592 - Hati Buddha (2)

Kita melanjutkan pembahasan ‘Hati Buddha’.

Buddha adalah Anuttarasamyaksambodhi, Hati telah sempurna secara luar dan dalam, sempurna dalam Bodhi dan carya. Anuttarasamyaksambodhi, sempurna dalam Bodhi dan carya, inilah Hati Buddha.

‘Hati Buddha’ sangat agung, merupakan kondisi Anuttara, dan sangat sukar untuk dipahami. Sangat luas dan murni.

Dalam Hati Buddha tiada diskriminasi, tiada satu insan pun yang tidak diseberangkan. Seperti di Amerika, baru-baru ini ada ‘black people’ yang akan datang untuk menerima upasampada. Dalam Bahasa Taiwan disebut ‘Acai’, dalam Bahasa Mandarin berarti ‘berwarna’. Kita tidak boleh mendiskriminasikan, mesti tetap mengupasampadanya. Kita tahu bahwa orang barat sangat sukar untuk diseberangkan, kenapa demikian? Sebab orang barat dulunya adalah suku nomad, seperti dalam film ‘How the West Was Won’, mereka berkelana, tidak memiliki tempat tinggal tetap, mereka sangat sulit untuk diam.

Kadang bisa timbul keyakinan, tapi dengan sangat cepat, keesokan harinya pudar. Seperti sekarang musim gugur, semua daun berguguran sampai gundul. Mereka sangat mudah percaya, tapi juga sangat mudah pudar, sangat sukar untuk dibimbing.

Akan tetapi, jangan karena demikian, maka Anda tidak berupaya untuk menyeberangkan mereka. Tetap harus mendampingi mereka, perlahan-lahan membangun sraddha yang murni, keyakinan yang sepenuhnya murni, dan bukan yang mengandung maksud.

Semisal seorang tunawisma datang bersarana, Anda mesti memberinya sarana, walau tujuan dia adalah datang ke vihara adalah untuk makan. Semua orang mempunyai faktor penyebab bersarana, meskipun bukan keyakinan murni, namun mesti tetap diberikan sarana. Mesti pelan-pelan, mesti sabar untuk membimbingnya, demikianlah Hati Buddha.

Di hadapan Hati Buddha, semua setara, sama sekali tiada berbeda. Selain itu, Hati Buddha masih mengerti logika, dalam berbagai hal, semuanya dipahami dengan jelas, inilah Hati Buddha, ibarat sebidang cermin. Apa pun yang datang ke hadapan, semuanya akan sangat jelas dipahami.

Dalam menangani sesuatu, tiada diskriminasi. Akan tetapi, terhadap benar dan salah, baik dan buruk, sangat jelas, semua diseberangkan tanpa kecuali. Tidak peduli Anda baik atau buruk, semua diseberangkan dengan setara, namun tetap ada pemahaman di dalam hatinya. 

Gelar bagi Gyalwa Karmapa ke-16 adalah: Vajra yang Memahami Hati Sendiri, sesungguhnya ini adalah Hati Buddha yang memahami segala fenomena dan nomena, inilah Hati Buddha.

Masih ada lagi, maitri-karuna juga merupakan Hati Buddha. Rinpoche menitis, dalam setiap kelahiran menitis di dunia saha. Mengetahui bahwa dunia saha ini keruh oleh panca-skandha, akan tetapi Ia masih tetap menitis demi menyeberangkan semua makhluk, tidak gentar akan pencemaran, kenapa bisa demikian? Maitri-karuna.

Buddha dan Bodhisattva yang sejati, tidak memasuki Asesa-nirvana (Nirvana tanpa sisa), semua memasuki Sopadhi-sesa-nirvana (Nirvana bersisa). Sopadhi-sesa-nirvana berarti menetap sementara, kemudian membangkitkan ikrar untuk menyeberangkan semua makhluk selama-lamanya, inilah maitri-karuna. Penitisan inversi, berada di dunia saha yang sangat ‘dirty’, dunia penuh panca-skandha, Ia tetap berupaya menyeberangkan semua makhluk, inilah maitri-karuna.

Dalam Hati Buddha tiada istilah benci. Apabila dalam Hati Buddha masih ada kebencian, berarti ia adalah orang awam, bukan Buddha. Tiada benci, tiada musuh, tiada dendam, inilah Hati Buddha dan Bodhisattva.

Mereka hanya punya Hati maitri-karuna, segalanya baik. Jelas-jelas tahu bahwa Anda datang untuk menipu saya, tapi saya tetap menerima Anda. Jelas-jelas tahu bahwa Anda datang untuk mencelakai dan merusak, kami tetap menerima Anda, kemudian dengan sekuat tenaga mencari cara untuk membimbing Anda, inilah maitri-karuna. Sekalipun dicelakai, tidak akan mengaduh, ini sudah seharusnya. Bahkan harus menahan rasa sakit dan mengatakan: ‘senang’, ini adalah Hati maitri-karuna.

Jadi tidak akan mengatakan: “Orang ini pernah mencelakai aliran kita, kita tidak menerimanya lagi.” Tidak boleh demikian, tetap mengampuni, tetap menerima, inilah maitri-karuna.

Hati Buddha adalah sempurna, tidak mengabaikan satu insan pun, menyeberangkan para insan dengan sempurna. Mengupayakan hal yang mustahil, juga bukan demi apa pun, sepenuhnya tanpa pamrih, inilah yang sempurna.

Oleh karena itulah di antara Pancajnana Tathagata terdapat Adarsajnana, Dharmadhatusvabhavajnana, semuanya sempurna. Samatajnana, sempurna semuanya. Pratyaveksanajnana berarti memahami segala fenomena dan nomena. Samatajnana dan Adarsajnana, semua sama. Dan yang sangat luas adalah Dharmadhatusvabhavajnana. Selain itu, bermaitri-karuna kepada semua makhluk berarti Krtyanusthanajnana, semua sama.

Hati Buddha adalah Pancamahajnana dari Tathagata, jadi ketika saya menulis: ‘Hati Buddha’, mesti merenungkan Pancamahajnana dari Tathagata. Ketika menulis ‘Hati Buddha’, mesti merenungkan pandangan kesetaraan terhadap para insan, mesti merenungkan kesempurnaan, mesti merenungkan Dharmadhatu. Sesungguhnya dalam Dasadharmadhatu semua setara. Meski Dharmadhatu dibagi menjadi sepuluh, namun sesungguhnya merupakan kesetaraan.

Setelah kita memahami Hati Buddha, kita mesti berbhavana dengan sebaik-baiknya, berupaya untuk memasuki kondisi yang tertinggi, yang demikian barulah merupakan ‘Satu Dunia’, barulah bisa mewujudkan Alam Suci di dunia fana.

Om Mani Padme Hum.

慶賀真佛宗根本傳承上師八十聖壽 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。