19 April 2026 Liputan Upacara Homa Bodhisatwa Amoghapasalokesvara di Rainbow Temple

19 April 2026 Liputan Upacara Homa Bodhisatwa Amoghapasalokesvara di Rainbow Temple

Liputan TBSN Lianhua Yun Shuang (蓮花韻霜)

Pada tanggal 19 April 2026, Dharmaraja Lian Sheng hadir di Rainbow Temple untuk memimpin Upacara Homa Santika, Paustika, dan Penyeberangan Amoghapasalokesvara yang sangat istimewa. Bertepatan dengan hari ini yang merupakan hari ulang tahun Gurudara berdasarkan kalender masehi, sebelum menyampaikan Dharmadesana, Dharmaraja Lian Sheng dengan penuh kasih memimpin seluruh hadirin untuk bersama-sama menyanyikan lagu ulang tahun versi bahasa Indonesia. Suasana di lokasi dipenuhi dengan kehangatan dan kegembiraan, di mana para siswa secara serempak mengucapkan selamat ulang tahun kepada Gurudara.

Selanjutnya, Dharmaraja Lian Sheng mengumumkan kepada publik bahwa pada hari Minggu depan, tanggal 26 April pukul 15.00, akan diselenggarakan Upacara Homa Mahadewi Yaochi. Dharmaraja Lian Sheng menyampaikan dengan selingan humor bahwa mungkin karena Upacara Homa Mahadewi Yaochi diadakan setiap bulan, jumlah pendaftarnya terlihat seperti orang yang bangun di pagi buta untuk melihat bintang. Beliau berharap agar semua orang dapat memberikan ouen. Ouen merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang berarti saling memberikan semangat, saling membimbing, dan saling memberikan kekuatan.

Membahas mengenai Istadewata hari ini, yaitu Amoghapasalokesvara, Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan dalam Dharmadesana bahwa:

Amogha berarti apa yang dimohonkan tidak akan menjadi hampa atau tidak akan luput. Pasa melambangkan penggunaan tali Dharma kasih sayang untuk mengikat segala hal yang buruk, agar malapetaka dan kerisauan menjauh, sekaligus menarik keberuntungan serta berkah untuk dianugerahkan kepada semua makhluk.

Oleh karena itu, Amoghapasalokesvara memiliki kekuatan kedewataan agung yang meliputi santika, abhicaruka, vasikarana, dan penyeberangan, sehingga mampu mengabulkan harapan semua makhluk. Hal inilah yang menyebabkan jumlah pendaftar upacara ini sangat banyak.

Dharmaraja Lian Sheng kemudian menceritakan jalinan jodoh yang sangat mendalam dan istimewa dengan Mahadewi Yaochi. Beliau menyampaikan bahwa Mahadewi Yaochi adalah Istadewata pertama bagi Beliau, yang telah Beliau ikuti selama lebih dari lima puluh tahun hingga saat ini. Mahadewi Yaochi adalah sosok yang paling welas asih, namun di sisi lain juga merupakan Istadewata yang paling tegas. Di dalam kasih sayang-Nya terkandung kewibawaan, dan di dalam ketegasan-Nya terkandung edukasi yang senantiasa membimbing para siswa untuk berjalan di jalan yang benar.

Lebih lanjut, Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan bahwa berdasarkan data penelitian terkait, Achi Chokyi Drolma yang sangat dihormati dalam tradisi Drikung Kagyu di Tibet, memiliki hubungan asal-usul yang mendalam dengan Mahadewi Yaochi yang dipuja di tanah Tiongkok. Achi Chokyi Drolma dapat dipandang sebagai salah satu emanasi perwujudan dari Mahadewi Yaochi. Hal ini menunjukkan bahwa budaya keagamaan dan tradisi keyakinan antara Tiongkok dan Tibet saling berhubungan satu sama lain, dengan silsilah Dharma yang tersambung secara luar biasa.

Membahas tentang sejarah Tibet, Dharmaraja Lian Sheng menyebutkan raja yang terkenal, Songtsen Gampo, yang dipandang sebagai titisan dari Bodhisatwa Avalokitesvara dari Gunung Potalaka. Permaisuri yang berasal dari Nepal merupakan titisan dari Sita Tara, sementara Putri Wencheng dari Dinasti Tang yang menikah ke Tibet dipandang sebagai titisan dari Syama Tara. Selain itu, terdapat empat permaisuri lainnya dengan asal-usul istimewa yang dikenal sebagai empat ibu persembahan, yang semuanya tercatat dalam Sutra.

Dharmaraja Lian Sheng juga membagikan informasi mengenai wasiat Songtsen Gampo yang diterjemahkan oleh Lu Yajun. Dalam wasiat tersebut, bahkan telah disebutkan mengenai Guru Padmasambhava yang di masa depan akan menyebarluaskan Sadhana Tantra. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan ramalan kuno sungguh mendalam dan luar biasa. Beliau juga menyebutkan bahwa wilayah Afghanistan pada zaman dahulu merupakan tempat berkembang pesatnya Buddhadharma, yang dibuktikan dengan adanya peninggalan pratima Buddha raksasa sebagai saksi bahwa Buddhadharma pernah tersebar luas di seluruh dunia.

Sebagai kesimpulan, Dharmaraja Lian Sheng menegaskan bahwa asal-usul Mahadewi Yaochi sangatlah agung. Achi Chokyi Drolma adalah emanasi dari Mahadewi Yaochi yang memiliki kaitan erat dengan berbagai sekte di Tibet. Semuanya tidaklah berdiri sendiri-sendiri, melainkan berasal dari sumber yang sama serta saling mencakup dan menyatu.

Dharmaraja Lian Sheng kemudian memuji rekaman suara mantra Amoghapasalokesvara yang diputar pada upacara hari ini. Beliau juga teringat akan rekaman suara mantra Bodhisatwa Ksitigarbha yang diputar malam sebelumnya di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, serta musik Mantra Hati Padmakumara. Semua karya tersebut diproduksi dengan sangat teliti oleh ibu dan anak asal Brasil, yaitu Pandita Lokapalasraya Ah Fang (阿芳助教) dan putrinya, Ke Ying (可盈). Dharmaraja Lian Sheng menyatakan bahwa rekaman suara mantra tersebut memiliki daya pikat yang sangat kuat dan mampu menyentuh hati secara mendalam, sehingga membangkitkan rasa murni dan haru bagi yang mendengarnya.

Secara khusus, Dharmaraja Lian Sheng menceritakan pengalamannya saat mendengarkan suara mantra Bodhisatwa Ksitigarbha malam sebelumnya. Pada saat pelaksanaan abhiseka, batin Beliau merasa sangat tergetar dan merasakan kekuatan kasih sayang dari tekad luas Bodhisatwa Ksitigarbha dalam menuntun semua makhluk. Suara mantra Amoghapasalokesvara hari ini pun memberikan persepsi yang serupa, yang menunjukkan betapa luar biasanya kekuatan pembabaran Dharma melalui media suara.

Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan bahwa salah satu kemudahan (upaya kausalya) yang penting di Sukhavatiloka dalam menuntun semua makhluk adalah melalui penggunaan suara yang lembut dan harmonis. Di alam Sukhavati, pohon tujuh permata, jaring tujuh lapis, serta burung-burung seperti bangau putih, merak, kakatua, dan Kalavinka, semuanya dapat mengeluarkan suara yang murni dan merdu. Makhluk yang mendengar suara luhur tersebut secara alami akan membangkitkan niat untuk mengingat Buddha, mengingat Dharma, dan mengingat Sangha, yang kemudian akan membawa mereka ke jalan bhavana.

Dharmaraja Lian Sheng dengan welas asih menekankan bahwa suara dapat melembutkan hati manusia, memurnikan jiwa, serta menginspirasi niat baik. Oleh karena itu, upaya Zhenfo Zong dalam mempromosikan berbagai jenis suara mantra merupakan metode pembabaran Dharma yang sangat penting. Melalui suara yang murni dan agung, para makhluk dapat mencapai yoga dengan Istadewata, membangkitkan keyakinan, dan akhirnya mendapatkan penyeberangan.

Beliau kembali memuji Amoghapasalokesvara yang juga dikenal dengan nama "Vajra yang Menuntun secara Setara". Siapa pun yang memohon penyeberangan, berkah, maupun santika dengan sepenuh hati, akan mendapatkan tuntunan kasih sayang dari Sang Istadewata tanpa terkecuali. Hal ini menunjukkan betapa luasnya tekad kasih sayang dan kekuatan penyelamatan dari Amoghapasalokesvara.

Di akhir pesannya, Dharmaraja Lian Sheng mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasi kepada para siswa di Brasil yang meskipun berada jauh puluhan ribu mil, tetap secara diam-diam mencurahkan upaya untuk memproduksi suara mantra guna menyebarkan suara Dharma ke seluruh dunia. Dharmaraja Lian Sheng merasa bahwa meskipun kehidupan penuh dengan berbagai hambatan, beliau merasa sangat beruntung karena selalu didampingi oleh banyak siswa tulus yang mendukung Buddhadharma dan bersama-sama menyebarluaskan Dharma sejati Tathagata. Hal ini sungguh memberikan rasa haru yang mendalam.

◎ Interaksi Adalah Kekuatan

Siswa dari Malaysia Lianhua Weikuang (蓮花偉洭)
Salam sejahtera Dharmaraja Lian Sheng:

Dalam Dharmadesana Dharmaraja Lian Sheng belakangan ini ada menyebutkan tentang bertobat, saat ini ada tiga poin perenungan mengenai kesombongan yang ingin saya tanyakan kepada Dharmaraja Lian Sheng:


1. Menyadari kesombongan: Siswa mendapati bahwa di antara lima racun batin, mana yang paling sulit disadari. Ia sering menyamar sebagai pengalaman atau kontak batin dalam sadhana (seperti: senioritas, kehidupan menjadi lebih baik, dll), membuat orang merasa hal itu sudah sewajarnya. Mohon tanya Dharmaraja Lian Sheng, apakah pengamatan terhadap kesombongan seperti ini sudah benar?

2. Mengatasi kesombongan: Siswa beranggapan dengan menggunakan Trilaksana: anitya (baik buruk semua berubah), anatman (tidak ada yang beryoga), nirwana (melepaskan kemelekatan pikiran) sebagai perenungan, serta dipadukan dengan namaskara untuk merendahkan diri hingga kembali ke sunyata, menggunakan ini sebagai purvaka untuk menaklukkan mana. Mohon tanya apakah cara ini sesuai Dharma?

3. Mencegah kesombongan baru: Siswa merenung, Dharmalaksana seharusnya hanya membuktikan diri sendiri, jika digunakan untuk membuktikan orang lain (seperti melihat orang lain berbuat salah lalu timbul rasa superior), akan timbul sejenis kesombongan Dharma yang lain. Mohon tanya apakah pandangan ini benar?

Mohon Dharmaraja Lian Sheng memberikan petunjuk dengan welas asih. Terima kasih Dharmaraja Lian Sheng, Amituofo.
Siswa Lianhua Weikuang beranjali dan bersujud.

Dharmaraja Berdharmadesana, lima racun batin antara lain: loba, dvesa, moha, vicikitsa, dan mana, di antaranya mana (kesombongan) yang paling sulit disadari. Yang disebut kesombongan adalah merasa diri sendiri lebih baik dari orang lain, lebih tinggi dari orang lain, lebih hebat dari orang lain, menganggap diri sendiri benar dan orang lain salah. Mengamati orang lain itu mudah, namun mengamati diri sendiri justru paling sulit, karena itu sadhaka seharusnya lebih sering mawas diri setiap saat.

Dharmaraja Lian Sheng memberikan contoh diri sendiri dengan menyatakan bahwa Beliau sering teringat untuk bertobat, juga sering mengingatkan diri sendiri agar tidak membangkitkan hati yang angkuh karena adanya kontak batin dalam sadhana, senioritas yang mendalam, atau kondisi kehidupan yang superior. Meskipun ada kontak batin dan berkah, semua itu tidak berarti lebih tinggi dari orang lain, sebaliknya justru harus lebih mengerti kerendahan hati dan menghargai.

Dharmaraja Lian Sheng berbagi dengan humor, orang duniawi mengagumi mobil mewah dan rumah besar, namun nyatanya setelah memilikinya, juga ada kerisauan dan bebannya sendiri. Mengendarai mobil mewah kelas atas harus ekstra hati-hati, tinggal di rumah besar juga perlu menanggung lebih banyak tekanan pemeliharaan dan pajak. Oleh karena itu kehidupan menjadi lebih baik bukan berarti boleh membangkitkan keangkuhan batin, semua berkah luar bukanlah yang sejati.

Dharmaraja Lian Sheng juga menunjukkan dengan welas asih, meskipun diri sendiri telah berbhavana selama bertahun-tahun, Beliau juga tidak berani merasa puas diri. Di antara para siswa di dunia, banyak yang bhavana-nya lebih baik dari Dharmaraja Lian Sheng, masing-masing memiliki akar kapasitas dan jodohnya sendiri. Bhavana bukanlah membandingkan tinggi rendah, melainkan masing-masing berusaha giat bersemangat, karena itu terlebih lagi tidak boleh meremehkan orang lain karena senioritas.

Mengenai usulan siswa untuk menggunakan Trilaksana merenungkan kesombongan, Dharmaraja menyatakan sangat benar. Anitya, anatman, nirwana, semuanya dapat dijadikan perenungan penting bagi sadhaka. Memahami segala urusan dunia adalah anitya, maka tidak akan melekat pada pencapaian saat ini; memahami segala dharma adalah anatman, maka dapat melepaskan hati yang sombong; merasakan nirwana, maka tahu bahwa kesetaraan dan tanpa wujud barulah merupakan alam kondisi yang nyata.

Dharmaraja Lian Sheng juga berbagi bahwa saat muda Beliau sering menggunakan namaskara dan push-up untuk melatih tubuh dan batin, melalui penghormatan kepada mandala untuk menaklukkan ego. Kini tenaga tidak seperti dulu, lebih mendalam merasakan anitya dalam urusan dunia, tidak ada pencapaian apa pun yang bisa dipertahankan selamanya, karena itu sungguh tidak ada yang patut dibanggakan.

Di akhir, Dharmaraja Berdharmadesana, di dalam catur apramana yang sejati, upekkha di dalamnya adalah sikap batin yang setara. Semua makhluk pada dasarnya memiliki Buddhatva, tidak seharusnya dipandang secara berbeda karena tinggi rendahnya status atau kaya miskinnya seseorang. Orang yang mulia di mata dunia belum tentu agung, orang yang tampak biasa mungkin saja memiliki niat kebajikan yang besar dan melakukan tindakan mulia yang besar.

Oleh karena itu, sadhaka mesti sering bertobat dan mawas diri. Hanya di dalam mawas diri yang terus-menerus barulah bisa benar-benar tekun untuk menaklukkan kesombongan diri.

◎ Pengulasan Sutra Surangama

“Bagaikan menjernihkan air keruh, disimpan dalam wadah yang tenang, tenang mendalam tidak bergerak, pasir dan tanah mengendap dengan sendirinya, air jernih menampakkan diri, dinamakan penaklukan awal atas klesa debu tamu. Membuang lumpur air murni, dinamakan selamanya memutus avidya yang mendasar. Wujud terang murni dan halus, segala manifestasi perubahan tidak menjadi klesa, semuanya sesuai dengan kualitas luhur kesucian nirwana. Mengenai makna kedua, Anda semua pasti ingin membangkitkan Bodhicitta, dalam Bodhisatwayana membangkitkan keberanian agung.”

Dharmaraja menggunakan perumpamaan air keruh untuk menjelaskan tahapan bhavana. Saat air keruh dimasukkan ke dalam wadah yang tenang, tidak lagi diaduk, lumpur dan pasir secara alami perlahan mengendap, akhirnya lapisan atas menampakkan air jernih. Ini persis seperti sadhaka melalui dhyana, membuat pikiran kacau dan khayalan berangsur tenang, awal mula menaklukkan klesa debu tamu dari luar, membuat batin yang suci perlahan menampakkan diri. Inilah yang dikatakan dalam Sutra sebagai penaklukan awal klesa debu tamu.

Dharmaraja Lian Sheng lebih lanjut Berdharmadesana, jika dapat lebih dalam merenungkan segala fenomena di dunia, maka akan mengerti bahwa segala yang memiliki wujud, semuanya termasuk Dharma muncul dan lenyap. Tubuh manusia mengalami lahir, tua, sakit, dan mati. Masa muda dan kecantikan akhirnya akan sirna, kesehatan juga akan berubah seiring waktu; segala hal di dunia ada pertemuan pasti ada perpisahan, ada pembentukan pasti ada kehancuran, tidak ada satu pun yang bisa selamanya tidak berubah. Mengetahui demikian, maka tidak seharusnya membangkitkan berbagai kerisauan batin karena kondisi luar.

Dharmaraja Lian Sheng menunjukkan dengan humor, saat muda apa pun bisa dimakan, setelah tua gula, garam, minyak semua perlu dibatasi, fungsi organ tubuh juga berangsur menurun, inilah gambaran anitya yang paling nyata. Oleh karena itu, daripada melekat pada kenikmatan luar, lebih baik belajar menyesuaikan dengan kondisi, melepaskan klesa.

Dharmaraja Berdharmadesana dengan welas asih, insan dunia sering merisaukan mobil bagus, rumah bagus, punya uang atau tidak punya uang, namun jika kehidupan dasar sudah mencukupi, maka tidak perlu melekat secara berlebihan. Karena segala materi luar pada akhirnya adalah anitya, tidak dapat benar-benar membawa ketenteraman yang sejati.

Saat sadhaka lebih lanjut melenyapkan sepenuhnya klesa yang bagaikan lumpur dan pasir di dalam hati, memahami segala sesuatu adalah muncul dan lenyap karena perpaduan sebab dan kondisi, tidak lagi digerakkan oleh kondisi luar, sesuai dengan kualitas luhur kesucian nirwana, membuktikan nitya sukha atman subha yang dibabarkan Tathagata. Ini juga merupakan tujuan nyata dari belajar Buddha dan dhyana, memutus seluruh klesa, inilah makna pertama.

Dharmaraja juga berbagi bahwa setelah operasi beliau pernah mengalami masa terpuruk yang singkat, tidak berminat pada urusan duniawi, merasakan perasaan batin depresi yang nyata. Namun, Mahadewi Yaochi mengingatkan Dharmaraja dengan welas asih untuk menghargai setiap menit dan setiap detik dalam kehidupan. Yang suka dilihat maka pergilah melihat, yang suka dilakukan maka pergilah melakukan, segala hal yang dapat membawa kebahagiaan dan keceriaan, semuanya harus dilakukan dengan positif, dengan demikian barulah bisa perlahan keluar dari mendung depresi.

Dharmaraja menunjukkan, saat benar-benar depresi, sering kali kehilangan minat pada segalanya, bahkan berita dan urusan luar pun merasa tidak ada hubungan dengan diri sendiri, tidak bersemangat terhadap hal apa pun, tidak dapat merasakan kegembiraan. Inilah kondisi depresi.

Oleh karena itu, Mahadewi Yaochi mengajarkan, harus menemukan kembali kebahagiaan dari hal-hal kecil dalam kehidupan. Menyelesaikan satu hal kecil, maka ada satu bagian kepuasan; setelah selesai menulis satu artikel, juga bisa mendapatkan sedikit kebahagiaan.

Dharmaraja menyadari, hidup manusia terbatas, masa muda dan usia prima telah lewat, waktu di masa depan seharusnya lebih dihargai. Jika dapat senantiasa membina hati yang penuh sukacita dan hati yang ceria, maka tidak akan terkubur oleh depresi.

Dharmaraja juga menyebutkan, Acarya Lian Yi (蓮屹上師) pernah menulis artikel menyemangati diri sendiri untuk keluar dari zona abu-abu. Dharmaraja menyatakan, saat terpuruk yang paling penting adalah melakukan hal yang memberi manfaat bagi semua makhluk, saat dalam batin timbul sukacita Dharma dan terang, depresi secara alami tidak akan bisa lagi membelenggu hati.

Usai Dharmadesana yang istimewa, Dharmaraja Lian Sheng dengan welas asih menganugerahkan Abhiseka Amoghapasalokesvara kepada khalayak yang hadir, upacara berakhir dengan sempurna.

---------------------------------------------------------

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB

Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate

Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊

Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw

Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature

Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org

Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng

TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

#Amoghapasalokesvara
Istadewata Homa minggu depan #MahadewiYaochi

全球真佛宗眾上師、教授師、法師、講師、助教暨全球弟子,萬眾一心,持誦 瑤池金母心咒,同心祈願 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。