27 Juli 2025 Liputan Upacara Homa Mahadewi Yaochi di Rainbow Temple
Laporan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)
Pada tanggal 27 Juli 2025, Rainbow Temple di Seattle dengan tulus menyambut kehadiran Dharmaraja Lian Sheng yang hadir langsung untuk memimpin Upacara Agung Homa Mahadewi Yaochi. Suasana di tempat upacara sangat agung dan mulia, api homa berkobar dengan dahsyat, para Dharmapala dan Dewata turun memberikan adhisthana, dan umat yang hadir dipenuhi dengan sukacita Dharma, jasa kebajikan tak terhingga.
Setelah upacara homa selesai dengan sempurna, Dharmaraja Lian Sheng mengumumkan bahwa pada hari Minggu, 3 Agustus 2025, pukul tiga sore akan diselenggarakan Upacara Homa Amoghapasalokesvara. Dharmaraja membabarkan, bahwa nama Amoghapasalokesvara mengandung kata Amogha yang melambangkan bahwa apa yang dimohon tidak akan sia-sia. Baik penyeberangan arwah maupun memohon berkah, semuanya akan diikat dan ditarik oleh-Nya dengan daya gaib tali pasa, membantu semua makhluk memenuhi harapan mereka. Dharmaraja memperagakan mudra Amoghapasalokesvara di tempat, dan mentransmisikan Mantra Hati Beliau: “Om. A Mo Ga. Pi She Ya. Hom. Pan Zha.”
Mengenai Istadewata utama hari ini, yaitu Mahadewi Yaochi, Dharmaraja Lian Sheng memberikan Dharmadesana yang mendalam: "Tanpa Mahadewi Yaochi, tidak akan ada Zhenfo Zong, juga tidak akan ada Padmakumara, dan Sheng-yen Lu pun sama sekali tidak akan ada, segala sesuatunya dimulai dari Mahadewi Yaochi." Dharmaraja menegaskan bahwa Mahadewi Yaochi adalah Istadewata Mula Pertama Beliau, dan juga merupakan titik awal sumber dari Zhenfo Zong. Beliau pernah membukakan ingatan masa lampau bagi Dharmaraja, serta menuntun jalan bhavana. Istilah ribuan bahtera Dharma juga justru sesuai dengan kehendak Mahadewi Yaochi, untuk menyeberangkan dan menuntun semua makhluk yang tak terhitung jumlahnya berlayar menuju Sukhavatiloka. "Selama lebih dari lima puluh tahun ini, saya selalu mengikuti jejak langkah Mahadewi Yaochi, tidak pernah melupakannya walau sehari pun."
Selanjutnya, Dharmaraja Lian Sheng membabarkan berbagai sadhana yang ditransmisikan oleh Mahadewi Yaochi, menekankan bahwa Gerbang Dharmanya sangat kaya dan memiliki kekuatan yang luar biasa, termasuk Sadhana Istadewata, Asta Maha Yoga, Jiuzhuan Xuangong, Sadhana Laskar Dewata, Sadhana Mengundang Rezeki, Sadhana Argam Puja, Sadhana Tubuh Pengganti, Sadhana Vajra Vyaghravaktra, dan lain-lain. Dharmaraja secara khusus menunjukkan bahwa Mahadewi Yaochi juga mewariskan metode fu, dan menjelaskan prinsip inti dalam menggambar fu: setiap lembar fu harus bergantung pada adhistana dari Buddha, Bodhisatwa, bahkan Dharmapala, Dakini, para dewa langit, dan para roh, barulah dapat berkhasiat. Beliau mengingatkan bahwa menggambar fu bukan hanya sekadar teknik, melainkan lebih membutuhkan pengundangan daya Buddha, Bodhisatwa, dewa agung, bahkan adhisthana dari roh, jika tidak, maka fu tersebut tidak akan memiliki kekuatan.
Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan lebih lanjut, alasan mengapa fu bisa manjur adalah karena segala roh memiliki kekuatan, bahkan roh hantu pun memiliki kekuatan gaib, dapat mengetahui masa lalu dan masa depan, membaca pikiran orang, serta memengaruhi mental dan perilaku. Terutama di Asia Tenggara, praktik memelihara tuyul, santet, dan ilmu sihir lainnya sangat marak, jika bukan menapaki jalan bhavana yang benar, akan sangat mudah tersesat ke jalan yang salah.
Dharmaraja Lian Sheng juga memberikan banyak contoh nyata di masyarakat dan lelucon, seperti ada orang yang menggunakan fu asmara tetapi malah keliru mengundang babi betina untuk menempel pada dirinya. Beliau menggunakan hal ini untuk menegaskan bahwa jika metode fu digunakan di jalan yang benar, dapat membantu orang melepaskan malapetaka dan mengundang keberuntungan; jika disalahgunakan secara sembarangan, malah akan mencelakai diri sendiri. Dharmaraja Lian Sheng mengingatkan semua orang bahwa dalam menggambar fu tidak hanya harus memahami teori fu, tetapi terlebih lagi harus memiliki keyakinan benar dan pikiran benar. Jika tanpa melalui pengundangan dan pemberkatan, fu tidak akan memiliki khasiat nyata; hanya dengan berjalan sesuai Delapan Jalan Utama, barulah dapat mempergunakan fu kedewatan dengan benar demi melindungi semua makhluk.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan
Seorang siswa dari Malaysia mengajukan pertanyaan:
Pertanyaan 1:
Mahaguru Lu dalam salah satu Dharmadesana pernah menyebutkan, untuk dapat melihat Dharmakaya Mahaguru, di antaranya terdapat 2 syarat dasar, pertama adalah jodoh di kehidupan lampau dengan Buddha Guru telah tercukupi, kedua adalah bhavana telah mencapai hasil tertentu. Oleh karena itu, orang biasa pada umumnya tidak dapat melihatnya. Kita juga tahu bahwa ada banyak umat sedharma yang mungkin merupakan titisan dari suatu dewa langit di surga atau para makhluk suci lainnya yang turun ke dunia, sehingga mereka lebih mudah mendapatkan kontak batin. Lalu, bagi sekelompok orang yang tidak memiliki kepekaan atau sensasi apa pun ini, apakah itu berarti di kehidupan lampau mereka tidak memiliki jodoh sama sekali dengan para Buddha, Bodhisatwa, dewa langit di surga, atau bahkan dengan Mahaguru? Artinya, di antara enam alam kehidupan, apakah mereka pasti bukan berasal dari kedua alam ini (Alam Buddha dan Alam Surga)?
Jawaban Dharmaraja Lian Sheng:
Dharmaraja Lian Sheng menjawab, proses mencapai kebudhaan berbeda-beda tergantung pada kapasitas akar spiritual masing-masing, ada yang mencapai Kebudhaan dalam tubuh saat ini, dan ada juga yang mencapai Kebudhaan dalam tujuh kehidupan. Dharmaraja secara khusus menyebutkan bahwa mereka yang menerima abhiseka Kalacakra, meskipun sekarang belum menekuni dengan mendalam, jodoh Dharmanya akan terus berlanjut dalam kelahiran kembali di tujuh kehidupan mendatang, dan pada akhirnya juga dapat bertemu dengan Dharma serta diseberangkan untuk membuktikan buah Kebudhaan.
Dharmaraja juga membabarkan bahwa Mahapadminiloka dan Sukhavatiloka bukanlah alam ilusi, melainkan stasiun transit pencapaian Kebudhaan yang benar-benar ada. Beliau menyatakan bahwa di alam suci Sukhavati dipenuhi dengan suara surgawi yang halus dan indah, yang secara alami dapat menginspirasi hati untuk melakukan bhavana, membuat praktisi secara otomatis melatih Tiga Puluh Tujuh Bodhipaksika, dan secara bertahap merealisasikan Anuttara Samyak Sambodhi.
Dharmaraja menggambarkan bahwa Sukhavatiloka memiliki keagungan yang tak terhingga, seperti menara dari tujuh permata, istana emas, indrajala, bunga teratai sebesar roda kereta, dan di atas teratai terdapat berbagai macam warna Padmakumara. Di dalam alam tersebut tidak ada hari tua, tidak ada penyakit, tidak ada kerisauan, pakaian dan makanan muncul mengikuti pikiran, bahkan memberikan persembahan kepada para Buddha dan Bodhisatwa pun dapat dilakukan sesuai keinginan hati, sungguh merupakan alam yang luar biasa damai dan bahagia.
Selain itu, Dharmaraja Lian Sheng berdasarkan Sutra Amitabha menjelaskan bahwa alam suci Sukhavati dibagi menjadi beberapa tingkatan, termasuk Alam Kediaman Bersama Orang Biasa dan Suci, Alam Sisa Upaya, Alam Pahala Keagungan Nyata, dan Alam Cahaya Hening Abadi. Sadhaka dapat masuk lebih dalam secara bertahap sesuai dengan nidana dan kekuatan ikrar masing-masing menuju ke tingkat tertinggi dari kondisi Buddha Dharmakaya, yaitu Alam Cahaya Hening Abadi.
Pertanyaan 2:
Sutra Hati dari Bodhisatwa Avalokitesvara, menurut pemahaman saya, penjelasan sederhananya adalah segala sesuatunya adalah sunya. Sunya berarti tidak ada apa-apa. Lalu jika di masa depan kita meninggal dunia, ke mana pun alam kita terlahir, jika beruntung bisa sampai ke Mahapadminiloka, apakah ini berarti sunya juga? Artinya pada akhirnya tidak ada apa-apa lagi? Lenyap, dan bukan berupa apa pun lagi?
Jawaban Dharmaraja Lian Sheng:
Dharmaraja Lian Sheng menunjukkan bahwa meskipun Buddhadharma menekankan segala sesuatu adalah kosong, seperti yang dinyatakan dalam Sutra Hati: "tidak ada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran; tidak ada rupa, suara, bau, rasa, sentuhan, objek pikiran; tidak ada usia tua dan kematian, dan tidak ada akhir dari usia tua dan kematian", namun ini tidak berarti melepaskan bhavana, melainkan harus melangkah maju dengan mantap di dalam sunyata, membangun landasan pembebasan.
Beliau menekankan bahwa jalan bhavana tidak dapat mencapai langit dalam satu langkah, sama seperti membangun gedung tinggi yang harus dimulai dari meletakkan fondasi. Bhavana juga perlu diakumulasikan lapis demi lapis, memperkokoh dasar terlebih dahulu, baru kemudian melangkah ke tahapan yang lebih tinggi. Apa yang disebut sebagai utpattikrama (Tahap Pembangkitan) dan Sampannakrama (Tahapan Sempurna) dalam Tantrayana, justru merupakan dua tahapan besar dalam bhavana, dimulai dari bhavana di tahap sebab dan sadparamita, secara bertahap melangkah menuju pencerahan yang sempurna.
Mengenai keraguan tentang jodoh, Dharmaraja menunjukkan bahwa mereka yang dapat menerima abhiseka dari Dharmaraja pada dasarnya adalah orang-orang yang memiliki jodoh, dan telah menanamkan jodoh Dharma yang mendalam dengan Istadewata. Walaupun bhavana di kehidupan saat ini belum sempurna, di kehidupan mendatang pada akhirnya akan bertemu jodoh untuk mulai membina diri, melangkah di jalan menuju Kebudhaan. Terutama bagi yang menerima abhiseka Kalacakra, memiliki adhistana dan janji untuk mencapai Kebudhaan dalam tujuh kehidupan, meskipun saat ini pembinaan dirinya masih terbatas, benih untuk membuktikan buah spiritual di masa depan telah ditanamkan.
Dharmaraja Lian Sheng juga mengambil contoh Buddha Sakyamuni, menegaskan bahwa mencapai Kebudhaan bukanlah pekerjaan dalam satu kehidupan saja. Menurut Sutra Jataka, Sang Buddha telah melewati lima ratus kehidupan dalam melaksanakan praktik Bodhisatwa, pernah menitis menjadi gajah, raja rusa, bahkan mengalami alam neraka dan alam binatang, hingga akhirnya barulah di alam manusia menyempurnakan buah kesucian, dan membuktikan buah kebudhaan.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
Selanjutnya, Dharmaraja melanjutkan pembabaran Sutra Surangama, Bab 2, teks sutra adalah sebagai berikut:
“Ananda berkata kepada Buddha: ‘Bhagavan. Sebagaimana yang saya renungkan, esensi kesadaran luhur yang mendasar ini, bersama dengan segala objek kondisi indra serta pikiran dan pertimbangan mental, bukankah tidak berpadu?’”
“Buddha bersabda: ‘Sekarang Anda kembali mengatakan bahwa kesadaran bukanlah sebuah perpaduan. Aku bertanya lagi kepadamu. Jika esensi penglihatan luhur ini bukanlah sebuah perpaduan, apakah ia tidak berpadu dengan terang, tidak berpadu dengan gelap, tidak berpadu dengan ketembusan, atau tidak berpadu dengan penyumbatan?’”
“Jika ia tidak berpadu dengan terang, maka penglihatan dan terang pasti memiliki batas. Perhatikanlah dengan saksama, di mana ada terang, di mana ada penglihatan, di antara penglihatan dan terang, dari mana batas itu terbentuk?”
“Ananda. Jika di dalam batas terang pasti tidak ada penglihatan, maka keduanya tidak saling menjangkau, dan dengan sendirinya tidak akan mengetahui di mana rupa terang itu berada, lalu bagaimana batas dapat terbentuk? Demikian pula halnya dengan gelap, ketembusan, serta segala bentuk penyumbatan.”
“Selain itu, jika esensi penglihatan luhur ini bukanlah perpaduan, apakah ia tidak menyatu dengan terang, tidak menyatu dengan gelap, tidak menyatu dengan ketembusan, atau tidak menyatu dengan penyumbatan?”
“Jika ia tidak menyatu dengan terang, maka sifat dan rupa dari penglihatan dan terang akan bertolak belakang. Seperti telinga dan terang, sama sekali tidak saling bersentuhan. Jika penglihatan bahkan tidak mengetahui di mana rupa terang itu berada, bagaimana mungkin dapat membedakan dan memperjelas kebenaran dari prinsip menyatu atau tidak menyatu? Demikian pula halnya dengan gelap, ketembusan, serta segala bentuk penyumbatan.”
Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan dari dialog antara Arya Ananda dan Buddha Sakyamuni, menerangkan bahwa Batin Sejati Terang nan Luhur, yaitu Buddhata yang semula dimiliki oleh semua makhluk, bukanlah dilahirkan dari percampuran dengan kondisi kedatangan sebab seperti terang, gelap, ruang kosong, atau penyumbatan. Sifat Buddha melampaui segala dualitas dan fenomena, ia bukan merupakan perpaduan juga bukan non-perpaduan, ia telah ada dengan sendirinya, tidak dilahirkan dan tidak musnah, serta tidak dipengaruhi oleh kondisi apa pun.
Beliau menggunakan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai perumpamaan, menjelaskan bahwa segala sesuatu di dunia seperti tubuh, mobil, rumah, dan lain-lain, semuanya terbentuk dari perpaduan, yang pada akhirnya akan menghadapi lahir, tua, sakit, dan mati, yang merupakan akar dari samsara. Namun tidak demikian dengan Batin Sejati Terang nan Luhur, ia melampaui timbul dan musnah, merupakan hakikat Buddhata yang kekal dan tidak berubah, yang dimiliki oleh setiap orang, namun karena melekat pada dunia fenomena, mereka tidak menyadarinya.
Dharmaraja Lian Sheng mengutip metode fu yang baru saja dibahas, menunjukkan bahwa kekuatan mantra fu berasal dari perpaduan antara kekuatan spiritual dan kekuatan kedewatan, yang merupakan hasil dari perpaduan. Dan emanasi dari Buddha dan Bodhisatwa, seperti Yamantaka dan Guru Padmasambhava, juga semuanya terbentuk dari perpaduan beberapa makhluk suci yang mulia. Namun Beliau menekankan bahwa Batin Sejati Terang nan Luhur berbeda dari adhisthana kekuatan kedewatan atau pencapaian perpaduan mana pun, ia adalah kesadaran hakiki yang telah ada sejak semula.
Selain itu, Beliau juga berterus terang bahwa kebenaran dan prinsip dalam Sutra Surangama sangatlah mendalam, bahkan Arya Ananda pun belum dapat memahami sepenuhnya ketika Buddha masih di dunia, dan harus melalui bhavana yang gigih di kemudian hari barulah dapat memahaminya secara menyeluruh. Beliau berseloroh sambil tersenyum: Sutra ini sangat sulit diterjemahkan, kata-katanya sangat rumit dan mendalam, banyak orang yang membacanya pun tidak mengerti, penerjemah sudah berusaha sebaik mungkin, mari kita maklumi dia.
Setelah Dharmaraja Lian Sheng mengakhiri Dharmadesana dengan sempurna, Beliau secara langsung menganugerahkan Abhiseka Sadhana Mahadewi Yaochi kepada seluruh umat yang hadir, dan upacara berakhir dengan sempurna dalam adhisthana yang mulia.
------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia
#MahadewiYaochi
Istadewata Homa minggu depan #Amoghapasalokesvara