

【Mantra Hati Je Tsongkhapa】(Pendek):“Om.Biezha. Zongkaba. Gelu. Suoha.”
【Mantra Hati Je Tsongkhapa】(Panjang):“Om AHum. Biezha. Zongkaba. Gelu. Suoha.”
【Mengenal Pratima JeTsongkhapa】
Je Tsongkhapa berkepala satu, berlengan dua, danberkaki dua, tubuh berwarna putih, berparas welas asih nan sempurna, agungseperti Buddha, tubuh mengenakan jubah Dharma berwarna kuning, kepala memakaitopi Dharma berwarna kuning, duduk bersila penuh di atas padma cakra candra diatas Dharmasana yang ditopang oleh 8 Maharaja Simha, kedua tangan membentukMudra Dharmacakra di depan dada. Masing-masing tangan memegang tangkai padma,di atas padma tangan kanan terdapat pedang mestika Prajna, di atas padma tangankiri terdapat Sutra Prajna.
Sekujur tubuh Je Tsongkhapa memancarkan cahaya Prajnaterang-benderang, membabarkan Buddhadharma nan mendalam ; Di atas kepalaterdapat Buddha Trikala : Dipankara Buddha, Sakyamuni Buddha, dan MaitreyaBuddha. Serta Rigsum Gonpo : Manjusri Bodhisattva, Avalokitesvara Bodhisattva,dan Vajrapani Bodhisattva.
Berikut merupakan urutan visualisasi para Adhinatha :
Namo Dipankara Buddha
Namo Avalokitesvara Bodhisattva
Namo Sakyamuni Buddha
Namo Manjusri Bodhisattva
Namo Maitreya Buddha
Namo Vajrapani Bodhisattva
Je Tsongkhapa
Sadhaka
【 Kutipan DharmadesanaDharmaraja Lian-sheng 】
Secara spiritual, saya berkomunikasi dengan JeTsongkhapa. Semua masih ingat, Ganden Tripa ke-100, pemimpin spiritual Gelugpa,pernah berkunjung ke Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, yang masih ingatsilakan angkat tangan, beliau memberikan sebuah jubah Dharmaraja yang pernahbeliau kenakan kepada Mahaguru, dan sebuah kalasa abhiseka, sebuah vajraghanta,sebuah vajra, sebuah damaru, dan alat-alat Dharma yang digunakan dalambersadhana. Ganden Tripa mewakili siapa ? Mewakili Je Tsongkhapa. Di Gelugpahanya ada tiga tokoh besar, yang saat keluar ruangan, ada tiga orang yangmenggunakan payung kuning untuk membuka jalan, ada juga yang mengantar denganmembawa dupa cendana, yaitu Dalai Lama, Panchen Lama, dan Ganden Tripa. GandenTripa mewakili Je Tsongkhapa, beliau memberikan jubah Dharmaraja, kalasaabhiseka, vajraghanta, vajra, japamala, dan damaru kepada Mahaguru.
Sesungguhnya, Ganden Tripa merupakan pemimpinspiritual Gelug, saat keluar ruangan, di depan ada yang membuka jalan, membukapayung berwarna kuning aprikot, ada pembuka jalan yang membawa dupa cendana.Hanya ada tiga tokoh 3, yaitu Dalai Lama, Panchen Lama, dan Ganden Tripa, sebabbeliau adalah seorang pemimpin spiritual.
Saat Je Tsongkhapa meninggalkan kampung halaman menujuke Tibet, Beliau membuat persembahan besar di Vihara Jokhang dan Ramoche,kemudian Avalokitesvara Bodhisattva membawa Beliau ke puncak sebuah gunungtertinggi, di sana Beliau melihat teratai berwarna hijau, Beliau mengambilteratai hijau tersebut, Avalokitesvara Bodhisattva memberitahunya : “Andaadalah Padmakumara berwarna hijau.” Saya beritahu Anda satu rahasia, Y.A. Atisamerintis Kadampa, Je Tsongkhapa merintis Gelugpa, Guru Lu merintis True Buddha SchoolZhenfo Zong. Sesungguhnya, Padmakumara adalah perintis ajaran, ini adalahrahasia pertama.
Avalokitesvara Bodhisattva memberitahu Je Tsongkhapa :“Anda adalah Padmakumara Hijau”, jika Anda memerhatikan riwayat Je Tsongkhapadi dunia, ada bagian yang mengungkapkan hal ini, ini adalah rahasia pertama.
Rahasia kedua, di masa hidupnya, Je Tsongkhapa sangatmenganggumi Y.A. Atisa, pernah belajar banyak Dharma dari Kadampa, baik ituSutrayana dan Tantra. Y.A. Atisa menulis Bodhipathapradipa, ‘dipa’ dalam artianobor, ada juga yang menyebutnya Risalah Pelita Jalan Menuju Pencerahan. RisalahAgung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan dari Je Tsongkhapa mengadopsi dariBodhipathapradipa dan Ajaran Mengenai Tiga Jenis Insan Sesuai dengan TahapanJalan Menuju Pencerahan, untuk menulis Risalah Agung Tahapan Jalan MenujuPencerahan yang berisi ajaran Sutrayana dan Tantra, sungguh luhur. KarenaBeliau mengadopsi ajaran Kadampa, oleh karena itu, vihara pertama yang Beliaudirikan adalah Vihara Kadam, sekarang disebut sebagai : Biara Ganden, digunakanuntuk mengenang Y.A. Atisa. Lihatlah, Bodhipathapradipa dari Y.A. Atisaditransmisikan kepada Je Tsongkhapa, sehingga Je Tsongkhapa menuliskan :Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan.
Semasa hidup-Nya, Je Tsongkhapa memiliki 3 orang Guru,tiga orang Guru utama Beliau pandang sebagai Mulacarya, sedangkan Guru lainnyaada 14 orang, jika disebutkan lebih banyak lagi, Beliau punya 32 orang Guru,menjalin jodoh Dharma dengan 32 Guru. Beliau mempelajari Sutrayana dan Tantra.
Guru dari Mahaguru, ada 27 orang. Je Tsongkhapaberguru kepada 32 orang Guru, pengetahuan-Nya sangat luas dan mendalam, danyang terutama adalah Madhyamika. Jangan dikira Je Tsongkhapa hanya belajarMadhyamika, keliru, Beliau juga belajar lima sastra Yogacara, dan lima sastraMadhyamika, serta mempelajari risalah yang ditulis oleh banyak Guru Sesepuh,Beliau mempelajari semuanya. Pengetahuan Beliau sangat tinggi dan dalam,berpengetahuan luas.
Guru pertama Beliau adalah Dondrup Rinchen Rinpoche,Je Tsongkhapa dibesarkan olehnya, Beliau mengajarkan Tantra kepada JeTsongkhapa, memberikan abhiseka, Kalacakra, Yamantaka, Guhyasamaja,Cakrasamvara, kemudian juga mempelajari Hevajra, dan semua Vajra. Gurupertamanya, Dondrup Rinchen Rinpoche mengajarinya Tantra, bahkan membesarkannyasampai usia 16 – 17 tahun, kemudian mengirimnya ke Tibet.
Di Tibet, Je Tsongkhapa mengarungi seluruh Tibet,U-Tsang, Shigatse, semua wilayah telah dijelajahi oleh-Nya. Beliau berjumpadengan seorang Guru, mulai belajar Dharma, ajaran Sutrayana dan Tantra semuadipelajari. Oleh karena itu, Beliau telah mempelajari Tantra, juga telahmenekuninya, dan Guru tersebut adalah Jetsun Rendawa. Semula Jetsun Rendawaberasal dari Biara Sakya, tergolong dari sekte Sakya. Guru utama yang keduadari Je Tsongkhapa adalah Jetsun Rendawa. Jetsun Rendawa mengajarinyaMadhyamika dan Hetuvidya.
Namun, Je Tsongkhapa masih punya banyak pertanyaanatas ajaran Madhyamika, demikian pula dengan Vijnaptimatra, Beliau berjumpadengan satu orang, orang ini adalah : Lama Umapa yang dapat bekomunikasi denganManjusri Bodhisattva. Je Tsongkhapa memohon kepada Lama Umapa untukmenyampaikan semua pertanyaannya kepada Manjusri Bodhisattva, kemudian ManjusriBodhisattva langsung menjawab semua pertanyaan dari Je Tsongkhapa, sampai padaakhirnya dapat menyempurnakan Je Tsongkhapa, membentuk tiga hal utama, yaitu pandanganbenar Madhyamika. Gelugpa paling mementingkan naiskramyacitta, yang keduaadalah Bodhicitta, dan yang ketiga adalah pandangan benar Madhyamika, inilahyang diberitahukan oleh Je Tsongkhapa kepada saya. Mereka mementingkan hal ini.Selain itu, juga mementingkan sila.
Malam hari tanggal 6 September 2018, Je Tsongkhapamuncul di studio saya, parasnya sangat sempurna, nampak penuh semangat, cahayayang dipancarkan tubuhnya beraneka warna, tangan memegang teratai hijau. Sayabertanya, siapakah Beliau, Je Tsongkhapa menjawab : “Simhanada Tathagata.”,Beliau langsung tampil dalam wujud Tathagata, saat Je Tsongkhapa mencapaiKebuddhaan, Gelar Kebuddhaan Beliau adalah : Simhanada Tathagata, ini adalahrahasia yang kedua. Siapa yang tahu bahwa Beliau adalah Simhanada Tathagata ?Silakan angkat tangan. Tidak perlu sungkan. Jika kalian tahu bahwa Beliauadalah Simhanada Tathagata silakan angkat tangan. Jika kalian tidak tahu, makamemberitahu Anda, Beliau adalah Simhanada Tathagata. Ini adalah rahasia Beliau.
Saya bertanya kepada-Nya : “Dari mana kah Anda ?” JeTsongkhapa menjawab : “Saya ada di Aula Dalam Maitreya di Surga Tushita.”Sesungguhnya, Beliau tersenyum dan berkata : “Dharmakaya tak terhitung.” Beliaumengatakan bahwa saya adalah emanasi Beliau, Guru Lu adalah emanasi JeTsongkhapa. Saya mengatakan : “Sepertinya saya tahu Anda adalah Je Tsongkhapa,saya sedang mencari Anda.” Je Tsongkhapa mengatakan : “Saya telah datangsendiri, Anda tidak perlu mencari.” Saya membuat permohonan : “Mohon babarkan asal-usulAnda.” Je Tsongkhapa menjawab : “Saya adalah nirmanakaya dari ManjusriBodhisattva.”
Je Tsongkhapa juga adalah Padmakumara. Beliaumengatakan bahwa semua aktivitas-Nya adalah aktivitas Buddha, ini yangdikatakan oleh Je Tsongkhapa.
Beliau mengatakan, di Jokhang dan Ramoche memperolehpetunjuk dari Avalokitesvara Bodhisattva, “Di puncak gunung Aku mengambilteratai berwarna hijau, oleh karena itu, Aku adalah Padmakumara Hijau.” Sayamenjawab : “Ternyata satu akar.” Mengenai perjalanan bhavana Beliau, JeTsongkhapa menjawab : “Pada usia 3 s.d. 16 tahun, belajar Tantrayana kepadaDondrup Rinchen Rinpoche, abhiseka yang diterima dan ditekuni adalah ManjusriBodhisattva, Sarasvati Devi, dan kemudian belajar Yamantaka Vajra, Cakrasamvara,Hevajara, dan Vajrapani Bodhisattva.” Saat itu Je Tsongkhapa mengatakan : “Y.A.Atisa kerap muncul memberi petunjuk, dan meramalkan bahwa kelak saya akanmembabarkan ajaran Kadampa.” Vihara pertama yang didirikan oleh-Nya adalahVihara Kadam, saat ini adalah Biara Ganden.
Je Tsongkhapa mengatakan : “Saya adalah seorang bhiksuyang hidup suci, semua hanya demi membabarkan Dharma agung dan menyelamiBuddhadharma nan luas.” Beliau mengatakan, terlebih dahulu mempelajariMadhyamika dari Nagarjuna Bodhisattva, Arya-deva, dan Candrakirti, sertaVijnaptimatra dari Maitreya, Asanga, dan Vasubandhu, juga mempelajariHetuvidya, “Guru sarana ada banyak, mendengar dan merenungkan semua risalah.”Risalah yang Beliau pelajari sangat banyak, sekarang saya hanya sebutkanbeberapa saja : Abhisamayalankara dari Maitreya Bodhisattva ;Abhidharmakosakarika atau Risalah Cahaya Terang, yang membahas mengenai tahapanmulai berbhavana sampai Kebuddhaan ; Ada lagi, Mulamadhyamakakarika, dan karyaCandrakirti Bodhisattva : Madhyamakavaratara Sastra, serta karya DignagaBodhisattva : Pramana-samuccaya, juga : Pramanavartikka, dan Vinayakarika yaitumengenai vinaya. Mulacarya utama dari Je Tsongkhapa adalah Jetsun Rendawa,yaitu Mulacarya yang paling dijunjung tinggi.
Je Tsongkhapa mengatakan : “Mempelajari Sutrayana darikarya tulis Nagarjuna Bodhisattva, Arya-deva, serta Asanga, Vasubandhu,Dignaga, dan Dharmakirti ; Selain itu juga mempelajari Sadhana Pancamahavajradalam Tantra.” Menekuni Yamantaka Vajra untuk mengatasi petaka nyawa. JeTsongkhapa mengalami banyak malapetaka, yang terutama adalah petaka nyawa.
Coba Anda renungkan, Dharmapala Mahaguru adalahYamantaka Vajra Vidyaraja, sama seperti Je Tsongkhapa. Karya tulis JeTsongkhapa antara lain : Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, danRisalah Agung Tahapan Jalan Tantra, kedua risalah ini adalah yang utama, karyatulis yang lain masih sangat banyak, apakah kalian masih ingat ? Saat sayamengulas : Risalah Agung Tahapan Jalan Pencerahan, siapa yang muncul untukmengadhisthana Mahaguru ? Je Tsongkhapa hadir untuk mengadhisthana Mahaguru.
Saat Je Tsongkhapa belajar ajaran Kadam, Y.A. Atisajuga hadir mengadhisthana, saat saya mengulas Risalah Agung Tahapan JalanMenuju Pencerahan, Manjusri Bodhisattva dan Je Tsongkhapa muncul bersamaanuntuk mengadhisthana Guru Lu, ini benar-benar terjadi, sebuah kenyataan. JeTsongkhapa juga mengatakan : “Manjusri Bodhisattva secara langsung hadir untukmemberikan petunjuk dan bimbingan, mengatasi segala keraguan, Lama Umapa jugamerupakan salah satu Guru utama.”
Oleh karena itu, jumlah Guru Akar Beliau ada 3,Dondrup Rinchen Rinpoche, Jetsun Rendawa, dan Lama Umapa. Je Tsongkhapamengatakan : “Karena telah sempurna dalam belajar dan praktik Sutrayana danTantra, juga membabarkan vinaya, maka mendirikan Gelugpa.” , arti dari ‘Gelug’adalah vinaya. Pada akhirnya, Beliau secara langsung melihat ManjusriBodhisattva dan 35 Buddha, serta melihat semua Adhinatha, memperolehkeberhasilan tertinggi.
Beliau mengutamakan naiskramyacitta, Bodhicitta,Madhyamika, dan vinaya. Di akhir, saya bertanya kepada Je Tsongkhapa : “Apayang paling ingin Anda sampaikan kepada kami ?” Je Tsongkhapa mengatakan :“Menjaga sila dan tekun.” Je Tsongkhapa berharap supaya kita siswa Zhenfo harusmenjaga sila dan tekun. Saya hanya mengungkapkan garis besarnya saja. Y. A.Atisa, Je Tsongkhapa, dan Guru Lu, ketiganya manunggal, semua adalahPadmakumara, tiada berbeda, ini adalah sebuah rahasia yang sangat besar. JeTsongkhapa mencapai Kebuddhaan sebagai : Simhanada Tathagata. Beliau tidakmenggunakan karmamudra, Beliau memahami perihal karmamudra, namun, Beliau tidakmenggunakannya. Beliau mencapai Kebuddhaan melalui bardo, dengan gelar :Simhanada Tathagata, sangat mulia.
Saya telah menulis “Sadhana Penjapaan Je Tsongkhapa”,kalian bisa lihat gambar Je Tsongkhapa di belakang, mantra-Nya ada yang panjangdan pendek, “Om. Biezha. Zongkaba. Gelu. Suoha” bisa juga dijapa : “Om A Hum.Biezha. Zongkapa. Gelu. Suoha.” Mudranya adalah Dharmacakra Mudra, sayaperagakan, ( Mahaguru memperagakan ), sebenarnya tidak perlu diperagakan,sebab, yang digambar adalah Dharmacakra Mudra, tangan kanan mendorong ke arahluar, tangan kiri ke arah dalam, ini bermakna memutar Dharmacakra. Y.A. Atisamasuk ke Tibet memenuhi undangan raja kerajaan Guge yang memohonnya untukmemutar Dharmacakra di Tibet. Je Tsongkhapa memutar Dharmacakra agung di Tibet,Guru Lu juga memutar Dharmacakra, mudra dari Padmakumara adalah : Satu tanganDharmadesana, satu tangan memegang padma ( Mahaguru memperagakan, kedua tangandibentuk di depan dada ) ini juga merupakan Dharmacakra Mudra, tangan kananmendorong ke arah luar, tangan kiri ke dalam, ini juga memutar Dharmacakra.Apakah semua juga telah merasa bahwa Je Tsongkhapa sangat penting ?
Je Tsongkhapa juga belajar Kalacakra Vajra,Guhyasamaja Vajra, Hevajra, Yamantaka, dan Mahottara Heruka, selain itu,Cakrasamvara, semua dipelajari oleh-Nya, termasuk semua Anuttara-tantra. Beliaujuga pernah bertapa. Supaya Buddhadharma terus lestari, dibutuhkan beberapasiswa agung yang mendukung. Beliau menganugerahkan kedudukan Dharmaraja, jubah,dan topi Beliau sendiri kepada siswa pertama Beliau : Gyaltsab Dharma Rinchen.Sedangkan Putra Hati Beliau adalah : Khedrup Gelek Pelzang, siapa kah Beliau ?Yaitu yang kemudian menjadi silsilah Panchen Lama, ditransmisikan dari KhedrupGelek, sedangkan Gyaltsab Je menjadi Ganden Tripa Sang Pemimpin Spiritual.
Selain itu, bhiksu yang paling menjaga kemurnianvinaya adalah Jetsun Dragpa Gyaltsen, ada lagi, yaitu Shakya Yeshe yang diutusoleh Je Tsongkhapa untuk menjumpai Kaisar Yongle, Mingchengzu, dan KaisarYongle menganugerahkan Gelar Dharmaraja kepadanya : Jamchen Choje ( DharmarajaMahamaitri / Daci Fawang ) ; Gelar Dharmaraja Mahamaitri ( Daci Fawang ),Dharmaraja Mahayana ( Dasheng Fawang ), dan Gyalwa Karmapa ( Dabao Fawang )merupakan gelar Dharmaraja yang dianugerahkan oleh Kaisar Yongle, salah satunyadiberikan kepada Shakya Yeshe. Di Mongolia, Shakya Yeshe menitis sebagai JetsunDampa, dalam Bahasa Mandarin adalah : Zhangjia Huofo ( Changkya Khutukhtu ),Mahaguru memiliki silsilah dari Kanjurwa Rinpoche. Changkya Khutukhtu merupakantitisan dari siswa dari Je Tsongkhapa, Panchen Lama juga merupakan titisan darisiswa Je Tsongkhapa, yaitu : Khedrup Gelek Pelzang.
Sedangkan yang baru saja bersarana pada saat 5 tahunterakhir masa hidup Je Tsongkhapa adalah : Gedun Drup yang kemudian menjadiDalai Lama, merupakan siswa paling kecil dari Je Tsongkhapa. Akan tetapi, PutraHati yang sesungguhnya adalah Panchen Lama. Dalai Lama, Panchen Lama, GandenTripa, Changkya Khutukhtu dari Mongolia, Kanjurwa Khutukhtu. Saya membabarkanperihal kisah hidup Je Tsongkhapa di masa lalu, kelak harus ada seorang penerussilsilah yang agung yang akan meneruskan silsilah ini.
Dahulu, saat Je Tsongkhapa hidup di dunia, terlebihdahulu mendirikan Vihara Kadam atau Biara Ganden, kemudian mendirikan ViharaDrepung, dan disusul dengan pendirian Biara Sera, ini adalah tiga vihara utamaGelug di Tibet, selain itu, ada juga Biara Tashi Lhunpo di perbatasan Shigatse,biara Kumbum di tempat kelahiran Je Tsongkhapa di Qinghai, dan Biara Labrang diGansu, disebut sebagai enam vihara utama Gelug. Demikianlah keagungan kehidupanJe Tsongkhapa.
Saat itu, ketika saya berjumpa dengan Dalai Lama,Dalai Lama menanyai saya : “Bagaimana Anda menjelaskan mengenai ‘rupa’ dan‘sunya’.” Dengan kata lain, ‘eksistensi’ dan ‘sunya’, saya mengatakan :“Berpasangan.”, otak kalian jangan melantur, begitu membicarakan berpasangan,kalian pun berpikir pasangan pria dan wanita, sungguh otak pernuh kotoran.Makna dari berpasangan bukan seperti itu, “Rupa tiada berbeda dengan sunya,sunya tiada berbeda dengan rupa, rupa adalah sunya, dan sunya adalah rupa.”,ini adalah “Rupa dan sunya berpasangan.”, “Eksistensi dan sunya berpasangan”.
Saat itu, ada banyak yang berpegangan pada konsepsarvastivada, yaitu : Empat Kebenaran Mulia, ada juga yang berpegangan padakonsep segala sesuatu tidak nyata ( ajaran sunya ), Manjusri Bodhisattva dan JeTsongkhapa mengatakan : “Saya beritahu Anda, Empat Kebenaran Mulia adalahDharma lokiya, Anda mesti menghargainya, tanpa Dharma lokiya tidak akan adaDharma lokuttara, belajar Buddhadharma dimulai dari Dharma lokiya, sampai padaakhirnya muncul Kebenaran Terunggul dari lokuttara.” Ini adalah : “Eksistensidan sunya berpasangan”, saya menjawab Dalai Lama : “Berpasangan.” Entah apayang dipikirkan oleh Dalai Lama, beliau menjawab : “Alamiah, Anda mengatakan‘berpasangan’, saya mengatakan ‘alamiah’.” Ternyata beliau tidak tahu bahwa‘berpasangan’ yang ditransmisikan oleh Gurunya yang paling awal : JeTsongkhapa, adalah : Eksistensi dan sunya berpasangan, rupa dan sunyaberpasangan, “Rupa tiada berbeda dengan sunya, sunya tiada berbeda dengan rupa,rupa adalah sunya, dan sunya adalah rupa.”, ini disebutkan dalam Sutra Hati,Sakyamuni Buddha juga tahu, ‘eksistensi’ dan ‘sunya’ semua mesti dihargai,tanpa ‘eksistensi’ tiada ‘sunya’, dari sini muncul : Madhyamika-svatantrika,sebab sifat diri juga sunya. Saya beritahu Anda, sifat nidana adalah sunya,sifat diri juga sunya, ini adalah ajaran kebenaran terunggul. Pada akhirnya, JeTsongkhapa memahami rupa dan sunya berpasangan, Beliau mengatakan : “Nidanaterbentuk.”, “Sifat nidana adalah sunya” dan “Nidana terbentuk” keduanyaberpasangan menjadi : Madhyamika-prasangika.
Saya beritahu Anda, ilmu di dalam ini sangat mendalam,Madhyamika-svatantrika, dan Madhyamika-prasangika, Je Tsongkhapa berpedomanpada : Madhyamika-prasangika, menurut Beliau, kebenaran duniawi sangat penting,tanpa kebenaran duniawi tidak akan ada sunyata, nidana terbentuk, demikianlahManjusri Bodhisattva membabarkan kepada Je Tsongkhapa, mestinya adalah :Eksistensi dan sunya berpasangan. Selain itu, ada : Sukha dan sunyaberpasangan, sukha adalah upaya kausalya, sunya adalah kebenaran terunggul. Keutamaanpada Je Tsongkhapa adalah, pada saat Beliau memasuki samadhi, sukha dan sunyaberpasangan, eksistensi dan sunya berpasangan.
◎ Je Tsongkhapa juga mengajarkan satu hal lagi kepadasaya, apa itu ‘samatha-vipasyana’ ? Ada dua metode bhavana, yang satu adalahpelatihan penghentian pikiran, dan yang satu adalah pelatihan visualisasi, jikaAnda lebih berpihak kepada penghentian pikiran, maka Anda akan masuk ke dalamsunya, tiada pikiran apa pun, ini adalah pelatihan samatha. Di saat Anda belumberhasil dalam samatha, Anda mesti berlatih menggunakan visualisasi, olehkarena itu : “Samatha dan vipasayana berpasangan”. Demikianlah metode memasukisamadhi yang dibabarkan oleh Je Tsongkhapa kepada saya, ada dua macam carauntuk memasuki samadhi, yang satu adalah latihan menghentikan pikiran ( samatha), dan yang satu adalah latihan visualisasi ( vipasyana ), di saat Anda tidakbisa menghentikan pikiran, gunakan latihan visualisasi, di saat visualisasiAnda mencapai puncak, Anda gunakan penghentian pikiran, ini adalah : “Samathadan vipasyana berpasangan”, ini adalah cara terbaik untuk memasuki samadhi.Anda tidak bisa hanya berlatih samatha, sebab pikiran tidak bisa dihentikan, disaat muncul pikiran untuk menghentikan pikiran, itu masih merupakan pikiran, disaat Anda ingin menghentikan pikiran Anda, pikiran masih merupakan pikiran,oleh karena itu, Anda mesti bervisualisasi dengan fokus, terus sampai semuapikiran tiada, barulah merupakan : “Samatha dan vipasayana berpasangan”, terussampai keberhasilan. Inilah pedoman dari Je Tsongkhapa, diajarkan oleh ManjusriBodhisattva, yaitu pandangan benar Madhyamika.
◎ Perhatian : Penekunan sadhana tantra Zhenfo harussesuai kaidah Dharma, yaitu memiliki tekad Bodhicitta, bersarana kepadaDharmaraja Liansheng, menaati sila, menguatkan fondasi Catur-prayoga danGuru-yoga, kemudian barulah memohon abhiseka sadhana adhinatha ini







