8 Februari 2026 Upacara Homa Bhagavati Usnisavijaya di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Yun Shuang (蓮花韻霜)
Pada tanggal 8 Februari 2026, Dharmaraja Lian Sheng berkenan hadir di Rainbow Temple untuk memimpin Upacara Homa Bhagavati Usnisavijaya. Setelah upacara selesai dengan sempurna, Dharmaraja memberitahukan: Minggu depan, tanggal 15 Februari pukul 15.00 sore, di Rainbow Temple akan memimpin Upacara Homa Bodhisatwa Maitreya. Tanggal 1 bulan 1 penanggalan lunar adalah hari kelahiran Beliau. Bodhisatwa Maitreya adalah salah satu dari Delapan Mahabodhisatwa.
【Mantra Hati Bodhisatwa Maitreya】:
“Om. Mi Cui Ye. Suo Ha.”
Yang dipraktikkan hari ini adalah Anuttara Usnisa dari Buddha, Bhagavati Usnisavijaya. Fungsi dan daya guna-Nya sangat luas, mampu melakukan santika, paustika, vasikarana, dan abhicaruka; seluruhnya dapat terlaksana.
Di banyak tempat dibangun stupa Bhagavati Usnisavijaya, seperti di Rainbow Temple, serta di Taiwan Lei Tsang Temple dan tempat-tempat lainnya juga terdapat stupa Bhagavati Usnisavijaya. Stupa Bhagavati Usnisavijaya mampu menenangkan dan menanggulangi angin topan, banjir, kebakaran, serta segala bencana unsur tanah, air, api, dan angin.
Bhagavati Usnisavijaya merupakan tiga sosok yang menyatu: Bodhisatwa Avalokitesvara, Bodhisatwa Vajrapani, dan Bhagavati Usnisavijaya. Kebajikan dan pahala-Nya sangat luas, mampu melenyapkan klesa dan rintangan karma, menghancurkan berbagai penderitaan dan penyakit, bahkan dapat menghancurkan alam neraka, menghancurkan alam Raja Yama, serta menyelamatkan makhluk alam hewan. Juga dapat memperpanjang usia, sehingga mereka yang berumur pendek dapat diperpanjang usianya.
Dharmaraja mengatakan bahwa belakangan ini tubuh Beliau mengalami kondisi yang tidak normal. Saat bangun pagi, jantung berdebar keras, sepanjang hari dapat dengan jelas mendengar suara detak jantung sendiri; kedua kaki terasa lemas, seluruh tubuh tidak bertenaga, kondisi batin sangat letih. Naik ke Dharmasana terasa mengantuk dan berat, turun dari Dharmasana pun tetap mengantuk dan berat, di dalam kepala berdengung, bahkan tidak mampu mengangkat pena untuk menulis karya ke-310. Pernah untuk sesaat keliru mengira bahwa jatah usia telah habis, hati menjadi tawar terhadap segala sesuatu.
Selama masa itu Dharmaraja Lian Sheng menghentikan berbagai obat dan suplemen makanan, juga melakukan introspeksi apakah disebabkan oleh usia yang semakin bertambah, namun tetap tidak terlihat perbaikan. Fo Qing membantu menanyakan kepada dokter, barulah diketahui bahwa obat baru yang belakangan diganti tersebut, salah satu efek sampingnya adalah jantung berdebar cepat dan keempat anggota tubuh tidak bertenaga; kira-kira dua dari sepuluh orang akan mengalami reaksi ini. Akar permasalahan akhirnya berhasil ditemukan.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan - Anda Bertanya Saya Menjawab
Pertanyaan Lianhua Yu Jing dari Taiwan:
Sembah puja kepada Mahaguru Lu yang terkasih, semoga Guru Buddha sejahtera, Amituofo.
Siswa memiliki beberapa pertanyaan mengenai persembahan yang ingin ditanyakan kepada Guru:
1. Kadang ketika berada di luar berjalan-jalan di pasar malam, tangan memegang banyak barang, juga tidak ada tempat untuk meletakkan makanan dengan baik guna membentuk mudra penyeberangan dan mudra persembahan untuk mempersembahkan. Adakah cara untuk mengatasi masalah ini?
Siswa pernah melihat Guru mengatakan tentang persembahan seketika, juga mengatakan bahwa dalam persembahan yang terpenting adalah mempersembahkan pikiran hati Anda, persembahan batin adalah yang tertinggi; siswa yang bodoh ini tidak tahu bagaimana melakukan persembahan dengan pikiran hati, mohon Mahaguru Lu berkenan menjelaskan dan menguraikan kebingungan ini.
2. Kadang setelah menggigit satu suap makanan baru teringat bahwa lupa melakukan penyeberangan dan persembahan, bagaimana cara menebusnya?
Mohon Mahaguru Lu dengan penuh welas asih memberi petunjuk, terima kasih kepada Mahaguru, Amituofo.
Siswa Lianhua Yu Jing beranjali dan bersembah puja.
Dharmaraja Lian Sheng menjawab Lianhua Yu Jing, yang disebut “persembahan batin” adalah menggunakan hati sebagai persembahan. Setiap kali pada keadaan luar melihat benda yang indah dan baik, timbul niat mempersembahkan, mematrinya dalam hati, kemudian pada tempat yang sesuai memvisualisasikan mempersembahkannya, itulah persembahan batin.
Tidak peduli barang tersebut milik sendiri atau bukan, selama hati menimbulkan rasa hormat dan niat mempersembahkan, semuanya dapat menghasilkan pahala kebajikan persembahan.
Misalnya melihat makanan lezat, mobil bagus, pakaian indah, rumah, bahkan seluruh supermarket, semuanya dapat divisualisasikan dalam hati untuk dipersembahkan kepada para Buddha dan Bodhisatwa serta kepada Dharmadhatu. Yang terpenting adalah satu niat hati yang murni, bukan kepemilikan benda tersebut.
Mengenai penebusan karena lupa mempersembahkan, Dharmaraja berkata, jika saat makan sejenak lupa melakukan persembahan, setelah makan satu atau beberapa suap baru teringat, tetap dapat segera memvisualisasikan mempersembahkan, tidak ada kesalahan. Ini adalah kelalaian tanpa sengaja, bukan dengan niat meremehkan, tidak perlu terlalu menyalahkan diri sendiri. Sekalipun sudah makan setengah, atau melakukan persembahan berulang kali, juga tidak menjadi halangan. Persembahan yang utama adalah ketulusan hati, bukan bentuk lahiriahnya.
Dharmaraja saat itu juga memohon petunjuk kepada Mahadewi Yaochi, dan Beliau tidak akan menyalahkan, karena praktisi bukan melakukannya dengan sengaja.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
“Di dalam hati wanita muda Matanga, api nafsu telah padam, dan seketika itu juga ia menjadi seorang Anagamin. Kini ia telah bergabung dengan kelompok praktisi Dharma-Ku yang giat. Di dalam dirinya, sungai cinta telah mengering, dan karena itu engkau kini bebas darinya."
“Oleh karena itu, Ananda, berabad-abad lamanya engkau telah menghafal Dharma Tathagata yang esoteris, tak terbayangkan, menakjubkan, dan agung tidak sebanding dengan satu hari yang dihabiskan untuk mengolah karma yang bebas dari luapan dan jauh dari dua siksaan duniawi, yaitu kebencian dan cinta. Wanita muda Matanga itu adalah seorang tuna susila, namun cinta dan hasratnya telah sirna oleh kekuatan spiritual mantra; kini ia adalah seorang biksuni bernama Prakriti. Ia dan ibu Rahula, Yasodhara, sama-sama telah menyadari kehidupan mereka sebelumnya, dan mereka tahu bahwa, di antara penyebab tindakan mereka selama banyak kehidupan, keinginan mereka akan cinta emosional adalah penyebab penderitaan mereka. Kini mereka telah melepaskan diri dari ikatan mereka dan telah menerima vyakarana. Lalu, mengapa Anda terus menipu diri sendiri dengan hanya berdiam diri, sekadar menonton dan mendengarkan?”
Bagian ini adalah Dharmadesana dari Sakyamuni Buddha kepada Arya Ananda.
Sang Buddha menunjukkan bahwa meskipun Ananda mampu mengingat dan memegang Dua Belas Bagian Sutra, memahami makna sebab-akibat, kebenaran hukum alam, dan prinsip-prinsip ajaran, serta disebut sebagai “yang terunggul dalam banyak mendengar”, namun ia baru sebatas banyak mendengar dan terpapar ajaran, belum sungguh-sungguh mengamalkannya. Karena itu ia masih tak terhindar dari godaan Matanga. Pada akhirnya ia harus bersandar pada kekuatan Dharani Surangama barulah memperoleh pembebasan.
Matanga, karena mendengar Dharani Surangama, api nafsunya seketika padam, dan ia mencapai buah Anagamin (tingkat ketiga dari pencapaian Arahat). Melalui peristiwa ini Sang Buddha menasihati Ananda: walaupun sepanjang kalpa mengingat dan memegang Dharma Tathagata yang agung, tidak sebanding dengan satu hari mempraktikkan perbuatan tanpa tiris; bila tidak sungguh berlatih, tetap tidak dapat menjauh dari dua penderitaan duniawi: benci dan cinta.
Demikian pula Yashodhara, Rahula, serta Biksuni Mahaprajapati dan yang lainnya, semuanya mampu menyadari bahwa keserakahan dan cinta nafsu adalah penderitaan, lalu membina kebajikan tanpa tiris dan memperoleh Dhyana pertama. Sebaliknya Ananda, walaupun luas pengetahuan dan banyak mendengar, masih belum memutus kekotoran cinta nafsu; itu sama saja menipu diri sendiri, masih berada dalam keadaan “ditangguhkan untuk diamati”.
Sang Buddha juga memakai perumpamaan “Yajnadatta kehilangan kepala lalu berlari gila”: kepala sebenarnya tidak hilang, tetapi karena delusi mengira hilang lalu menjadi gila. Kegilaan ini bukan timbul karena sebab-akibat, juga bukan terjadi secara alami, melainkan karena pikiran yang terbalik. Ketersesatan semua makhluk pun demikian, bukan disebabkan kondisi luar, melainkan penyimpangan batin sendiri.
Kesimpulannya, Sang Buddha mengajarkan kepada Ananda: banyak mendengar tidak sama dengan mencapai pencerahan; memahami Sutra tidak sama dengan pencapaian; bila tidak benar-benar berbhavana, tetap sulit melepaskan diri dari keserakahan, cinta nafsu, dan klesa.
Setelah menyelesaikan Dharmadesana yang penuh makna, Dharmaraja Lian Sheng dengan welas asih menganugerahkan Abhiseka Bhagavati Usnisavijaya kepada seluruh hadirin, dan Upacara Dharma pun berakhir dengan sempurna.
---------------------------------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia