12 April 2026 Liputan Upacara Homa Mahottara Heruka di Rainbow Temple

12 April 2026 Liputan Upacara Homa Mahottara Heruka di Rainbow Temple


Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)

Pada hari Minggu, tanggal 12 April 2026, Rainbow Temple di Seattle, Amerika Serikat, dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin "Upacara Dharma Homa Mahottara Heruka". Setelah homa purna, Dharmaraja bersembah puja kepada para segenap Guru Silsilah dan Triratna Mandala, serta menyapa dengan ramah para siswa yang hadir di lokasi maupun di internet menggunakan berbagai bahasa. Setelah pertama-tama mengumumkan Istadewata utama untuk upacara minggu depan, dalam Dharmadesana Dharmaraja mengungkapkan secara rinci kondisi fisik dan mental beliau pasca-sakit. Kata-kata Beliau yang tulus membuat para siswa yang hadir merasa terharu.

【Homa Minggu Depan: "Amoghapasalokesvara" Segala Permohonan Tidak Sia-sia, Pasa Mengikat Jalinan Jodoh Baik】

Dharmaraja Lian Sheng mengumumkan bahwa pada hari Minggu depan (19 April) pukul 3 sore akan diadakan Upacara Homa Amoghapasalokesvara". Dharmaraja memperkenalkan bahwa Amoghapasalokesvara memiliki kedudukan yang mulia di antara wujud Bodhisatwa Avalokitesvara, makna dari nama agungnya "Amogha" (Tidak Kosong) berarti semua permohonan tidak ada yang berakhir sia-sia, sedangkan "Pasa" (Tali) mampu mengikat hal-hal yang baik, dan mengikat serta menyingkirkan hal-hal yang buruk. Dharmaraja merapal Mantra Hati: "Om. A Mo Ga. Pi She Ya. Hum Ban Zha." serta memperagakan mudra: kedua tangan beranjali, ibu jari bersilangan, dan jari telunjuk saling bersentuhan atau bertumpuk.

【Mahottara Heruka Adalah Adi Buddha, Adhisthana Cahaya Ratusan Mustika Sangat Besar】

Berbicara mengenai Istadewata homa Mahottara Heruka, Dharmaraja menyatakan bahwa Beliau adalah wujud Vajra dari Adi Buddha yaitu Buddha Adharma, mencakup Seratus Dewata Damai dan Murka (42 Dewata Damai, 58 Dewata Murka), nama Vajra Beliau adalah "Vajra Mata Sekujur Tubuh", seluruh pori-pori di tubuh-Nya adalah mata, memancarkan seratus jenis cahaya (Cahaya Ratusan Mustika), kekuatan adhisthana-Nya jauh melampaui tiga cahaya biasa, menekuni sadhana Istadewata ini menghasilkan banyak mukjizat.

Dharmaraja untuk pertama kalinya merinci gejala pasca operasi: masalah pencernaan, terjaga karena kaget, asam lambung naik, kaki bengkak, dan depresi

Dharmaraja mengubah topik pembicaraan, dan dengan jujur berkata: "Sebenarnya saya sendiri juga seorang pasien." Beliau menunjukkan bahwa meskipun baru keluar dari rumah sakit satu bulan lalu Beliau sudah memimpin Upacara Dharma besar, tetapi tubuh Beliau masih memiliki banyak gejala sisa, dari kepala hingga kaki semuanya terdampak:

Masalah pencernaan: Dharmaraja menggambarkan diri-Nya seperti masuk ke "Negara Usus Lurus", setelah makan dengan cepat harus pergi ke toilet, frekuensinya tidak menentu dalam sehari.

Terjaga karena kaget saat tidur: Di tengah malam sering mengira diri-Nya masih berada di rumah sakit, bisa tiba-tiba terbangun kaget, dan harus menyesuaikan kondisi psikologis sendiri.

Asam lambung naik: Harus meninggikan bantal, jika tidak, asam lambung yang naik akan memicu batuk dan rasa sakit pada bekas jahitan.

Kaki bengkak: Harus sering mengangkat kaki, jika tidak kedua kaki akan membengkak dan terasa berat.

Nyeri otot gluteus medius: Sulit berjalan, bahkan tidak ada keinginan untuk keluar rumah menikmati pemandangan.

Sekujur tubuh lemas, perut membengkak: Dharmaraja dengan humor menertawakan diri sendiri, pemompaan gas sebelum operasi menyebabkan perutnya tidak bisa kempis kembali, sehingga harus mengganti celana dalam beberapa kali.

Dharmaraja menghela napas: "Dulu tidak pernah memikirkan usia saya sendiri... Saya pada usia 66 tahun kembali ke Taiwan berjuang selama 10 tahun, sampai usia 76 tahun pun tidak merasa tua. Tetapi rasa sakit kali ini, meninggalkan sebuah bayangan, yaitu depresi, Anda tidak bisa merasa gembira."

【Dari "Hidup adalah Kesengsaraan, Mati adalah Kedamaian" hingga Bertekad untuk Mengatasinya】

Dharmaraja dengan jujur mengatakan, sempat muncul pikiran "hidup adalah kesengsaraan, mati adalah kedamaian", namun Beliau segera menyemangati diri-Nya sendiri: "Saya juga harus belajar bersikap tidak peduli, tidak menghiraukannya, tidak apa-apa, setiap hari harus menjalani hari dengan bahagia, harus menjalani hari dengan sehat, harus mengatasi kesulitan-kesulitan ini." Beliau di lokasi memejamkan mata memohon Mahottara Heruka, Buddha Adharma, Vajra Mata Sekujur Tubuh untuk memberikan adhisthana kepada diri-Nya dan semua siswa, menghilangkan penyakit, serta membuat batin menjadi bahagia.

Dharmaraja berkata: "Jika saya sendiri tidak bisa bahagia, bagaimana bisa menyuruh orang lain bahagia? Saya sendiri harus menjadi sehat." Beliau mengungkapkan bahwa selama dua tiga minggu terakhir bahkan menggerakkan langkah pun terasa sangat sakit, baru-baru ini sudah sedikit membaik. Saat ini sedang berusaha keras mengatasi masalah asam lambung naik, rasa kaget, kaki bengkak, masalah pencernaan, dan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki tidur.

【Berterima Kasih atas Perawatan Para Siswa, Menyadari "Kesengsaraanku Terletak pada Tubuhku"】

Dharmaraja secara khusus berterima kasih kepada Acarya Lian Yi (蓮屹上師) dan Acarya Lian Qi (蓮麒上師) yang secara bergiliran merawat selama 24 jam, serta putra Beliau Fo Qi, dan putri Beliau Fo Qing yang menemani di siang hari; juga menyebutkan bahwa meskipun Gurudara sendiri sedang sakit, beliau tetap sesekali datang menjenguk. Dharmaraja sempat tersendat karena haru: "Penderitaan karena sakit itu sangatlah pahit, oleh karena itu saya bersimpati kepada para siswa yang sedang sakit... Melihat siswa yang sakit, setiap kali memberikan adhisthana kepada mereka, saya merasa mereka semua adalah orang-orang yang malang."

Dharmaraja kemudian berkata: "Saya selalu merasa, betapa baiknya bisa menjadi 'Drashi Lhamo', tidak memiliki tubuh jasmani ini, bebas dan leluasa. Sekarang saya akhirnya mengerti, mengapa Laozi mengatakan 'Kesengsaraanku terletak pada tubuhku', yaitu karena memiliki sebuah tubuh jasmani!" Dharmaraja beranggapan bahwa semua makhluk pantas mendapat simpati, dan dunia Panca Kasaya (Lima Kekeruhan) seperti "Kekeruhan Kalpa, Kekeruhan Pandangan" yang diuraikan oleh Buddha Sakyamuni, tepat merupakan sumber dari bencana dan penderitaan.

◎ Interaksi Adalah Kekuatan

Dharmaraja dalam sesi "Interaksi Adalah Kekuatan" menjawab pertanyaan dari seorang siswa di Malaysia:

"Siswa memiliki dua keraguan. Karena pandangan yang dangkal, tidak berani bertindak sendiri, memohon dengan tulus agar Mulacarya berwelas asih memberikan petunjuk, untuk membuktikan sumber batin.”

"Satu, pada saat awal belajar siswa pernah mendengar, dan kemudian ada umat Sedharma yang juga menyebutkan, bahwa saat merapal satu kali Mantra Sataksara, apabila mampu membacanya dalam satu tarikan napas tanpa putus, maka itu akan sangat istimewa. Tetapi siswa mengamati bahwa sebagian besar orang selalu merapalnya dengan cara mengambil napas secara bertahap. Oleh karena itu, memohon dengan tulus agar Buddha Guru memberikan petunjuk, apakah perbedaan antara kedua cara perapalan ini dalam hal pahala dan manfaat? Apakah makna inti dari perapalan "satu tarikan napas" adalah untuk melatih napas, atau untuk menjaga agar batin tidak terputus, atau ada alasan lainnya?"

Dharmaraja menyatakan bahwa Beliau sendiri tidak pernah mencoba merapal Mantra Sataksara sampai selesai dalam satu tarikan napas, dan balik bertanya kepada hadirin di lokasi: "Siapa yang bisa merapalnya selesai dalam satu tarikan napas? Tentu saja ada orang yang bisa memaksakan diri, tetapi saya tidak melakukan hal itu." Dharmaraja menunjukkan bahwa saat Beliau merapal mantra, Beliau akan mengambil napas berkali-kali.

Dharmaraja menekankan, merapal satu kali berarti ada pahala dari satu kali perapalan, hal itu tidak ada hubungannya dengan apakah Anda mengambil napas atau tidak. Beliau dengan humor berkata: "Apakah dua kali tarikan napas berarti tidak ada pahalanya? Kalau begitu kita semua tidak usah mengambil napas, rapal saja 100 kali dalam satu tarikan napas!" Dharmaraja dengan jelas menyatakan tidak pernah mendengar pernyataan bahwa "hanya dalam satu tarikan napas baru ada pahala", mengimbau semua untuk tidak melekat pada hal tersebut.

Pertanyaan yang lain adalah sebagai berikut:

"Pertanyaan kedua, siswa juga mendengar sebuah metode: mencatat Abhiseka dan silsilah yang diperoleh pada kehidupan ini dalam sebuah buku kecil (kabarnya inilah yang disebut 《Catatan Mendengar Dharma》), dan kelak catatan tersebut dikremasi bersama tubuh pada saat meninggal dunia, sehingga dapat membantu untuk satu atau dua kehidupan tidak jatuh ke alam buruk. Siswa tidak tahu apakah metode ini patut diamalkan oleh para siswa seperti kita? Selain itu, siswa pernah mengamati bahwa ada umat yang menggunakan perangkat lunak komputer atau catatan elektronik situs web untuk mencatat data Abhiseka ini. Mohon petunjuknya, apakah dengan mencetak catatan elektronik ini dan menggunakannya pada saat menjelang ajal, akan dapat memberikan kemudahan, dorongan, dan bantuan yang sama seperti 《Catatan Mendengar Dharma》 yang disebutkan di atas pada saat menjelang ajal? Memohon dengan tulus agar Mulacarya berwelas asih memberikan petunjuk."

Dharmaraja secara langsung mengatakan, pemikiran semacam ini sama seperti yang dikatakan dalam Sutra Buddha "tanduk kelinci dan bulu kura-kura", sesuatu yang sama sekali tidak ada, namun dipaksa untuk diadakan. Pada saat yang sama Beliau menekankan, pada saat menjelang ajal bahkan tenaga pun tidak ada, mana mungkin masih ingat di mana buku kecil itu diletakkan? Daripada melekat pada pencatatan dan kremasi, lebih baik mengingat dengan teguh satu kalimat "Amituofo". Beliau menunjukkan bahwa kunci yang sebenarnya terletak pada senantiasa mengingat Istadewata, dan bukannya birokrasi yang rumit dalam bentuk formalitas.

【Pengalaman di Rumah Sakit: Diikat oleh Sesuatu yang Tak Kasat Mata, Begitu Merapal Nama Buddha Tali Pun Putus】

Dharmaraja mengungkapkan pengalaman nyata Beliau selama dirawat di rumah sakit. Beliau menyatakan bahwa di rumah sakit Beliau pernah diikat tangan dan kakinya oleh kekuatan yang tak kasat mata, sehingga tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan Acarya Lian Yi yang tidur di sebelahnya pun tidak menyadarinya. Saat itu Beliau merapal satu kalimat "Amituofo", tali di kakinya segera putus. Dharmaraja menghela napas: "Anda merapal setengah hari, berteriak setengah hari, tidak ada orang yang menyelamatkanmu, hanya Istadewata-mu yang mampu menyelamatkanmu!"

Dharmaraja mendeskripsikan berbagai kesulitan saat sakit: di tubuhnya tergantung kotak pemantau jantung, ditusuk dengan infus dan kateter urine, sering diambil darah, bahkan turun dari tempat tidur saja akan memicu alarm. Beliau juga secara terus terang mengatakan bahwa meskipun ingin diam-diam memanggil Uber untuk pulang, namun Beliau bahkan tidak punya tenaga untuk menggerakkan langkah kaki. Perawat juga mengingatkan bahwa saat pergi ke toilet tidak boleh jongkok, jika tidak saat berdiri akan merasa pusing dan menabrak dinding, sudah banyak orang yang mati di kamar mandi karena hal ini. Pada saat yang sama Beliau juga secara khusus berterima kasih atas perawatan yang erat dari putra-putrinya Fo Qing dan Fo Qi, bahkan mereka membantu menyeka pantat ayah mereka. Beliau menghela napas: "Kasihan sekali, jatuh sakit, ini juga merupakan kerisauan batin."

◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4

"Selain itu, di dalam pikiran Anda kesadaran dan kebiasaan saling berpadu. Sifat aslimu memunculkan pandangan. Membiarkan enam objek indera (sad visaya) muncul. Terlepas dari objek indera, tidak ada atribut (laksana). Terlepas dari kesadaran, tidak ada sifat (svabhava). Saling terjalin membentuk ilusi. Ini adalah lapis ketiga, yang dinamakan Kekeruhan Klesa. Selain itu, Anda dari pagi hingga malam terus-menerus mengalami kemunculan dan kelenyapan tanpa henti. Pengetahuan dan pandangan setiap kali ingin menetap di dunia, sementara karma selalu berpindah-pindah antar daratan. Saling terjalin membentuk ilusi, ini adalah lapis keempat, yang dinamakan Kekeruhan Makhluk. Penglihatan dan pendengaran kalian pada dasarnya tidak memiliki sifat yang berbeda. Berbagai objek indera saling menghalangi, memunculkan perbedaan wujud secara tak beralasan. Di dalam sifat aslinya saling mengetahui. Di dalam penggunaannya saling bertolak belakang. Kesamaan dan perbedaan kehilangan standar. Saling terjalin membentuk ilusi. Ini adalah lapis kelima, yang dinamakan Kekeruhan Nasib."

【Kekeruhan Klesa: Mengingat Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan, Itulah Klesa】

Dharmaraja menjelaskan, asalkan memikirkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, klesa pun akan datang menyertai. Beliau sendiri sebagai contoh: "Coba Anda lihat betapa sehatnya saya di masa lalu, sebelum usia 80 tahun tidak pernah memikirkan tentang umur. Begitu teringat rumah sakit, mulai merasa risau. Untung saja itu hanya sebuah tumor, bagaimana jika itu kanker? Stadium berapa? Apakah akan muncul benjolan kedua?" Dharmaraja dengan terus terang berkata, siapa yang tidak memiliki klesa? Beliau pernah bertanya di dalam upacara: "Siapa orang yang tidak memiliki klesa, angkat tangan?" Hasilnya tidak ada satu orang pun yang mengangkat tangan. Dharmaraja sambil tertawa berkata: "Sebenarnya memiliki klesa itu normal, jika tidak ada klesa, orang tersebut adalah orang idiot." Beliau menyarankan kepada khalayak, terkadang tidak ada salahnya untuk belajar "tidak peduli pada apa pun", tetapi hal ini tidaklah mudah.

【Kekeruhan Makhluk: Dari Nyamuk Hingga Perang Internasional, Di Mana-mana Adalah Kekeruhan】

Dharmaraja kemudian membahas lapis keempat "Kekeruhan Makhluk", teks Sutra menyatakan: "Selain itu, Anda dari pagi hingga malam terus-menerus mengalami kemunculan dan kelenyapan tanpa henti. Pengetahuan dan pandangan setiap kali ingin menetap di dunia, sementara karma selalu berpindah-pindah antar daratan. Saling terjalin membentuk ilusi, ini adalah lapis keempat, yang dinamakan Kekeruhan Makhluk."

Dharmaraja menyatakan, semua makhluk memiliki klesa, tanpa kecuali. Beliau memberi contoh: Orang yang tinggal di Iran merisaukan perang; kapal tanker minyak yang melewati selat khawatir dibom; semua makhluk yang tinggal di Lebanon tidak mendapatkan kedamaian. Bahkan seekor nyamuk pun bisa menimbulkan klesa.

Dharmaraja menceritakan bahwa begitu Beliau kembali ke Taiwan langsung digigit nyamuk, setiap hari harus menyalakan obat nyamuk dan memasang kelambu, tetapi umat Sedharma di Asia Tenggara karena meyakini ajaran Buddha tidak berani memukul nyamuk, dan terpaksa merapal nama agung untuk menyeberangkan mereka. Dharmaraja dengan humor menirukan: "Om. Mani. Padme. Hum. Plak! Terlahir di alam suci, terbebas dari penderitaan, Namo Amituofo."

Dharmaraja menghela napas, negara besar menindas negara kecil, negara kecil menindas yang tidak punya negara, semua orang saling berebut, namun tidak mengerti untuk mengalah selangkah dan berunding, inilah "Kekeruhan Makhluk".

【Kekeruhan Nasib: Sudah Ditakdirkan, Bahkan Universitas Pun Diratakan dengan Bom】

Lapis kelima "Kekeruhan Nasib", teks Sutra menyatakan: "Penglihatan dan pendengaran kalian pada dasarnya tidak memiliki sifat yang berbeda. Berbagai objek indera saling menghalangi, memunculkan perbedaan atribut secara tak beralasan. Di dalam sifat aslinya saling mengetahui. Di dalam penggunaannya saling bertolak belakang. Kesamaan dan perbedaan kehilangan standar. Saling terjalin membentuk ilusi. Ini adalah lapis kelima, yang dinamakan Kekeruhan Nasib."

Dharmaraja menunjukkan, nasib sudah ditakdirkan demikian. Beliau mengambil Acarya Lian Yi sebagai contoh: Acarya Lian Yi pernah kuliah di Ukraina, belajar bahasa Rusia, dan sekarang universitas tersebut telah rata dengan tanah akibat pengeboman perang. Dharmaraja bertanya: "Anda mengeluarkan ijazah kelulusan universitasmu, tetapi sekolahnya sudah tidak ada, bagaimana kamu bisa berkuliah? Dia masih seorang doktor, sekarang bahkan universitasnya sudah tidak ada." Dharmaraja menghela napas, inilah Kekeruhan Nasib, kehidupan manusia adalah nasib dan peruntungan.

【Lima Kekeruhan Menutupi Batin Sejati Terang nan Luhur, Dharmaraja Menambahkan "Kekeruhan Saraf"】

Dharmaraja menyimpulkan, Kekeruhan Kalpa, Kekeruhan Pandangan, Kekeruhan Klesa, Kekeruhan Makhluk, Kekeruhan Nasib, kelima kekeruhan ini menutupi Batin Sejati Terang nan Luhur dari setiap orang lapis demi lapis, bagaikan air jernih yang diaduk dengan debu tanah, berubah menjadi keruh. Sifat Kebuddhaan pada dasarnya ada, tetapi karena saling terjerat maka tidak terlihat.

Dharmaraja dengan lebih humoris menciptakan sendiri kekeruhan keenam: "Saya masih menambahkan satu jenis lagi, yang disebut 'Kekeruhan Saraf'. Kali ini saya juga hampir terkena penyakit saraf. Manusia sedikit banyak memiliki sedikit penyakit saraf, sebentar menangis, sebentar tertawa, inilah yang namanya saraf! Asalkan tidak melewati batas, semuanya masih baik-baik saja. Tetapi sekarang banyak orang membawa pisau dan membacok sembarangan di mana-mana, membunuh secara acak, inilah Kekeruhan Saraf yang parah." Dharmaraja merasa iba: "Menjadi manusia itu tidak mudah! Tidak mudah, bisa bertahan hidup, benar-benar sangat tidak mudah."

Setelah menyelesaikan Dharmadesana yang memukau, Dharmaraja dengan welas asih menganugerahkan Abhiseka Sadhana Mahottara Heruka kepada segenap siswa yang hadir di lokasi, Upacara Dharma pun ditutup dengan manggala.

---------------------------------------------------------

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB

Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate

Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊

Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw

Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature

Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org

Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng

TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

#MahottaraHeruka
Istadewata Homa minggu depan #Amoghapasalokesvara

全球真佛宗眾上師、教授師、法師、講師、助教暨全球弟子,萬眾一心,持誦 瑤池金母心咒,同心祈願 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。