【Pemberitahuan Himpunan Ayushmat Departemen Transmisi Dharma Zhenfo Zong】Penjelasan Mengenai Konsep Mohon Dharma dalam Tantra - Sekaligus Membahas Abhiseka, Pujabakti Daring serta Sikap Hormat dalam Belajar Dharma
Nomor dokumen: Pernyataan Penjelasan Dharma No. 003
Baru-baru ini, sebagian umat Sedharma menaruh perhatian dan melakukan pembahasan mengenai partisipasi upacara secara daring, perapalan mantra dan sadhana, serta apakah jika belum menerima abhiseka berarti telah tergolong perbuatan “melangkahi Dharma” atau “mencuri Dharma”. Demi supaya para umat merasa tenang dalam belajar Dharma serta memahami dengan benar makna hakiki mohon Dharma dalam Sadhana Tantra, Himpunan Ayushmat Departemen Transmisi Dharma dengan tulus memberikan penjelasan berikut.
Berdasarkan Dharmadesana dari Dharmaraja Lian Sheng pada tanggal 11 April 2026:
Dalam kondisi teknologi modern, pujabakti daring dapat dipandang setara dengan pujabakti di tempat. Dalam Sadhana Tantra, tidak peduli berada di mana, selama memiliki keyakinan yang cukup, mengikuti perapalan mantra dan sadhana bersama para umat, hal tersebut tidak termasuk sebagai “pelanggaran melangkahi Dharma”.
Pada saat yang sama, Dharmaraja Lian Sheng juga memberikan Dharmadesana bahwa dalam Sadhana Tantra terdapat sarana “Abhiseka Sendiri”. Bagi para sadhaka yang berada di daerah terpencil atau karena keterbatasan kondisi faktual sehingga tidak dapat menerima abhiseka sadhana secara langsung, hal ini tidak termasuk sebagai “dosa mencuri Dharma”. Bagi mereka yang keyakinannya belum sepenuhnya mantap, juga dapat mengikuti ketentuan untuk mengajukan “abhiseka jarak jauh”, guna membangun jodoh Dharma yang lebih jelas.
Dharmaraja Lian Sheng lebih lanjut menunjukkan bahwa abhiseka dalam Sadhana Tantra, berdasarkan sebab dan kondisi, dapat dibagi menjadi berbagai bentuk seperti “abhiseka langsung”, “abhiseka jarak jauh”, dan “Abhiseka Sendiri”. Semuanya merupakan metode kemudahan untuk membimbing semua makhluk. Namun, terhadap beberapa metode sadhana yang lebih tinggi atau yang memiliki tuntutan bertahap, seperti abhiseka kedua, abhiseka ketiga, serta Sembilan Tingkat Dzogchen, tetap harus mengikuti norma tradisional, yaitu dilakukan langsung oleh Acarya yang memiliki kebajikan, dan tidak boleh dianggap remeh.
Dharmadesana di atas merupakan upaya dan kebijakan yang diberikan oleh Mulacarya Dharmaraja Lian Sheng dengan welas asih besar, menyesuaikan dengan sebab kondisi masa kini, agar para siswa yang sungguh ingin belajar Dharma tidak kehilangan kesempatan berbhavana karena keterbatasan ruang dan waktu, serta tidak menimbulkan keraguan dan ketakutan karena keterikatan pandangan. Semangat ini patut dihargai dan disyukuri oleh segenap siswa.
Himpunan Ayushmat juga mengingatkan para siswa, bahwa dalam menerima penjelasan penuh welas asih dari Dharmaraja Lian Sheng, tetap wajib membangun konsep Mohon Dharma yang benar.
1. Pembelajaran Sadhana Tantra menekankan kemurnian silsilah, kejelasan tahapan, serta kesesuaian dengan garis Guru. Makna sbhiseka bukan hanya sekadar bentuk ritual, melainkan membangun jalinan Dharma yang murni dengan Istadewata, Guru, serta garis silsilah Dharma, menerima adhisthana, dan meluruskan arah bhavana. Oleh karena itu, bagi yang memiliki sebab dan kondisi yang memadai, tetap wajib dengan hati hormat secara resmi Mohon Dharma dan menerima abhiseka, serta berlatih sesuai tahapan, tidak sepatutnya menganggapnya sebagai sesuatu yang boleh ada atau tidak ada.
2. Pujabakti daring memang merupakan sarana penting dalam pembabaran Dharma modern, fungsinya adalah membimbing masuk, menumbuhkan keyakinan, dan membangun keselarasan. Namun, pintu kemudahan ini bukan untuk menggantikan proses formal Mohon Dharma. Jika karena kemudahan lalu timbul sikap meremehkan, atau menjadikan kemudahan sebagai ketergantungan yang biasa, maka mudah membuat hati Mohon Dharma berubah dari hormat menjadi sembarangan, sehingga justru kehilangan makna hakiki pembelajaran Sadhana Tantra.
3. Adapun “Abhiseka Sendiri”, merupakan sarana unggul bagi mereka yang belum memiliki sebab kondisi lengkap. Intinya terletak pada keselarasan antara keyakinan tulus dan adhisthana Istadewata, tidak sepatutnya disalahpahami sebagai jalan umum untuk menggantikan penerimaan Dharma secara formal. Para siswa harus dapat membedakan: kemudahan adalah untuk melengkapi kekurangan, bukan menggantikan tahapan yang seharusnya.
Himpunan Ayushmat dengan ini mendorong para siswa:
Jangan timbul rasa takut yang tidak perlu karena pandangan masa lalu.
Juga jangan timbul sikap meremehkan karena adanya penjelasan kemudahan.
Hendaknya penuh hormat dalam Mohon Dharma, penuh rasa menghargai dalam menerima Dharma, dengan tekad selaras ajaran melakukan bhavana, serta penuh rasa syukur dalam menumbuhkan Bodhicitta.
Dharmaraja Lian Sheng dengan tekad welas asih yang luas membuka pintu kemudahan, sehingga Sadhana Tantra dapat tersebar luas mengikuti zaman. Jika para siswa dalam kemudahan ini tetap menjaga kemurnian silsilah, urutan tahapan, dan sikap hormat dalam Mohon Dharma, maka tidak hanya tidak menyimpang dari maksud Dharmadesana Mahaguru, tetapi juga dapat melindungi kemurnian dan keagungan Sadhana Tantra.
Semoga semua siswa dalam pembelajaran:
Tenang tanpa lalai;
Dalam kemudahan memperoleh pembebasan tanpa kehilangan esensi kebenaran;
Dengan hati murni menerima garis silsilah Dharma, dengan hati hormat memasuki Gerbang Tantra.
Sekian pemberitahuan.
Hormat Kami,
Himpunan Ayushmat
Departemen Transmisi Dharma Zhenfo Zong
14 April 2026