Liputan Perayaan 40 Tahun Upasampada Dharmaraja Lian Sheng serta Sangha Mahapuja

Liputan Perayaan 40 Tahun Upasampada Dharmaraja Lian Sheng serta Sangha Mahapuja

【Berita dari Seattle Ling Shen Ching Tze Temple】

Pada Sabtu, 28 Maret 2026, bertepatan dengan tanggal 10 bulan kedua Imlek, adalah hari besar genap 40 tahun sejak Mulacarya Lian Sheng menjalani kehidupan membiara. Langit Seattle cerah tanpa awan, sinar matahari bersinar terang, bunga-bunga bermekaran indah, rerumputan hijau seperti permadani, penuh dengan suasana perayaan yang semarak dan penuh kehidupan.

Para Ayushmat Zhenfo Zong, para Acarya, Dharmacarya, segenap sangha, serta para Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua wihara, dan segenap siswa awam Zhenfo dari seluruh dunia, termasuk yang hadir langsung maupun yang terhubung secara global melalui internet, bersama-sama melakukan visualisasi silsilah Zhenfo Zong, merapal mantra hati Padmakumara, menyanyikan pujian permohonan adhisthana kepada Dharmaraja Lian Sheng, menyaksikan video peringatan 40 tahun penahbisan Mahaguru Lu yang diproduksi oleh TBF, kemudian bersama-sama berlutut dengan tangan bersatu, dengan penuh khidmat mempersembahkan persembahan hati kepada Mulacarya, serta membacakan teks ikrar, bertekad sepanjang hidup menjadikan Mulacarya sebagai satu-satunya perlindungan, menjaga silsilah Dharma Zhenfo, mengamalkan ajaran Tantra Zhenfo, menaati sila, mencerahi hati dan melihat Buddhata, memikul tanggung jawab besar Tathagata, dengan hati mahakaruna, menyeberangkan semua makhluk.

Selanjutnya dilaksanakan penyalaan pelita yang khidmat dan agung; Mulacarya menyalakan pelita hati para hadirin, kemudian semua orang menyanyikan Gatha Mohon Buddha Menetap di Dunia, mempersembahkan dana kepada Sangha, serta menyanyikan himne “Terima Kasih Zhenfo”.

Mahaguru Lu menjelaskan bahwa pada awalnya, di Kuil Dewa Indra (Yuhuang Gong) bertemu dengan Mahadewi Yaochi yang memintanya tampil demi menyeberangkan makhluk; inilah sebab awal. Saat itu tiga Istadewata utama: Mahadewi Yaochi, Buddha Amitabha, dan Bodhisatwa Ksitigarbha, semuanya menampakkan diri, dan Dewa Indra juga menuliskan dua huruf “loyalitas” dan “kebenaran” untuk Mahaguru Lu. Setelah kembali, Beliau mengembara ke langit, ke alam bawah, hingga ke Mahapadminiloka. Mereka berkata: “Yang memancarkan cahaya terang itu adalah Padmakumara, itulah masa lalu Anda.”

Mahaguru Lu di rumah memuja Mahadewi Yaochi, dan ramalan pertanyaannya sangat akurat. Sejak saat itu mulai menerima bimbingan bhavana; pada tengah malam Guru gaib datang mengajarkan mudra tangan dan langkah kaki. Bahkan di musim dingin yang sangat dingin pun tidak boleh bermalas-malasan, harus belajar dengan sungguh-sungguh.

Di asrama militer, Mahaguru Lu menempatkan sebuah rupang Avalokitesvara di jendela, di depannya diletakkan sebuah dupa, dinyalakan dupa, seluruh asrama dipenuhi aroma harum; pada malam itu Avalokitesvara pun menampakkan diri.

Kemudian Mahaguru Lu menerima sila Bodhisattva bagi umat awam di Bi Shan Yan Temple. Saat itu sangat penuh kontak batin dan sangat manjur; setiap hari ada 300 orang datang untuk berkonsultasi.

Mahaguru Lu membeli rumah pertama, beralamat di Jalan Kedua Yixin No. 26; sekarang rumah itu tidak ada yang berani menempatinya, karena ketika Mahaguru Lu pergi, Beliau lupa membawa sebuah botol, dan botol itu khusus digunakan untuk menampung roh dari penderita gangguan mental.

Kemudian Mahadewi Yaochi memberi petunjuk untuk pergi ke Amerika. Mahaguru Lu tidak menyangka, dulu di sekolah bahkan tidak menghafal kosakata bahasa Inggris, namun harus pergi hidup di Amerika. Semua ini karena pernah bersama Sang Ibunda pergi ke Kuil Dewa Indra, sehingga mengubah seluruh hidupnya. Setelah tiba di Amerika, ia bergantung pada bantuan keluarga Chen. Mahaguru Lu mengatakan bahwa terhadap semua orang yang pernah membantunya di masa lalu, Beliau selalu menyimpan rasa terima kasih.

Setelah datang ke Seattle dan tinggal di Ballard, selama tiga tahun tidak memiliki pekerjaan. Mahaguru Lu memohon kepada Bodhisatwa Maitreya; Bodhisatwa Maitreya membuka kantong-Nya dan menganugerahkan rumah, mobil, serta banyak emas dan perak. Sejak itu para siswa mulai berkumpul; Biksu Guo Xian (果賢法師) datang Bersarana dan mendukung, saat itu Ling Shen Ching Tze Temple belum selesai dibangun. Kini di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple masih terdapat rupang Seribu Tangan Seribu Mata Avalokitesvara yang ditinggalkan oleh Biksu Guo Xian, beliau adalah donatur terbesar dalam pembangunan wihara.

Mengapa memutuskan menerima upasampada? Mahadewi Yaochi pernah meramalkan bahwa Mahaguru Lu akan menikah, dan setelah menikah baru membiara. Buddha Sakyamuni juga setelah menikah baru meninggalkan kehidupan duniawi. Pada usia 42 tahun, setiap kali keramas, rambut Mahaguru Lu rontok. Saat itu Biksu Guo Xian mendorongnya untuk membiara, berkata: “Hiduplah membiara!” Mahaguru Lu berkata: “Baiklah! Anda cukur saja! Biarkan Anda yang mencukur saya.”

Sejak usia 66 tahun, setiap tahun Mahaguru Lu kembali ke Taiwan selama setengah tahun untuk membabarkan Dharma, berlangsung selama 10 tahun. Saat itu setiap hari Sabtu ke Taiwan Lei Tseng Temple untuk memimpin upacara, memberikan abhiseka kepada umat selama dua jam, bahkan memperagakan Toya Vajra. Hingga usia lebih dari 70 tahun, tubuh Mahaguru Lu masih sangat kuat, setiap hari melakukan push-up.

Semua perjalanan ini sepenuhnya membuktikan perkataan Mahadewi Yaochi; Beliau juga mengatakan kapan peristiwa akan terjadi, dan Mahaguru Lu memahaminya dengan jelas. Namun ada beberapa hal, ada perihal situasi dunia, yang tidak boleh diungkapkan.

Mahaguru Lu berkata bahwa dalam kehidupan, sebenarnya banyak hal sudah diatur. Kali ini jika bukan karena Buddha Amitabha menampakkan diri mengulurkan bantuan, mungkin Mahadewi Yaochi sudah memanggil kembali Mahaguru dan Gurudara. Pada usia 79 tahun, Mahadewi Yaochi berkata: “Kuberi Anda tiga tahun.” Buddha Amitabha berkata: “Kuberi Anda lima tahun.”

Mahaguru Lu memberitahu kepada semua, ketika berada di rumah sakit, Buddha Amitabha, Bodhisatwa Manjusri, dan Vajrasattva bersama-sama memberikan abhiseka kepada saya, sehingga saya dapat tinggal lebih lama di dunia saha. Kali ini semua orang juga membantu saya memohon kepada Mahadewi Yaochi. Sebenarnya Mahadewi Yaochi walaupun sangat penuh welas asih, tetapi juga sangat tegas.

Mahaguru Lu mengajarkan: hari ini ada silsilah Dharma seperti ini yang ditransmisikan, barulah ada begitu banyak biksu dan biksuni. Pada awalnya semua siswa Zhenfo Zong dipikul di pundak saya; kelak warisan ini akan dipikul di pundak kalian untuk memikul semua makhluk hidup.

Buddha bersabda: “Jangan berbuat jahat, perbanyak perbuatan baik.” Ingatlah untuk berbhavana dengan baik; berbhavana berarti memperbaiki perilaku diri sendiri. Walaupun dunia manusia seperti sebuah permainan, tetapi apakah Anda ingin terus berputar dalam samsara? Coba renungkan, hukum sebab-akibat itu nyata; Anda juga tidak akan mendapatkan apa pun, dan tidak perlu berebut dengan orang lain; semuanya adalah sunyata.

Setiap hari harus melakukan sadhana, memurnikan pikiranmu, mengubah karma tubuh, ucapan, dan pikiran menjadi sila, samadhi, dan prajna. Karma tubuh, ucapan, dan pikiran akan membuatmu jatuh ke dalam samsara; hanya dengan trisiksa: sila, samadhi, dan prajna, barulah Anda bisa terlahir di Buddhaksetra.

Baik biksu, biksuni, upasaka, maupun upasika, semuanya harus mempraktikkan trisiksa, barulah dapat menempuh tiga puluh tujuh jalan pencerahan. Jika Anda sendiri telah mencapai, Anda juga membimbing semua makhluk, serta menjalin karma baik; pada saat itu barulah bisa mengakhiri kelahiran dan kematian.

Karma tubuh, ucapan, dan pikiran menutupi batin sejati terang nan luhurmu. Hanya dengan menggunakan sila, samadhi, dan prajna untuk memurnikan seluruh karma tubuh, ucapan, dan pikiran, maka batin sejati terang nan luhur itu akan muncul dengan sendirinya. Ia sebenarnya sudah ada di sana. Pada saat itu barulah Anda dapat menyatu dengan cahaya semesta, benar-benar mencapai keberhasilan, dan tidak lagi terikat dalam samsara. Jika tidak, apa gunanya menjadi membiara?

Refleksi setelah empat puluh tahun membiara: sebenarnya dalam kehidupan ini, juga tidaklah berarti apa-apa; pada dasarnya memang tidak memiliki apa-apa. Yang paling penting adalah memurnikan karma tubuh, ucapan, dan pikiran diri sendiri. Jangan memfitnah orang lain; jika orang lain memfitnahmu tidak apa-apa, dan jangan menumbuhkan kebencian dalam hati.

Anda mesti mempraktikkan enam paramita; di antaranya ksanti (kesabaran) itu sendiri adalah bhavana. Bersabar tanpa merasa bersabar, pada dasarnya tidak perlu “menahan”; juga tidak perlu bersaing dengan orang lain. Memang tidak mungkin membuat orang lain tidak memfitnah atau tidak menyerangmu. Perbaiki saja perilakumu sendiri; bagaimana keadaan di luar tidak perlu dipedulikan, itulah ksanti.

Kita tetap harus tekun, tetapi jangan berlebihan, karena berlebihan bisa menyebabkan gangguan mental. Harus ada samadhi, juga harus ada prajna. Enam paramita : dana, sila, ksanti, virya, dhyana, dan prajna. Ini adalah metode upaya kita. Di dunia ini kita harus menempuh jalan enam paramita ini. Setelah meninggalkan kehidupan duniawi, segala sesuatu harus dijalani dengan ksanti; jangan marah, jangan mundur, perbaiki batin sendiri, dan jangan emosional. Inti yang sesungguhnya adalah memiliki kekuatan samadhi dan kebijaksanaan; dengan itu pasti dapat melampaui, demikianlah kehidupan.

全球真佛宗眾上師、教授師、法師、講師、助教暨全球弟子,萬眾一心,持誦 瑤池金母心咒,同心祈願 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。