22 Maret 2026 Liputan Upacara Agung Homa Santika Pemberkahan dan Penyeberangan Drashi Lhamo di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Yun Shuang (蓮花韻霜)
Pada tanggal 22 Maret 2026, Rainbow Temple dengan khidmat menyelenggarakan upacara peresmian dan abhiseka Zashi Temple. Zashi Temple ini berawal dari Dharmadesana Dharmaraja Lian Sheng, bulan September 2025 yang mengetahui melalui kontak batin bahwa Drashi Lhamo berkehendak untuk menetap selamanya di Seattle guna membabarkan Dharma dan menyeberangkan semua makhluk. Hal ini segera mendapat sambutan hangat dari umat di sepuluh penjuru, dan pada bulan Oktober di tahun yang sama dimulailah pembangunan. Para Acarya kemudian dengan penuh hormat membuat pratima, dan setelah beberapa bulan persiapan, akhirnya pada hari ini terselesaikan dengan sempurna.
Pada hari upacara, berbagai tanda kemanggalaan muncul. Dharmaraja Lian Sheng hadir langsung memimpin pembukaan tirai dan ritual abhiseka pratima, serta memberikan Dharmadesana bahwa Drashi Lhamo memiliki kekuatan wibawa yang besar, mampu membantu para sadhaka meningkatkan berkah dan menarik kekayaan. Para umat di lokasi mempersembahkan tarian Tibet sebagai persembahan, dan Dharmaraja Lian Sheng berulang kali menganugerahkan adhisthana dengan seruan “makmur mendadak!”, sehingga sukacita Dharma melimpah.
Peresmian Zashi Temple melambangkan bahwa kekuatan ikrar Istadewata senantiasa hadir. Pihak wihara menyatakan rasa terima kasih atas dukungan semua pihak, serta berharap tempat ini menjadi ladang berkah baru untuk menuntun semua makhluk, menanam kebajikan, dan menjalankan bhavana.
Pada pukul tiga sore hari yang sama, Dharmaraja Lian Sheng memimpin Upacara Agung Musim Semi Homa Drashi Lhamo untuk santika, pemberkahan, dan penyeberangan.
Setelah Homa, Dharmaraja menyampaikan bahwa setelah Dharmadesana kemarin, ada siswa yang bertanya mengenai warna apa yang sebaiknya digunakan saat menulis aksara di tangan. Dharmaraja menjelaskan bahwa warna merah, hitam, maupun biru semuanya boleh; yang terpenting bukanlah warna, melainkan apakah tulisan tersebut jelas, rapi, dan dapat dikenali oleh diri sendiri.
Dharmaraja secara khusus menekankan bahwa menulis tidak boleh dilakukan sembarangan, dan visualisasi tidak boleh dilakukan dengan ceroboh. Bhavana menuntut keotentikan; tidak boleh menggantikan bhavana nyata dengan visualisasi, apalagi mencoba mencari jalan pintas. Misalnya, jika seseorang berpikir bahwa dengan visualisasi satu kali mantra dapat dianggap sebagai lima ratus ribu kali, maka pemikiran tersebut jelas tidak benar. Merapal mantra satu kali adalah satu kali; praktik harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh malas.
Dharmaraja juga memberikan perumpamaan dari kehidupan sehari-hari: jika visualisasi benar-benar dapat mendatangkan kekayaan, maka cukup pergi ke tempat penjualan lotre dan membayangkan memenangkan hadiah utama; namun ketika pulang dan membuka brankas, tetap tidak akan muncul kekayaan secara tiba-tiba. Kekayaan sejati, seperti emas sejati, harus memiliki warna, berat, dan kualitas nyata, benar-benar ada, bukan sekadar tampilan luar yang kosong.
Pada saat yang sama, Dharmaraja menyebutkan bahwa ada persembahan yang tampak seperti emas dalam jumlah besar, tetapi sebenarnya hanya lembaran tipis daun emas tanpa berat dan kualitas. Emas sejati harus konsisten luar dan dalam; bahkan jika dibelah, bagian dalamnya tetap emas murni, bukan hanya dilapisi di luar namun kosong di dalam. Melalui hal ini, Dharmaraja mengingatkan bahwa baik bhavana maupun persembahan harus menekankan keaslian, bukan sekadar bentuk.
Dharmaraja kembali menegaskan bahwa yang disebut “makmur mendadak” harus merupakan berkah dan akumulasi kebajikan yang nyata, bukan imajinasi yang kosong.
Berbicara tentang Upacara Homa hari itu, Dharmaraja menyatakan bahwa kontak batin kali ini sangat luar biasa. Beliau secara langsung melihat Drashi Lhamo, dan di atas terdapat Mahadewi Yaochi. Yang lebih istimewa, Mahadewi Yaochi kali ini memimpin tiga burung biru (qingluan, shaoluan, youluan) untuk turun bersama, serta didampingi oleh dua pelayan, Dong Shuangcheng dan Xu Feiqiong. Selain itu, terdapat lima Furen yang turut hadir, yaitu Yunhua Furen, Hualin Furen, Ziwei Furen, Yunu Furen, dan Xianfu Furen, yang semuanya merupakan lima putri termasyhur di bawah naungan Mahadewi Yaochi.
Selain itu, banyak bidadari juga turun bersama. Dharmaraja juga bertanya kepada siswa yang memiliki kemampuan mata dewa apakah mereka melihat pemandangan luar biasa tersebut, dan menunjukkan bahwa pada saat abhiseka pratima Drashi Lhamo, juga terdapat banyak bidadari yang turun, menandakan bahwa kontak batin dari upacara ini benar-benar nyata dan luar biasa.
Dharmaraja berbagi bahwa pada malam sebelumnya dalam mimpi, Mahadewi Yaochi secara khusus membabarkan, menunjukkan bahwa ajaran hari sebelumnya memiliki dua poin utama: Pertama adalah “Metode Rahasia makmur mendadak”; Kedua adalah “jangan berperang”.
Mahadewi Yaochi menjelaskan bahwa selama menjunjung prinsip tidak membunuh, menganjurkan perdamaian, melindungi kehidupan dan harta rakyat, sehingga semua penduduk dapat hidup dengan tenang, serta menjaga bandara, jembatan, air, listrik, dan berbagai sumber daya agar tidak dihancurkan oleh perang, maka hanya dengan ikrar dan kebajikan seperti itu saja, seseorang sudah dapat membangun sebuah wihara, duduk di dalamnya, dan menerima persembahan dupa selama sepuluh ribu tahun.
Menanggapi hal ini, Dharmaraja dengan jujur menyatakan bahwa dirinya tidak ingin melekat pada berkah duniawi, melainkan hanya ingin kembali ke Mahapadminiloka di Sukhavati. Dharmaraja menunjukkan bahwa dunia saha penuh dengan penderitaan kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian, di mana penderitaan karena penyakit adalah yang paling berat. Ketika manusia sakit, rasanya seperti berada di neraka dunia; menjelang kematian pun penuh penderitaan, dan setelah mati, akan berputar mengikuti karma.
Mahadewi Yaochi juga menyatakan bahwa meskipun tidak dapat sepenuhnya menghentikan perang, selama seseorang membangkitkan tekad anti-perang dan melindungi kehidupan, hal itu sendiri sudah merupakan penyelamatan bagi tak terhitung makhluk, dan merupakan kebajikan yang sangat besar.
Dharmaraja menyatakan bahwa karma pembunuhan akibat perang sulit untuk dihitung; satu bom dapat merenggut banyak nyawa, satu serangan dapat menghancurkan seluruh bangunan dan fasilitas penting, semua ini adalah karma kolektif umat manusia. Oleh karena itu, beliau menyerukan agar manusia hidup damai, saling menghormati, hidup berdampingan, dan berkembang bersama. Perang sering kali berasal dari keinginan egois manusia, dan egoisme adalah akar konflik.
Dharmaraja juga mengajarkan bahwa dirinya memiliki hubungan karma yang sangat dalam dengan semua makhluk, telah mengalami banyak kelahiran kembali, dan banyak siswa adalah mereka yang memiliki jodoh dari kehidupan lampau.
Beliau juga menyebut hubungan karma dari kehidupan lampau pada masa Raja Zhou Mu, masa Kaisar Han Jing, Dinasti Ming, serta Dinasti Xia Barat. Dharmaraja menyatakan bahwa beberapa pelayan dan selir dari masa tersebut juga telah terlahir kembali di antara para siswa untuk melanjutkan jodoh Dharma, menunjukkan betapa dalamnya jalinan karma dari kehidupan lampau.
Dharmaraja mengenang sekitar tiga puluh tahun yang lalu di Singapura, pernah meramalkan bahwa seorang siswa akan melahirkan seorang Padmakumara, dan ternyata benar terjadi. Dharmaraja juga pernah secara pribadi menggendong bayi tersebut dan memberinya adhisthana. Beliau menyatakan bahwa Padmakumara telah memiliki banyak titisan di dunia, dan semuanya harus dibimbing sesuai kondisi untuk kembali ke Mahapadmini di Sukhavatiloka.
Dharmaraja juga menyebutkan bahwa sejak masa yang sangat lampau, Buddha Amitabha telah menghubungkan dirinya dengan Mahadewi Yaochi dan Yunhua Furen dalam satu jalinan karma, yang melalui banyak kehidupan telah berkembang menjadi jodoh Dharma yang mendalam. Namun demikian, tidak semua makhluk yang memiliki jodoh dapat dibawa kembali ke Mahapadmini Sukhavatiloka, karena masing-masing ditentukan oleh karma mereka sendiri.
Dharmaraja Lian Sheng memberi contoh sejarah Tibet untuk menjelaskan bahwa Bodhisatwa Avalokitesvara pernah menitis sebagai Songtsen Gampo, untuk menyeberangkan para insan di Tibet. Putri Wencheng merupakan titisan Syama Tara, dan Putri Chizun merupakan titisan Sita Tara. Songtsen Gampo pada akhirnya dapat membawa sebagian mereka yang berjodoh, namun tetap ada sebagian selir yang karena karma tidak dapat ikut serta.
Dari hal ini dijelaskan bahwa karma sungguh di luar jangakuan pikiran, semua makhluk berputar dalam karma dan sulit untuk terbebas. Oleh karena itu Buddhadharma menekankan pertobatan serta menghentikan kejahatan dan melakukan kebajikan, demi menghindari kembali menciptakan karma baru.
Dharmaraja mengutip tiga puluh tujuh faktor menuju pencerahan, empat landasan perhatian, empat usaha benar, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan, serta menunjukkan bahwa dasar bhavana terletak pada: kebajikan harus dilakukan, namun tidak boleh melekat; kejahatan tidak boleh muncul, dan jika sudah muncul harus bertobat untuk melenyapkannya.
Hanya dengan demikian, barulah dapat menghindari alam rendah, dan secara bertahap melangkah menuju jalan pembebasan. Jika dapat berlatih sesuai Jalan Mulia Berunsur Delapan, mengembangkan lima indria dan lima kekuatan, pada akhirnya akan memiliki Dasabala Buddha dan kembali ke Mahapadmini Sukhavatiloka. Jika tidak, maka tetap akan berputar mengikuti karma.
Berbicara tentang kekayaan, Dharmaraja menunjukkan bahwa meskipun memperoleh kekayaan, tetap harus memikirkan bagaimana menggunakannya dengan benar. Berkah sejati terletak pada kemampuan mencukupi diri sendiri sekaligus membantu semua makhluk.
Dharmaraja menyebut bahwa Sheng-Yen Lu Foundation secara jangka panjang telah melakukan kegiatan amal, dan juga mendorong tempat ibadah di berbagai tempat untuk mengalihkan persembahan menjadi kegiatan sosial seperti bantuan bencana dan pengentasan kemiskinan, yang semuanya merupakan cara mengumpulkan jasa kebajikan bagi semua makhluk.
Dharmaraja Lian Sheng menegaskan bahwa kekayaan pertama-tama harus membuat kehidupan diri sendiri stabil, kemudian membantu keluarga, dan selanjutnya memberi manfaat bagi lebih banyak makhluk. Yang paling penting adalah tidak boleh muncul niat untuk mencelakai orang lain, melainkan harus bertindak dengan hati yang baik.
Dalam hubungan antar manusia, Dharmaraja mengingatkan bahwa tidak boleh menyakiti orang lain, tidak boleh memfitnah orang lain, dan tidak boleh merancang untuk menjebak orang lain. Luka melalui ucapan juga membentuk karma, sehingga sadhaka harus sangat berhati-hati.
Dharmaraja Lian Sheng juga dengan jujur mengakui bahwa dirinya di masa lalu pernah memiliki ketidaksempurnaan, misalnya pernah terpengaruh oleh bacaan novel silat seperti “Huashan Lun Jian”, sehingga menulis artikel yang mengkritik orang lain dalam rubrik “Pedang Sanggahan Zhenfo”. Kemudian Beliau menyadari bahwa tindakan tersebut tidak tepat, dan sejak itu mengingatkan dirinya sendiri.
Dharmaraja Lian Sheng menyatakan bahwa meskipun Zhenfo Zong tidak mengejar status atau kedudukan duniawi, tetap harus memiliki semangat kejujuran, meyakinkan orang dengan alasan yang tepat, memperlakukan orang dengan kebajikan, dan bertindak dengan kebijaksanaan.
Dharmaraja pada akhirnya menyimpulkan bahwa sadhaka Zhenfo harus bertindak dengan hati yang baik demi memberi manfaat bagi dunia, dan inilah semangat penting dari Zhenfo Zong.
Seorang sadhaka harus memiliki kebijaksanaan dan kekuatan konsentrasi. Kebijaksanaan membuat seseorang mampu membedakan kebenaran, sedangkan samadhi membuat batin tidak tergoyahkan. Jika kekurangan kekuatan konsentrasi, mudah terpengaruh oleh kondisi luar; jika memiliki kemampuan meditasi, maka dapat menetap dalam batin sendiri dan tidak digerakkan oleh keadaan.
Dharmaraja Lian Sheng juga mengingatkan bahwa jika memiliki kesalahan harus segera bertobat dan memperbaikinya. Dalam Buddhadharma, metode pertobatan sangat penting dan dapat membantu sadhaka memurnikan karma buruk.
Pada akhirnya, Dharmaraja Lian Sheng mendorong semua: Dalam bhavana, yang paling penting adalah menjaga hati yang tulus dan baik; menggunakan kebijaksanaan untuk memandang kehidupan; dengan welas asih memberi manfaat bagi semua makhluk; dan dengan pertobatan memurnikan diri sendiri.
Setelah Dharmadesana yang penuh makna tersebut berakhir, Dharmaraja dengan penuh welas asih menganugerahkan kepada seluruh hadirin “Sadhana Rahasia Makmur Mendadak Drashi Lhamo”, dan upacara pun berakhir dengan sempurna.
---------------------------------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia
#DrashiLhamo
Istadewata Homa minggu depan #Padmakumara