Tantra, kesucian tubuh, ucapan, dan diri sendiri, untuk menampakkan Buddhata, keberhasilan ini dapat tercapai di dunia maupun dalam kebenaran terunggul.”

Kutipan Sutra Buddha terkait, sebagai referensi:

《Ekottara Agama》: “Jangan berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran, inilah ajaran para Buddha.”

《Risalah Sutra Prajnaparamita Raja Karunika》: “Semua makhluk memiliki Buddhata, pasti mencapai Kebuddhaan.”

《Sutra Brahmajala》: “Anda akan menjadi Buddha, Aku telah menjadi Buddha.”

《Sutra Saddharmapundarika》: “Aku tidak berani memandang rendah Anda sekalian, sebab kelak Anda sekalian menjadi Buddha.”

《Sastra Nadi Ajaran Bodhidharma》: “Hati adalah Buddha. Demikian pula sebaliknya. Di luar hati, tiada Buddha lain yang bisa direalisasikan.”, “Hati adalah Buddha. Buddha adalah hati. Di luar hati tiada Buddha, di luar Buddha tiada hati.”

Mengenai bhavana Tantra, Dharmaraja Liansheng mengajarkan pemikiran yang penting: “Anda adalah Buddha.” Dan memberi petunjuk: “Bhavana dalam Tantra berarti menggunakan hati diri sendiri untuk merealisasikan Kebuddhaan.” Beliau juga mengupas alam tertinggi dalam agama Buddha: “Saat Buddhata muncul, baru menyadari bahwa ternyata Buddha dan semua makhluk adalah satu substansi, sebab Tathata Suci tiap insan adalah sama.”

Soal renungan:
1. Apakah Anda benar-benar memahami sesungguhnya apa itu Buddha?
2. Sesungguhnya, belajar Buddha hendak belajar apa dari Buddha?

全球真佛宗眾上師、教授師、法師、講師、助教暨全球弟子,萬眾一心,持誦 瑤池金母心咒,同心祈願 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。