5 April 2026 Liputan Upacara Homa Bodhisatwa Ksitigarbha di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)
Pada tanggal 5 April 2026, Rainbow Temple, Seattle, Amerika Serikat, dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin Upacara Homa Bodhisatwa Ksitigarbha. Usai homa, Dharmaraja bersembah puja kepada Guru Silsilah dan Triratna Mandala, serta menyampaikan salam hangat dalam berbagai bahasa kepada siswa yang hadir di lokasi maupun daring. Dharmaraja terlebih dahulu mengumumkan bahwa minggu depan (12 April) pukul tiga sore akan diselenggarakan Homa Mahottara Heruka.
【Mahottara Heruka: Upacara Mukjizat yang Mengguncang Dunia】
Dharmaraja mengenang saat dahulu di Taipei Liberty Square, dalam Upacara Agung Mahottara Heruka yang diselenggarakan oleh Acarya Lian Yue (蓮悅上師), Beliau menggambarkannya sebagai sebuah “Upacara mukjizat”. Saat itu, di lokasi dibangun stupa cakra mantra yang agung, mencakup aspek damai, aspek murka, serta seratus Istadewata Santa dan Krodha.
Dharmaraja Lian Sheng secara khusus menekankan bahwa suara mantra Mahottara Heruka memiliki fungsi menyembuhkan penyakit. Saat itu di Liberty Square Taipei, banyak umat dengan penyakit berat secara ajaib sembuh setelah mengikuti upacara. Contohnya: Jari menyatu yang akhirnya bisa terpisah: Seorang umat sejak lahir memiliki selaput yang menyatukan jari-jarinya, setelah mengikuti upacara, jari-jarinya secara alami terpisah.
Tumor leher lenyap: Seorang warga yang memiliki tumor di leher, saat naik bus melewati lokasi upacara, hanya karena mendengar suara mantra, seluruh tubuhnya terasa panas. Setelah diperiksa di rumah sakit, tumor tersebut telah lenyap tanpa jejak.
【Kesaksian Membuktikan Daya Buddhadharma】
Dharmaraja kemudian mengundang siswa yang pernah mengalami kontak batin serupa untuk berbagi. Seorang siswa berdiri dan membuktikan bahwa dirinya dulu memiliki tumor, kini telah sepenuhnya hilang, bahkan memiliki foto perbandingan sebagai bukti. Dharmaraja mengungkapkan bahwa musik dan suara mantra dapat menyembuhkan penyakit; melalui kekuatan adhisthana Mahottara Heruka, penyakit berat memang dapat disembuhkan.
Dharmaraja lalu merendah, mengatakan bahwa meskipun tumor para siswa hilang, dirinya sendiri masih harus menjalani operasi. Terkait hal ini, Acarya Lian Ci (蓮慈上師) menanggapi di tempat bahwa ini adalah “welas asih Guru yang menggantikan penderitaan semua makhluk”. Dharmaraja dengan rendah hati mengatakan tidak berani menerima pujian tersebut, namun juga membagikan hubungan mendalamnya dengan Bodhisatwa Ksitigarbha。
【Ikrar Agung Bodhisatwa Ksitigarbha】
Dharmaraja mengenang ketika muda pertama kali bertemu Bodhisatwa Ksitigarbha, berikrar untuk mengikuti Beliau sepanjang kelahiran demi kelahiran. Saat itu, dengan semangat muda, Beliau pernah berikrar bahwa jika memiliki “tiga jiwa”, satu mengikuti Mahadewi Yaochi, satu mengikuti Buddha Amitabha, dan jiwa ketiga mengikuti Bodhisatwa Ksitigarbha, bahkan tidak akan mundur walau harus ke neraka, demi menyelamatkan semua makhluk.
“Waktu itu masih muda dan belum mengerti, berikrar ingin seperti Bodhisatwa Ksitigarbha, ‘selama neraka belum kosong, tidak akan menjadi Buddha.’” Dharmaraja berkata dengan penuh perenungan, hingga kemudian saat masuk rumah sakit, barulah benar-benar memahami bahwa rumah sakit seperti neraka pinggiran.
【Rumah Sakit Seperti Neraka Penderitaan Tanpa Jeda】
Dharmaraja menyebutkan bahwa selama dirawat, setiap pagi melihat LRT di luar jendela, hatinya dipenuhi banyak rasa. Beliau mengakui bahwa berada di rumah sakit “hampir sama dengan neraka”, dan tidak akan masuk rumah sakit kecuali terpaksa. Dari penderitaan penyakit di dunia, Dharmaraja kemudian memberikan Dharmadesana tentang kengerian neraka tanpa jeda: penderitaan dunia masih memiliki jeda naik turun, namun neraka tanpa jeda adalah “tanpa celah istirahat, penderitaan tanpa akhir”.
Dharmaraja dengan welas asih mengingatkan bahwa meskipun Bodhisatwa Ksitigarbha memiliki alam suci di alam bawah, tetap saja berada di neraka jauh lebih sulit dibanding dunia manusia. Semua orang harus menyadari penderitaan di “lima kekotoran dunia” dan menghargai kesempatan bhavana.
【Ketidakkekalan Hidup Laksana Bunga Mekar dan Gugur】
Berbicara tentang bunga sakura yang bermekaran di Rainbow Vila, Dharmaraja menghela napas bahwa keindahan hanya bertahan satu bulan sebelum gugur, dan menggunakan ini sebagai perumpamaan kehidupan: “bunga mekar dan gugur, manusia hidup dan mati, semuanya hilang dalam sekejap.”
Dharmaraja mengajarkan bahwa manusia tidak berbeda dengan tumbuhan: saat muda tampan dan anggun, saat tua dipenuhi penyakit dan keriput. Ia mencontohkan seorang lansia bermarga Lin yang hidup hingga lebih dari 90 tahun, menekankan pentingnya perawatan dan nutrisi, namun yang lebih penting adalah memasuki Dharma dan memahami hakikat kelahiran dan kematian.
【Kesaksian yang Sulit Dijelaskan Medis】
Dalam Dharmadesana, beberapa siswa berbagi pengalaman kesembuhan dari penyakit berat berkat adhisthana Buddhadharma:
Siswa Guan Yuansheng: memiliki tumor di dada, sebelum biopsi ia meminum fu dari Dharmaraja dan bermimpi Dharmaraja Lian Sheng membantunya “membuang sampah”. Keesokan harinya saat diperiksa, tumor itu hilang di depan mata dokter.
Acarya Lian Yan (蓮彥上師): pernah memiliki lipoma keras di tangan. Saat mengikuti Upacara Mahottara Heruka, mengikuti instruksi Dharmaraja menekan area tersebut, setelah upacara selesai tumor hilang total dan tidak kambuh hingga kini.
【Pemulihan Fungsi Ginjal yang Mengguncang Dunia Medis】
Dharmaraja Lian Sheng membagikan bahwa selama dirawat untuk mengangkat tumor, Beliau juga memperoleh manfaat lain, lalu meminta Acarya Lian Yi (蓮屹上師) menjelaskan:
Acarya Lian Yi menyatakan bahwa indeks fungsi ginjal Dharmaraja (eGFR) sempat turun hingga 24 (mendekati dialisis), namun selama dirawat justru naik hingga 61. Ia menjelaskan bahwa infus dan transfusi dapat sementara menaikkan angka, tetapi “kenaikan sebesar itu” dan “tetap stabil di 61 setelah keluar rumah sakit” sepenuhnya melampaui ekspektasi medis, membuktikan pemulihan luar biasa.
Dharmaraja menegaskan bahwa sebelumnya ginjalnya sudah masuk kategori kerusakan berat, jika turun ke 19 harus dialisis seumur hidup. Dokter spesialis menyatakan secara medis biasanya tidak dapat pulih. Namun kali ini terjadi perubahan yang membuat semua dokter “tidak mengerti”, dari 20-an naik ke 60.
Dokter ginjal menyatakan jika kondisi ini stabil selama enam bulan, Dharmaraja tidak perlu kontrol lagi. Dharmaraja mengatakan pemulihan total seperti ini hampir mustahil secara medis. Dokter Li yang hadir menyatakan: Dalam medis, transfusi mungkin hanya menaikkan ke 40-an, tetapi mencapai 60 sudah bukan ranah medis, melainkan “urusan Buddha dan Bodhisatwa”.
Dharmaraja menyimpulkan bahwa fenomena ini hanya bisa disebut mukjizat. Selain itu, seorang siswa juga berbagi bahwa ia dahulu menderita penyakit darah dan eksim. Setelah mempraktikkan “Yoga Air Dewata” dari ajaran Dharmaraja, kini hasil tes darahnya sangat bersih, bahkan dokter memujinya.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan
Dalam sesi interaksi, seorang siswa dari Taiwan bertanya:
Dharmaraja pernah mengatakan “tanpa pikiran dapat memancarkan cahaya”. Saat sadhana, ia merasakan qi di cakra anahata dan kebahagiaan, bahkan dalam foto terlihat cahaya berputar. Apakah ini termasuk memancarkan cahaya?
Dharmaraja menjelaskan bahwa “tanpa pikiran dapat memancarkan cahaya” memang diajarkan dalam Tantra Mahottara Heruka, tetapi mencapai kondisi tanpa pikiran tidak mudah. Tanpa pikiran berarti dalam meditasi memasuki keadaan tanpa pikiran dan tanpa gambaran. Pada kondisi ini, persepsi waktu berubah, merasa hanya beberapa menit, padahal sudah satu jam.
Ini terjadi karena ketika seseorang “mengosongkan segalanya”, maka Batin Sejati Terang nan Luhur muncul tanpa keterikatan. Hakikat batin sejati adalah cahaya, itulah makna sejati memancarkan cahaya.
Dharmaraja menambahkan bahwa kondisi ini juga dapat terjadi saat tidur. Jika masuk “tidur tanpa pikiran”, antara menutup dan membuka mata, pagi telah tiba tanpa mimpi dan tanpa rasa waktu. Sebaliknya, jika penuh kekhawatiran, akan terasa panjang dan menderita.
Inti bhavana adalah benar-benar rileks dan melepaskan, tidak memikirkan baik maupun buruk. Ketika semua pikiran lenyap, maka Batin Sejati Terang nan Luhur akan muncul dan secara alami memancarkan cahaya.
◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4
“Apakah yang dimaksud dengan kekeruhan? Ananda, misalnya air jernih, pada hakikatnya bersih dan murni. Sedangkan debu, tanah, dan pasir pada hakikatnya bersifat menghalangi dan mengendap. Kedua sifat ini pada dasarnya berbeda dan tidak saling mengikuti. Namun ada orang yang mengambil tanah dan debu itu lalu memasukkannya ke dalam air jernih. Tanah kehilangan sifat mengendapnya, air kehilangan kejernihannya. Wujudnya menjadi keruh dan kacau, itulah yang disebut ‘keruh’. Lima jenis kekeruhan juga demikian adanya.”
【Campuran Air dan Tanah Disebut “Keruh”: Hakikat Dunia Pancaskandha】
Dharmaraja Lian Sheng menggunakan perumpamaan air jernih dan debu untuk menjelaskan apa itu “kekotoran/kekeruhan”. Air pada hakikatnya bersih dan murni, sedangkan debu pada hakikatnya menghalangi dan mengendap; keduanya sebenarnya tidak saling bercampur. Namun ketika debu dimasukkan ke dalam air jernih, air pun kehilangan kemurniannya, sifatnya menjadi tercampur, wujudnya menjadi kacau, itulah yang disebut “keruh”.
Dharmaraja menunjukkan bahwa Batin Sejati Terang nan Luhur semua makhluk pada awalnya juga murni, tetapi setelah masuk ke dunia saha yang merupakan “dunia lima kekeruhan”, ia bercampur dengan debu duniawi dan menjadi kacau serta tidak jernih.
Dharmaraja selanjutnya menjelaskan bahwa mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh kita terus-menerus bersentuhan dengan rupa, suara, bau, rasa, dan sentuhan yang tidak murni. Pencemaran dari luar ini membuat tubuh dan batin sejati tidak lagi suci. Salah satu pencemaran terdalam dalam kehidupan manusia adalah “kekeruhan klesa”. Dharmaraja mengungkapkan bahwa manusia biasa semuanya memiliki klesa, dari yang besar seperti ketakutan terhadap penyakit dan operasi, hingga yang kecil seperti pilihan sehari-hari dalam makanan dan obat; klesa selalu mengikuti seperti bayangan, dan hanya para Arya yang dapat terbebas.
【Perenungan Saat Pengobatan: Kesehatan Adalah Dasar Kebahagiaan】
Dharmaraja membagikan pengalaman pribadinya saat merawat tubuh di rumah sakit, menekankan bahwa “kesehatan adalah yang paling penting, yang lain tidak penting”. Dharmaraja dengan tegas mengatakan bahwa tanpa tubuh yang sehat, sekalipun mencapai makmur mendadak, seseorang tetap tidak dapat menikmatinya dan hanya bisa menggunakan uang untuk berobat. Jika kaki tidak dapat berjalan, atau mata dan telinga tidak berfungsi, maka seseorang tidak dapat bepergian, melihat pemandangan indah, atau mendengarkan suara yang merdu.
Dengan gaya yang ringan, Dharmaraja mengingatkan bahwa merawat tubuh harus dimulai dari hal-hal kecil dalam pola makan. Seperti anjuran dokter untuk tidak mengonsumsi telur secara berlebihan, melainkan memilih ikan, yogurt, sayuran, dan bahan makanan sehat lainnya. Pemilihan obat dan suplemen juga harus dilakukan dengan hati-hati.
Dharmaraja juga mengamati bahwa di dunia medis terdapat perbedaan: ada dokter yang penuh welas asih dan teliti, ada pula yang cenderung dingin. Hal ini berkaitan dengan kedalaman “jodoh/kondisi” antara dokter dan pasien. Dharmaraja memuji dokter seperti Acarya Lian Yi yang penuh perhatian, yang mampu memberikan bantuan terbaik melalui keahlian dan welas asih.
【Kedamaian Adalah Kebahagiaan: Harapan Maitri Karuna Mahaguru Lu】
Di akhir Dharmadesana, Dharmaraja Lian Sheng memandu hadirin menyerukan harapan “sehat, sehat, sehat” dan “makmur mendadak, makmur mendadak, makmur mendadak”, namun kembali mengingatkan bahwa kekayaan harus dibangun di atas dasar kesehatan dan kedamaian.
Dengan penuh welas asih, Mahaguru Lu memanjatkan doa kepada Bodhisatwa Ksitigarbha, para Buddha dan Bodhisatwa, serta para Dharmapala agar mengadhisthana segenap siswa Zhenfo Zong:
“Semoga setiap orang memiliki tubuh yang sehat, setiap orang hidup dengan damai dan bahagia, dapat menjalani setiap hari dengan sukacita, itulah kebahagiaan.”
Setelah Dharmadesana yang mendalam tersebut, Dharmaraja dengan penuh welas asih menganugerahkan Abhiseka Sadhana Bodhisatwa Ksitigarbha kepada seluruh siswa yang hadir, dan upacara pun berakhir dengan sempurna.
---------------------------------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia
#BodhisatwaKsitigarbha
Istadewata Homa minggu depan #MahottaraHeruka