17 Mei 2026 Liputan Upacara Homa Bodhisatwa Manjusri di Rainbow Temple

17 Mei 2026 Liputan Upacara Homa Bodhisatwa Manjusri di Rainbow Temple

Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)

Pada hari Minggu, 17 Mei 2026, Rainbow Temple dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin Upacara Homa Namo Bodhisatwa Manjusri. Usai Homa, Dharmaraja Lian Sheng dalam Dharmadesana terlebih dahulu memberitahukan bahwa pada hari Minggu mendatang, tanggal 24 Mei, pukul 3 sore akan diselenggarakan Upacara Homa Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan. Dharmaraja mengungkapkan bahwa di Arama Nanshan dipuja sebuah pratima emas Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan yang sangat besar. Dharmaraja setiap hari sebelum tidur selalu berdoa dengan tulus kepada Beliau, memohon agar tidur Beliau dan Gurudara tenang, tubuh sehat, dan rasa pegal di sekujur tubuh lenyap.

Dharmaraja berbagi bahwa ketika Gurudara melihat langsung penampakan suci Mahadewi, terdapat pengikut yang menyertai seperti pasukan besar, dan di tengahnya adalah Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan yang sangat agung. Dharmaraja memuji kedua mata Mahadewi yang sangat istimewa dan pratimanya yang sangat agung, mampu melihat tembus hati manusia serta masa lalu, masa kini, dan masa depan, segala hal yang diramalkan tidak ada yang tidak terbukti. Dharmaraja Lian Sheng dengan hormat menyebut Beliau sebagai Mahadewi Yaochi Termulia, mudra Beliau sama dengan Bodhisatwa Avalokitesvara Sahasrabhuja Sahasranetra, dan Mantra Hati Beliau adalah “Om. Jin Mu. Xi Di. Da mo. Xie.”

Guru dari Tujuh Buddha dengan Kebijaksanaan Nomor Satu
Satu-satunya Lawan dalam Sutra Vimalakirti

Membahas mengenai Istadewata Homa pada hari tersebut yaitu Bodhisatwa Manjusri, Dharmaraja Lian Sheng dengan penuh hormat menyatakan bahwa Bodhisatwa Manjusri adalah yang paling Beliau hormati di antara semua Bodhisatwa, kebijaksanaan Beliau adalah yang tertinggi, dan merupakan Guru dari Tujuh Buddha. Seperti yang disebutkan dalam Sutra Raja Agung mengenai Tujuh Buddha Masa Lampau, Bodhisatwa Manjusri adalah guru Mereka yaitu Buddha Nagesvararaja, yang di dalamnya mencakup Buddha Sakyamuni, Buddha Krakucchanda, dan Buddha Sikhin.

Meskipun kedudukannya mulia, Beliau rela menyertai Buddha Sakyamuni, dan bersama dengan Bodhisatwa Samantabhadra bersanding sebagai Pangeran Dharma pendamping kiri dan kanan.
Dharmaraja Lian Sheng secara khusus menjelaskan lebih dalam mengenai kisah dalam Sutra Vimalakirti. Pada zaman Buddha Sakyamuni, saat Arya Vimalakirti yang merupakan perwujudan dari Tathagata Suvarnagotrakancana berdebat, sepuluh siswa utama Buddha semuanya tidak mampu mengalahkan Beliau dalam perdebatan. Pada saat itu, Arya Vimalakirti di dalam ruangan kecil meminjam banyak Dharmasana yang tinggi dan besar dari Buddha Sumerudiparaja, namun para Maha Arahat dan sepuluh siswa utama karena tidak mengingat Buddha Sumerudiparaja dan memberi hormat, satu per satu tidak bisa memanjat naik. Dan di antara semua Sangha, satu-satunya yang Sang Buddha utus untuk memimpin menghadapi, serta mampu duduk sejajar dengan Arya Vimalakirti dengan masing-masing memiliki kemenangan dan kekalahan, hanyalah Bodhisatwa Manjusri yang memiliki kebijaksanaan nomor satu. Inilah yang terkenal di kalangan Buddhis sebagai Satu Hardikan Manjusri, Satu Keheningan Vimalakirti, kebijaksanaan keduanya setara dan tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi.

Jelmaan Tak Terhitung Vajra Yamantaka
Pedang Kebijaksanaan Memotong Keinginan Enam Indra

Dharmaraja kemudian mengangkat kisah Bodhisatwa Manjusri saat masa Vassa. Pada waktu itu ada sebuah sila yang melarang bertemu tamu dari luar, namun karena Bodhisatwa Manjusri menemui tamu dari luar, pengawas wihara yaitu Arya Mahakasyapa menghadap Buddha Sakyamuni untuk memohon agar Manjusri dihukum. Pada saat ini Buddha Sakyamuni meminta Arya Mahakasyapa melihat ke atas langit, dan hasilnya di seratus ribu koti Buddhaksetra, termasuk Sahaloka, di mana-mana muncul Bodhisatwa Manjusri.

Sang Buddha bertanya kepada Arya Mahakasyapa, yang mana yang hendak dihukum? Ini menunjukkan bahwa perwujudan Bodhisatwa Manjusri tidak terhitung banyaknya dan kekuatan Dharma-Nya tiada batas.

Dharmaraja menekankan bahwa Bodhisatwa Manjusri adalah simbol kebijaksanaan yang tertinggi. Pada masa lalu, setiap kali Je Tsongkhapa menghadapi masalah yang sulit dipahami dalam bhavana, Beliau selalu memohon petunjuk kepada Bodhisatwa Manjusri dan diselesaikan oleh-Nya. Hanya pedang kebijaksanaan Bodhisatwa Manjusri yang mampu memotong segala klesa dan semua keinginan dari enam indra semua makhluk. Selain itu, Vajra Yamantaka dalam Tantra, adalah Vidyaraja perwujudan Bodhisatwa Manjusri yang masuk ke dalam tubuh Dharmaraja Yama, mudra keduanya seolah-olah sama. Jika dilihat berdasarkan silsilah Kula Padma, dari Buddha Amitabha, Bodhisatwa Manjusri, hingga Vajra Yamantaka, semuanya merupakan satu garis aliran Dharma yang sangat istimewa.

Bersadhana di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Memasuki Samadhi Mendalam, Melimpahkan Jasa dengan Kiat Prana, Nadi, dan Bindu

Selanjutnya, Dharmaraja Lian Sheng berbagi dengan hadirin mengenai pengalaman istimewa saat bersadhana di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple pada malam sebelumnya. Dharmaraja pada sepertiga waktu bersadhana langsung memasuki Samadhi yang mendalam, berada dalam kondisi Surga Asamjnisattva Anagamin di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan semuanya tiada. Sampai Beliau terbangun karena mendengar suara pelimpahan jasa, Beliau segera melimpahkan jasa menggunakan kiat terpenting dari prana, nadi, dan bindu, berdoa memohon agar prana di seluruh tubuh dapat bersirkulasi, nadi semuanya lancar, bindu bergabung dan memancarkan cahaya, serta cahaya anak melebur ke dalam Cahaya Induk, mencapai keberhasilan bagaikan ratusan sungai kembali ke lautan.

◎ Interaksi Adalah Kekuatan

Memasuki sesi Interaksi Adalah Kekuatan, ada seorang siswa yang bertanya:
“Suami siswa baru-baru ini meninggal dunia karena tumor ganas, ia masih sangat muda, baru berusia 45 tahun. Ia meninggal dunia, siswa selalu sangat merindukannya. Saat ia sakit, ia merasa sangat tersiksa oleh penyakit beratnya, tetapi ia sangat tegar, dan terus bertahan hingga akhir hayatnya tanpa menyerah.

1. Siswa ingin bertanya kepada Mahaguru Lu, apakah seluruh kehidupan seseorang termasuk usia dan nasib serta peruntungan semuanya sudah ditentukan sebelum lahir? Apakah sangat sulit untuk diubah? Saat suami saya sakit, saya merasa segala sesuatu yang terjadi seolah-olah selangkah demi selangkah menariknya mendekat ke dewa kematian, termasuk penyakitnya yang pada awalnya tidak begitu parah, tetapi karena menerima suntikan yang direkomendasikan dokter, lalu kemudian terinfeksi banyak virus yang tidak diketahui penyebabnya, semua yang dialaminya terasa seolah-olah selangkah demi selangkah menariknya menuju kematian. Meskipun siswa telah berusaha membantunya membaca Sutra dan melimpahkan jasa, memohon adhistana Mahaguru Lu, memohon adhistana Acarya, bersarana kepada Mahaguru Lu, mendaftarkannya sebagai donatur utama Upacara Mahaguru Lu, hingga memohon fu dari Mahaguru Lu untuk diminumnya, semuanya tidak berguna. Saya berpikir apakah langit menginginkannya mati, sehingga sekuat apa pun kita berusaha semuanya sia-sia? Meskipun semua yang saya lakukan untuknya tidak mampu membantunya memutarbalikkan takdir kehidupannya, tetapi hari di mana ia akhirnya meninggal dunia kebetulan bertepatan dengan tanggal 19 bulan 9 Imlek yaitu hari suci Bodhisatwa Avalokitesvara, entah apakah semua yang telah dilakukan menggerakkan Bodhisatwa Avalokitesvara untuk datang menjemputnya?

2. Apakah pada tahap bardo setelah kematian seseorang, ia akan mengetahui nasib dan peruntungan kehidupannya sendiri? Apakah ia mengetahui karena karma apa ia meninggal? Karena penyakit ini ia telah menderita begitu banyak penderitaan di kehidupan ini, apakah itu dapat melunasi hutang karmanya di kehidupan sebelumnya, sehingga di kehidupan berikutnya ia dapat menjadi manusia yang baik, usianya bertambah, dan tidak lagi menderita penyakit?

Mengenai pertanyaan ini, Dharmaraja Lian Sheng dengan welas asih membabarkan, bahwa diri-Nya sendiri kini menyadari secara mendalam perihal belum mengetahui kehidupan, sudah mengetahui kematian. Buddha Sakyamuni dan Sutra Surangama telah menjelaskan dengan sangat jelas, nasib dan peruntungan yang dibawa oleh manusia dari kehidupan demi kehidupan, telah menentukan nasib dan peruntungan di masa depan.

Mulai dari terlahir di negara dan keluarga apa, hingga penampilan fisik, penyakit apa yang akan diderita, bahkan bagaimana ia akan meninggal di masa depan, dari awal hingga akhir semuanya disebabkan oleh karma masing-masing orang itu sendiri. Dharmaraja menyatakan terus terang, mengingat semuanya adalah karma, jika diri sendiri mengalaminya pun sama sekali tidak bisa menyalahkan langit atau menyalahkan orang lain. Dengan memahami bahwa nasib dan peruntungan memang demikian adanya, maka semua orang seharusnya lebih cepat lagi mempelajari Buddhadharma.

Dharmaraja Lian Sheng pertama-tama memberikan contoh, beberapa hari yang lalu ada siswa yang meminta bantuan karena mendiang ayahnya terlahir kembali ke alam hewan. Mahadewi Yaochi Wanfoshou Wujiyan memberikan petunjuk spiritual bahwa karena karma masa lalu mendiang sulit untuk dihindari, ia harus terlebih dahulu pergi ke alam binatang; tetapi berkat jasa pahala penyeberangan dari Dharmaraja Lian Sheng dan siswa, usia kehidupannya di alam binatang dapat dikurangi secara signifikan, dan setelah usianya berakhir dan ia kembali ke alam bardo, Dharmaraja Lian Sheng akan melakukan penyeberangan kedua kalinya untuk menjemputnya terlahir di alam suci. Melalui hal ini Dharmaraja mengingatkan, penyeberangan tidak bisa diselesaikan dalam satu langkah, melainkan harus menunggu sampai seluruh karma masa lalu terselesaikan barulah ia dapat benar-benar terlahir di Buddhaksetra.

Dharmaraja Mengalami Sendiri Sakit dan Dioperasi
Menghadapi Karma dengan Tenang Tanpa Menyalahkan Langit

Selanjutnya, Dharmaraja Lian Sheng bahkan menjadikan pengalaman diri-Nya sendiri saat menjalani operasi akibat tumor sebagai contoh. Dharmaraja menyatakan, meskipun Beliau telah melakukan bhavana selama bertahun-tahun dan penampilan luarnya jauh lebih muda dari usia sebenarnya yang menginjak delapan puluh tahun, namun ketika menghadapi penderitaan penyakit yang telah digariskan, Beliau tetap harus masuk rumah sakit untuk dioperasi, dan dengan humor menyebutkan bahwa diri-Nya mengalami probabilitas seperdua ratus operasi berjalan tidak lancar sehingga harus menjalani dua kali operasi.

Dharmaraja Lian Sheng berbagi bahwa selama masa sakit Beliau memohon mukjizat, dan hanya Buddha Amitabha (Buddha Amitayus) yang menampakkan diri untuk membantu menambah usia. Dharmaraja menekankan, diri-Nya sendiri yang telah melakukan bhavana sekian lama masih harus menanggung nasib dan peruntungan kehidupan dan mengalami penderitaan bersinggungan dengan kematian, saat keluar dari rumah sakit Beliau tetap berterima kasih dengan tulus kepada para dokter, dan sama sekali tidak menyalahkan siapa pun. Tumor orang lain mungkin bisa menghilang, tetapi milik-Nya tidak, inilah garis karma kehidupan yang telah ada, oleh karena itu orang banyak saat menghadapi ketidakkekalan seharusnya tidak menyalahkan langit maupun menyalahkan orang lain.

◎ Pengulasan Sutra Surangama, Bab 4

Kemudian, Dharmaraja melanjutkan pengulasan Sutra Surangama bab Keempat, teks Sutranya adalah sebagai berikut:

“Sang Buddha bersabda: Telingamu sendiri yang mendengar, apa hubungannya dengan tubuh dan mulut? Mulut datang untuk menanyakan makna, tubuh bangkit untuk menerima dengan hormat. Oleh karena itu harus diketahui, bukan satu pada akhirnya menjadi enam, bukan enam pada akhirnya menjadi satu. Pada akhirnya akarmu pada mulanya bukan satu dan bukan enam. Ananda ketahuilah, akar ini bukan satu bukan enam.”

Dharmaraja menjelaskan, di dalam Sutra tersebut Buddha Sakyamuni bertanya kepada Ananda: Mengingat engkau mendengarkan Dharma menggunakan telinga, lalu mengapa mulutmu bisa terbuka untuk bertanya, dan tubuhmu bisa bangkit berdiri untuk memberi hormat? Ini membuktikan bahwa meskipun pikiran dari enam indra (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran) saling terhubung, namun fungsinya masing-masing berbeda.

Mata melihat, telinga mendengar, hidung bernapas, lidah mengecap rasa, tubuh menyentuh, dan pada akhirnya semuanya berkumpul menuju pikiran untuk menghasilkan fungsi, oleh karena itu hakikat dari enam indra adalah bukan satu bukan enam.

Dharmaraja Lian Sheng secara khusus mengklarifikasi bahwa para pendahulu pernah menyebut enam indra dapat dikatakan satu rasa, tetapi tidak dapat dikatakan satu kesatuan. Karena enam indra bukanlah benar-benar satu kesatuan yang persis sama, melainkan sama-sama mengapung di atas Batin Sejati Terang nan Luhur, dan karena memunculkan pikiran keliru secara sembarangan barulah fungsi masing-masing dihasilkan.

Dharmaraja mengakhiri dengan kalimat Batin Sejati Terang nan Luhur adalah Batin Sejati Terang nan Luhur, enam indra adalah sesuatu yang muncul karena memunculkan pikiran keliru secara sembarangan yang mengapung di atas Batin Sejati Terang nan Luhur sebagai kesimpulan untuk bagian Dharmadesana ini.

Di titik ini Dharmaraja Lian Sheng mengakhiri tutur Dharma yang sangat luar biasa ini, dan dengan welas asih menganugerahkan Abhiseka Sadhana Bodhisatwa Manjusri kepada segenap hadirin. Dengan demikian, upacara berakhir dengan sempurna.

------------------------------

Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB

Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate

Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊

Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw

Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature

Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org

Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng

TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

#BodhisatwaManjusri
Istadewata Homa minggu depan #Wanfoshouwujiyan

全球真佛宗眾上師、教授師、法師、講師、助教暨全球弟子,萬眾一心,持誦 瑤池金母心咒,同心祈願 「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。