Dharmaraja Lian-sheng Mengulas Satya Buddha Sutra
( Pengulasan Ketiga )

Dharmadesana 29 Oktober 1988

 

Kutipan Teks Sutra Mandarin :

 

奉請二佛八菩薩。 

Fèngqǐng èrfo bā púsà. 

 

南無法界最勝宮毘盧遮那佛。 

Námó fǎjiè zuìshèng gōng pílúzhēnà fo. 

 

南無西方極樂世界阿彌陀佛。 

Námó xīfāng jílè shìjiè Amítuófó. 

 

南無觀世音菩薩摩訶薩。

Námó guānshìyīn púsà móhēsà. 

 

南無彌勒菩薩摩訶薩。 

Námó mílè púsà móhēsà. 

 

南無虛空臧菩薩摩訶薩。 

Námó xūkōngzāng púsà móhēsà. 

 

南無普賢菩薩摩訶薩。 

Námó pǔxián púsà móhēsà. 

 

南無金剛手菩薩摩訶薩。 

Námó jīngāngshǒu púsà móhēsà. 

 

南無妙吉祥菩薩摩訶薩。 

Námó miàojíxiáng púsà móhēsà. 

 

南無除蓋障菩薩摩訶薩。 

Námó chú gàizhàng púsà móhēsà. 

 

南無地臧王菩薩摩訶薩。 

Námó dizāngwáng púsà móhēsà. 

 

南無諸尊菩薩摩訶薩。 

Námó zhūzūn púsà móhēsà. 

  

開經偈。 

Kāi jīng jì. 

 

無上甚深微妙法。 

Wúshàng shènshēn wéimiào fǎ. 

 

百千萬劫難遭遇。 

Bǎi qiān wànjié nàn zāoyù. 

 

我今見聞得受持。 

Wǒ jīn jiànwén dé shòuchí. 

 

願解如來真實義。 

Yuàn jiě rúlái zhēnshí yì. 

  

蓮生活佛說﹕「真實佛法息災賜福經」 

Liánsheng huófó shuō `zhēnshí fófǎ xīzāi cìfú jīng' 

 

如是我聞。一時大白蓮花童子。在摩訶雙蓮池。

rúshì wǒwén. Yīshí dàbáiliánhuātóngzǐ. Zài móhoshuāngliánchí. 

 

坐于大白蓮花法座之上。周圍十七多大蓮花。

Zuò yú dàbái liánhuā fǎzuò zhī shàng. Zhōuwéi shíqī duō dà liánhuā. 

 

青色青光。黃色黃光。赤色赤光。紫色紫光。

Qīngsè qīng guāng. Huángsè huáng guāng. Chìsè chì guāng. Zǐsè zǐguāng. 

 

各朵蓮花。微妙香潔。白蓮花童子。默運神通。 

Gè duǒ liánhuā. Wéimiào xiāngjié. Báiliánhuātóngzǐ. Mò yùn shéntōng.

 

Kutipan Teks Sutra Bahasa Indonesia :

 

Dvi Buddha Asta Bodhisattva Avahanam 

( Mengundang Dua Buddha dan Delapan Bodhisattva ) 

 

Namo Istana Vijaya Dharmadhatu Vairocanaya Buddhaya

Namo Sukhavatiloka Buddha-ksetra Barat Amitabhaya Buddhaya

 

Namo Avalokitesvaraya Bodhisattvaya Mahasattvaya

Namo Maitreyaya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Akashagarbhaya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Samantabhadraya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Vajrapaniya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Manjusriya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Sarva-nivarana-viskambhin Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Ksitigarbhaya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Sarva Bodhisattvaya mahasattvaya.

 

 

Gatha Pendahuluan Sutra

 

Dharma  Luhur Anuttara nan mendalam.

Sangat sukar dijumpai sekalipun melalui masa berkalpa-kalpa. 

Saat ini aku dapat berjumpa, mendengar, memperoleh dan mendalaminya,

Semoga memahami hakikat sejati Tathagata.

 

Sutra Satya Buddha Dharma Santika dan Paustika Yang Dibabarkan Oleh Guru Buddha Lian-sheng : 

 

Demikianlah yang aku dengar: Pada suatu ketika Maha Padmakumara Putih berada di Maha-padminiloka, bertahta di atas Padma-dharmasana Putih dengan dikelilingi oleh Tujuh Belas Kuntum Maha-padma. Padma Biru memancarkan cahaya biru, Padma Kuning memancarkan cahaya kuning, Padma Merah memancarkan cahaya merah dan Padma Ungu memancarkan cahaya ungu. Tiap-tiap Kuntum Padma memancarkan keharuman nan mulia.

 

Kemudian , Padmakumara Putih dalam ketenangan mengerahkan abhijna. . . 

 

Pengulasan :

 

Pengulasan Sutra Satya Buddha telah sampai pada ‘Mengundang Dua Buddha dan Delapan Bodhisattva’, Dua Buddha yang diundang adalah :

 

Namo Istana Vijaya Dharmadhatu Vairocanaya Buddhaya

Namo Sukhavatiloka Buddha-ksetra Barat Amitabhaya Buddhaya

 

    Ada orang yang mengatakan bahwa Vairocana Buddha adalah Buddha Mula-mula, maksudnya adalah sebelum Beliau tiada Buddha. Beliau adalah Buddha Pertama. Beliau mempunyai satu sebutan yaitu Istana Vijaya Dharmadhatu. Mengenai ‘Istana Vijaya Dharmadhatu’, mungkin kita akan terbayang sebuah istana yang sangat megah, mungkin juga kita akan terbayangkan Istana Epang yang dibakar oleh Qin Shihuang. 

 

Namun disini dikatakan ‘Dharmadhatu’, apakah Dharmadhatu ? Dharmadhatu merepresentasikan Catur-arya dan Sad-gati, semua termasuk.

 

Catur Arya adalah Buddha, Bodhisattva, Pratyeka Buddha dan Sravaka.

Sedangkan Sad-gati adalah Dewa, manusia, asura, neraka, preta dan hewan.

 

    Maka, istana ini berarti seantero semesta, seluruh loka, termasuk alam manusia, semua tercakup dalam Dharmadhatu, semua dibangun dalam istana ini, berarti keseluruhan.

 

Apakah ‘Yang Paling Vijaya’ ? Yaitu yang paling baik, paling sempurna, yang memiliki semuanya, inilah Vijaya. 

 

    Semua mengetahui bahwa Vairocana Buddha adalah Buddha Mula, yaitu Buddha Purba Paling Awal, juga merupakan Buddha silsilah yang paling utama dalam silsilah Satya Buddha kita. Oleh karena itu sebelum melafal sutra kita perlu mengundang Buddha Silsilah Pertama kita. 

 

    Kemudian, mengapa kita perlu mengundang ‘Namo Sukhavatiloka Buddha-ksetra Barat Amitabhaya Buddhaya’ ? Sebab Buddha ini merupakan Buddha yang menitipkan misi. Beliau mengharapkan supaya Padmakumara dari Mahapadmini di Sukhavati Buddha-ksetra Barat untuk menitis ke dunia mentransmisikan Sadhana Tantra Satya Buddha. Beliau mengharapkan dan menitipkan misi, sama dengan Beliau yang meminta Anda menitis. Oleh karena itu harus dilakukan pengundangan. Tanpa Vairocana Buddha dan Amitabha Buddha maka tidak akan ada Satya Buddha. 

 

Kita juga perlu mengundang Delapan Maha Bodhisattva :

 

Namo Avalokitesvaraya Bodhisattvaya Mahasattvaya

Namo Maitreyaya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Akashagarbhaya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Samantabhadraya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Vajrapaniya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Manjusriya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Sarva-nivarana-viskambhin Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Ksitigarbhaya Bodhisattvaya Mahasattvaya.

Namo Sarva Bodhisattvaya mahasattvaya.

 

    Mengundang Delapan Bodhisattva dan terakhir adalah ‘Namo Sarva Bodhisattvaya mahasattvaya’ yang berarti mengundang Semua Bodhisattva. Dengan demikian semua Bodhisattva memiliki afinitas erat dengan Satya Buddha. 

 

    Kita telah mengundang Dua Buddha Delapan Bodhisattva berarti kita telah mengundang silsilah istadevata mula, serta silsilah penyerahan misi agung. Selain itu, semua Bodhisattva hadir untuk mendengar dan melindungi. 

 

    Berikutnya adalah Gatha Pendahuluan Sutra, setiap sutra terdapat gatha ini, secara sederhana adalah : “Dharma yang demikian mendalam, kita sangat sukar untuk dapat menjumpainya. Saat ini kita telah menyaksikannya, segeralah dibaca dan mendalaminya. Lafalkan, pahamilah maknanya.”

 

Sekarang mulai memasuki naskah sutra :

    Kalimat pertama adalah ‘Demikianlah Yang Aku Dengar’, yaitu apa yang telah saya dengar secara langsung dalam pasamuan tersebut. Hampir setiap sutra dimulai dengan kalimat ‘Demikianlah yang aku dengar.’ 

 

    Usia kalian ada yang lebih tua dari Mahaguru, ada juga yang lebih muda. Yang usianya telah lanjut tentu saja kelak saat saya telah tiada , saya tidak dapat menjamin Anda masih ada. Sedangkan yang usianya lebih muda dari Mahaguru, masih bisa dijamin mungkin mereka masih ada. Akhir-akhir ini saya telah selesai menulis buku ke 80 yaitu Raja dari Raja Buddha. Seakan-akan menjiplak judul buku orang ‘Raja Diantara Para Raja’, Anda adalah Raja dari Raja Buddha.

 

    Buku ini saya tulis dengan sangat padat, tidak ada nada tulisan yang santai, sebuah nada tulisan yang lebih serius dan lebih mendalam, menuliskan kunci utama Buddha Dharma ke dalam buku ini. 

 

    Menurut saya, buku ini merupakan sebuah titik dalam karya tulis saya, kelak masih akan menulis, namun ini merupakan sebuah fase, satu hal yang sangat penting. Jika diungkapkan lebih santai, setelah usai menulis buku ini bisa ‘Istirahat di tempat’, seperti dalam militer, setelah berjalan jauh sambil mengangkat barang, boleh diletakkan di sini dan boleh beristirahat. Terpikirkan mengenai istirahat, apabila saya beristirahat lebih lama, maka masih berusia 44 tahun sudah habis. Usia 44 tahun termasuk pendek. Supaya diri sendiri tidak pergi demikian cepat, maka segera menuliskan buku yang ke 81. Buku yang ke 81 disebut ‘Kitab Tata Ritual Satya Buddha’. Ada beberapa peraturan Satya Buddha, atau tanya jawab mengenai etika, semuanya dituliskan dalam buku ini. Namun untuk buku ini belum ada penetapan waktu terbitnya. 

 

    Buku ke 80 adalah masa istirahat, namun jika istirahat dalam waktu sangat lama, berarti hanya hidup sampai 44 tahun. Namun saya merasa setelah menuliskan buku ke 80 berarti tugas utama kelahiran di dunia ini telah usai. Yang dimaksud telah usai adalah telah menitipkan tugas penting ini, tanggung jawab yang lain biarlah ditanggung oleh Amitabha Buddha. Beberapa tugas tersebut dapat dikatakan telah melalui satu fase, untuk yang lain bisa sambil santai. 

 

    Bagaimana kelak ? Umat yang mendengar Dharma di sini, kelak bila ingin membuat sebuah karya tulis , pada permulaanya dapat menuliskan ‘Demikianlah yang aku dengar’. Ini sangat nyata, sebab Anda memang berada di lokasi secara langsung mendengarkan Mahaguru membabarkan Dharma.  Semua telah mendengar di lokasi, saat semua dihadapkan maka semuanya tepat, inilah ‘Demikianlah yang aku dengar’.  Kalimat ini digunakan saat para siswa mengumpulkan dan mendiskusikan banyak Dharmadesana Sakyamuni Buddha. Tiap permulaan sutra menggunakan kalimat ini, berarti saat itu berada di lokasi mendengar Dharmadesana Sakyamuni Buddha.

 

    Kalimat ini berarti saya sendiri saat berada di Mahapadmini Sukhavatiloka Buddha-ksetra Barat, saat itu juga berada di sana mendengarkan Dharmadesana Maha Padmakumara Putih, secara langsung menyaksikan dan mendengar suasana saat itu, oleh karena itu digunakan kalimat ‘Demikianlah yang aku dengar’. 

 

    Menurut saya manusia mempunyai  hetu-pala, bahkan ada banyak sekali kelahiran dan kematian. Sesunggunya kelahiran dan kematian menunjuk pada di sana sudah tidak dapat berjumpa dengan Anda, yang di sini dapat berjumpa dengan Anda. Jika di sini sudah tidak dijumpai, maka Anda bisa dijumpai di sana. Jika di sana Anda juga tidak dapat dijumpai, berarti telah pergi ke tempat lain, demikianlah kelahiran dan kematian.

 

    Dahulu saat di Mahapadminiloka mereka semua dapat berjumpa dengan saya, namun saya di sana telah tiada dan saat ini hidup di sini . Saya ingat-ingat usia berapa datang ke Amerika, di Taiwan saya hidup selama 37 tahun, di Taiwan telah tiada, saat ini di Amerika berusia 7 tahun. Namun, mungkin juga tahun depan saya telah tiada di Amerika, mungkin terlahir di Indonesia, atau di Malaysia, atau Singapura, atau Eropa.

 

    Kelahiran dan kematian hanya demikian belaka, Anda terlahir di sini, di sana telah meninggal ; Di sini telah meninggal, maka terlahir di sana. Demikian memandang kelahiran dan kematian akan sangat melegakan. Saat di sini ada orang meninggal dunia, semua menangis pilu, sudah tidak dapat melihat orang itu lagi, sesungguhnya dia di sana hidup dengan bahagia, oleh karena itu hendaknya demikian memandang kelahiran dan kematian.

 

    Apakah itu ‘Pada suatu ketika’ ?  Kalimat ‘Pada suatu ketika’ meliputi masa yang sangat lampau. Dulu ada seorang Bhiksu Dhyana bernama Bhiksu Tianlong, setiap kali orang bertanya kepadanya, Beliau selalu demikian ( Mahaguru memperagakan menegakkan satu jari )  Sesungguhnya saat Beliau tidak dapat menjawab pertanyaan orang lain , maka dia akan demikian ( Mahaguru memperagakan menegakkan satu jari ) Apa artinya ini ? Yaitu Tunggal, atau segalanya. Sebab pertanyaan yang Anda lontarkan pasti berada di dalam ‘segalanya’. Jawaban saya dijamin benar.

 

    Ada orang yang bertanya kepada Beliau : “Dimanakah Gunung Sumeru ?” Beliau langsung demikian. Ah ! Bukankah ini mirip dengan sebuah gunung ! Ada orang yang bertanya kepada Beliau : “Dunia di mana ?” Beliau juga demikian. Maksud Beliau adalah menyampaikan bahwa alam semesta berpulang pada Tunggal, segenap semesta alam ini bermanifestasi dari Tunggal. 

 

    Orang bertanya kepada Beliau : “Apakah itu wanita ? Bagaimana mendeskripsikan wanita ?” Beliau juga demikian, membentuk angka satu. Orang bertanya : “Bagaimana membedakan pria dan wanita ?” Beliau tetap membentuk angka satu. Sebab saat itu segalanya berpulang pada Tunggal, pria dan wanita tiada perbedaan. Oleh karena itu tetap Tunggal. Oleh karena itu yang Tunggal ini dapat mencakupi langit dan bumi, meliputi gunung, manusia, segala persoalan, permulaan, masa lampau, saat ini dan yang akan datang, semuanya dicakupinya. Oleh karena itu saat Bhiksu tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan orang, Beliau akan mengacungkan jari telunjuk.

 

    Kemudian ada seorang siswa yang menirunya,  Bhiksu itu mengacungkan jari , siswa itu menirunya. Bhiksu itu langsung emosi, mengambil pisau dan memotong jarinya, Beliau mengatakan : “Dimanakah angka satu Anda ?” Menjadi demikian ( Mahaguru menekuk telunjuk ) menjadi tiada.

 

    Dhyana ada kalanya tidak diungkapkan, namun di dalamnya mengandung perubahan yang sangat besar dan maknanya. Oleh karena itu Anda bertanya kepada saya : “Mahaguru, kalimat ‘Suatu Ketika’  ini berarti kapan ?” seratus tahun lampau, seribu tahun lampau, sepuluh ribu tahun lampau, sejuta tahun lampau, semuanya ada di dalamnya. Dijamin benar, ‘Suatu Ketika’ adalah saat itu, tidak peduli kapanpun, semuanya dicakupi. 

 

    Suatu ketika, ada Maha Padmakumara Putih di Mahapadmini Sukhavatiloka Buddha-ksetra Barat. Padma Putih ini, makna dari warna putih adalah warna kolektif , yaitu semua warna menjadi satu. Saya ingat ada penelitian yang mengaduk banyak warna menjadi warna putih. Namun jika satu warna saja diambil dan diaduk lagi, maka akan menjadi hitam. Warna putih adalah warna paling sempurna, sedangkan warna yang lain adalah sekunder. 

 

    Oleh karena itu Istana Vijaya Dharmadhatu Mahavairocana Tathagata juga berwarna putih. Tentu saja Istadevata di Mahapadminiloka juga berwarna putih. Sebab semua Buddha Bodhisattva sebelum memperoleh realisasi, harus menekuni Sadhana Putih, yaitu Sadhana Pemurnian, memurnikan sampai final, adalah warna putih. Barusan Acarya Zeng mengatakan : “Menjalani bhavana harus sunya , harus tiada.” , Menurut Anda apa warna sunya ? yaitu putih. Apabila dicampurkan warna lain akan menjadi sebuah fungsi. Hanya putih yang paling murni. 

 

    Oleh karena itu Maha Padmakumara Putih merupakan Istadevata di Mahapadminiloka. Di Mahapadminiloka duduk di atas padmasana agung berwarna putih. Ada siswa yang berkata : “Mahaguru, cukup dikatakan duduk pada padmasana putih, tidak perlu kata ‘Di atas’. “ Bukankah semua orang duduk di Padma adalah duduk di atasnya, tidak ada duduk di dalamnya, juga tidak ada duduk di bawah, samping, kiri dan kanan, tidak mungkin, oleh karena itu kata ‘Di atas’ adalah berlebihan. Siswa itu memberi contoh : “Apakah Anda dapat menulis duduk di atas angkutan umum ? Di atas seakan-akan duduk di atap mobil.” Saya mengatakan kepadanya : “Jangan terlalu mempersoalkan hal kecil, duduk di atas padmasana, yang penting semua paham, Anda hanya cari repot sendiri, bagaimana menulis sutra ini ? “ 

 

    Di sekeliling Padma terdapat 17 kuntum Padma. Siswa itu juga masih mencari-cari kesalahan , dia mengatakan : “Di dalamnya juga banyak aksara yang sia-sia, warna biru sinar biru, warna kuning sinar kuning, warna merah sinar merah, warna ungu sinar ungu, itu semua mengandung dua kata yang sia-sia.” Dia mengatakan : “Apakah Mahaguru buta warna ? Apakah yang berwarna biru akan memancarkan sinar merah ? Apakah yang berwarna kuning akan memancarkan sinar hijau ? Bagaimana Anda lulus tes ijin mengemudi ?” 

 

    Sebenarnya dia juga sedang mencari masalah. Kita hanya mengulangnya, tentu saja menyatakan bahwa yang berawarna biru memancarkan cahaya biru , ini bermakna dua tahapan, yaitu Padma biru memancarkan sinar biru, cukup dijelaskan demikian. Sesungguhnya di dalam sutra Buddha ada banyak contoh demikian. 

 

    Seperti misalnya, Padmakumara Biru memegang Padma biru, memancarkan sinar biru, dan di sekitar sinarnya semua berwarna biru. Ada contoh demikian, contoh di belakang dapat digunakan sebagai contoh yang di depan, ini bukan bertentangan, juga bukan berlebihan.


    ‘Tiap-tiap kuntum Padma memancarkan keharuman nan mulia.’ Ini menyatakan bahwa tiap Padma sangat harum, keharuman merepresentasian kemurnian, aroma udara yang baik, sangat bersih. Singkat kata, kata ‘Nan mulia’ ini sering digunakan dalam Sutra Buddha. Yaitu semuanya serba baik, paling baik. Dulu ada seorang siswa dari Taichung yang bermarga Shen, bernama Miao-juan. Dalam namanya ada kata ‘mulia’, pada awalnya dia memiliki kesan tidak baik terhadap kata ‘mulia’ ini, dia mengatakan : “Saya ini manusia biasa, apa baiknya ?  apa yang mulia ? buat apa mulia-mulia ini.” Semua mengatakan kepadanya : “Miao, dimanakah letak kemuliaan Anda ? Sedikitpun tidak mulia, banyak orang mengatakan nama Anda ini sungguh mengherankan.” 

 

    Sejak dia bersarana kepada Mahaguru dan membaca banyak sutra Buddha, dia mengatakan : “Ah ! Dalam Sutra Buddha banyak menggunakan kata ‘Miao’, bahkan di California ada Cetya Miao-yin.” Sekarang dia merenungkannya kembali, sungguh terlampau menakjubkan ! Padahal dia sempat ingin mengubah namanya, sekarang tidak perlu lagi.

 

    ‘Padmakumara Putih dalam ketenangan mengerahkan abhijna.’, penggunaan kata tenang ini sangat baik. Sebab abhijna pada dasarnya tidak berwujud, semacam perubahan, suatu kealamiahan. Awan di langit memiliki abhijna dia mampu berubah menjadi air, air mengerahkan abhijna menjadi es, es mengerahkan abhijna menjadi air, air mengerahkan abhijna menjadi uap. Terus berubah semua merupakan abhijna alam . Orang yang memiliki abhijna dapat merubah ini semua, dia dapat menitahkan awan menjadi hujan, hujan menjadi es, es menjadi uap. Demikian terus berubah, mengalami siklus alamiah, dalam ketenangan mengerahkan abhijna. 

 

    Sesungguhnya banyak ibu atau istri di rumah memasak lauk adalah dalam ketenangan mengerahkan abhijna. Mereka pergi ke pasar, ke saveway membeli ikan bau , yang paling murah, sangat amis, ikan yang baunya membuat ingin muntah. Sepulangnya, dia menambahkan sedikit kecap, menambahkan cuka, gula, bawang dan menggoreng ikan bau itu . Melalui abhijna dalam ketenangan  ini, ikan bau menjadi ikan wangi. Kita tiap orang memakan barang wangi ini, kemudian dalam ketenangan mengerahkan abhijna dan menjadi bau kembali, kembali pada bau sebelumya.

 

    Di Amerika sendiri dalam menanam sayuran tentu saja sangat jarang menggunakan pupuk alami, namun pupuk mereka juga dibuat dari pupuk alami, seperti asam urat, putih telur dan lain sebagainya. Alam semesta ini merupakan siklus abhijna. Anda menyiramkan yang paling bau kepada tumbuhan, diserap, setelah membesar dapat digunakan untuk memelihara ikan dan babi ( seperti makanan basah untuk memberi makan babi ) Menggunakan benda yang paling bau untuk menghasilkan benda paling wangi, kemudian berubah lagi menjadi paling bau. Demikian seterusnya saling memelihara. Bila Anda memahami ini, maka Anda akan memahami bahwa Alam Semesta adalah sebuah sirkulasi. 

 

    Ini merupakan abhijna dari alam. Bila kita semua bersadhana sampai ‘Selaras dengan alam’, Anda mampu mengerahkan abhijna selaras dengan alam, bahkan mentransformasikan alam, inilah abhijna. 

 

    Kita semua tahu bahwa sinar X dapat menembus tubuh, mengetahui kondisi organ dalam Anda. Jika Anda melatih mata Anda menjadi sinar X, maka Anda memperoleh Divyacaksu abhijna . Seperti Olimpiade, mereka menampilkan olahraga dan berkompetisi, apabila satelit di angkasa sedang merekam semua suasana Olimpiade, kemudian semua suasana itu dipantulkan kepada mata Anda, maka Anda memiliki abhijna mata ribuan li.

 

    Saat ini dengan Taiwan , Singapura dan Indonesia, begitu mengangkat telepon langsung dapat berkomunikasi. Bila Anda melatih telinga Anda menjadi bagaikan sebuah kabel, dan kabel ini langsung tersambung pada  mulut teman, Anda mendengar apa yang dia ucapkan, berarti Anda mempunyai Divyasrotra. Metode ini bukan tidak mungkin. Sepenuhnya berada pada dua kata ‘Menakjubkan dan mulia’, sepenuhnya ada pada ‘Mengerahkan Abhijna”.  

 

    Apa yang disebut dengan ‘Dalam ketenangan mengerahkan’ ? Sepenuhnya tenang, tenang sampai kedamaian paling mendasar. Apakah itu ‘Mengerahkan’ ? Saat Anda mengerahkannya sampai pada yang paling dasar, mentransformasikannya menjadi tiada. Mentransformasikan diri sendiri menjadi tiada, selaras dengan Anda memiliki semua kekuatan, maka ini akan menjadi Abhijna agung. 

 

‘membuat Maha-padminiloka memancarkan kilau sinar keemasan.’

 

    Buku yang ada pada kalian merupakan cetakan Cetya Yuan-zeng Singapura ? Ada satu kata, yaitu ‘Menjadi’. Ada yang mencetaknya ‘Menjadi / memperoleh’ ada yang mencetaknya ‘Milik’, seharusnya yang lebih baik adalah kata ‘Memperoleh / menjadi’, jadi cetakan Cetya Yuan-zeng ini benar. 

 

    Kelak kalian bisa mempelajari satu macam abhijna, untuk bunga yang masih kuncup di dalam buket, dalam ketenangan Anda kerahkan abhijna sejenak, maka bunga itu menjadi mekar !  Apabila dapat demikian, maka dapat merubah dunia ini menjadi indah, menjadi cemerlang. Di sini pada musim gugur dan musim dingin hawanya lebih dingin, bahkan bungapun rontok, orang yang mempunyai Maha Abhijna mampu merubah cuaca, merubahnya menjadi musim semi. Yang pada mulanya , di dunia ini, saat matahari berada di sudut tertentu merupakan musim gugur, sinar dan panasnya lebih lemah, saat itulah Anda kerahkan abhijna. Menggeser dunia, wah ! Menjadi musim semi, bahkan panasnya sampai membuat keringat menetes. 

 

    Sesungguhnya asalkan kita menggeser bola dunia sedikit saja, maka keseluruhan cuacanya akan berubah. Dulu awal tiba di Amerika, menetap di Ballard, saya sangat gembira . Saya mengatakan : “Ah ! Di Seattle sungguh baik, sejak awal sampai akhir tahun, samasekali belum berkeringat.” Pindah ke Redmond baru merasakan sepertinya musim panas lebih lama, bahkan matahari sepertinya juga lebih besar, lebih panas, musim panas juga berkeringat. 

 

    Ada yang mengatakan : “Mungkin Washington membuat reaktor nuklir ?” reaktor ini dapat menghasilkan uap yang sangat hebat. Empat reaktor bersama-sama menghasilkan uap, sedikit menggeser dunia, ini merupakan abhijna yang dikerahkan oleh reaktor, sedikit memperpanjang musim panas di Seattle, bahkan lebih panas. Ini merupakan kabar buruk bagi orang yang tidak menyukai hawa panas seperti saya. 

 

Setelah dalam ketenangan mengerahkan abhijna, semua bunga memancarkan keharuman. 

 

    Seperti barusan saya katakan, dibandingkan dengan memekarkan semua bunga, nanti perlu mengajari Anda abhijna tersebut. Dia tertawa paling senang, sebab dia adalah penjual bunga. Abhijna yang seharusnya Anda pelajari adalah supaya kelopak bunga itu tidak rontok. Namun bunga yang tidak rontok  juga tidak baik, sebab jika bunga tidak bisa rontok, semua orang hanya perlu membeli satu kali saja. Setelah membeli sekali dari Anda, dapat menggunakanya selama setahun, jadi Anda sudah tidak perlu lagi menjual bunga. Lebih baik Anda tidak mempelajari abhijna ini.

  

Hari ini sampai di sini,


Om. Mani. Padme. Hum

慶賀真佛宗根本傳承上師八十聖壽 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。